
Tak butuh waktu lama karana hanya berjarak beberapa rumah saja dari rumah Revin ke rumah Egar, "Habis dari mana? kok dari arah sana?" tanya mamanya sambil menunjuk arah datang Egar "Habis ngantar pacar pulang." jawabnya santai "Siapa?" tanya mamanya penasaran "My baby hany sweety." kata Egar dengan alay "Johnsons, Cussons, Mitu baby!" timpal mamanya, "Yang mama maksud siapa nama pacarmu! Lagian siapa juga yang mau sama laki alay macam kamu ini, yang mau denganmu si Imi noh!" ejek mamanya melihat dari atas ke bawah lalu menusuk nusuk lengam putranya dengan telunjuknya, si Imi adalah monyet peliharaan tetangganya yang sering lepas dan masuk kehalaman rumahnya karna mamanya suka menanam beberapa sayur dan buah "Sembarang mama nih, masa si Imi!! Si Revin noh pacar Egar!" kata Egar kesal lalu meninggalkan mamanya, mamanya senang karna akhirnya Egar bersama dengan Revin.
"Vi, jadi masuk militer yak?" kata Niko "Iya, kenapa Nik?" tanya Vivian "Gak apa, cuma mau berpesan. Kosongin hatimu untukku ya." kata Niko, Vivian diam mendengar kata kata dari Niko lau tersenyum melihat Vivian tersenyum membuat Niko ikut tersenyum, 'Alhamdulillah! Lampu ijo rupanya.' sorak batinnya. "Udah sampai Vi." kata Niko "Gak mau masuk dulu?" tawar Vivian padanya "Lain waktu saja." katanya "Ah, ya baiklah. Makasih sudah diantar pulang." kata Vivian, Niko mengangguk dan tersenyum lalu melanjutkan perjalanan pulang.
Johan mengantar Marsya pulang juga, kebetulan dia menggunakan mobil karana motornaya sedang dalam perbaikan. "Yakin tetap masuk militer?" tanya Johan "Iya, ada apa kok tiba tiba tanya gitu?" tanya Marsya "Gak papa, cuma takut aja kalau disana ada yang lebih baik dariku." kata Johan namun tetap fokus kejalan "Lha, memang kenapa? kita kan memang gak ada hubungan apa apa." kata Marsya jujur.
Kretekk suara hati Johan yang retak "Kalau gitu kita resmikan hubungan kita! Jadi pacarku yak!" kata Johan "Enggak." kata Marsya "Secepat itu." kata Johan sedih, Marsya meliriknya lalu tersenyum "Kalau gitu, bisa gak jaga hatimu untukku?!" pinta Johan dengan sedikit rasa putus asa "Em, mungkin." kata Marsya, mendengar perkataan Marsya dia langsung menginjak rem membuat kening Marsya terbentur,
__ADS_1
Johan memandang Marsya tak percaya beruntung jalanan sangat sepi "Aduh, maaf. Sangking kagetnya, apa sakit?" tanya Johan menyesal "Ya, pasti sakitlah. Namanya juga kebentur, kalau kepeluk itu baru gak sakit." kata Marsya sambil mengelus keningnya "Kalau gitu sini kupeluk." sambil merentangkan kedua tangannya "Eh! bukan muhrim." tolak Marsya seraya menyilangkan kedua tangannya. Mereka melanjutkan perjalanan lagi "Makasih." lalu berbalik meninggalkan Johan "Lha, gak ditawarin masuk dulu gitu." katanya Johan "Emang mau?" tanya Marsya "Enggak juga sih, anjingmu galak. Aku pulang dulu yah!"kata Johan, Marsya mengangguk. Marsya memang punya anjing jenis Siberian Husky untuk menjaga rumahnya.
Dirumah, Rayyan segera membersihkan diri setelah mengantar Akiela pulang. Dia turun bergabung dengan papa dan mamanya diruang keluarga. "Ray, persiapkan perlengkapanmu. Kamu berangkat melanjutkan kuliah kedokteranmu di London, kamu berangkat malam ini!" kata papanya, Rayyan kaget "Kok mendadak gini sih pa!" kata Rayyan yang tak terima dengan keputusan papanya "Lha kenapa? kan udah ditolak."kata papanya santai lalu meninggalkan putranya yang masih tak percaya dengan apa yang dikatakan papanya barusan "Ma....." rengak Rayyan "Nunggu kelulusan dulu gitu..." manjanya pada mamanya, mamanya hanya tersenyum.
Rayyan mendengus kesal dengan berat hati dia mengemasi barang barangnya lalu mencari papanya "Udah selesai?" tanya papanya "Udah! berangkat jam berapa?" tanya Rayyan tak semangat "Sekarang!" kata papanya "Hah!!!!" Rayyan semakin tak percaya apa yang di ucapkan papanya.
Akiela tak tau kalau bunyi notifikasi pesan masuk itu adalah pesan terakhir yang Rayyan kirim padanya, jadi dia tak menghiarukannya dia pikir itu pesan dari operator kartu perdana yang dia pakai. Saat akan tidur dia melihat hpnya lalu membaca pesan yang dikirim Rayyan padanya "Kenapa tiba tiba sekali?!" kata Akiela sedikit berteriak, kini dia menangis karna tak sempat bertemu dengan Rayyan atau mengantar kepergiannya, dia mencoba menghubungi Rayyan namun hpnya sudah tidak aktif dia terus mencoba menghubungi nomor Rayyan tapi tetap saja tidak aktif.
__ADS_1
Akiela langsung terduduk lemas ditepi ranjangnya, lama dia menangisi kepergian Rayyan karna lelah dia pun berbaring mencoba melupakan kenangan bersama Rayyan dia menangis sampai tertidur. Pagi harinya dia bangun dan teringat jika Rayyan sudah pergi lalu dia menangis lagi sampai matanya sipit bengkak karna terlalu lama menangis, mamanya yang tak sengaja masuk kamar tanpa mengetuk pintu langsung kaget melihat putrinya menangis "Adek!!" teriak mamanya, ayahnya mendengar teriakan istrinya pun juga langsung lari ke sumber suara.
Diambang pintu ayahnya prihatin dengan keadaan putrinya, dia tak tega melihat putrinya menangis 'Sebegitu berharganyakah dia? sampai membuat putriku yang tangguh ini menangis seperti ini.' batin ayah Akiela. Mamanya mengompres mata Akiela dengan air es agar bengkaknya berkurang "Jika seperti ini, kamu lebih menyeramkan dari zombie dek." kata mamanya, Akiela hanya diam dia masih terbayang Rayyan, beruntung setelah ujian nasional sudah tidak ada pelajaran lagi jadi dia memutuskan tidak masuk sekolah dan akan masuk esok hari.
Teman teman Rayyan juga dikirimi pesan olehnya, dua hari setelah kepergian Rayyan teman temanya melihat Akiela yang tak bersemangat membuat teman temannya iba. "Kamu bilang mau jadi Jendral besar militer, dimana semangatmu yang dulu itu. Kau bukan Akiela yang ku kenal." kata Vivian "Kita semua akan masuk militer, kita juga pasti akan berpisah dari mereka." kata Marsya menunjuk Johan, Niko dan Egar "Benar yang di katakan Marsya, mereka pun juga akan memgejar mimpi mereka. Kita juga sama maka dari itu kita harus semangat!!." kata Revin menguatkan, Akiela memandang semua temannya lalu tersenyum kini semangatnya tumbuh kembali 'Ku tunggu kepulanganmu Ray, kau harus menepati janjimu.' batin Akiela.
Sudah seminggu sejak kepergian Rayyan ke London untuk melanjutkan kuliah kedokterannya, kini Akiela sudah terbiasa dengan keadaan tanpa adanya Rayyan tapi dalam hati Akiela dia sangat merindukan kehadiran Rayyan 'Terasa waktu berjalan begitu lambat, bagaimana keadaanmu di sana Ray?' batin Akiela yang menatap langit.
__ADS_1