JENDRAL AKIELA

JENDRAL AKIELA
Episode 25


__ADS_3

Rayyan berjalan mendekati markas mereka "Biarkan aku bertemu dengan Susan!" kata Rayyan yang di hadang oleh penjaga di depan pintu masuk 'Lha ini mulut kenapa langsung ngemeng mau bertemu Susan? Iya kalau Susan ada di dalam, lha kalau tidak?! Cari mati namanya.' katanya dalam hati yang merutukki kecerobohannya dalam berkata "Siapa kau berani sekali mau bertemu dengan bos kami!!" kata salah satu dari mereka.


Rayyan nampak bingung 'Bos?!! Bos apa??? Aku hanya mau bertemu Susan jikalau ada??' batinnya, Rayyan berfikir kembali lalu menemukan ide "Aku kekasihnya suruhan dari orang tuanya! Jadi biarkan aku masuk." kata Rayyan, ada sedikit rasa takut jika mereka tak percaya karna dia juga tak yakin bos yang di sebut oleh mereka itu lelaki atau perempuan dan juga pada dasarnya Rayyan tak tau siapa Susan sebenarnya "Baiklah kamu boleh masuk." kata orang orang itu dan mereka memberi jalan Rayyan agar masuk ke ruangan. Di balik semak semak Akiela dan yang lain memperhatikan Rayyan.


"Hebat suamimu Kie!!! Harusnya dia jadi aktor saja dari pada jadi dokter." puji Marsya "Sembarangan kau! Perhatikan baik baik jangan lengah!" jawab Akiela, mereka terus memperhatikan gerak gerik lawan bahkan tetap menunggu meski Rayyan sudah masuk "Jika dalam waktu lima belas menit belum ada kabar dari Jendral senior kita harus mengambil tindakan!" kata Akiela dan di balas anggukan oleh Marsya, Revin dan Vivian.


Tak sampai lima belas menit mereka sudah mendapat kabar dari Jendral senior Abrahan dan Bayu jika bantuan yang dikirim sudah dekat jadi mereka bisa mulai beraksi, corak seragam Akiela dan kawannya cukup menguntungkan mereka karna sangat menyatu dengan lokasi yang berada dalam hutan jadi memudahkan mereka untuk bergerak.


Dengan cepat Akiela, Revin, Vivian dan Marsya melumpuhan sepuluh orang penjaga yang ada di depan pintu masuk, mereka mendekap satu persatu anggota lawan memutar kepalanya krek!! Suara gesekan tulang tulang leher membuat lawannya pingsan dan segera di ikat lalu di tutup mulutnya.


"Gila!!! Mereka perempuan tapi beladirinya...!! Amboy!! Luar biasa!!" kata Egar, dia sangat terpukau dengan aksi empat sekawan itu "Diamlah ember!" geram Johan. Mereka bertiga tetap setia berada di persembunyian menunggu bantuan datang seperti yang di katakan Akiela tadi.

__ADS_1


Rayyan masuk ruangan yang gelap dan sedikit lembab itu lalu bergidik ngeri 'Kenapa ada bangunan seperti ini?!! Menegerikan sekali!!' batinya, saat Rayyan melintasi beberapa ruangan yang pintunya sedikit terbuka agak lebar dia melihat seorang pria yang sedang terikat tangan kanan dan kirinya ke tiang samping sekilas seperti memiliki banyak luka di tubuhnya karna baju yang di pakai berwarna merah.


dia hanya melihatnya sekilas lalu di ruang sampingnya juga pintu tak tertutup dengan rapat sayup sayup dia mendengar tangis wanita dan laki laki 'Tadi itu siapa? Sekarang siapa pula yang menangis sepertinya lebih dari satu atau dua orang di dalam ruangan itu!' batin Rayyan yang melirik arah ruangan uang menurutnya menjadi sumber suara tangis tersebut "hiss, jadi tambah seram saja." gumamnya pelan.


Rayyan terus berjalan menyusuri lorong melewati ruangan demi ruangan mengikuti seorang penjaga tadi yang menuntunnya masuk "Rumah sakitku saja tak seseram ini, bahkan kamar jenazah atau ruang duka tak seseram ruangan ini." gumamnya dan melirik ke segala arah dan terus bergidik ngeri.


"Masuklah!! Bos ada di dalam." kata orang itu dingin, Rayyan sedikit ragu 'Apa benar ada Susan di dalam??' bertanya dalam hati "Cepat lah!" orang itu mendorong Rayyan sampai masuk dan hampir jatuh tersungkur "Sial." umpatnya. "Wah wah!! Kita kedatangan tamu!" suara seorang wanita.


Mata Rayyan melebar dia benar benar tak percaya dengan suara yang sangat dia kenal 'Itu!!!' batinnya, sesegera mungkin dia menoleh sumber suara "Susan!!" teriaknya tak percaya. Rayyan tak menyangka jika Susan benar benar dalang di balik penculikan putranya.


"Kau jauh jauh kemari untuk bertemu dengan ku atau mereka??!" kata Susan yang mebuyarkan lamunan Rayyan, Susan menunjuk ke arah Dilla dan Dika yang tampak tenang di ranjang bayi 'Mereka tertidur atau pingsan?!! Bertahanlah sayang, mommy mu sedang berjuang dan daddy hanya bisa membantu dengan mengulur waktu.' batin Rayyan yang panik melihat anak anaknya nampak tertidur pulas.

__ADS_1


Naluri seorang dokternya mulai bekerja jadi asumsinya putranya mungkin sedang pingsan 'Daddy hanya bisa berdoa yang terbaik untukmu, nak.' katanya dalam hati yang miris melihat putranya.


Di luar ruangan, Akiela dan tiga temannya sudah menaklukan bagian luar dengan sangat mudah "Hanya ini yang mereka punya?!!" kata Marsya remeh "Jangan memandang lemah lawan, kita tidak tau seperti apa persiapannya." jawab Akiela "Benar apa kata Akiela, jangan berbangga diri dulu." balas Vivian.


Akiela mendapat kabar jika markas ini sudah terkepung oleh oleh anggota AD dan AU yang sedang memantau dari udara, Akiela melihat sekeliling memang benar ada anggota yang terlihat memberi kode jika mereka sudah siap "Kita lanjutkan!" kata Akiela, mereka bertiga mengerti lalu mengikuti Akiela masuk ruangan di dalam terlihat ada beberapa anggota lawan juga yang berkeliaran.


Mereka sembunyi di gelapnya sudut sudut ruangan karna minimnya pencahayaan, mereka mendekati lawan layaknya harimau yang mengintai mangsanya semboyan medan tempur yang mereka berempat pegang adalah INTAI DAN TERKAM langkah tanpa suara, peegerakan yang lihai, sorot mata tajam mengintai satu per satu dari mereka hilang tak sadarkan diri berakhir dengan tangan terikat dan mulut tersumpal oleh aksi Akiela dan ke tiga temannya.


"Dimana mereka??" tanya salah satu dari mereka yang kebingungan mencari rekannya karna di situ hanya tinggal dia seorang, Vivian keluar dari area gelap tepat di belakangnya dan Krek!! Kepalanya di putar oleh Vivian hingga lawannya pingsan tanpa rintihan sedikitpun dengan cepat yang lain mengikat dan membungkam mulutnya. Akiela memberi kode pada pasukannya di luar agar beberapa dari mereka mengikutinya masuk, mereka menyusuri lorong dan melewati ruangan ruangan yang ada.


Saat melewati salah satu ruangan Revin tak sengaja melihat seseorang terikat tapi dia tak mengenalinya karna wajahnya yang tertunduk "Tunggu sebentar!" kata Revin pelan, dia masuk keruangan tersebut meneliti apakah ada orang lain, Akiela dan yang lain mengikuti Revin masuk dengan hati hati "Laksamana Besar!" kata Akiela.

__ADS_1


Medengar suara yang sangat familiar di telinganya dia segera mengangkat kepalanya penglihatannya remanga remang karna kegilangan banyak darah selama beberapa hari dan makan juga minum yang tidak teratur "Jendral! Jendral Besar! Apakah anda Jendral besar Akiela?!" katanya dengan suara lemah tapi ada rasa gembira di dalam kata katanya.


Mereka melepaskan ikatan yang ada pada Laksamana Besar "Hati hati salah satu dari mereka adalah mafia, mereka yang mencuri persenjataan AL." kata Laksamana Besar 'Mafia?? Apa aparat AL pernah bersitegang dengan para mafia?' batin Akiela.


__ADS_2