
Kini Zio sudah duduk di atas kasurnya, ditemani oleh sang Mommy yang sedari tadi menggenggam tangannya, Jino pun duduk di samping Zio, sedangkan kedua Kakaknya berdiri saja.
"Coba katakan kepada kami, apa yang terjadi di kamar ini apakah masalah besar?" tanya Jino sambil menatap sang putra dengan penuh kasih sayang.
Sedangkan Zioo hanya menundukkan wajahnya, dia tidak menyangka dia tidak bisa mengontrol emosi, sampai seperti itu. Sehingga membuat orang rumah kini menatapnya dengan tatapan yang heran.
"Ayo Sayang katakan saja, tidak usah sungkan," Jino berkata begitu lembut kepada buah hatinya, tetapi Zio tidak berkata apapun untuk menjawab pertanyaan sang Daddy, Zio sungguh tidak bisa dan tidak punya jawabannya.
"Tidak ada apa-apa Dad, hanya kesal saja," ucap Zio kepada kedua orang tuanya, sedangkan kedua Kakaknya hanya jadi penonton saja saat ini, Vano merasa heran tidak biasanya Zio marah-marah seperti itu. Abang Vano juga harus tahu apa yang terjadi pada adiknya, jangan-jangan adiknya marah karena masalah perempuan, tapi tidak mungkin. Zio kan banyak sekali kekasihnya, dia bahkan bisa berganti-ganti perempuan setiap minggunya.
Karena itu Abang Vano tidak percaya kalau ini menyangkut dengan masalah perempuan. Geovano pun tidak mau ikut campur. Vano dan Zia cukup diam saja, karena memang Moms and Dad-nya sudah bergerak bertanya kepada putra bungsu mereka.
"Jadi apa yang membuat putra bungsuku ini mengamuk, sampai menghancurkan semua barang yang ada di kamar?" tanya Jino dengan perlahan. Jino mencurahkan semua kasih sayangnya kepada Zio, karena Jino tidak pernah marah kepada anak-anak mereka, Jino begitu menyayangi semua anak-anaknya terutama Putra bungsunya.
"Hanya sedikit kesal!" jawab Zio dengan suara yang rendah.
Jino tersenyum lalu menggenggam tangan Putra bungsunya seraya berkata." Apa yang membuat anak pintar Daddy menjadi tidak keren lagi?"
__ADS_1
"Jadi menurut Daddy tidak keren?" Zio merasa terkejut, Daddy-nya mengatakan bahwa dia tidak keren. Padahal dia merasa sangat keren dan kekerenannya itu turunan dari sang Daddy sendiri.
"Mengamuk seperti ini tidak keren, tidak Gentlemen laki-laki tidak mengamuk seperti ini, apalagi kalau ini masalah perempuan," tangkas Jino kepada Putra bungsunya, Jino dan menebak bahwa ini adalah masalah perempuan, karena Zio tidak mungkin menyangkal, bahwa ini masalah lain, dia terlalu sempurna, dan juga terlalu pintar untuk kalah dalam hal pelajaran, mungkin benar ada seorang perempuan yang membuat dia kesal seperti ini.
"Daddy tahu dari mana kalau ini masalah perempuan. Zio kan tidak berkata apapun," kata Zio kepada sang Daddy.
"Kita sesama lelaki Zio, Daddy pun Pernah muda, jadi tahu sikap seperti ini, Daddy pun pernah mengalami jadi tidak usah sungkan untuk cerita, kamu ditolak oleh perempuan?" tanya Jino kepada adik Zio.
"Mana mungkin Zio ditolak, bahkan kekasih Zio pastinya sangat banyak Dad," celetuk Abang Vano kepada sang Daddy langsung menatap sang kakak lalu kemudian menatap sang Daddy.
"Ya sudah, jadi masalah wanita tidak usah menghancurkan kamar seperti ini lagi, sekarang ayo kita ke bawah, kita makan camilan yang dibuatkan oleh Mommy kamu, biar bibi dan yang lainnya membereskan kamar kamu, lihatlah kamar ini sudah seperti gudang rongsokan, beling di mana-mana, hati-hati kalau berjalan. Ayo kita turun!" kata Jino kepada putra bungsunya, Jino berkata ke semua orang yang ada di ruangan tersebut.
"Ayo Sayang, kita turun semuanya, Mommy sudah membuat puding mangga untuk kalian semua, mumpung suasana masih panas akan sangat segar puding itu dimakan Ketika dingin," ajak Kisya kepada semua anak-anaknya, terutama si bungsu yang sekarang masih berwajah gelap, dipenuhi dengan awan kekesalan.
"Ia kakak mau makan tadi, malah dengar keributan," kata Kak Zia dengan mulutnya Yang manyun.
"Sudah jangan di bahas lagi, Zia!" kata Abang Vano sambil mencubit pipi sayang adiknya yang cantik.
__ADS_1
"Uwhh sakit bang," Kakak Zia merengek kesakitan, dan Abang Vano langsung menggendong sang adik dengan seketika, akhirnya dia tertawa begitu senang ketika digendong oleh sang kakak seperti bridal style.
Jino dan Kisya merasa sangat senang dan bahagia melihat kedua anaknya bertingkah lucu seperti itu. Abang Vano memang sangat memanjakan adik-adiknya, terutama Kakak Zia. Mungkin karena kakak zia adalah satu-satunya adik perempuan yang begitu manja melebihi kemanjaan Zio, karena itu kakak Zia selalu menjadi bahan tertawaan.
"Ayo Zio juga turun yuk, Sayang!" ajak sang mommy kepada Putra bungsunya. Lalu Zio pun mengangguk akhirnya Jino dan Kisya menggandeng putra bungsu mereka, untuk turun ke lantai satu dan menikmati camilan siang mereka.
Hari sabtu memang hari waktunya berkumpul sekeluarga, untuk mereka sabtu dan minggu Zio, Abang Vanu dan Zia berkumpul bersama karena dari Senin sampai Jumat Abang kan tinggal di rumah mama Murni dan Dede Zio akan tinggal di rumah Bunda Nisya. Sabtu minggu ada waktu untuk mereka bersama berkumpul keluarga, biasanya Chery juga akan ikut, tetapi karena kini Chery seorang model sehingga dia sangat sibuk bahkan diberitakan saat ini Chery sedang shooting keluar kota.
Kebahagiaan mereka bersama bukan lain adalah kebahagiaan yang selama ini dibangun dengan airmata oleh Jinoo dan Kisya, banyak sekali rintangan dalam hidup Jino Dan Kisya selama mereka muda, dan sekarang mereka tinggal menuai buah kebahagiaan atas rintangan yang mereka dapati di masa lalu.
Kebahagiaan mereka saat ini benar-benar sangat membuat iri orang lain, tetapi dibalik rasa bahagia itu Jino dan Kisya masih belum mengetahui bahwa ternyata Putra bungsunya tidak sebaik yang dia pikir selama ini. Jino dan Kisya bahkan tidak menyangka kalau sudah memiliki seorang kekasih, apalagi kalau Jino dan Kisya tahu bahwa Zio adalah seorang Playboy berganti-ganti wanita bahkan check-in setiap ada kesempatan.
Bagaimana perasaan Jino dan Kisya, Ketika nanti suatu saat mengetahui keburukan sang putra bungsu, mungkin hati mereka akan hancur lebur dan merasa sangat kecewa atas perbuatan putranya tersebut, karena itulah Abang Vano mungkin selalu menutupi semua kenakalan Adik bungsunya, itu semua demi orang tuanya agar tidak terlalu memikirkan hal yang seperti itu.
Karena Abang Vano tidak mau kedua orang tuanya menjadi sakit, hanya karena memikirkan kenakalan sang adik, seperti halnya dirinya sakit kepala, ketika adiknya selalu berbuat ulah dan selalu membuat dirinya pusing tujuh keliling.
🎀🎀🎀
__ADS_1