
Lampu ruang oprasi mati menandakan oprasi selesai, tampak pintu ruangan terbuka dan seorang doktr keluar "Siapa keluarga pasien?" tanya dia "Saya, saya istrinya. Bagaimana dengan suami saya dok?!!" tanya Akiela panik "Tuan Rayyan sangat beruntung karna peluru tersebut meleset tak mengenai organ vitalnya, hingg nyawa tuan Rayyan terselamatkan.
"Jelasnya "Sekarang tuan Rayyan akan di pindahkan ke ruang rawat inap untuk perawatan lebih lanjut. Mungkin beliau akan sadar setelah kurang lebih 5 jam setelah oprasi." lanjut dokter itu, mendegar penjelasan dokter tersebut membuat Akiela merasa sangat lega dan mulai sedikit tenang "Baiklah terimakasih dokter." kata papanya "Baik, kalau begitu saya permisi." pamit dokter tersebut.
Rayyan sudah di pindah ke rumah sakit yang lebih baik, kini Akiela disibukkan dengan merawat Rayyan dan juga putra kembarnya.
"Udah lima jam, belom sih?!!! Lama banget!!" gerutunya "Cepatlah sadar Ray, apa kamu tak mau melihatku lagi? Betah banget itu mata terpejam terus.", Akiela menunggu di samping ranjang rawat Rayyan dia juga sering melihat kondisi si kembarnya di ruangan lain yang tidak terlalu jauh juga.
Di ruangan putranya ada ayah dan mamanya yang menjaga, saat di selamatkan dari tangan Susan dan kedua anggota pemberontak itu Dilla dan Dika dalam keadaan pingsan karna dehidrasi dan kelelahan juga keadaan ruangan yang sedikit pengap, sangat beruntung waktu itu kembar segera terselamatkan jika waktu terulur lebih lama, entah bagaimana nasib mereka?.
"Ma, bagaimana kondisi Dilla dan Dika?" tanya dia, saat ini dia baru masuk ke ruangan putranya di rawat "Perkembangan kondisinya terus membaik, mereka baru saja tertidur." jawab mamanya seraya mengelus lembut kepala keduanya secara bergantian, mendengarnya Akiela mengangguk mengerti dia teramat sangat bersyukur ketiga orang peting bahkan sangat penting dalam hidupnya bisa bertahan.
Di tempat lain, Jendral Mike dan Mayor Rudi telah mendapat hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. Mereka di berhentikan secara tidak layak oleh TNI dan mendapat hukuman penjara.
Di markas yang telah di siapkan oleh Bayu dan Abraham, Susan tengah terikat tangan dan kakinya dan sedang tidak sadarkan diri. Bayu dan Abraham menunggu sadarnya Susan dengan sabar, benar saja tak lama mereka menunggu mata Susam tampak bergerak gerak tanda dia akan segera sadar dari pingsannya.
"Sudah sadar Susan?!" dengan senyum yang menakutkan menurut Susan, lalu Susam melihat ke arah Abraham yang juga tengah tersenyum aneh padanya.
"Dimana kau membawaku?!! Apa kau tak tau siapa ayahku?! Hah!!!" teriak Susan pada Bayu dan Abraham.
"Apa dia ayahmu nak?!" kata Bayu seraya berdiri dari duduknya dan membuka pintu yang menjadi satu satunya jalam keluar dalam ruangan tersebut.
Terlihat seorang pria bule dengan gagah dengan sorot mata biru setajam elang nahkan hanya dengan menatapnya mampu membuat siapa saja takut hingga berkeringat dingin.
"Ayah!!! Tolong lepaskan aku dari mereka!" teriak Susan dia sangat senang melihat ayahnya datang, dia yakin jika ayahnya datamg untuk memyelamatkannya dari genggaman Bayu dan Abraham.
__ADS_1
"Putrimu Xander?!" Abraham berdiri memdekati ayah Susan yang menatap ke arah Susan.
Ayah Susan bernama Xander Cillian Draco lebangsaan Italia, seorang mafia besar di negaranya sekaligus teman Abraham dan Bayu saat kuliah di Italia.
"Apa yang dia lakukan?" kata Xander pada Abraham tanpa melepas tatapannya pada Susan sang putri.
"Hanya perselisihan dengan Jendral Besar Akiela dan pemcurian senjata angkatan laut." jawab Abraham beralih menatap Susan.
Susan yang ditatap dengan tatapan seperti itu nyalinya langsung menciut, apalagi tatapan dari sang ayah yang sangat menakutkan baginya.
Xander berjalan santai mendekati Susan, membuat Susan langsung berkeringat dingin dia sangat takut 'Apa yang akan ayah lakukan?' batinnya ketakutan.
"Apa yang kau lakukan?!" tanya Xander yang sudah berdiri tepat di depan Susan, Susan kelabakan dadanya terasa sesak dia sangat ketakutan melihat ayahnya yang sudah berdiri di depannya.
"Kau tau siapa Jendral Besar Akiela?!" tanyanya, semakin bingung dengan pertanyaan ayahnya lalu memberanikan diri mendongak menatap ayahnya.
'Tajam' satu kata yang dapat Susan gambarkan dari sorot mata ayahnya "Ap apa ma maksud ayah?!" dengan terbata dia memberanikan diri bertanya.
"Aku tanya padamu! Kau tau siapa Akiela?!" nada suara Xander yang mulai meninggi, sedangkan Bayu dan Abraham tetap seria melihat perdebatan antara ayah dan anak tersebut.
Susan menggelengkan kepala pelan, dia benar benar tidak tau siapa Akiela sebenarnya. Susan mendukkan kepala berfikir siapa Akiela sebenarnya.
"Saudara sepupumu, ibunya adalah kakak dari ibumu." jelas Xander mengangkat kepala putrinya agar menatap matanya, "Kau bilang kembali ke Indonesia akan menjemput ibumu dan membawanya bersama ke Italia." katanya "Tapi sekarang apa?!!" sedikit membentak.
Susam tersentak dengan bentakkan ayahnya sekaligus kaget dengan penjelasan kenyataan yang baru dia dengar langsung dari mulut ayahnya sendiri.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin?!" Susan tampak frustasi dia tak pernah sedikitpun ingin menyakiti keluarganya walau keluarganya menyakitinya "Tidak mungkin ayah!!" teriak Susan.
"Diman ibumu sekarang?! Biarkan dia menjelaskannya padamu." kata Xander melihat putrinya menangis di depannya. Tapi Susan menjawabnya dengan gelengan kepala.
Xander tau jawaban apa itu lalu berbalik meninggalkannya tetap terikat di sana "Renungkan kesalahanmu!" berjalan meninggalkannya dan menghampiri Bayu juga Abraham "Antarkan aku pada Akiela dan keluarganya." kata Xander.
"Tidak ayah! Aku ikut!" ronta Susan yang ibgin ikut nersama dengan Xander menemui Akiela.
"Renungkan kesalahanmu!!" bentak Xander. Seketika Susan langsung terdiam ini adalah pertama kalinya bagi Susan mendapat bentakan dari sang ayah, dia hanya bisa menangis menyesali perbuatannya.
Bayu dan Abraham mengangguk. Mereka berangkat ke rumah sakit tempat Rayyan dan putra kembarnya di rawat.
Toktok! Pintu ruang rawat Rayyan di ketuk, Akiela segera membuka pintunya "Jendral!" kata itu secara spontan keluar begitu saja, sedanfkan Batu dan Abraham hanya tersenyum. Tapi Akiela melihat satu lagi laki laki yang tak dia kenalinya.
'Siapa ya??' batinnya, sambik menelengkan kepala. "Boleh kami masuk?! Kita bicarakan di dalam!" kata Abraham membuyarkan lamunan Akiela.
"Ah iya! Maaf! Mari silakan!" Akiela memberi jalan pada mereka agar masuk ke dalam ruang rawat Rayyan dan di ranjang rawat ada Rayyan yang duduk.
"Tuan Bayu, Tuan Abraham dan...?" Rayyan benar benar tak mengenali yang satu lagi.
"Xander!" jawan Xander yang mengerti arah kaliamat yang menggantung yang Rayyan ucapan.
"Tuan Xander." Rayyan turun dari ranjang rawat, dia sudah tak memakai sekang infus lagi karna besok sudah di perbolehkan pulang.
"lebih baik lagi jika kalian berdua memanggilku paman." kata Xander lagi, membiat Akiela dan Rayyan saling berpandangan bingung, "Dimana orang tuamu Akiela?" tanya Xander.
__ADS_1