Jino Dan Kisya 2

Jino Dan Kisya 2
Remang Rembulan


__ADS_3

Telepon pun berdering itu adalah telepon dari Asya. Zio pun tersenyum miring dengan segera dia menerima panggilan telepon dari gadisnya.


Sudah bersiap dan dia akan segera pergi ke Hotel malam nanti. Dia pun sudah tidak sabar dia ingin segera menemui Asya disana. Remaja itu benar-benar sangat menggebu dia harus bisa meredam rasa cemburunya dengan memeluk sang gadis, itulah cara dia untuk melampiaskan semua kekesalannya.


Akhirnya malam pun tiba, sesuai dengan rencana dia langsung masuk ke sebuah kamar nomer 009. Zio langsung masuk ke dalam kamar tersebut. Zio kini sedang mandi membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa keringat.


Di saat dia sedang mandi tiba-tiba saja seorang gadis masuk, gadis tersebut mematikan lampu kamar hotelnya.


Dia terkejut kamar hotelnya menjadi gelap. Dia pun dengan segera keluar hanya menggunakan handuk saja memperlihatkan roti sobeknya yang berwarna putih dan mulus benar-benar sangat memikat.


"Kamu sudah datang, baby?" kata Zio sambil tersenyum miring, dia itu sudah membalut tubuhnya dengan wangi sabun aromaterafi sehingga membuat gadis itu benar-benar terpikat dengan bau sabunnya.


"Baby ... sini!" ajak Zio pada gadis itu. Lalu gadis itu pun menghampiri Zio dengan tubuh yang bergetar.


Gadis itu merasa sangat ketakutan. Tubuhnya bergetar tak bisa lagi bisa dia kendalikan. Dan gadis itu mau tidak mau harus menurut keinginan dari pria yang kini ada di hadapannya. Suasana kamar masih sangat gelap, remang-remang rembulan menelusup masuk ke dalam celah jendela kamar hotel tersebut. Membuat suasana tambah romantis.


Aura romantis terpancar memang, cuma terasa oleh pria tersebut saja, tidak dengan si gadis, gadis itu masih bergetar ketakutan sedangkan Zio kini mulai memeluk tubuh langsing gadis tersebut. Tanpa bisa menolak gadis itu hanya bisa terdiam dengan tetesan air matanya yang mulai menjalar ke seluruh pipi manisnya.

__ADS_1


"Kamu ketakutan Baby, apakah ini yang pertama untukmu, kalau ini untuk yang pertama, aku akan berhati-hati, aku tidak akan pernah membuat kamu terlalu sakit." Zio mulai memberikan sebuah kata-kata romantis pada garis tersebut.


Gadis itu tidak menyela sama sekali, dia merasa sangat sedih, takut dan benar-benar merasa sangat terhina, karena harus menyerahkan diri pada seorang pria dengan cara seperti itu. Apalah daya, itu sudah menjadi pilihannya, dia harus menuruti kata dari pria itu, dia harus benar-benar menjadi gadis yang penurut. Kalau tidak itu pasti akan bahaya untuknya.


Di usianya yang ke tujuh belas tahun, gadis itu bahkan belum pernah bersentuhan dengan laki-laki, tapi kali ini dia benar-benar merasa sangat heran kenapa bisa dia berbuat seperti itu. Pikirnya pun memang terlalu sempit. Tetapi apakah dayanya nasi sudah menjadi bubur. Kini gadis itu sudah berada di dalam pelukan pria tersebut.


Satu persatu kain sudah dilepas dan semuanya, sekarang yang tersisa hanya tumbuh polos yang putih dan sangat mulus. Cahaya rembulan memang masuk ke dalam ruangan tersebut, tetapi wajah gadis tersebut tidak terlihat dengan jelas, Zio hanya bisa merasakan kehangatan gadis tersebut.


Zio mulai menelusuri seluruh tubuh gadis tersebut, menghujaninya dengan kecupan mesra dan gadis itu mulai menggeliat tatkala tubuhnya satu persatu disentuh oleh pria tersebut.


"Jangan lakukan lagi, ini selalu sakit," ucap gadis itu kepada pemuda yang kini sudah mulai menyatukan tubuh mereka. Gadis itu mulai merintih kesakitan seluruh tubuhnya merasa hancur, hatinya pun terasa hancur. Tidak ada kenikmatan sama sekali yang dia rasakan, yang ada hanya rasa perih dan terasa sesak dalam hatinya.


Isakan tangis dan suara kepuasan terdengar beriringan, bersatu dalam sebuah keringat yang yang mengalir deras. Tubuh mereka telah bersatu dan menyisakan percikan darah yang menetes secara perlahan. Gadis itu benar-benar merasa tersakiti. Daerah pangkal pahanya sudah tidak berasa lagi, benar-benar sakit.


Sampai akhirnya pria itu melepaskan penyatuan tubuh mereka. Entah kenapa tiba-tiba saja Zio melepas pengaman yang dia kenakan.


"Ini terlalu nikmat, aku ingin mencoba tanpa pengaman,"bkata Zio di dalam hatinya, sambil melepaskan pengamat tersebut. Lalu langsung menyatukan kembali tubuh mereka.

__ADS_1


Zio kali ini benar-benar tanpa pengaman, dia benar-benar terbuai sebuah kenikmatan menjelajahi seluruh tubuhnya sampai akhirnya gunung itu pun terus menyemburkan lahar panas yang menerpa seluruh ruas samudra. Benar-benar Zio merasakan Kelelahan yang teramat dalam ketika kepuasan itu sudah membuat tubuhnya tak berdaya.


Dikecupnya gadis tersebut sebagai tanda terima kasih. Tapi gadis itu masih terisak air matanya masih menetes dengan deras. Dia benar-benar merasa sangat sakit hati, hidupnya kini sudah hancur tapi apalah dayanya, dia kini sudah bukan gadis suci lagi. Dia sudah ternoda dan melepaskan segel dengan cara seperti itu.


Mereka berdua kini sedang mengatur nafas mereka. Degupan jantung yang bersatu membuat mereka mengharuskan untuk beristirahat dari rasa lelah dan kepuasan yang menyatu, dan sampai akhirnya mereka pun terlelap dalam kelam malam, dengan tubuh polos yang masih berpelukan. Mereka melupakan semuanya dan tertidur di bawah cahaya mimpi.


Sampai akhirnya pagi pun tiba matahari sudah menelusup masuk ke dalam celah kamar tersebut. Zio pun mencoba untuk terbangun, tubuhnya begitu lelah akibat pergolakan yang semalam, remaja berusia hampir delapan belas tahun itu sudah bekerja keras seperti itu, benar-benar tidak bermoral.


Pria itu membuka matanya lalu melihat ke sampingnya ada seorang gadis polos memeluk tubuhnya. Tubuhnya memang sangat putih. Gadis itu memiliki tubuh yang sangat ideal, Zio pun langsung menatap wajah gadis tersebut. Alangkah terkejutnya Zio ketika mendapati bahwa ternyata gadis yang sedang dalam peluknya bukanlah Asya.


Matanya Zio terbelalak tak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Kenapa dia bisa salah orang seperti itu? Zio pun mencoba untuk bangun dengan perlahan Ia membuka seluruh selimut yang dikenakan oleh mereka berdua.


Terlihat seorang gadis dengan tubuh yang sangat molek putih bersih tanpa satu noda pun. Gadis itu terlihat lelap, karena kelelahan. Zio menelan ludah karena ternyata gadis itu lebih cantik dari pada Asya. Senyum devil Zio torehkan.


"Mau mancing ikan malah dapat udang." remaja itu tersenyum manis dengan tatapan elang seolah sedang memeriksa seluruh tubuh gadis yang sedang tertidur lelap itu. Apalagi sekarang Zio melihat percikan darah segar di sprei putihnya.


"Udang segar."

__ADS_1


🎀🎀🎀


__ADS_2