
"Anda mengenal saya??" Akiela memasang wajah konyolnya yang bingung, "Tentu saja, nak! Aku pamanmu tentu saja aku tau!!" kata Xander dengan kekehan kecil.
"Bos mafia Italia ternyata bisa tertawa Bayu." sindir Abraham, dan di balas kekehan oleh Bayu "Apa tidak boleh?!!" sewot Xander pada kedua teman lamanya tersebut.
Akiela dan Rayyan semakin bingung dengan mereka bertiga. Xander melihat kebingungan Akiela segera mengubah arah pembicaraannya "Maaf nak! Biarakan Susan aku sendiri yang menghukumnya." pinta Xander.
"Hah?!! Anda siapa dari nona Susan tuan??" tanya Akiela, "Sudah ku bilang! Panggil aku paman! Aku ini pamanmu!!" Xander mulai gemas.
"Baik baik!" pasrah Akiela, "Aku ayah Susan!" jawab Xander. "Apa!!!" teriak Akiela dan Rayyan bersamaan "Jika anda pamanku lalu Susan adalah?" kata Akiela.
"Adalah adik sepupumu! Aku suami dari adik ibumu, mungkin kamu tak mengetahui ini. Tapi bolehkah aku bertemu dengan orang tuamu terlebih dulu." kata Xander dengan nada memohon.
"Baiklah, mereka ada di kamar rawat putraku." ajaknya, Xander mengangguk. Mereka berjalannke ruang rawat Dilla dan Dika, Bayu, Abraham dan Rayyan juga ikut bersama ke ruang rawat si kembar.
Akiela langsung membuka pintu dan masuk bersama dengan mereka. Mendengar pintu terbuka dan suara langkah kaki yang sedikit ramai kedua orang tua Akiela menoleh.
"Xander?!" panggil Mela "Apakah kamu benar benar Xander?!!" tanyanya sekali lagi lalu berdiri mengahampiri Xander yang hanya berdiri diam menatap Ryan dan Mela dengan sedih.
"Kemana kamu selama ini Xander?! Aku mempercayakan adikku padamu tapi kau meninggalkannya!!" tangis Mela pecah seketika itu Ryan langsung memeluk tubuh sang istri.
"Maaf, kak! Bukan maksutku untuk meninggalkan Dinda. Tapi aku pun saat itu di bwa paksa oleh ayahku bahkan dengan cara bius dengan dosis tinggi!" jelasnya dengan mata berkaca kaca.
"Apa yang terjadi selama ini Xander?!" tanya Mela "Aku di beri obat agar melupakan Dinda kak, maaf pemulihan yang harus aku jalan sangat kama sehingga tak bisa segera bertemu dengan kalian." sesal Xander kini air matanya mulai menetes.
__ADS_1
Akiela menyimak segala percakapan mereka 'Jadi dia benar benar pamanku?!!' batinnya tak percaya. "Tapi ma! Dimana bibi Dinda sekarang dan kenapa mama tak pernah menceritakan tentang bibi Dinda padaku jika dia sudah menikah dan bahkan sudah memiliki anak?" tanya Akiela.
"Ibu sudah pernah bercerita padamu dulu saat kamu masih di sekolah dasar dan tang hari bulan dan tahun kami tak oernah menanyaknnya dan ibu juga tak tau keberadaannya sampai sekarang." kata Mela enteng.
"Jadi kakak tidak tau Dinda ada dimana?!" kata Xander panik. "Lha ku kira kaliam sudah bersama sampai kamu bisa bertemu denganku disini." kata Mela yang sedikit bingung.
Xander berlari keluar dia menelpon semua anak buahnya yang berada di negara yang dia singgahi sekarang "Cari dia sampai ketemu!!" teriak Xander lewat sambungan teleponnya.
Di dalam ruangan Dilla dan Dika di rawat tinggallah orang tua Akiela dan Akiela, Rayyan, Bayu serta Abraham. Akiela menjelaskan pelan pelan kronologi kenapa kejadia ini terjadi dan orng tuannya juga sempat kaget dan syok lalu menceritakan juga kisah antara Xander dan Dinda bibinya.
"Temukan bibi Dinda secepatnya!" Akiela memerintahkan orang suruhan terbaiknya untuk menemukan bibinya yang hilang.
Dua hari lamanya Akiela menunggu kabar dari orang kepercayaannya untuk mencari keberadaan sang bibi yang tak pernah dia ketahui bahkan dari foto dan kemarin pula Rayyan dan kedua putranya sudah di perbolehkan pulang oleh dokter.
Akiela mendapatkan buah hasil kesabarannya menunggu, telponnya berdering dan segera Akiela menjawabnya "Di mana?!", "Ya! Aku segera ke sana! Kirim lokasinya!" perintah Akiela lalu memutuskan sambungan teleponnya.
"Kaukan sudah keluar dek." tanpa menoleh ke arah Akiela, Mela tau jika Akiela sedang berada di halaman tapi dia tidak tau jika yang di maksud keluar adalah menemui bibinya yaitu adiknya Dinda.
"Astaga ma! Adek mau keluar ketemu bibi Dinda mama!" kesal Akiela mendengar jawaban enteng dari mamanya.
"Oooh....." Mela hanya ber 'oh' ria lalu dia tamoak berfikir kembali "APA!!! Dinda!!! Dimana!!! Mama ikut!" teriak Mela.
"Tidak! Mama di rumah saja sama Dilla dan Dika, biar aku dan paman Xander yang ke sana." Akiela sudah bersiap masuk ke mobilnya.
__ADS_1
"Tapi dimana Xander tinggal sekarang?!" tanya Mela yang menghentikan langkah Akiela yang hendak masuk ke mobil.
Akiela pun membalikkan badan memghadap mamanya "Paman Xander ada di rumah Jendral Senior, mungkin di rumah Ruan Abraham." instingnya mengatakan begitu.
Mela mengangguk mengerti "Hati hati di jalan!" pesannya dan di balas anggukan oleh Akiela dan segera melesatkan kendaraannya agar segara yerselesaikan masalah masalh ini.
Di jalan menuju rumah Abraham dia menelpon ke kediaman Abraham menanyakan apakah pamannya Xander tinggal disana, dan ternyata memang benar dugaannya. Akiela menambah sedikit laju mobilnya agar cepat sampai ke tempat tujuan.
Tingtong! Suara bel rumah Abraham, "Silakan Jendral Besar! Tuan sudah menunggu anda di ruangannya." kata seorang yang membukakan pintu. Akiela mengangguk mengerti dan berjalan masuk dia juga sudah tau di mana itu 'ruangan' yang di maksud tadi adalah ruang bawah tanahnya.
"Tua.... Susan!" Akiela hendak menyapa Abrahanm tapi terpotong saat melihat Susan yang hampir gila depresi karna penyesalan di sana dia melihat Xander, Bayu dan Abraham juga yang melihat ke arahnya.
"Kenapa dengan Susan?!!" dia berlari menghampiri Susan tanpa ada yang menghalangi dan melepaskan ikatannya.
"Akiela! Kamu Akiela kan?! Kamu Akiela benarkan?!!" Susan menggenggam tangan Akiela dengam sangat erat dan mata uang berkaca kaca.
Sebenarnya Akiela sangat prihatin dengan keadaan Susan yang seperti ini rambit yang acak acakkan, matanya yang bengkak dan merah, bekas tamparan pada kedua pipinya, "Iya iya aki Akiela." memapah Susan yang lemas.
"Maafkan aku! Maafkan aku yang di butakan oleh cinta yang berubah menjadi ambisi!" tangis sendu Susan, dia hendak memerosokan dirinya agar bersimpuh di kakinya.
Akiela menahan agar Susan tetap berdiri sejajar dengannya "Apa yang kau lakukan?! Kamu bisa di bilang adikku sudah pasti aku memaafkanmu." Susan langsung memeluk Akiela dan tangis yang semakin menjadi.
Akiela melihat ke arah Xander dengan tatapan meminta penjelasan, "Itu hukuman untuknya karna berbohong dan mencelakai saudaranya." tatapan Xander tak beralih dari Susan.
__ADS_1
"Tapi paman, kasihan dia!" memapah Susan yang berjalan tertatih agar mendekat pada Xander dan kedua rekannya yaiti Bayu dan Abraham.
"Itu hukuman yang ringan untuk keturunan seorang mafia seperti Susan." kata Xander, Akiela di buat kaget dengan pernyataan yang baru saja di dengarnya.