
Setelah menukar motor yang dia kenakan, dengan mobil milik sang kakak, Zio langsung mengendarai mobilnya menuju ke Sekolah. Alea masih merasa kesal dengan sikap Zio yang semena-mena terhadapnya, karena malu karena dia harus digendong seperti itu tadi di hadapan banyak orang.
Zio masih mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan yang begitu santai. Alea begitu takut karena dia merasa cemas bagaimana kalau dia terlambat datang ke kelas.
"Kenapa lama sekali melajukan kendaraan ini, aku sudah hampir kesiangan. Ya Tuhan kamu sebagai supir benar-benar sangat amatiran," ungkap Alea dengan kekesalannya, wanita itu membuang muka sambil menatap ke arah jalan sisi sebelah kiri.
"Santai saja, kenapa harus terburu-buru. Lagian kamu tega sekali sih bilang aku sopir," ungkap Zio kepada Lea pria itu tidak suka Alea memanggilnya dengan sebutan sopir.
"Suka-suka aku menyebut kamu dengan sebutan apa, yang selalu mengantar jemput aku Sekolah ya pak sopir," ungkap Alea dengan suara yang rendah, dia Lalu menundukkan wajahnya sambil memainkan ponsel miliknya.
"Sudah sampai di depan Sekolah," ucap Georzio kepada Alea.
Alea tersenyum manis. Akhirnya sampai juga di depan Sekolah dan dia tidak kesiangan karena masih jam 7 pagi. Sekolah dimulai jam 7:30. Gadis itu masih memiliki waktu 30 menit untuk belajar karena kali ini akan ada ulangan matematika.
"Akhirnya sampai juga," ungkap Alea dengan senyum manisnya. Gadis itu lalu hendak membuka pintu mobil tersebut, dan ingin keluar begitu saja. Tetapi bukan Georzio namanya jika membiarkan gadisnya keluar dengan santai tanpa menyapa dirinya.
"Kenapa pintu ini tidak bisa dibuka, eh Zio aku mohon, buka pintunya. Aku harus belajar matematika sekarang ada ulangan, kamu jangan membuat aku tambah kebingungan," untuk Alea melihat dengan mata yang benar-benar memicing.
"Masih ada waktu 30 menit lagi, kita di sini saja dulu, ada sesuatu yang ingin aku lakukan di dalam sini," ungkap Zio dengan menorehkan senyum yang manis kepada Alea.
"Ya ampun apa yang akan kamu lakukan, sudah sudah ah, aku harus belajar matematika, apa kamu tidak mendengarkanku." Wanita itu begitu kesal dengan sikap Zio yang mengunc dirinya di dalam mobil, apa yang akan dilakukan Zio dalam mobil tersebut, yang pasti Lea sudah mulai ketakutan.
__ADS_1
"Ayo pindah duduknya ke sini," ungkap pria itu memerintahkan Alea untuk duduk di pangkuannya.
"Ya Tuhan dasar cowok mesum, pagi-pagi saja sudah ingin berbuat nakal, mungkin banyak wanita yang akan menuruti keinginanmu, tapi
tidak dengan aku, cepat bukakan pintunya. Kalau tidak aku akan teriak," ungkap Alea dengan nada agak tinggi.
"Baik kalau kamu tidak mau melakukannya, kita tidak akan keluar dari mobil ini, selamanya," kata Zio mengancam Alea.
"Kamu sudah gila ya. Apa yang kamu lakukan aku mau belajar." Alea benar-benar merasa jengkel terhadap pria yang sekarang ada di sampingnya.
"Duduk di sini atau aku yang akan melepaskan pakaianmu secara paksa," kata Zio dengan serum yang menyeringai.
"Apa-apa, pakaian apa maksudmu? Dasar mesum. Aku akan melaporkan hal ini kepada Papi dan Mamiku mereka dia menuntutmu, karena sudah melecehkanku." Alea berkata dengan mata yang berkaca-kaca, dia sembuh kesal dengan sikap Zio yang semena-mena, apalagi kata-katanya selalu saja seperti orang dewasa.
"Tidak mau, aku tidak mau duduk. Nanti orang lain akan melihatku dari luar, mereka akan berpikir bahwa aku perempuan murahan yang duduk di pangkuan laki-laki di dalam mobil," kata Lea dengan kekesalannya.
"Tidak ada yang akan melihat kita di luar Sayang. Kaca ini tidak terlihat dari luar, hanya bisa terlihat di dalam air, duduklah aku mohon," sekali lagi Zio memerintahkan Alea untuk duduk di pangkuannya.
"Dasar gila, kita bahkan baru saling mengenal kamu sudah menyuruh aku untuk duduk seperti itu," kata Alea memalingkan wajahnya. Dia kesal sekali, tidak tahu harus berbuat apa dengan pria yang sekarang sedang terlihat begitu tajam.
"Sayang jangan lupakan makan-malam itu, kita bahkan melakukannya semalaman dan kita melakukan itu sebanyak 2 kali, jangan lupakan kejadian malam pertama kita," kata Giorzio kepada Alea, membuat matanya terbelalak, dia tidak percaya Zio benar-benar mengenali dirinya.
__ADS_1
"Kamu salah orang." Alea menundukkan wajahnya entah apa yang dia rasakan saat ini, ada sebuah rasa sesal dan malu yang bercampur menjadi satu.
"Kenapa kamu tidak mau mengakui malam itu? Padahal malam itu kamu sendiri yang masuk ke dalam kamarku, dan menggodaku," ungkap Zio dengan suara yang rendah, namun sangat jelas di telinga Alea.
"Ya sudah, padahal aku sudah ingin melupakan hal yang paling buruk untukku, menjual diri dengan harga Rp100 juta. Aku tidak percaya kamu punya banyak uang sampai bisa membeli tubuhku. Bagaimana aku akan mengingat kejadian yang sangat mengerikan itu, di mana aku harus merelakan keperawanankuu demi mendapatkan uang, uangnya sama sekali tidak aku terima. Bukankah itu sangat menyakitkan, kalian bertransaksi menjual tubuhku, aku hanya sebagai korban di sini, tapi kenapa kamu selalu mengungkit malam itu, aku sudah ingin melupakan kejadian tersebut, kejadian di mana aku begitu menderita dan tersiksa," lirih Alea dengan mata yang berkaca-kaca, wanita itu memejamkan matanya, mencoba menahan tangis. Mengingat bahwa dirinya sudah menjadi korban perdagangan manusia.
"Apa maksudmu uang 100 juta? Sebenarnya siapa yang telah menjualmu?" Zio mengerutkan keningnya, dia tidak percaya bahwa Lea mengira dia membelinya dengan harga 100 juta.
"Jelas-jelas kan kamu telah membeliku dari Kak Evana dengan harga 100 juta, kalian seenaknya memperjual belikan badan seseorang, walaupun itu memang tujuannya untuk mengobati penyakit ibunya. Tapi harusnya kamu menolak itu, betapa harga diriku hancur karena harga 100 juta itu, seharusnya aku menjualnya lebih dari pada itu, satu m 3 mi 4 m, 100 juta ini sangat murah, memalukan." Wanita itu meneteskan air matanya, sedangkan Zio masih mencerna ucapan dari Alea.
"Jadi sebenarnya malam itu kamu salah kamar," kata Zio dengan suara yang rendah.
"Apa maksudmu?" Alea mengerutkan dahinya tatkala ia berkata seperti itu.
"Harusnya tidur denganku adalah Asya dan yang tidur dengan Om Gendut di itu adalah kamu, dan aku baru tahu hal ini darimu barusan. Apakah benar yang melakukan hal itu adalah Evana Kakakmu yang tadi makan bersama kita?" tanya Zio Kepada.
"Kamu berpura-pura," Alea tidak mempercayai ucapan Zio.
"Untuk apa aku berbohong, kamu yang masuk ke dalam kamarku, dan Asya masuk ke dalam kamar Kakek tua itu," ungkap Zio dengan mata yang sendu, menatap kearah Alea. Namum Lea hanya terdiam, dia tidak tahu apakah yang dikatakan Zio benar atau tidak.
🎄🎄🎄
__ADS_1
**Ayo yang kangen komen.
Jangan lupa like dan vote oke**.