
Di luar ruangan Laksamana Besar di sekap ada Marsya dan Vivian yang berjaga di luar dan tak jauh ada beberapa anggota AD yang mengikutinya masuk tapi tetap menjaga jarak menunggu perintah penyerangan dari Akiela.
Marsya mendengar tangisan seseorang "Vi! Apa kamu mendengar orang yang sedang menangis??" tanya dia, Vivian menajamkan pendengarannya "Benar! Seperti ada orang menagis dan suaranya seperti dari ruang sebelah." kata Vivian yang menunjuk ruangan sebelah di samping ruangan Laksamana Besar di sekap "Kie, aku akan memeriksa rungan sebelah sepertinya aku mendengar tangisan di sana." kata Vivian melalui sambungan Earphonenya "Ya, baiklah akan ku susul." kata Akiela.
Akiela dan Revin memapah Laksamana Besar yang mendapat banyak luka cambuk atau pukulan senjata tumpul pada tubuhnya "Bawa Laksamana Besar dan segera rawat lukanya." perintah Akiela pada anggota lain yang berada di dalam markas lalu menyerahkan Laksamana Besar pada mereka dengan hati hati "Berhati hatilah Jendral, dia tidak sendiri! Ada orang dalam yang bersama dengannya." pesannya,
'Organ dalam??? Yang benar saja.' batin Revin yang salah dengar "Saya mengerti." jawab Akiela, Revin memandang Akiela bingung tapi tidak mendapat tanggapan dari Akiela. Akiela dan Revin segera menuju ruangan yang Vivian katakan tadi disana Akiela kaget "Nyonya!" kata Akiela, Akiela kaget karana keluarga Lakasamana Besar ada disini kedua anak dan istrinya.
"Bagaimana kalian bisa sampai di tempat seperti ini??!." tanya Akiela yang langsung berjalan cepat mendekati mereka dan melepaskan ikatan dan membuka penutup mulutnya "Anda adalah..??" tanya dia menggantung dan menatap mata Akiela "Jendral Besar AD dan mereka bertiga adalah Perwira Tinggi." jawab Akiela, lalu istri dari Laksamana Besar tersebut melihat ke arah Revin, Vivian dan Marsya dan mengangguk.
"Waktu itu saya dan anak anak sedang makan di restoran untuk merayakan ulang tahun putri bungsu kami. Kami menunggu papanya datang, tapi tak kunjung datang jadi kami pikir dia sedang ada tugas mendadak karna memang dia menjabat sebagai Laksamana Besar di AL. Setelah kami makan kami tak sadarkan diri dan setelah membuka mata kami sudah berada di sini." jelas istri Laksamana Besar.
__ADS_1
Akiela melihat ada beberapa bekas luka lebam dan bekas tamparan pada pipi mereka bertiga bahkan di tubuh anak lelaki Laksamana Besar ada luka cambukan yang terlihat masih baru karna beberapa dari lukanya masih mengalirkan darah "Mereka yang melakukan ini?" tanya Akiela, dan di jawab dengan anggukkan "Pada anak anak seusia mereka?!" tanya nya kembali dan di jawab anggukkan lagi "Mereka memaksa kami mengaku di mana Laksamana Besar berada, padahal kami pun juga tidak tau sekarang dia ada dimana?" jelasnya 'Jadi dia tidak tau jika Laksamana Besar juga ada disini?' batin Akiela "Lalu anda berada disini berapa lama?." tanya Marsya lalu memapahnya berjalan "Mungkin lima atau empat hari, entahlah! Saya lupa tante." jawab putri bungsu dari nyonya Bagas.
Akiela memejamkan mata menahan rasa geramnya mendengar penuturan mereka. Mereka sedikit kesulitan memapahnya berjalan keluar luka luka mereka terbuka kembali dan mengeluarkan darah segar, Akiela menyerahkan keluarga Laksamana Besar pada anggota lain di luar agar di bawa le rumah sakit dan menjalani perawatan atas luka lukanya "Bawa ke rumah sakit yang sama dengan Laksaman Besar." perintahnya, nyonya Bagas terkejut dan hendak bertanya apakah suaminya juga di sini tapi saat menoleh ke arah Akiela, dia sudah berjalan menjauh.
Di tempat Rayyan, "Apa yang kamu inginkan Susan?!" tanya Rayyan "Aku menginginkan dirimu Ray!!" jawabnya "Tak ada gunanya kamu melakukan ini semua, aku bener benar tidak mencintaimu aku menganggapmu seperti saudaraku sendiri!" kata Rayyan "Nona Susan jangan lupakan kami yang membantumu. Aku bersedia membantumu menculik anaknya agar kau bisa membantuku menggulingkan jabatan Jendral Besar." kata orang yang memakai seragam yang sama seperti Akiela.
Rayyan melihat tagname yang menempel pada seragamnya dan bintang empat di bahunya 'Mike?! Apa dia satu tingkat di bawah Akiela?' pikir Rayyan karna dia mengingat jika Akiela memiliki pangkat lima bintang di seragamnya sedangkan dia empat bintang.
Di luar ruangan Akiela dan yang lain membereskan anggota yang berjaga, "Banyak juga ya." kata Vivian "Tapi rata rata dari mereka memiliki tanda yang sama seperti pada pisau dan pada leher orang yang pernah kita introgasi wakru itu." lanjut Vivian "Iya, benar katamu." balas Akiela.
Mereka sampai di depan ruangan mereka mecoba melubangi tembok yang sedikit retak untuk melihat apa yang ada di dalam ruangan tersebut. "Kau harus menghancurkan Jendral Besar!!" Akiela dan ke tiga temannya kaget dengan perkataan itu 'Suara itu? Suara itu mirip suara yang pernah aku dengar tapi kenapa jika jelas begini mirip suara Perwira Tinggi Jendral Mike?' batin Marsya.
__ADS_1
Sudah ada cela untuk melihat ke dalam "Kie! Itu Jendra Mike dan Mayor Rudi dari AL juga ada seorang wanita di sana!." kata Vivian yang melihat dari cela, lalu Akiela mencoba melihat dari cela itu juga "Susan!." kata Akiela tapi yang lain hanya bingung karna mereka tak tau siapa Susan itu "Benar benar Jendral Mike?!!" kata Marsya tak percaya "Apa kau tahu sesuatu??" tanya Vivian "Nanti saja ku jelaskan jika sudah beres!" elak Marsya.
"Kalian cari cara untuk mengambil alih Dilla dan Dika, aku mungkin akan mengalihkan perhatian mereka." kata Akiela, mereka setuju Vivian mengambil alih memimpin pasukan untuk menyerang jika tiba tiba Akiela terdesak sedangkan Revin dan Marsya mereka fokus pada penyelamatan Dilla dan Dika. Akiela menenangkan diri menarik dan menghembuskan nafas panjang sampai tiga kali "Aku siap." gumamnya, Akiela memancing beberapa anggota yang di dalam agar keluar "Kembalikan anakku!!" teriak Akiela.
Di tempat Akiela berdiri dia sengaja mengacak acak rambutnya agar terlihat seperti tertekan dan dia juga melepas seragam atasnya yang menyisakan baju rangkapnya berlengan panjang. "Keluar!! Bereskan dia!!!" kata Susan "Jangan sakiti Akiela!!" teriak Rayyan dia sangat yakin bahkan sangat hafal jika itu suara Akiela "Sayangnya kalian berada di markasku." balas Susan dengan senyum licik.
Di luar Akiela sedang berhadapan dengan lima orang berbadan kekar, mereka berkelahi Akiela menerima setiao pukulam dan tendangan yang di arahkan padanya juga sesekali menghindar "Hanya wanita lemah." kata salah satunya, bukan karna Akiela tak mampu menghadapinya hanya agar mereka tidak curiga Akiela membawa pasukan di luar.
Sedangkan Vivian dan pasukannya tetap bersembunyi mereka hanya diam melihat Jendralnya di keroyok "Ini perintah Jendral Besar." kata salah satu pasukan menguatkan dirinya sendiri, Vivian mendengar itu "Tegarkan dirimu!" balasnya.
Akiela berpura pura kalah bahkan dia juga menemia pukulan terakhir yang membuat sudut bibirnya berdarah 'Aku harus menyimoan sedikit tenagaku.' batinnya, Akiela di seret masuk ke ruangan yang sama dengan Rayyan BRUUK!!! Akiela di hempaskan kasar hingga dia tersungkur "Dimana putraku!!!" dengan air mata mengalir deras namun sorot mata yang meneliti seluruh sudut ruangan dan setiap orang orang yang ada di sana.
__ADS_1