
Di dalam ruang tamu, Umbara duduk berhadapan dengan Juan Salim dan Widuri Salim. Wajah marah Widuri Salim terlihat begitu jelas. Sementara Juan Salim hanya menatap tajam kepada Umbara—yang juga balik menatap mereka dengan datar.
“Kamu gimana sih? Kenapa kamu biarin Tari pergi?” omel Widuri Salim.
Kebingungan semakin melanda Umbara. Dia merasa seperti anak sekolah yang tengah disidang oleh guru Bimbingan Konseling, karena ketahuan membolos. Sebenarnya apa yang telah terjadi dengan Betari? Bukankah tadi pagi perempuan itu baik-baik saja? Hanya saja wajahnya dipenuhi bintik-bintik merah—yang Umbara yakini itu tidak membahayakan nyawanya. Kenapa juga dia harus melarangnya pergi? Boro-boro minta izin. Betari bahkan tidak pernah berpamitan kepadanya.
Sebelum Umbara mengatakan apa pun, pintu utama terbuka.
Betari berlari masuk ke dalam rumah dengan napas putus-putus. Karena peraturan perumahan tempatnya tinggal sekarang melarang taksi model apa pun masuk ke dalam area kompleks, dia harus berlari dari depan pos penjaga. Beruntung rumahnya berada di tengah-tengah dan bukan terletak di paling ujung. Pandangan pertamanya langsung tertuju pada sang nenek.
“Nek, aku kan udah bilang kalau aku nggak sakit.”
Betari menghampiri sang nenek yang duduk di sofa panjang lalu memeluknya dan mencium kedua pipinya yang mengeriput.
“Wajah kamu kenapa?” tanya Widuri Salim begitu dia menyadari wajah Betari yang merah-merah. Sorot matanya dipenuhi kekhawatiran.
“Ini cuma alergi, nanti juga sembuh.” Betari menjawab santai sambil mengambil duduk di samping sang nenek. “Aku udah ke dokter juga.” tambahnya, agar sang nenek berhenti mengkhawatirkannya.
Widuri Salim mengelus rambut Betari. “Nenek kan khawatir.” ucapnya.
“Iya, aku tahu.” sahut Betari. “Tapi nenek lebay banget, deh.” keluhnya kemudian. Sebenarnya tidak hanya sang nenek yang bersikap berlebihan tapi juga sang ibu mertua. Meskipun tadi pagi Gendis Atmojo membiarkannya pergi, sang ibu mertua sempat memberondongnya dengan pesan-pesan yang dikirimnya melalui aplikasi berkirim pesan—intinya Gendis Atmojo terus memastikan keadaannya. Jujur saja, Betari sempat kesal dibuatnya.
Widuri Salim menjewer telinga Betari. Dia tidak menyukai kata-kata sang cucu kepadanya. “Dasar cucu kurang ajar.” Dia sangat mengenali sifat sang cucu. Kadang Betari sangat manja, kadang bisa sangat menjengkelkan karena kelakuannya yang sering seenaknya. Tapi cucunya itu tidak suka dianggap lemah dan membuat orang-orang di sekitarnya mengkhawatirkan keadaannya.
“Si Andre tuh yang kurang ajar. Senang banget nyebarin berita hoax.” sungut Betari. “Awas aja kalau ketemu. Aku bakal pelintir telinganya sampai putus.”
***
Nenek dan kakek Betari sudah pulang dan Betari sedang fokus menyantap dimsum ayam dari sang nenek. Ketika tiba-tiba Umbara Atmojo—suaminya menghampirinya.
“Betari, saya ingin kita bicara.” kata Umbara.
“Tentang?”
“Kita.” Umbara menatap lurus kepada Betari.
Karena ucapan ibunya tadi pagi, Umbara jadi tahu kalau dirinya telah salah langkah dalam menghadapi Betari. Ibunya benar, sebagai suami dia juga harus mau menekan egonya agar kehidupan pernikahannya bisa berjalan dengan baik.
__ADS_1
“Bukannya sudah jelas.” Betari mengingatkan Umbara pada kesepakatan yang pernah Betari berikan di hari pertama mereka menikah.
“Apa saya pernah bilang setuju sama semua kesepakatan yang kamu ajukan?”
Betari tertegun sejenak. Dia merasa kalau dirinya telah melakukan kesalahan besar karena melupakan bagian paling penting dalam membuat sebuah kesepakatan, apalagi ini kesepakatan tidak tertulis. Benar, Betari sekarang ingat kalau Umbara tidak pernah mengatakan setuju ataupun tidak setuju pada apa yang dia ajukan malam itu. Jadi...
“Tapi bukannya lo bilang kalau lo nggak peduli sama kehidupan pribadi gue. Jadi, gue anggap itu sebuah persetujuan.” Betari jelas tidak mau kalah.
“Saya bilang begitu karena kamu yang mulai duluan.” Umbara akui dia tersulut emosi malam itu.
“Kok gitu?” kata Betari tidak terima. Jelas-jelas Betari dengar Umbara mengatakan kalau dirinya tidak peduli dengan kehidupan pribadinya.
“Apa perlu saya ingatkan siapa yang ngajak ribut duluan?” Umbara memandanginya.
“Itu kan lo.” sahut Betari santai.
Umbara membuang napas kasar. Betari benar-benar menjengkelkan, keluhnya.
“Oke, terserah kamu.” kata Umbara pada akhirnya. Dia harus mengalah, atau mereka tidak akan pernah bisa bicara baik-baik—melihat sikap keras kepala perempuan itu yang sangat menyebalkan.
Betari menggigit tenang dimsum terakhirnya. Dalam hati bersorak senang karena telah berhasil membuat orang lain kalah.
Betari mengambil gelas di atas meja, meneguk isinya dengan tenang hingga tandas. “Kalau gue nggak mau, gimana?”
Umbara mengepalkan tangan, menahan geram. Kalau begini, jangan salahkan dia kalau tidak bisa menjadi lebih sabar lagi.
“Ngomongnya besok aja. Gue udah ngantuk.” Betari bangun dari duduknya dan pergi meninggalkan Umbara begitu saja.
Melihat hal itu, Umbara sakit kepala. Kalau bukan karena orang tuanya dia tidak akan pernah menikahi perempuan seperti Betari. Semoga saja dia tidak terkena darah tinggi.
***
Keesokan harinya pada pukul 8, Betari terbangun karena sangat haus. Masih dengan mata tertutup, dia meraba-raba gelas air minum yang memang selalu ditaruhnya di atas meja nakas sebelah tempat tidur—sebelum dia pergi tidur. Tujuannya, tentu saja agar dia bisa langsung minum setelah bangun tanpa perlu pergi ke dapur dulu.
“Kok habis, sih.” keluhnya. Dia lalu ingat, kalau semalam dia terbangun dan tenggorokannya terasa sangat kering.
Dalam keadaan setengah sadar Betari pun turun dari tempat tidurnya hendak mengambil air di dapur. Begitu membuka pintu dia hampir saja menjatuhkan gelas kosong yang dibawanya karena dikejutkan oleh sebuah suara.
__ADS_1
“Sekarang kamu sudah tidak ngantuk lagi, kan?” Umbara berdiri di depan pintu kamarnya yang berhadapan-hadapan dengan kamar Betari. Dia memang sengaja menunggu Betari keluar dari kamarnya. Umbara tidak mau menunggu lagi. Pagi ini juga, dia harus membuat sang istri mengerti satu hal tentang pernikahan mereka dan berhenti bertindak sesuka hati. Dia tidak ingin kejadian semalam saat Widuri Salim—nenek dari istrinya itu secara tidak langsung menyebutnya suami tidak becus—terulang lagi.
Hari ini, dia ingin pergi kerja dengan hati tenang.
“Apaan, sih? Ngagetin aja.” kesal Betari. Dia memberengut sebal sambil berjalan menuruni tangga.
Umbara mengikutinya.
Betari membuka kulkas dan mengambil sebotol air putih. Dia menuangkannya ke dalam gelas sebelum meminumnya. Dia tidak biasa meminum langsung dari botolnya, sekalipun botolnya kecil dia akan menuangnya dulu ke dalam gelas atau menggunakan sedotan.
“Mau ngomong apa sih?” Betari meletakkan gelasnya ke dalam washtafel dan melangkah mendekati Umbara yang duduk di kursi tinggi di balik meja dapur.
“Saya menikah sama kamu bukan untuk main-main.” Umbara menatapnya lurus. “Saya mau kita menjalani pernikahan ini dengan sungguh-sungguh.”
***
Sebenarnya, Betari tidak menduga kalau sang suami akan mengatakan hal seperti itu. Selama ini, dia kira Umbara memiliki pemikiran yang sama dengan dirinya. Apalagi setelah melihat sikapnya yang terkesan cuek dan dingin sejak hari pertama mereka menikah. Seharusnya, semalam Betari memperhatikan kata-kata suaminya, mungkin dia tidak akan seterkejut ini.
“Kalau gue nggak mau, gimana?”
Tentu saja Umbara sudah memprediksi respons itu dari sang istri, tapi dia tidak benar-benar tahu jawaban apa yang paling tepat untuk dikatakan atas penolakan itu. Maka, tidak lama kemudian, Umbara malah mengatakan hal yang maksudnya sulit ditebak. “Saya bisa membuat kamu mau.”
Sementara itu, Betari merasa saat kalimat itu meluncur keluar dari mulut sang suami, dunia langsung menjadi sunyi. Dia berusaha mati-matian menatap wajah Umbara, karena dia tidak bisa tidak salah mengartikan kalimat itu dan membuat pikirannya penuh dengan hal-hal aneh.
Barulah setelah beberapa waktu kemudian terdengar suara bel.
Betari hendak pergi untuk membukakan pintu tapi langsung dihalangi oleh Umbara yang menarik tangannya.
Betari mengernyitkan alisnya dan menatap tangannya yang berada dalam genggaman Umbara.
“Saya saja yang buka pintu. Biar orang lain tidak melihat dada kamu yang berceplak.” Umbara berbisik ke telinga sang istri.
Betari tersentak dan langsung menurunkan pandangannya ke arah dadanya.
Ya, ampun! Kenapa dia lupa pakai bra!
Ini gila! Betari malu.
__ADS_1
Betari memang selalu melepas bra saat tidur. Tapi selama ini dia tidak pernah lupa memakainya kembali saat akan keluar kamar. Kenapa hari ini dia harus kecolongan.
Semoga saja Umbara benaran homo.