
Lalu Akiela berdiri dan melihat keluar jendela, memang benar ada dua orang yang tampak sedang mengawasi rumahnya "Kau benar." kata Akiela, lalu sebuah mobil memasuki halaman rumah Akiela membuat dua orang tersebut pergi meninggalkan rumah Akiela "Mobil siapa?" tanya Akiela "Sepertinya mobil Niko." jawab Revin "Hei, kalian sedang mengawasi orang asing! kenapa jadi mobil Niko?" kata Vivian "Orang itu pergi saat mobil Niko datang." kata Revin.
Tingtong suara bel rumah Akiela bunyi, Akiela segera membuka pintu dan ternyata benar Niko yang datang "Apakah Vivian ada disini?" tanya Niko "Ada apa?" tanya Vivian yang mendengar Niko sedang mencarinya "Masuklah." kata Akiela. Kini Niko sedang berada diruang tamu rumah Akiela bersama dengan Vivian, Marsya dan Revin "Aku mencarimu dirumah, tapi tidak ada." kata Niko "Ada masalah?" tanya Vivian "Ya, sepertinya kita akan menunda pernikahan kita. Aku minta maaf." kata Niko dengan murung "Aku harus menyelesaikan persidangan minggu depan aku harus melakukan perjalanan ke luar negri untuk menyelesaikan masalah itu sampai tuntas dan masih ada tiga kasus berat lain yang belum terselesaikan." jelasnya.
Sontak mendengar penjelasan dari Niko mereka semua kaget "Tidak apa." kata Vivian "Kami juga sedang ada masalah dengan pertahanan militer." kata Vivian, ada raut kekecewaan disana tapi ini memang resiko dari profesi yang mereka pilih jadi apapun yang terjadi mereka sepakat untuk menerimanya dengan lapang dada.
"Masalah apa? Hingga mengancam pertahanan militer?!" tanya Niko mengernyit bingung "Gudang persenjataan dari angkatam laut telah dicuri." jawab Vivian. Niko kaget tapi dia memahami apa yang mereka hadapi dan dia juga mengerti sebesar apa tanggung jawab yang mereka pikul "Semangat! Aku akan terus mendukungmu." kata Niko menyemangati Vivian "Terimakasih." kata Vivian, setelah itu Niko berpamitan untuk pulang karna dia harus beristirahat dan mempersiapkam dokumen penting untuk persidangannya.
__ADS_1
Di rumah sakit, Rayyan sedang duduk mengistirahatkan badannya di kantornya dari beberapa oprasi yang telah selesai. Toktok pintu ruangan Rayyan diketuk "Ya, masuk!!" perintahnya "Dokter, nona yang datang waktu itu memaksa ingin bertemu." kata asistennya "Katakan padanya aku sedang sibuk!" kata Rayyan lalu asisten Rayyan segera menutup pintu kembali. Di luar ruangan Rayyan terdengar kegaduhan seseorang sedang bertengkar namun Rayyan tak memperdulikannya pikirnya mungkin keluarga pasien yang tak terima jika pasien telah meninggal atau yang lain "Biarkan sajalah." kata Rayyan mencoba menenangkan dirinya sendiri, tiba tiba pintunya terbuka dengan keras bruak!!! Seorang wanita berlari dan langsung berhambur ke pelukan Rayyan.
Rayyan sangat kaget siapa yang datang dan dengan cara yang gila menurutnya "Kau gila! Hah!!" bentak Rayyan "Lepaskan Aku!! Kau membuatku muak!!" kata Rayyan memaksa melepaskan pelukan dari wanita itu "Aku merindukanmu Ray." kata wanita itu manja tetap mengeratkan pelukannya tapi Rayyan membalasnya dengan tatapan jijik dan tak suka "Pergilah!! Aku muak dengan mu, aku sangat membencimu!!!" kata Rayyan, dengan sangat kasar Rayyan melepas pelukannya dan mendorong paksa wanita itu keluar ruangannya.
Tapi tak disangka malah wanita itu memeluknya lagi dengan sangat erat "Aku merindukanmu Ray." katanya "Sudahlah Susan, setelah apa yang kau lakukan pada keluarga ku dulu menurutmu aku akan dengan mudah memaafkanmu. Hanya dalam mimpimu!!!." kata Rayyan penuh penekanan lalu dia melepas pelukan Susan dan menggenggam erat tangan Susan hingga pergelangan tangan Susan merah dan terasa perih "Ray, tanganku sakit lepaskan." ronta Susan namun Rayyan tak peduli dan tetap menyeret paksa Susan keluar dari rumah sakitnya.
Sepanjang perjalanan memuju ruangannya Rayyan menggerutu tak jelas "Dasa wanita ular, medusa, kutu air, panu kura kura, ketombe gajah! Pantas jadi kegatelan!", Rayyan membuka pintu ruangannya dengan kasar dan menutupnya keras keras "Pintu lucknud! Lain kali ku pasang sensor agar wanita gatek sepertinya tak bisa masuk!" tunjuknya marah "Wanita gila!!" lalu Rayyan mendudukkan dirinya pada sofa di ruangannya.
__ADS_1
Diluar rumah sakit Susan bangkit dan masuk ke mobilnya "Segera lakukan rencananya." kata Susan lewat sambungan telepon dengan seseorang "Kita lihat saja Rayyan, kau akan menyesal telah menolakku! Kita kihat saja." kata Susan dengan menggenggam kemudi mobilnya erat.
Pintu ruangan Rayyan terbuka kembali ceklek "Kenapa kau masih disini?!!!" bentak Rayyan tanpa melihat ke arah pintu "Terus aku harus kemana?" tanya Niko, ternyata yang datang adalah Niko bukan Susan "Ku kira wanita gila itu." kata Rayyan menahan marah "Wanita gila? siapa maksudmu?" tanya Niko bingung "Susan!!" jawab Rayyan malas "Susan?" kata Niko yang tak percaya "Ya, dia baru saja ku seret keluar dari sini." katanya "Untuk apa dia kembali?" tanya Niko.
"Mana ku tau...!!!!" kata Rayyan nyolot "Woho!! Santai bro! Aku hanya heran saja, bukannya dia di Italia kenapa sekarang di Indonesia?!" jelas Niko "Entahlah." kata Rayyan yang semakin pusing kepalanya "Kau dari mana?" tanya Rayyan "Mencari Vivian." jawan Niko "Ketemu?" tanya Rayyan lagi "Sudah. Dia sedang di rumah mu." kata Niko, Rayyan hanya mengangguk mengerti. Lama mereka hanya diam "Ray." panggil Niko "Kamu beneran mengizinkan si Akiela kembali ke militer?" tanya Niko "Menurutmu...?" tanya balik Rayyan.
Niko hanya mengangkat bahunya, mengusap wajahnya kasar dan menhembuskan nafasnya lelah "Aku harus sadar siapa istriku dan posisi apa yang dia jabat, sebenarnya aku juga tak rela tapi harus bagaimana lagi?! Pertahanan negara bergantung padanya, bagaimana jika itu untuk memecah belah negara kita ini? Lalu bagaimana dengan orang orang yang tak bersalah?. Aku harap kamu dan yang lain juga bisa mengerti posisi mereka." kata Rayyan panjang lebar "Aku tau." kata Niko "Ray, si Susan ada apa apain kamu gak? Hem hem?!!" tanya Niko menaik turunkan alisnya "Kamu seperti tak mengenalnya saja. Sikapnya benar benar membuatku muak." jawab Rayyan yang tak sengaja mengingat kembali kejadian tadi membuatnya menahan marah.
__ADS_1
Di rumah Akiela, Vivian dan yang lain telah pulang. Akiela ingin pergi kerumah orang tuanya tapi takut jika saja orang asing tadi datang lagi kediamannya lalu dia memilih untuk menelpon orang tuanya tut..tut "Hallo." kata mama Akiela di sebrang telepon "Hallo, ma!" jawab Akiela "Ada apa dek?" tanya mamanya "Adek hanya mau pamit, jika besok adek akan aktif kembali sebagai Jendral besar AD ma." kata Akiela, mamanya sempat kaget mendengarnya "Kenapa secepat ini dek? Bukannya kamu sudah cuti sampai Dilla dan Dika berusia satu tahun?" kata mamanya.