
"Ya ampun tatapan matamu menakutiku, sebaiknya aku pura-pura tidur saja," kata Tito sambil berpura-pura menutup matanya dengan kedua tangannya, lalu dia tersenyum miring dan kembali fokus pada santapannya yang kini berada di hadapannya.
"Posisi seperti ini sangat tidak nyaman. Kalau mami sama papi tahu, ini tidak akan baik, cepat ubah posisi ini!" kata Alea sambil mencoba mendorong tubuh Zio karena ternyata bahkan kini Alea sudah berada di bawah tubuh Zio, di bawah kungkungan tubuh kekar pemuda yang tampan tersebut.
"Tidak akan ada yang masuk ke ruangan ini, aku yakin kalau pun ada yang masuk biar saja, paling aku disuruh menikahimu," kata Zio sambil menatap wajah Alea, dengan begitu tajam, ia memperhatikan setiap lekuk dan setiap sudut wajah Alya yang cantik.
Mata, hidung, mulut, pipi, kening, dan dagu semua tampak indah dimata Zio. Remaja pria itu benar-benar menyukai Alea kali ini, dia ingin terus menggoda gadis itu, dia tidak ingin Alea mengabaikannya, karena tidak dipungkiri hanya Alea satu-satunya gadis yang berani mengabaikan dia. Karena itulah ia merasa sangat penasaran apa sih kekurangannya sehingga Alea tidak mau mendekati dirinya seperti gadis yang lain.
"What? Menikah ... kamu kira-kira saja, bahkan kita baru kenal sekarang, tidak mungkin mami-papiku menikahkan kita, sudah aku tidak mau, aku tidak nyaman." Gadis itu mulai merengek kepada Zio. Gadisnya itu ingin segera beranjak dari posisinya.
"Aku akan akan melamarmu Jika kamu mau, jika kamu mengatakan oke maka aku langsung akan membawa orangtuaku ke sini," kata Zio dengan senyum devilnya, remaja itu memang suka bikin baper orang, tetapi kali ini Alea sama sekali tidak baper.
Alea malah merasa kesal dengan sikap Zio yang terlalu berlebihan, membuat dia sangat tidak nyaman, apalagi ini adalah rumahnya, seharusnya dia lebih sopan kepadanya.
"Menikah saja sama siluman. Aku tidak akan pernah mau menikah denganmu," kata gadis itu sambil mendorong Zio sekuat tenaga, sampai akhirnya Alea bisa terbebas dari kungkungan tubuh yang kekar.
"Kamu kasar seperti itu kepadaku. Apa memang kamu suka main kasar?" kata Zio memicingkan matanya, dia semakin penasaran pada gadis tersebut, gadis yang baru pertama dia temui, satu-satunya gadis yang berlaku kasar seperti itu terhadapnya.
__ADS_1
"Aku tidak berlaku kasar, itu karena kamu tidak sopan, kamu salah orang, kamu salah mengenaliku, aku bukan orang yang kamu maksud, kalau memang sudah tidak ada keperluan lain, sebaiknya kamu pulang saja, aku masih ada keperluan yang harus aku urus." Alea mengusir Zio terang-terangan dan itu membuat Tito terkejut. Tito hanya bisa terkekeh menertawakan Zio yang terusir dengan sia-sia.
"Lagian sampai kapan kamu mau ngusirku, tidak ada gunanya, aku akan terus mendekati kamu walaupun kamu mengusirku, dan menghindariku sampai ke ujung Dunia, aku akan mengejarmu, sebelum aku mendapatkanmu. Aku tidak akan berhenti," kata Zio dengan senyumnya yang miring, lalu dia pun beranjak dari tempat duduknya, dia lalu memberikan kode kepada Tito agar segera mengikuti dia keluar dari ruangan tersebut.
Ini Alea hanya bisa diam, tidak bisa berkomentar apapun, gadis itu berdiri dan memalingkan wajah tanpa melihat kearah Zio sama sekali. Tetapi dia senang Zio bisa pergi dari rumahnya. Dan saat Alea tidak menyadari bahwa Zio kini sudah kembali menuju kearahnya, Alea kan sudah memalingkan wajah, karena itulah gadis itu tidak tahu tiba-tiba saja Zio mengecup pipi kirinya.
Cup.
"Sampai jumpa lain waktu ya Sayang. Aku pulang dulu," ungkap Zio selepas mengecup pipi sang gadis.
Hal yang mengejutkan, dia kembali terkejut. Pria itu memang seperti sebuah penyakit, menyerang secara tiba-tiba. Entah kenapa dia merasa sangat kesal, dia kecolongan lagi, pipinya kini di kecup lagi.
Alea benar-benar tidak senang dengan perilaku Zio yang tidak sopan seperti itu, harus seperti apa lagi, agar bisa menghindar dari pria yang seperti itu. Pria terlalu agresif untuknya, ia bahkan belum memiliki kekasih sama sekali, tapi sudah berhasil bercinta dengan Zio sebanyak 2 kali, itu benar-benar pencapaian yang sangat tinggi bagi seorang gadis perawan.
Saat Zio dan Toto sedang berjalan keluar dari rumahnya Alea. Tiba-tiba saja mereka berpapasan dengan Evana. Gadis itu terkejut dan mengerutkan dahi. Kenapa ada siswa lain di rumahnya. Langsung dia bisa menebak bahwa Zio dan Tito adalah teman dari Alea.
Tapi kenapa dia bisa memiliki teman setampan mereka. Kedua remaja itu bahkan sangat tampan, dan Evana merasa sangat suka, Evana sedikit menyunggingkan senyum ketika Zio menatapnya sekilas. Sayangnya Zio tidak tersenyum sama sekali, dan pria tampan itu malah membuang muka, dan langsung pergi meninggalkan Evana.
__ADS_1
"Apaan sombong sekali, aku kasih senyum malah bermuka masam seperti itu?" kata Evana mendengus kesal karena Zio tidak membalas senyumannya.
Evana kini melihat Zio dan Tito naik ke atas sepeda motornya, lalu pergi meninggalkan Mansion miliknya. Gadis itu kembali terpikat dengan ketampanan Zio ketika sedang menaiki sepeda motor, hatinya berdebar begitu kencang, dia sepertinya ingin bisa mengenali pria tersebut lebih dekat.
"Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia datang kemari? Apakah benar mereka temannya Alea, cewek tengil itu tidak mungkin bisa punya teman setampan dia, aku harus mencari tahu," kata Evana sambil mengerutkan dahi ketika dia kini melihat Zio dan Tito sudah tidak ada di hadapannya lagi.
Evana langsung masuk ke dalam rumahnya, ternyata di sana Alea sedang membereskan gelas bekas di Tito dan Zio.
"Ada siapa? memangnya ada tamu barusan?" tanya Evana dengan ketus kepada Alea.
"Hmmm," jawab Alea hanya menggumam saja, dia tidak mau menjawab ucapan Evana lebih detail lagi, karena dia masih kesal kepada Evana. Alea sebisa mungkin ingin menghindar dari kakak angkatnya tersebut, tidak mau mencari masalah, dia hanya ingin hidup tenang saja, cuma itu.
"Siapa mereka, apa dia temanmu?" Evana mencoba mengorek informasi dari Alea, dia sungguh penasaran dengan Zio, dia baru melihat pria setampan Zio, menurut Evana Zio begitu sempurna, dan Evana benar-benar menyukai Zio pada pandangan pertama.
"Apa urusan Kakak?" kata Alea sambil menatap Evana lalu Alea kembali mengambil gelas dan berjalan ke dapur.
Evana merasa kesal dengan pertanyaan tersebut. Lalu Evana menyusul Alea ke dapur.
__ADS_1
"Hei kamu kalau bicara itu yang sopan. Aku sedang berbicara kepadamu, kamu malah meninggalkanku begitu saja. Kamu hargai aku sebagai seorang kakak," kata Evana dengan wajah yang begitu kesal, menarik tangan Alea dan menatap Alea dengan tatapan yang begitu tajam, sedangkan Alea tidak berani menatap Evana sama sekali. Gadis itu membuang muka, pada saat ini bahkan Evana mencengkram tangan Alea dengan kasar.
🎄B🎄e🎄r🎄s🎄a🎄m🎄b🎄u🎄n🎄g