JODOH DARI NERAKA

JODOH DARI NERAKA
16. LIMA BELAS


__ADS_3

“Saya nggak suka perselingkuhan.” Umbara menatapnya dalam-dalam. Suaranya dingin. Betari belum pernah mendengar suaranya yang sedingin ini “Perselingkuhan bisa merusak nama baik saya dan kamu. Saya tahu kita nggak saling mencintai. Tapi, kita menikah bukan untuk main-main. Remember that.”


Tatapan Umbara menyiratkan ketegasan serta kecaman. Saat ini Betari dapat merasakan seberapa mendominasinya Umbara saat berbicara. Selama ini Betari hanya mendapati Umbara yang kaku dan kadang dingin tanpa keramahan.


“Sebaiknya kamu putuskan pacar kamu itu.”


Betari terdiam. Dia tahu Umbara salah paham. Tapi, keberaniannya untuk menjelaskan kepada pria itu hilang entah ke mana. Mungkin kah tertelan oleh manik gelap yang kini tengah menyorotnya itu?


Umbara berbalik badan dan meninggalkannya. Betari masih terdiam menatapi pria itu yang menghilang ke arah kamar.


Dengan itu, kesalahpahaman di antara mereka masih berlanjut.


Setelah beberapa saat, Betari menarik napas. Aneh. Wajahnya terasa kaku. Eh? Barusan....


Suara tangisan Sagara membuat Betari berlari menuju kamarnya. Ketika dia sampai Sagara sudah digendongan Umbara.


“Bisa kamu buatkan susu.” Katanya pelan. Umbara hanya melihatnya sekilas dan sibuk lagi menenangkan Sagara yang masih menangis.


Betari melakukan apa yang Umbara minta. Dia kembali tidak lama kemudian membawa sebotol susu formula yang langsung disambut uluran tangan Sagara, bocah itu sudah berhenti menangis matanya tampak sembab.


Dasar bocah manja. Betari memandangi Sagara yang masih menggelayut manja di gendongan Umbara. Kadang anak kandung sepupunya itu bisa sangat manja seperti ini. Apalagi kalau sudah bersama Juan Salim. Betari selalu dibuat iri hati. Tapi, masalahnya... Ini Umbara, orang asing yang baru kemarin ditemuinya. Sedangkan dengan Prayoga yang sudah mengenalnya dari masih bayi merah, Sagara tidak sampai selengket ini.


Lalu Umbara menatapnya. Pandangan mata mereka sempat saling beradu, sebelum suara Sagara mengambil alih perhatian pria itu.


“Om, Bara! Gara mau pipis.” Sagara memang sudah diajarkan untuk bilang kalau dia ingin buang air. Sekalipun bocah itu sedang memakai diaper dia akan tetap bilang. Good Abrian!


Umbara membawa bocah itu ke kamar mandi, tidak lama kemudian terdengar suara Umbara yang meminta Betari untuk mengambilkannya diaper.


“Makasih.” katanya saat menyambut diaper yang ada di uluran tangan Betari.


Sebenarnya Betari penasaran kenapa Umbara terlihat sangat terampil mengurus anak kecil. Bahkan tanpa sempat Betari memberitahunya ini itu, Umbara sudah tahu. Seperti memakaikan Sagara diaper sebelum bocah itu tidur dan kapan waktu untuk menggantinya. Umbara juga sangat jago menangani Sagara yang rewel sampai nangis-nangis kejer. Coba saja kalau tidak ada Umbara yang membantunya, Betari yakin dia pasti sangat kerepotan. Biasanya kalau dia dititipi Sagara paling lama dia hanya sanggup sampai setengah hari, sisanya tentu saja dia serahkan pada Juan Salim. Oh, ya... Umbara hari ini sampai rela bolos kerja, loh. Niat banget kan dia mau jagain Sagara.


Apakah hal itu juga yang membuat Sagara nyaman dengan pria itu.


Sekembalinya dari buang air kecil, Sagara langsung naik ke kasur.


“Tante Tari pindah ke sana, dong!” Sagara menunjuk sisi kasur yang mepet ke tembok.


“Ngapain. Tante tidur di sini kan buat jagain kamu biar nggak jatuh.” Dasar bocah! Apalagi sih mau lo. Gara-gara lo juga semalam gue harus tidur dalam ketakutan.


“Tante Tari kan yang takut jatuh.”


Hah?! Tapi gue nggak papa berkorban buat jagain lo, bocah.


“Makanya tante Tari pindah ke sana.” kekehnya. “Atau gara nangis nih.” Ancamnya.


Kecil-kecil nganceman. Pasti ajaran bapaknya. Kalau nggak siapa lagi.


“Kamu ngalah aja.” Itu suara Umbara. “Nanti dia nangis beneran kamu yang urus.”


“Iya, deh. Tante pindah nih. Kalau kamu jatuh jangan nangis.” Apalagi salahin gue.


“Om Bara sini! Tidur sama Gara.” Sagara dengan seenak jidat, seakan dialah pemilik kasur mengundang Umbara untuk tidur bersamanya. Bocah itu menepuk-nepuk sisi kasur yang tadi ditiduri oleh Betari.


Umbara tidak menolak, dia lalu merebahkan dirinya di samping Sagara.


Oh, jadi gitu...


Lama-lama emang nyebelin nih bocah. Mirip banget sama bapaknya. Untung sayang. Coba nggak, yakin deh udah gue tinggalin lo di jalan biar dipungut pemulung.


Sagara sempat mengoceh sebentar sebelum akhirnya bocah itu berpamitan pada Umbara. Hanya pada Umbara. “Selamat tidur, Om Bara.”

__ADS_1


Sagara memeluk Umbara. Seperti yang bocah itu lakukan pada Abrian, atau pun Juan Salim dan kakek bocah itu sendiri, Bukit Salim.


“Selamat tidur, Sagara.”


Jadi, gue dikacangin nih ceritanya, cibir Betari dalam hati.


Tidak lama kemudian terdengar dengkur halus dari keduanya. Betari menoleh ke samping, menatap sosok Umbara yang berbaring di sampingnya, jarak mereka hanya tubuh kecil Sagara. Kemudian Betari tertidur dengan mimpi bahwa Umbara sempat memperingatkannya untuk segera memutuskan pacarnya sebelum pria itu tertidur.


Pacar yang mana?


Keesokan harinya, akhirnya Abrian Salim datang menjemput Sagara, seperti janji pria itu tiga hari lalu.


“Papa!” Sagara, bocah itu yang baru selesai makan siang bahkan tidak sabar untuk segera memeluk ayahnya, dia berlari menyongsong Abrian.


Betari yang menyaksikan hal itu jadi teringat dengan adegan di sebuah film India yang dulu sering ditontonnya saat masih kecil. Dia mendekat dan mengelus kepala Sagara yang sudah digendong Abrian.


“Siapa sih yang kemarin nangis-nangis sambil bilang kalo bapaknya jahat.” ledek Betari. Sagara tidak menanggapi. Sialan! Bocah itu masih sibuk menciumi pipi bapaknya. Interaksi merekan benar-benar mirip kucing dengan induknya.


“Lo jangan bully anak gue.” tuding Abrian.


“Gitu doang lo bilang bully... lebay, lo.” Betari menarik tangannya dari Sagara lalu mendudukkan diri di sofa diikuti Abrian.


“Eh, lo nggak ajarin anak gue yang nggak-nggak kan.”


“Bukannya bilang makasih, malah nuduh-nuduh.” cibir Betari kesal. Sialan lo! Betari memaki dengan gerakan bibir tanpa suara.


“Please mulut lo, Tar.” desis Abrian. “Anak gue masih bocah polos jangan lo nodain. Ntar dia gedenya jadi kayak lo kan gawat.”


“Paling-paling lo jadi kayak si Juan Salim.” Betari tidak peduli. “Halah! Kayak lo nggak pernah bikin pusing pak de Bukit aja.” Betari mencomot anggur di atas meja dan melahapnya.


Abrian memaki dengan gerakan bibir tanpa suara juga.


Betari hanya mengedikkan bahu dengan santai sambil bersandar di punggung sofa.


“Lagi boker dia. Nape?”


“Gue mau bilang makasih lah sama dia.” kata Abrian santai sambil membatu Sagara turun dari pangkuannya. “Gue yakin 1000% pasti suami lo yang urusin anak gue. Kalo lo sendiri pasti lo udah bawa Gara ke rumah nenek sama kakek.”


“Nggak juga. Tergantung sikon juga keles. Lo kok ngremehin gue mulu, sih. Nyebelin.” Betari tidak terima.


“Nggak remehin. Emang lo gitu.”


“Iya,deh.” kata Betari sengit.


“Tar, tadi gue satu pesawat loh sama mantan lo.” Abrian ikut-ikutan mengambil buah di atas meja.


“Mantan gue yang mana?” sorry, ya, mantan gue banyak.


“Mantan lo yang paling bejat.”


“Oh,” Betari menuang air ke dalam gelas yang masih kosong, lantas meneguknya sambil memerhatikan siaran berita di TV.


“Dia nanyain lo. Kayak kangen banget deh dia sama lo.”


“Biarin aja.”


Abrian menggigit buah pisangnya sembari melirik kepada Betari yang duduk di sampingnya. “Sok cuek lo. Aslinya seneng kan lo.” godanya.


“Baper kan lo?” Abrian menyenggol bahu Betari.


Betari mendengus sabar. “Berisik lo.”

__ADS_1


Bukanya diam Abrian malah semakin berisik. Pria itu meneliti wajah Betari. “Jadi lo masih cinta sama dia?” tebaknya.


Betari tidak menjawab.


“Oke, fix lo masih cinta sama dia.” kata Abrian, tanpa bermaksud lagi meledek.


“Om Bara!” panggil Sagara tiba-tiba.


Mereka tersentak kaget. Sagara berjalan ke belakang sofa tempat mereka sekarang tengah duduk.


Abrian menoleh ke belakang. Ternyata, Umbara sudah berdiri tepat di belakang mereka. Wah! Gawat! Udah sejak kapan dia di sana? Kira-kira dia dengar nggak ya omongan gue? Batin Abrian.


“Siang, Mas Bara!” sapa Abrian sambil tersenyum. Isi kepalanya terus berputar memikirkan ucapannya sendiri. Kalau dengar, udah denger dari mana aja. Terus dia bakal marah nggak ya sama Betari? Pasti marah lah. Suami mana coba yang terima kalau istrinya ternyata masih cinta sama mantanya. Kalau gue jelas marah. Cemburu. Minimal sebel. Begitulah isi kepala Abrian sekarang.


“Siang,” balas Umbara. “Mau jemput Sagara, ya?


“Ya, Mas.” Sebenarnya Abrian agak bingung, dia harus memanggil Umbara dengan sebutan apa. Umbara lebih tua beberapa tahun dari dirinya, tapi dia istri adik sepupunya.


***


“Eh, Tar.” Abrian menarik lengan Betari sehingga membuat tubuh mereka berdempetan.


“Apa, sih.”


“Itu yang tadi kira-kira suami lo dengar nggak, ya.” bisiknya di telinga Betari. Abrian tidak ingin Umbara yang berjalan di depan mereka bersama Sagara, mendengarnya.


Betari menggerakkan bahunya cuek.


“Lo nggak takut apa?”


Kening Betari mengernyit.


“Kalo suami lo denger gimana?”


“Ya, udah. Mau gimana lagi. Wong udah denger.” Betari membalas santai. “Makanya, lain kali mulut lo tuh suruh hati-hati kalo ngomong. Repotkan kalo mulut nggak ada rem.”


“Mulut lo juga.” sambar Abrian sewot.


“Papa!” seru Sagara


Abrian langsung melihat ke arah anaknya. “Ya, Sayang?”


“Kita pulang sekarang, nih?” tanya bocah itu yang sepertinya enggan berpisah dengan Umbara.


“Iya. Kenapa?”


Sagara diam, menatap Umbara yang berdiri menjulang di hadapannya.


Abrian yang melihat hal itu langsung paham. Dia yakin kalau Umbara ini pasti orangnya baik banget ke anaknya. Bahkan masih mau repot-repot buat membujuk anaknya. Beruntung banget Betari dapat laki-laki kayak dia, batin Abrian.


“Sekarang Gara pulang dulu. Kapan-kapan kita main lagi.” Umbara berjongkok di hadapan Sagara.


“Janji, ya, Om.” Sagara menyodorkan jari kelingkingnya ke hadapan Umbara dan langsung disambut baik oleh pria itu.


“Iya, janji.” katanya.


Semoga Umbara nggak dengar ucapannya tadi, doa Abrian dalam hati.


***


Betari langsung masuk kembali ke dalam begitu mobil Abrian menghilang dari pandangan matanya. Dia harus bersiap-siap untuk pergi ke pesta ulang tahun Starley Tan, nanti malam—yang mana tinggal beberapa jam lagi.

__ADS_1


“Betari, saya harap kamu benar-benar memikirkan ucapan saya semalam.” Suara Umbara berhasil menghentikan langkah Betari yang akan mendaki tangga.


Baru saja Betari berbalik dan akan membuka mulut, Umbara sudah kembali bersuara. “Kalau kamu masih mau main-main. Saya bakal lebih serius.”


__ADS_2