
"Saya sendiri juga sedang disibukkan dengan masalah itu, Jendral!" jawabnya "Bolehkan kami melihat ke tempat kejadian?!" tanya Revin "Tentu Mayor Jendral." katanya "Mari saya antarkan." ajaknya, saat di perjalanan menuju tempat kejadian gudang yang di curi, Akiela tak bisa menahan rasa ingin tahunya tentang Laksamana Besar.
"Mohon maaf Laksaman Aldo! Di mana Lakasama Besar saat ini? Hingga masalah seperti ini di pertanggung jawabkan pada anda sendiri?" tanya Akiela, Laksamana Aldo tampak sedikit sedih, kecewa dan sekaligus bingung "Saya juga tidak tau, saya sudah mencoba menghubungi beliau tapi tidak bisa. Saya juga mendatangi kediaman Laksamana Besar Bagas tapi di sana tampak tak ada satu pun orang, rumahnya sangat sepi." jelas Laksamana Aldo.
"Anda sudah menghubungi sanak saudaranya?" giliran Marsya yang bertanya "Sudah, Brigadir Jendral. Tetapi hasilnya nihil, mereka juga tidak tau keberadaan Laksamana Besar di mana? Sayalah yang membeberkan jika Laksamana Besar sedang menjalani pengobatan di luar negri, agar tidak semakin banyak pertanyaan publik kemana perginya Laksaman Besar yang akan memperkeruh keadaan." ada nada petus asa dalam kata katanya. Saat di perjalanan mereka tak sengaja bertemu dengan perwira pertama yaitu Mayor Rudi.
Saat bersimpangan dia menyapa hormat pada atasan seperti biasa, tapi dengan sorot mata tak suka disana. Sorot mata benci itu tak luput dari penglihatan Akiela 'Aku merasa dia seperti......??? Orang yang memendam dendam!!!. Ah mungkin hanya halusinasi saja.' batinnya.
Mereka telah sampai pada gudang yang di curi, Akiela menoleh pada Vivian dengan tatapan yang seolah mengatakan 'Kan dekat dengan kantor dan asrama?! Kenapa bisa dicuri??' karna memang mereka hanya berjalan kaki saj sudah sampai.
Mereka mengamati baik baik gudang tersebut "Benar benar sangat rapi!!" gumam Akiela "Kie!!" panggil Revin, Akiela mendengar panggilannya dan segera memghampiri Revin.
Di sana Revin menemukan sebilah pisau dengan ukiran aneh menurutnya itu seperti sebuah simbol "Tanda apa ini??" tanya Revin "Entahlah." jawab Akiela, mereka membawa pisau tersebut tanpa memberi tahu Laksamana Aldo, Aldo terus menjelaskan kejadian kejadian yang dia ketahui saat itu.
__ADS_1
Di sebuah markas yang jauh di dalam hutan. Seorang pria dengan tubuh penuh luka dan darah "Siapa kalian?!!!" tanya nya dengan menahan rasa perih dari luka lukanya namun tidak ada jawaban, kedua tangannya terikat dan mata yang tertutup rapat.
Diaa adalah Laksamana Besar AL yang hilang, yang di kurung secara terpisah oleh orang yang menculiknya itu. Dia mengingat dengan jelas jika waktu itu dia turun menolong orang yang tergeltak di jalan tapi naas! Ternyata Bagas di jebak dia di semprot cairan bius oleh orang itu yang membuatnya tak sadarkan diri dan pada saat sadat dia sudah berada di tempat yang terasa asing baginya karana matamya yang tertutup membuatnya tak bisa melihat apa yang terjadi.
Sudah tiga hari dia di sekap disana "Semoga angkatan lain cepat menyelesaikan masalah ini." katanya sedih, dia memang di masih di beri makan tapi dengan cara yang tidak manusiawi bahkan cara memberi makan pada anjing liar lebih baik dari perlakuan mereka pada dirinya.
Di tempat Akiela, dia mendapat telepon jika orang yang menghadangnya siang tadi telah selesai di rawat lukanya dan sudah dapat melakukan introgasi seperti katanya "Baiklah aku segera kesana." Akiela menutup panggilan teleponnya "Siapa??" tanya Marsya "Petugas medis! Kita harus kembali." jawab Akiela.
Akiela dan ketiga temannya masih dalam perjalanan menuju tempat penahanan orang yang menyerang mereka seperti yang di beritahukan bawahannya. "Kie, menurutmu siapa dalang dari semua ini?" tanya Revin "Entah, aku tak yakin dengan pendapatku." jawab Akiela.
Sebuah ruang tertutup lima orang sedang terikat dengan kuat dengan mata tertutup dan mulut yang tersumpal mereka berlimalah yang dapat bertahan, sedangkan dua orang lain memilih bunuh diri dan tiga sisanya tidak dapat bertahan saat di perjalanan menuju rumah sakit.
Mereka mendemgar seseoramg datang mendekati mereka "Dimana kami?!!! Siapa kalian?!!!" teriak salah satunya "Kenapa?? Saat menerima tugas dari bosmu kau tak menanyakan siapa yang menjadi tagetmu?!!!" kata Revin dengan meremas wajah salah satu di antara mereka, Akiela memegang bahu Revin karna dia lihat Revin benar benar geram hampir dia meluapkan amarahnya hingga harus segera di tahan "Siapa bos kalian?!!!" kata Akiela.
__ADS_1
Mereka tak mau menjawab dengan cara baik baik dan terus memberontak "Kelihatannya kalian lebih suka dengan cara kasar?!!" kata Akiela, kini dia tak bisa tahan dengan sikap mereka. Marsya tak sengaja melihat tato kecil di leher salah satu dari mereka dia melambai memanggil Akiela dan meperlihatkan tato itu, Akiela ingat tato tersebut sangat mirip dengan tanda pada pisau yang mereka temukan di gudan AL yang di curi.
Revin mendemgar penjelasan Akiela tentang tato yang sama dengan tanda pada pisau yang di temukan, Revin mencengkeram leher salah satu dari mereka hingga kehabisan nafas "Ba...ik a..kan ku ka..ta..kan" katanya terputus putus karna kehabisan nafas, Revin melepaskan cengkramannya membuat orang itu terbatuk batuk.
Tapi sangat di sayangkan mereka hanya mengatakan bos mereka adalah perempuan blasteran dan dua orang laki laki yang salah satunya memakai seragam yang sama denga Akiela dan yang lain, lalu mereka mati bunuh diri dengan merebut pistol yang ada pada tangan aparat yang berjaga di dalam dor! Satu persatu rekannya di bunuh dan menembak dirinya sendiri "Lebih baik saya bunuh diri disini dari pada di siksa oleh mereka hingga mati." kata kata terakhir yang dia ucapkan dor! Suara peluru yang melesat menembus kepalanya.
Akiela tertegun dengan kata kata terakhirnya hingga tak sempat menolongnya 'Sekejam itukah mereka? Siapa mereka sebenarnya hingga orang orang ini memilih mari bunuh diri dari pada hidup?!' tanya Akiela di hati, sampai suara tembakan menyadarkan Akiela dari segala pertanyaan yang berkeliling di otaknya "Selalu bunuh diri!!" kata Vivian "Macam drama harem istana di komik komik." kata Marsya miris melihat mayat mayat mereka.
Akiela memberi perintah agar mayat mayat tersebut di mandikan dan di kubur secara layak karena mereka juga manusia yang berharap hidup dengan hak dan kebebasan yang sama adilnya.
Di rumah Akiela dan Rayyan. Rayyan yang baru pulang dari rumah sakitnya melihat orang orang surhan Akiela masih dirumahnya dan tetap berjaga "Kalian tidak pulang?" bertanya pada mereka "Maaf, tanpa izin dari Jendral Besar kami akan tetap di sini tuan!" jawab mereka tegas "Baiklah, jika kalian lapar kalian bisa makan di dalam." kata Rayyan lalu berjalan masuk rumah dan membersihkan diri dulu baru segera menemui putra kembarnya Dilla Dika. Sudah dua hari Akiela tak beesama dengan mereka "Nak, doakan mommy mu cepat selesai tugasnya. Apa kalian tidak rindu? Daddy sangat rindu padanya!" katanya lalu menghela nafas berat.
Terdengar di halaman rumah Rayyan ada keributan, Rayyan mencoba mengintip dari jendela ternyata enam orang penjaga yang Akiela percayakan sedang berkelahi dengan orang orang berpakaian serba hitam.
__ADS_1