
"Kenapa kita berhenti di sini?" tanya Tito kepada Zio. Remaja pria itu turun dari motornya, lalu dia membuka helm dan duduk di atas trotoar.
"Aku hanya ingin duduk saja," Zio memperlihatkan wajah kesal. Entah kenapa dia bermuka masam seperti itu.
"Ada apa dengan wajahmu, tidak biasanya kamu memiliki wajah yang kusut seperti itu?" ungkap Tito kepada Zio, Zio hanya bisa memejamkan mata lalu menghela napas kembali.
"Kenapa ada perempuan yang tidak menyukai aku?" Zio menatap Tito dengan sangat tajam, mungkin yang ada dalam pikiran dia sekarang adalah Alea. Kenapa gadis itu tidak menyukai Zio itulah yang menjadi pertanyaan Zio saat ini dan itu yang membuat hatinya resah.
"Oh gadis tadi ya, aku juga heran kenapa gadis yang bernama Alea itu sampai bisa menolak kamu Zio, secara semua gadis mengejar-ngejarmu, tetapi dia menolak mentah-mentah, bahkan di hadapanku. Ya ampun jika ini sampai tersebar keluar habis lah genk kita," ungkap Tito sambil terkekeh menertawakan Zio yang kini masih terlihat frustasi karena Lea.
"Senang ya kamu aku terlihat susah seperti ini. Kamu tidak tahu apa, aku sangat penasaran, apa yang tidak dia sukai dariku, coba kamu lihat wajahku. Apakah ada yang kurang? Bukankah Aku tampan?" ungkap Zio benar-benar narsis, karena ketampanannya tapi memang benar sih keturunan Daddy Jino. Zio memang benar-benar tampan baik Zio ataupun abang Vano keduanya memang tak ada tandingannya.
"Ganteng banget, kalo jadi jadi perempuan, aku pasti bakalan jatuh cinta sama kamu, tapi sayangnya ... Alea tidak sepertinya," kata Tito dengan senyuman ejekannya.
"Kalau kamu jadi perempuan aku juga tidak akan suka sama kamu. Kamu jelek," Zio membalas Tito dengan ejekan.
__ADS_1
"Apaan kamu malah mengejekku, menyebut aku jelek. Padahal dari tadi aku memuji ketampananmu, ini tidak betul Zio. Eh Zi kamu lihat tadi, anak SMA yang memakai seragam sama dengan Lea. Sepertinya itu yang disebut ibunya Lea tadi. Eh siapa Kakak apa sepupunya ya, aku kurang mengerti," kata Tito mengingat pertemuannya tadi bersama Evana.
"Oh gadis itu, yang tadi itu tidak penting, dia bukan tipe ku, gadis seperti itu mana mungkin aku suka," kata Zio dengan rasa malasnya, dia tidak suka dengan Evana. Evana sangat jauh dari levelnya. Jadi tidak sedikitpun ada rasa suka terbersit di hati Zio.
"Lah keterlaluan, cantik tahu ... kamu perhatiin tadi, dia cantik. Tapi memang sih lebih putih Alea, menurutku kakaknya juga lumayan, bisalah kamu pakai untuk sekali pakai," kata Tito dengan sungguh-sungguh.
"Kalau aku pakai kakaknya satu malam, yang ada Alea semakin benci sama aku. Sekarang saja dia benci banget sama aku, tapi kenapa dia tidak suka padaku, padahal aku sudah berusaha untuk merayunya, aku harus bagaimana lagi," kata Zio terlihat prustasi, ini sebuah tantangan untuknya, menaklukan seorang wanita baginya sangatlah mudah, tetapi kenapa menaklukan hati Alea berat kali ini.
"Iya juga sih, kalau kamu dekat sama kakaknya, adiknya mana mau mendekat, apa aku saja yang dekati dia, menurutku manis sih," Tito tersenyum miring, dia kembali membayangkan Evana.
"Mungkin dia manis, atau mungkin juga dia cantik, tadi aku tidak terlalu memperhatikannya. Aku kurang suka menjalin hubungan dengan kakak beradik, mereka nanti bisa-bisa perang," kata Zio menghela napas dan membuangnya sembarangan.
"Mereka bikin aku pusing, mereka berdua tidak mau mengalah sampai-sampai aku dipanggil oleh orangtuanya. Sudah cukup aku tidak mau lagi, menjalin hubungan dengan dua gadis yang memiliki darah yang sama," kata Zio membuang mukanya, dia mengingat kembali masa lalu, di mana dia dipanggil oleh kedua orangtua gadis tersebut.
" Ha ha ha tapi itu sungguh lucu, ketika dulu kamu dipanggil, bukankan dulu kita masih kelas 10 ya, kelas 10 kamu sudah dipanggil kedua orangtua Aleta, dan Anita. Aduh aku pusing sendiri memikirkannya, kamu di sidang tiba-tiba, untung kamu nggak ngapa-ngapain mereka, kalau kamu sampai ngapa-ngapain mereka. Matilah kamu disuruh tanggung jawab." Tito terkekeh mengingat masa lalu Zio, dimana memang Zio sudah nakal dari yang terdahulu, tetapi beruntunglah Zio dulu tidak senakal sekarang, kalau sekarang sudah sangat nakal dan sangat kenal dengan perempuan.
__ADS_1
"Sudah lupakan masalah yang menyeramkan itu. Waduh itu sungguh seperti mimpi buruk untukku, makanya cukup! Aku tidak mau menjalin hubungan dengan kakak beradik," ungkap Zio menggelengkan kepalanya, sambil mendengus kesal mengingat masa lalu yang benar-benar menyebalkan menurutnya.
"Terus gimana Kalau kakaknya suka sama kamu Zi, tadi aku lihat dia menatap kamu terus. Sepertinya dia suka sama kamu Zio, kan tidak dapat adik, bisa dapat kakak," kata Tito pelan.
"Peduli amatlah, aku tidak suka sama dia, buat kamu saja." Zio mendengus kesal, dia memang tidak pernah tuh serius dengan perempuan, apalagi harus menjalin hubungan dengan wanita yang tidak dia sukai, tapi kini dia benar-benar merasa sangat kesal karena Alea selalu mengabaikannya, selalu berada dalam pikirannya, dia selalu bertanya-tanya kenapa bisa Alea kini menolaknya, dia sungguh ingin tahu apa kekurangannya.
"Oke kita lupakan, kamu juga merupakan Alea untuk sementara waktu, jangan sampai kamu terus-terusan seperti ini, lihatlah kamu seperti orang yang sedang depresi berat, "kata Tito terkekeh kembali.
"Keterlaluan. Emangnya siapa yang depres? Aku cuma memikirkan saja kenapa bisa ada yang menolak aku, cuma itu kok, tidak ada yang namanya depresi dipikirin Zio. Georzio Alfariziq Davis, tidak akan depresi karena seorang wanita," katanya lalu bangkit dari posisi duduk, dia menggunakan kembali helm lalu mengemudikan kembali kendaraannya, Tito segera menyusul dan mereka kini saling balapan menuju ke basecamp milik mereka.
Beruntunglah Zio tidak menyukai Evana. Bayangkan saja jika sampai dia menyukai Evana. Pasti Evana akan sangat bahagia karena disukai oleh pria setampan Zio. Seperti pada saat ini, Evana bahkan sedang mencengkram tangan Alea dengan sangat kasar membuat Alea kesakitan.
"Apa sih kak, sakit!" kata Alea meringis kesakitan, cengkraman Evana begitu kasar, tangan Alea yang kecil terlihat begitu halus dan rapuh.
"Kamu sekali lagi tidak sopan kepadaku, aku akan membuat perhitungan lebih dari pada ini," kata Evana sambil menatap Lea dengan tatapan kebencian, dan kemarahan. Entah apa salah Alea, sehingga Evana selalu saja membenci Alea.
__ADS_1
"Ada apa ini, ada apa dengan kalian?" kata mami Alexa sambil menatap heran ke arah kedua putrinya.
🎄B🎄e🎄r🎄s🎄a🎄m🎄b🎄u🎄n🎄g