
Dengan segera Zio pergi meninggalkan gadis tersebut, lalu Zio pun mampir ke resepsionis untuk sekedar membayar biaya Hotel semalam. Karena dia tidak mau sebagai seorang pria dibayarkan oleh seorang wanita. akan ditaruh dimana harga dirinya sebagai pria jika dibayarkan oleh seorang wanita.
Zio membayar penuh biaya Hotel. Lalu dia pun pergi meninggalkan wanita itu dengan kekesalan. Sangat terhina diusir seperti itu oleh wanita yang tidak dia kenali. Wanita itu benar-benar menjengkelkan, dia belum tahu siapa Zio sampai-sampai dia berani mengusir Zio seperti itu.
Jio mengemudikan kendaraan yang sangat kencang. Dia terlihat begitu marah sampai akhirnya dia sampai di rumah atau kediaman Jino dan Kisya.
Di ruang keluarga terlihat ada Abang Vano dan juga kakak Zia sedang asyik bercanda. Lalu Abang Vano pun tertidur di paha sang adik, dengan manja, sang suami datang membawakan camilan untuk mereka berdua. Zio melihat keluarganya sedang berkumpul, tetapi Zio tidak mau ikut berkumpul, dia langsung naik ke kamarnya dia langsung mengunci pintu, dia merasa kesal dan membanting di seluruh barang yang ada di kamarnya. Kenapa Zio tidak pulang ke rumah Omma Nisya.
Karena Omma Nisya sudah tua. Jika Zio mengamuk, Omma Nisya pasti akan sangat sedih, Zio takut Omma Nisya terkena serangan jantung karena itulah dia memutuskan untuk pulang ke kediaman orang tuanya dan mengamuk di kamarnya.
Remaja itu telah mengacak semua yang ada di kamarnya. Kini dia tengah tertidur di atas kasur memejamkan matanya dia merasa terhina gadis itu seolah-olah dengan jelas menghinanya, mengusirnya, setelah selama semalam dia bekerja keras untuk memberikan kenikmatan pada gadis itu, walaupun ternyata gadis itu belum bisa menikmati apa yang di lakukan.
Suara benda terjatuh dan pecahan kaca terdengar begitu nyaring membuat Kisya begitu terkejut apalagi Abang Vano dan kakak Zia.
"Ya Tuhan, suara apa itu?" Kisya merasa sangat terkejut, dia langsung berjalan berlari menaiki anak tangga, menuju ke arah kegaduhan tersebut. Di belakang Abang Vano dan kakak Zia mengikuti langkah kaki senam mommy.
Ternyata suara gaduh tersebut berasal dari kamarnya Georzio.
"Ya Tuhan. Ada apa ini tidak biasanya Zio mengamuk seperti itu, apa yang terjadi padamu, Nak? Kenapa kamu sampai memecahkan kaca seperti itu," kata Kisya di dasar hatinya. Wanita itu mencoba untuk mengetuk pintu.
__ADS_1
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu pun sudah terdengar begitu nyaring, Kisya berharap dia akan segera membukakan pintu, karena dia sangat penasaran apa yang telah terjadi di dalam kamar tersebut, apa yang telah terjadi terhadap Putra bungsunya, sampai membuat kegaduhan seperti itu.
"Zio Sayang, anak Mommy buka pintunya Nak. Ada apa Sayang, biarkan Mommy masuk nak!" Kisya berkata dengan suara yang lembut, dia ingin mencoba memperbaiki semuanya. Kisya ingin menangani sang buah hati, ingin menenangkan dan ingin memeluk tubuh buah hati kesayangannya.
Tetapi Zio tidak menyahut sama sekali. Zio malah mejamkan mata, dia menetralisir rasa marahnya dia memejamkan mata di atas kasur dan terlentang seolah-olah dia sedang tertidur, padahal pikiran Zio sangat kacau. Pengusiran perempuan itu membuat Zio sangat terhina, harga dirinya terluka, baru sekali ini ada wanita yang mengusir dia seperti itu.
"Zio Sayang ini Mommy jangan bikin Mommy cemas nak, Sayang bukakan pintu Sayang please Sayang, buka Sayang!" kata Kisya dengan kelembutan hati seorang ibu, dia benar-benar tidak tahu apalagi yang harus dilakukan agar Zio mau mendengarkan perkataannya.
Kedua kalinya Kisya memohon kepada buah hatinya, tetapi ternyata dia masih juga tidak menyahut. Dia seolah-olah sedang terbang keawan membawa semua kemarahan dalam jiwanya. Mengabaikan semua yang ada di dunia fana.
"Tapi Moms cemas Sayang, takut terjadi sesuatu hal kepada adikmu," sanggah Kikia kepada sang buah hati.
"Sudah Moms jangan cemas lagi. Ayo kita duduk di bawah, biarkan Zio sendiri dulu, jika setengah jam kemudian dia masih berada di kamar kita telepon Daddy saja," kata Abang Vano kepada sang Mommy.
"Abang Moms tidak bisa hanya diam diri saja," Kisya mulai berkaca-kaca, kecemasannya teramat dalam, dia tidak mau terjadi sesuatu hal kepada buah hatinya, apalagi Zio merupakan anak bungsu anak yang paling kecil, yang sangat dia sayangi. Kisya memang menyayangi semua buah hatinya, tetapi untuk Zio, kan dia masih kecil di mata Kisya Zio adalah yang utama.
"Zio Sayang. Bukalah pintunya, Nak. Kalau kamu sayang sama Mommy Sayang. Mommy cemas nak," sekali lagi Kisya memohon kepada putranya, agar mau membukakan pintu kamarnya. Tetapi bahkan untuk ketiga kalinya Kisya diabaikan oleh buah hatinya.
__ADS_1
"Ayo Moms biarkan saja Zio. Kita telepon Daddy saja, biar Daddy cepat pulang. Lagian Abang Vano ngapain diam di rumah coba, sedangkan Daddy masih sibuk bekerja, bukannya bantuin Daddy," sahut Kakak Zia kepada Abang Vano.
"Kata siapa diam di rumah, Abang baru pulang. Tadi Abang baru selesai meeting tapi Abang tidak balik ke kantor, Abang langsung ke sini, ya sudah biar Abang telepon Daddy dulu," tutur Abang Vano kepada sang adik, lalu dia pun dengan segera turun ke bawah untuk mengambil ponselnya.
Dengan segera Abang Vano menelepon sang Daddy dan ternyata dari pun sudah dalam perjalanan pulang, karena memang hari ini hari sabtu, jadi hanya bekerja setengah hari, semuanya kini sudah berkumpul di rumah, jadi Jino sudah naik ke lantai atas.
Dia terkejut karena Kisya masih menunggu sang buah hati membukakan pintu, namun tidak kunjung membukakan pintu. Jino marasa heran kenapa Putra bungsunya merajuk seperti itu, padahal tidak seperti biasanya selama ini tidak pernah bersikap seperti itu.
"Sayang ayo duduk saja di bawah, ini biar Daddy di yang menangani si bungsu," ungkap Jino kepada sang istri, namun Kisya menggeleng dia tidak mau, dia merasa cemas dengan keadaan putranya. Mau tidak mau Jino mengangguk dan membiarkan sang istri berada di sampingnya.
"Zio buka pintunya, Daddy sudah ada di depan pintu nak. Ayo kita bicara!" ungkap Jino kepada buah hatinya, ia terkejut ternyata sang Daddy ada di rumah, dia takut jadinya mengamuk, akhirnya dia langsung terbangun dari posisi tidurnya dan melangkah menuju ke arah pintu dan langsung membukakan pintu kamarnya.
Jino merasa tenang hanya dengan satu suara saja Jino bisa membuat buah hatinya membukakan pintu.
"Da-Daddy ...."
"Ya Tuhan. berantakan sekali, sebenarnya apa yang terjadi?" Jino melihat kearah kamar, lalu masuk ke dalam kamar tersebut, benar-benar berantakan, kaca semuanya berantakan, Kisya pun ikut masuk ke dalam kamar begitu pula dengan kedua kakaknya Zio.
🎀🎀🎀
__ADS_1