JENDRAL AKIELA

JENDRAL AKIELA
Episode 3


__ADS_3

Tak jauh dari tempat Akiela dan temannya, disana ada lapangan basket dan sudah ada Egar yang menghampiri hendak mengambil bola basket tersebut "Eh kadal! Sini in bolanya!" kata Egar mengejek "Apa katamu?!!! Kau tuh bunglon!!" ketus Revin "Sembarangan lo! Biawak!!" kata Egar merebut bola basket dari tangan Revin lalu segera meninggalkannya "Dasar kau komodo!!!" teriak Revin.


Egar yang mendengar itu pun berhenti sejenak lalu melanjutkan jalannya menghampiri temannya yang menunggu dilapangan basket. "Gila tuh cewek masa gue dibilang komodo!" kata Egar lalu membanting bola basket yang dipegang le arah Niko "Sabar bro." kata Niko menangkap bola basket "Kayak gini kok dibilang Komodo." kata Johan melihat Egar dari atas ke bawah "Kayak bang Stevan William ya." jawab Egar sedikit sumringah "Mirip Godzilla." lanjut Rayyan, mendengar itu Egar pun mendengus kesal.


Melihat tingkah Egar yang merajuk membuat ketiga temannya terkekeh geli, tak jauh dari tempatnya Rayyan tak sengaja melihat Akiela yang juga sedang melihat ke arahnya 'Rumahnya dekat sini ya?' kata Rayyan bertanya dalam hati. Niko melihat Rayyan dan mengikuti arah pandangnya "Sikat sob. Samperin gih." bisiknya sambil menyenggol lengan Rayyan "Lo pikir cucian, sikat sikat kucek kucek jemur jemur gitu." canda Rayyan.

__ADS_1


Akiela sadar bahwa Rayyan sedang menatapnya pun langsung memalingkan muka "Cari minum yuk!" ajak Akiela "Beli mbuak yu! Nyari mah bawa karung." ucap Masrya "Makin geser nih otak." sindir Revin "Priksain gih otakmu, takutnya amensia." kata Akiela "Amensia amensia, amnesia Kie!" kata Marsya "Suka hatilah." jawab Akiela "Beli makan juga buat ganjal perut." sela Vivian "Bathuu." kata Revin "Ganjal perut maksudnya cari makan, Re. Bukan ganjal perut pake batu juga!!" jawab Vivian nyolot "Elah bambank, tuh toko roti namanya Bathuu Pi! Pipian!!" Revin yang sedikit kesal, Vivian melihat toko roti yang disebut dan memang nama tokonya adalah Bathuu "Hehe, kode dong. Mangap mangap." kata Vivian cengar cengir, Revin hanya mendengus.


Akiela hanya tersenyum melihat perdebatan sahabatnya itu. "Beli yang mana nih???." tanya Akiela "Instingku mengatakan ini enak." Marsya menunjuk roti didepannya "Udah tanya Roy Kioshi? instingmu itu benar atau menyesatkan." kata Akiela "Bagaimana kalau yang ini, rasa coklat?" lanjut Akiela. Ketiga temannya mempertimbangkannya dan lalu setuju membeli roti pilihan Akiela "Kayaknya udah hampir malam ini, pulang yuk!" ajak Marsya, mereka pun setuju dan memutuskan untuk kembali. Di perjalanan pulang Akiela berjalan santai membawa katong plastik yang berisi beberapa roti dan sebotol air mineral yang ia beli tadi 'Kok merinding ya...' kata Akiela dalam hati sambil memegang tengkuk lehernya lirik kekanan kiri kemudian ia mengambil ancang ancang dan lari sekencang kencangnya "Eh buseeett!!! la itu orang apa cheetah. Lari kenceng amat." menengok kebelakang lalu kekanan dan kiri "Kagak ada apa apa juga." lanjut Rayyan sambil menggidikkan bahunya.


Akiela tak tau jika yang berada di belakangnya adalah Rayyan, sesampainya Akiela segera masuk rumah dan menutup pintunya "Astaga!!! Apaan tadi pake merinding segala pula?!" dengan nafas yang masih ngos ngosan "Butuh pengairan." dengan langkah terseret Akiela berjalan ke dapur membuka kulkas dan meminum air dari botol yang dia ambil "Mantaaap!!" kepala Akiela tertunduk lalu matanya tertuju pada kantong plastik yang ia pegang "La ini pan ada aer nya..." gerutu Akiela. Lalu dia meletakkan kantong plastik yang dia bawa tadi di atas meja makan dan membawa botol air dingin yang dia minum ke kamarnya.

__ADS_1


"Biar adek yang bawa ke meja makan, Ma." pinta Akiela "Iya makasih ya dek, maaf mama pulangnya telat." sesal mamanya "Gak apa ma, adek sudah gede nih lihat!" berdiri disamping ayahnya "Adek aja lebih tinggi dari ayah." ucap Akiela bangga "Heleh, Ayah sedang duduk dek." kata ayahnya menyela "Hiss, ayah.... Iyain aja kenapa sih?? Biar hati adek seneng gitu. Biar kebukti kalau susu Bonetto itu gak bohong." kata Akiela mengerucutkan bibirnya "Kondisikan itu moncongnya dek. Lagian minum susu doang tanpa usaha ya mana bisa tinggi. Diselingi dengan olahraga berenang gitu atau apalah" kata mamanya "Aduh, ma! itu ubur ubur berenang tiap hari tinggi kagak lembek iya. Lalu paus, dia juga berenang tiap hari badannya sixpeck kagak melar malahan. Terus itu badak atau gajah tiap hari juga jalan jalan tapi badan makin bulet!" balas Akiela "Sudah habiskan makan malammu!" titah mamanya. Mereka makan dengan diselingi obrolan kecil.


Dirumah Rayyan. Rayyan sampai dirumah dia menyapa mamanya yang sedang berada di dapur "Malam ma!" sapa Rayyan lalu menaiki tangga menuju kamarnya, mamanya hanya menoleh hendak menjawab pun pasti anaknya sudah ilang "Kebiasaan." kata mama Rayyan sambil menggeleng pelan lalu melanjutkan ritual memasaknya. Di dalam kamar Ray membaringkan diri di ranjang masih terpikir tentang Akiela "Siapa nama tu anak ya?" tanyanya pada diri sendiri, lama ia merenung sampai mendengar teriakan sang mama yang memanggilnya untuk segera turun makan malam. "Astaga mama, heran gue berapa oktaf suara tertinggi nyokap gue? dari bawah ruang makan sampai kamar jelas banget teriakannya. Luarrrrr biasa!!! Istimiwir!!!" katanya sambil berjalan ke kamar mandi hendak membersihkan diri.


Setelahnya dia segera turun sebelum auman sang mama menggema di seluruh penjuru rumah, Rayyan turun langsung menuju meja makan tak lama setelah Rayyan duduk terdengar suara mobil papanya yang baru pulang dari rumah sakit, papa Rayyan adalah seorang dokter spesialis organ dalam dan bedah, papa Rayyan juga masuk deretan dokter terbaik dikotanya dan mamanya dokter spesialis anak keluarga papa Rayyan tepatnya keluarga Vandya adalah dokter. Kedua orang tuannya mendirikan rumah sakitnya sendiri sejak awal mereka menikah kini rumah sakit yang orang tua Rayyan dirikan terus berkembang menjadi salah satu rumah sakit terbesar di kota H. "Malam ma! Malam Ray!" sapanya "Malam pa!" jawab Rayyan dan mamanya bersamaan, papanya langsung duduk dan bergabung bersama keluarga kecilnya di meja makan.

__ADS_1


Selesai makan malam Rayyan segera masuk ke kamarnya menutup dan mengunci pintu kamarnya lalu mengecek buku sekolahnya barang kali ada tugas yang diberikan oleh gurunya, setelah yakin tidak ada tugas Rayyan membaringkan dirinya di ranjang sesekali pikirannya tertuju pada Akiela "Ck." decih Rayyan 'Ngapain sih mikirin tuh anak!' dalam hati "Sudahlah tidur Ray besok sekolah lo!" ucapnya pada diri sendiri, ia memejamkan matanya hingga tertidur.


__ADS_2