
Tiiiiit..... Suara yang paling Rayyan takutkan terdengar dari alat yang terhubung dengan tubuhAkiela, Rayyan melangkah mundur lalu dia melihat tangannya yang banyak darah dari Akiela 'Tidak mungkin!!' batinnya, Rayyan menangis 'Apa aku gagal?" batinnya tak percaya, dokter lain melanjutkan menutup luka luka Akiela.
Melihat dokter lain menyelesaikan tahapan oprasi pada Akiela, segera Rayyan menghalangi "Tidak, jangan!! kita lanjutkan oprasinya." kata Rayyan "Dokter, pasien sudah tiada." kata dokter lain "Dia masih hidup!!!." bentak Rayyan dengan air mata yang bercucuran "Dia masih hidup, dia pasti bertahan dia harus bertahan!" kata Rayyan yang sudah mengambil alat oprasi dan hendak menggapai Akiela tapi ditahan oleh beberapa perawat dan dokter lain yang mencoba menenangkannya "Dokter, tenanglah!! Hidup dan mati seseorang bukan kita para dokter yang menentukan. Ini sudah kehendak yang Kuasa." kata dokter lain.
Rayyan menangis dia sangat terpukul dengan keadaan ini "Gak mungkin, ini gak mungkin AKIELA....!!!!!" teriak Rayyan dia menjambak rambutnya frustasi dan terduduk dilantai, di luar ruangan mereka mendengar teriakan Rayyan seakan mengerti apa yang terjadi mereka menangis dan saling menguatkan disana hanya Marsya yang tidak ada karna masih dalam tugas.
Beberapa perawat membawa Akiela keluar ruangan "Dimana dia?" tanya Rayyan karna tak melihat Akiela diruang oprasi, lalu dia segera bangkit dan berlari keluar mengejar "Akiela! Akiela!" teriak Rayyan. Ranjang rumah sakit yang d tempari Akiela berbaring berhenti di keluargamya yang menunggu di depam ruang oprasi "Putriku!!!" mamanya menangis tersedu sedu, ayahnya juga meneteskam air mata "Sudah ma! Ikhlaskan agar dia tenang, ini sudah menjadi resiko profesi yang dia ambil." pasra ayahnya. Vivian menangis dalam pelukan Niko dan Revin juga menangis di pelukan Egar.
Rayyan terus memanggil manggil nama Akiela "Akiela!! Akiela!!" Rayyan melihat ranjang Akiela berhenti di depan ruang oprasi, dia berlari dan memeluk Akiela yang sudah terbaring pucat "Jangan tinggalkan aku Akiela, aku masih menunggumu. Buka matamu lihatlah aku, aku mencintaimu aku masih menunggumu bangunlah Akiela!" kata Rayyan mecium tangan Akiela, orang tua Akiela dan teman temannya menangis melihat betapa hancurnya Rayyan.
__ADS_1
Perawat hendak menggapai ranjang Akiela untuk di mandikan dan d bawa ke rumah duka "Menjauh darinya!!!." bentak Rayyan pada para perawat yang akan membawa Akiela "Sudahlah nak, ikhlaskan." kata ayah Akiela menguatkan "Tidak!!! Dia masih hidup, aku yakin itu. Aku yakin!" tangis pecah Rayyan "Akiela bangun, kau bilang kau mencintaiku. Kau pembohong Akiela kau bohong! Buka matamu aku mencintaimu Akiela, ku mohon bangunlah!" memeluk Akiela yang masih tak bergerak.
"Dimana aku, dimana tempat ini?" tanya Akiela yang kebingungan, dia melihat kesekelilingnya hamparan padang rumput hijau yang luas udara yang sejuk dan suasana yang tentram. Lalu dia mendengar suara Rayyan memanggilnya dia mencari asal suara itu tapi tidak ada dia berlari masih tetap tidak ada seakan padang rumput itu tak berujung "Rayyan! Dimana kamu? Kenapa hanya suaramu yang terdengar?" kata Akiela dia menangis kakinya sudah tak mampu menopang badannya yang lelah berlarian mencari kebetadaan Rayyan yang sedari tadi memanggilnya.
Sorot cahaya putih yang menyilaukan tepat di depannya, samar samar Akiela melihat seseorang berdiri di depannya "Siapa anda? Dimana saya berada?" tanya Akiela dia tak bisa melihat wajah orang itu hanya sinar yang menyilaukan matanya yang dia lihat "Pulanglah, dia menunggumu!" kata orang itu lalu Akiela mendengar suara Rayyan semakin jelas dan jelas "Akiela buka matamu, aku akan membencimu jika kau tak bangun!" kata Rayyan dengan menyatukam keningnya dan kening Akiela.
Air mata Rayyan menetes di kedua mata Akiela, membuat mata yang tadinya tertutup kini kelopak matanya bergerak gerak "Ku mohon bangunlah Akiela, atau aku akan benar benar membencimu. Bangunlah Akiela ku mohon ku mohon, buka matamu sayang!" kata Rayyan, mata Akiela perlahan lahan terbuka "Benarkah kamu membenciku?" tanya Akiela dengan suara sangat lemah.
Isi surat Akiela pada Rayyan.
__ADS_1
Untukmu Rayyan.
Ray sebegitu bencinyakah kamu padaku? Apa karna aku menolak menjadi kekasihmu sampai kau tega meninggalkanku secepat itu. Kau jahat Ray, aku juga menyukaimu tapi apa yang harus kulakukan? Aku takut menjadi penghalang bagimu menjadi seorang dokter dan aku, aku takut aku tak sanggup untuk meninggalkanmu saat masuk pelatihan militer nantinya. Kau berangkat ke London tanpa mau menemuiku, aku sedih, aku kecewa, aku marah tapi apa yang bisa kulakukan? Aku terus mencoba menghubungimu tapi nomormu sudah tidak aktif lagi aku semakin bingung apa yang harus kulakukan saat itu? Kau tak tau bagaiman aku menjalani hariku tanpamu semuanya hampa Ray. Ku dengar kamu kini sudah menjadi seorang dokter spesialis ku ucapkan selamat untukmu, aku sekarang juga sudah menjadi Jendral besar terimakasih atas dukunganmu. Aku selalu berharap kamu akan menepati janjimu untuk tetap menungguku, menunggu aku menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawabku. Disaat nanti aku tak bisa melihatmu lagi apa yang akan kau lakukan? Ku harap kamu bisa menerima dan merelakan itu, entah kenapa aku merasa akan pergi jauh, entah kenapa aku merasa harus segera mengatakannya padamu. Ray aku mencintaimu.
Dariku Akiela.
Diruang rawat inap Rayyan masuk keruangan dimana Akiela dirawat, dia melihat Akieka sudah bangun "Pagi Kie!" sapanya "Pagi juga Ray." kata Akiela lama mereka diam lalu " Kie, menikahlah denganku!" kata Rayyan seketika Akiela menoleh, Rayyan sudah memegang kotak beludru kecil berwarna biru yang terbuka didalam sana ada cincin dengan bentuk sederhana tapi tetap indah dan elegan sangat cocok dengan Akiela.
"Kie, menikahlah denganku. Aku akan menjagamu aku ingin selalu menjadi semangatmu aku gak bisa kehilanganmu kau tau aku hampir gila tanpamu disana tanpa senyummu tanpa candamu aku tak bisa tanpa semua itu, aku....." belum menyelesai kan kata katanya, tangan Akiela menutup mulutnya "Ya Ray, aku mau. Berhentilah mengoceh! Apa kau tak ingin memasangkan cincin itu di jariku?" kata Akiela, Rayyan tersenyum bahagia dan memasang cincin itu di jari manis Akiela "Terimakasih Kie." kata Rayyan seraya memeluk Akiela "Kecil!" canda Akiela memandang cincinnya.
__ADS_1
"Kita akan memebeli yang lebih besar saat pernikahan kita nanti." kata Rayyan tanpa melepaskan pelukannya "Ehem. Yang sudah jadian ni, PJnya mana?" goda Niko "Cepatlah menyusul, kalian menggangu saja." kata Rayyan lalu melepas pelukannya pada Akiela "Iya kita kapan Re?" tanya Egar "Kita kan sudah bertunangan Siregar Covid Narona!" kata Revin, Egar pun tertawa terbahak "Apa!!! Kalian sudah bertunangan?" tanya mereka bersamaan.