
Malam ini Zio sepertinya sangat tidak bisa diajak kompromi sama sekali. Zio hanya ingin tiduran di kamarnya saja, Zio tidak mau pulang ke rumah Omma-nya dan dia hanya ingin tinggal di rumah kedua orangtuanya.
Kejadian tadi malam bersama gadis itu membuat Zio benar-benar merasa kesal, ada gadis yang telah mengusir dia. Selama ini Zio yang selalu mengusir seorang gadis tetapi kali ini beda, dia terusir dengan sia-sia dan itu melukai harga dirinya.
"Gadis brengs*kk! Kamu keterlaluan membuat aku susah tidur dan tidak bisa duduk dengan tenang. Aku akan mencarimu, aku pasti akan menemukanmu, aku akan membalas semua perbuatanmu padaku, aku akan membuatmu tidak bisa mengusirku lagi," ungkap Zio dengan kekesalan hatinya, remaja itu benar-benar sakit hati dengan perlakuan dari Alea.
Malam itu dia hanya bisa merebahkan tubuhnya di kasur, padahal ini adalah malam minggu, biasanya remaja itu keluyuran hanya sekedar kumpul dengan teman-temannya. Memamerkan motor besarnya. Tapi kini bahkan dia sangat malas, dia tidak tahu entah kenapa tubuhnya begitu lemas. Padahal tadi malam dia hanya melakukannya dua kali saja.
Rasa kesalnya benar-benar membuat mood-nya hilang seketika, dia malas untuk melakukan hal apapun yang diinginkan, Zio ingin bertemu dengan gadis itu dan membuat gadis itu sadar, siapa pria yang dia usir saat itu.
Zio baru teringat bahwa dia telah mengambil kartu pelajar dari dompet gadis tersebut, Zio pun langsung bangun dari posisi tidurnya, dan langsung mengambil dompetnya, membuka isi dompetnya yang ternyata di dalamnya ada kartu pelajar gadis tersebut.
Senyum merekah terlihat dari pantulan wajah tampan pria blasteran Belanda itu. Dia memegang sebuah kartu pelajar dan tersenyum seolah-olah dia sedang menggenggam sebuah berlian.
"Alea Alunsio, siswa kelas 11 sekolah Bina Bangsa," kata Georzio membaca kartu pelajar milik Alea.
Alea sendiri belum menyadari bahwa kartu pelajarnya telah hilang saat ini, karena Alea sendiri masih mengurung diri dikamarnya. Bukan cuma Alea yang mengurung diri di kamar, Zio pun sama. Malam minggunya kini begitu kelabu dia begitu merasakan kekesalan yang teramat dalam. Biasanya malam minggu adalah malam yang paling menyenangkan untuknya.
Tapi kini Zio bahkan tidak merasa bahagia dengan datangnya malam minggu tersebut.
__ADS_1
"Aku akan mendapatkanmu Alea, kamu akan menyesal telah menolakku, mengusirku begitu saja," lirih Zio di dasar hatinya, remaja itu benar-benar tidak menyangka bahwa dia bisa merasakan kekesalan yang sedalam itu.
Tidak henti Zio terus menatap pantulan wajah cantik dari foto yang tertera di kartu pelajar gadis tersebut. Dia menatapnya dengan seksama, lalu dia memejamkan matanya. Dia merasakan kembali hawa tadi malam yang masih tersisa di tubuhnya.
Benar sekali Alea memang sangat cantik. Bahkan dia sendiri begitu terpikat dengan kemolekan tubuh dan wajah gadis itu. Tetapi saat Alea mengusir Zio, hatinya rubuh bagaikan sebuah batu meledak karena bom telah menghancurkannya.
"Bina Bangsa sekolah Bina Bangsa bukankah itu sekolahnya Kak Kezia dulu. Sepertinya itu benar, aku harus datang ke sana untuk mendapatkan gadis itu, gadis itu sungguh menyebalkan. Aku ingin dia meminta maaf dan bertekuk lutut di bawah kakiku. Aku tidak akan memaafkannya dengan mudah, Aku ingin membuat dia menyesal," kata Zio dengan suara yang pelan, dia sebenarnya suka terhadap Alea, tetapi karena dia diusir begitu saja oleh Alea, maka harga dirinya tercoreng dengan tiba-tiba.
Dan kekesalan pun tampak sudah. Entah apa yang akan dilakukan Zio terhadap Alea, tetapi yang pasti Zio ingin segera datang ke sekolahnya Alea dan mencarinya. Zio ingin membalas dendam atas semua kesalahan dalam hatinya. Zio ingin membuat Alea menyesal.
Tiba-tiba saja teleponnya berdering, dengan malas Zio pun melihat ponselnya. Ternyata yang menelepon adalah Tito, Zio terpaksa menerima panggilan telepon tersebut karena takut sahabatnya membutuhkan dirinya.
"Zio, kamu ke mana saja sih, aku tunggu di tempat biasa, aku melihat banyak sekali motor baru dan mereka penasaran ingin melihatmu. Mereka ingin berduel denganmu. Kenapa kamu tidak datang?" tanya pria itu dengan kening yang mengerut.
"Sorry bro ... Aku lagi nggak mood ngapa-ngapain, aku cuma ingin di kamar saja dan tidur," jawab Zio kepada sang sahabat.
"What Ih beneran-beneran tidak mood nih? Ini malam minggu loh, biasanya kamu tidak seperti ini, apa semalam kalian kerja keras, apa mungkin lebih dari 2 kali, berapa ronde semalam 3, 4, 5, atau mungkin semalaman?" ucap Tito beringas, dan langsung memberikan berondongan pertanyaan kepada Zio.
"Cuma dua kali," jawab Zio dengan suara yang lemah.
__ADS_1
"Dua kali, ya ampun enak sekali kamu, terbang selama 2 kali, sedang aku kapan aku bisa melakukan hal itu? Mana ada gadis yang mau sama aku," kata Tito merasa rendah diri karena sampai saat ini bahkan tidak belum sempat menyentuh kekasihnya, bukannya belum sempat, tapi Tito masih merasa takut dan ragu. Kita memang sering making out tapi kalau untuk making love Tito sendiri belum pernah melakukannya.
"Ya kamu carilah gadis, kamu kan laki-laki masa nggak bisa mencari satu garis saja," kata Zio dengan lemas.
"Baik akan aku cari, tapi aku tidak nyangka malam minggu kamu kalau aku seperti ini, kirain kamu itu tidak memiliki malam minggu yang kelabu, ternyata eh ternyata punya juga," Pria itu terkekeh mengejek Zio yang kini masih tertidur di atas kasurnya.
"Yah, semoga saja minggu depan tidak kelabu lagi seperti malam minggu ini. Tapi sumpah Bro malam minggu ini aku tidak bisa ke mana-mana, rasanya lemah, letih, lesu, aku lemah sekali dan harus istirahat sepertinya Sorry ya bro," kata Zio dengan suara yang pelan.
"Ya sudah sepertinya mendadak usiamu bertambah tua, kamu sudah loyo seperti kakek-kakek, tapi aku akan memaklumi itu, Itulah Karma karena kamu terlalu banyak bergerak di atas ranjang," ejek Tito sambil menertawakan Zio.
"Cih, Terserah-terserah-terserah, pokoknya malam ini aku mau tidur, kamu tutup saja teleponnya, dari pada kamu terus-terusan mengejek aku," ungkap Zio berdesis namun begitu pelan.
"Siap kakek aku akan segera menutup telepon ini kok ha ha ha,"
Tut tut tut ...
Zio dengan segera mematikan panggilan telepon tersebut, Zio benar-benar tidak mau di ganggu malam ini, apalagi ejekan temannya itu membuat dia semakin kesal, ada kalanya dia pun ingin beristirahat tidak mau kelayapan atau balapan liar dulu. Entah kenapa pikirannya kacau, dia masih saja membayangkan gadis itu, dia masih saja merasa kesal dan marah ingin membalas dendam kepada gadis yang sudah mengusirnya dari kamar Hotel.
"Alea, cabe rawit, tunggu aku besok akan menemuimu lagi."
__ADS_1
🎄🎄🎄🎄🎄🎄🎄🎄🎄🎄🎄🎄🎄🎄🎄🎄