
Berkat waktu senggang yang dimiliki oleh Gendis Atmojo, rencananya dan Umbara untuk tidak datang di acara one month baby party itu gagal total. Ibu mertuanya itu bahkan dengan sengaja datang ke rumah untuk menjemput mereka.
Saat dia dan Umbara tiba di depan rumah, mobil ibu mertuanya telah terparkir rapi di carport. Sementara mang Ujang sopir pribadi ibu mertuanya itu, terlihat duduk sambil merokok di salah satu sudut teras dengan wajah sangat bosan, tapi begitu menyadari kedatangannya dia terlihat menghela napas lega. Seolah mengatakan: akhirnya penantian panjang ini akan segera usai.
Betari dan Umbara sempat menyapa mang Ujang sebelum mereka masuk ke dalam rumah dan mendapati Gendis Atmojo yang telah tampil paripurna, mengenakan gaun malam panjang sederhana berwarna wine dan rambutnya disanggul rendah gaya modern, cantik dan anggun sebagaimana biasanya—tengah mengobrol santai dengan Romeo Salim sambil menonton televisi ditemani sepoci teh hijau dan beberapa potong kue strawbery dari tetangga baru—yang oleh pamannya itu, dia dan Umbara, terutama dirinya dilarangnya untuk memakan kue sialan itu barang satu suap kecil pun.
Umbara yang tidak terlalu suka dengan kue tidak berkomentar apa pun, sementara dirinya paham dengan maksud pamannya itu. Bahkan tanpa perlu Romeo Salim membisikinya dengan sebaris kalimat bernada meledek tapi sarat akan peringatan itu. “Nanti lo baper. Bisa sia-sia sudah semuanya.”
Namun hal yang sama sekali tidak Betari kira dari akibat keserakahan Romeo Salim terhadap kue stroberi sialan itu adalah Umbara yang hari itu juga membawanya ke sebuah toko kue sepulang mereka bekerja, Umbara memesankan sepotong kue stroberi dan dua cangkir hot tea untuk mereka berdua.
Petang itu, cuaca mendung dan hujan rintik-rintik, udara yang awalnya terasa sangat panas menjadi sedikit lebih sejuk. Mereka mengambil duduk di sudut toko yang sepi pengunjung itu, selain mereka berdua hanya ada sepasang lansia duduk satu meja dari mereka, dua gadis muda di meja di dekat pintu dan seorang ibu-ibu yang berdiri di depan meja kasir, yang tidak lama kemudian pergi dengan membawa satu kotak besar kue entah kue apa.
Umbara menyesap pelan teh panas miliknya dan Betari yang duduk di sampingnya kembali berkata, “Kamu beneran nggak mau coba kuenya?”
“Enggak.” balas Umbara. “Kamu mau saya pesenin lagi kuenya?”
Betari menggeleng. “Aku masih mau makan mie ayam setelah ini.” katanya kemudian.
“Warung mie ayam di depan itu rame banget kayaknya enak.” Betari menatap keluar melalui jendela besar di samping tempat Umbara duduk seraya menunjuk dengan jarinya sebuah warung mie ayam dan bakso yang berdiri persis di seberang toko kue tempat mereka berada.
“Habis ini kita ke sana. Kamu habisin dulu kuenya.”
“Ini kamu beneran nggak mau coba?” tawar Betari lagi, bukan sebagai basa-basi karena sejak tadi dia menawari Umbara bukan karena dia ingin basa-basi, apalagi merasa tidak enak karena hanya dirinya yang makan sementara Umbara tidak. Betari hanya ingin Umbara mencoba kuenya. Alasan yang dirinya pun merasa agak ganjil, karena sebenarnya Betari sendiri adalah orang yang cuek.
Umbara kembali menolak karena dia memang tidak begitu menyukai kue. Betari pun kemudian melahap potongan terakhir kue stroberi itu. Namun tiba-tiba salah satu tangan Umbara telah meraih dagunya dan dengan cepat sebuah kecupan lembut mendarat di bibirnya. Umbara memandanginya yang sedang kebingungan sembari berkata, “Kuenya sangat manis.”
Jelas saja perbuatan suaminya sore itu telah menambah beban pikirannya. Terlebih ciuman itu.
Betari tidak merasa yakin kalau setiap kali dia melihat kue stroberi dia tidak akan teringat dengan ciuman itu.
__ADS_1
“Oh, kalian sudah pulang!” suara Gendis Atmojo menyambut mereka. Lalu dengan tegas memberi ultimatum kepada keduanya untuk mandi dan bersiap-siap untuk pergi.
Umbara dan Betari pun tidak membantah, lalu menaiki tangga menuju lantai dua.
Kembali terdengar percakapan antara Gendis Atmojo dan Romeo Salim di ruang tengah.
“Kuenya enak, ya. Ini kamu atau Tari yang beli?” kata Gendis Atmojo kepada Romeo Salim.
“ini nggak beli kok, tante, kemarin dikasih tetangga baru depan rumah.” jawab Romeo Salim dengan jujur. “Katanya sih buatan sendiri.” tambahnya kemudian.
“Oh, ya?”
“Hem..” Romeo Salim kemudian melanjutkan ucapannya. “Kan tetangga baru depan itu chef Vino, tante tahu kan juri kompetisi masak di Netxtv yang paling muda.”
Gendis Atmojo mangut-mangut. “Tahu, tahu. Pantesan kuenya enak.”
***
Betari sendiri lahir dari keluarga kaya raya, keluarga Salim sudah menjadi keluarga kaya dan terpandang bahkan sejak zaman kakek buyutnya. Jadi sejak kecil Betari telah terbiasa dengan berbagai macam tradisi dan acara seperti ini.
Memang mereka yang terlalu kaya, tidak akan pernah merasa sayang mengeluarkan uang sebanyak apa pun, apalagi membuat mereka jatuh miskin.
Namun pengalaman hidupnya setelah lulus SMA membuat Betari memiliki pemikiran yang sangat berbeda dari dirinya yang seharusnya jika dia tetap menjalani hidup sebagai mana anggota keluarganya harus hidup.
Dari anak hingga cicit Juan Salim, mungkin hanya Betari seorang yang pernah menjalani kehidupan rakyat jelata. Oleh sebab itu, pandangan Betari atas pesta perayaan yang dihadirinya kali ini tetap ada pada satu kata itu: berlebihan.
Indah Atmojo, adik perempuan Gading Atmojo menyambut mereka dengan tersenyum.
“Di mana mas Gading?”
__ADS_1
“Ah, maaf, mas Gading tidak bisa datang, dia masih di Singapura.”
“Ckckck, kapan sih mas Gading bakal mau pensiun. Kasihan kan dia udah tua.” Ketika mengatakan itu Indah Atmojo dengan sengaja melirik Umbara yang berdiri di belakang Gendis bersama istrinya.
Indah Atmojo mengerti, kalau Gading Atmojo tidak sedang berlibur di Singapura. Sejak menggantikan ayah mereka puluhan tahun lalu kakak tertuanya itu menjadi orang yang sangat sibuk. Seharusnya di usianya yang sudah tua kakak sulungnya itu tidak perlu lagi mengurusi perusahaan. Toh, di keluarga mereka tidak kekurangan anak muda yang berkualitas. Hanya saja sang kakak terlalu keras kepala untuk menunjuk salah satu dari mereka untuk menggantikan posisinya.
“Mbak Gendis nggak khawatir apa sama kesehatannya.” Lagi-lagi Indah Atmojo melirik Umbara.
Sebenarnya, untuk saat ini siapa pun tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Di usia yang telah melewati angka enam puluh, di mana orang-orang rajin keluar masuk rumah sakit, Gading Atmojo masihlah sangat bugar. Sepertinya dia memang orang yang diberkati Tuhan.
Gendis Atmojo hanya tersenyum. Dia tahu kalau suaminya mendengar ucapan adiknya ini, pasti dia akan marah, lantaran suaminya itu pasti akan mengartikan bahwa adiknya telah menyebutnya kakek-kakek.
Sementara Betari yang menyadari kata-kata Indah Atmojo yang disengaja itu lantas melirik Umbara, suaminya itu seperti orang yang tidak mendengar apa-pun.
Lalu pembicaraan disetir Gendis menuju topik lain yang lebih menyenangkan dan ingin dia dengar, seraya berjalan menuju meja mereka untuk duduk. Gendis Atmojo tidak mau berdiri lama-lama, karena kakinya akan pegal.
“Oh, ya... Ngomong-ngomong kamu udah isi belum, Nduk.” pertanyaan itu bukan terlontar dari mulut Indah Atmojo, melainkan dari istri paman suaminya yang lain, Wening Atmojo yang sekarang telah duduk bersama mereka, tepat di samping Betari.
Betari tersenyum aneh. Beginilah jadinya kalau semeja dengan para orang tua, apa lagi ibu-ibu. Sekali memberi pertanyaan, kadang pertanyaannya bisa langsung membuat pusing.
Sementara dari ekor matanya, Betari dapat menangkap Gendis Atmojo yang duduk di samping Umbara tengah tersenyum, sepertinya ibu mertuanya itu memang telah menunggu momen ini.
“Doa kan aja, Tante.” sahut Umbara diplomatis.
“Iya, tapi kan nggak bisa kalau cuman berdoa saja. Kalian juga harus banyak usaha.” sahut Wening Atmojo yang kemudian langsung disetujui oleh orang-orang di meja itu.
"Iya, Tante."
"Jangan cuman iya-iya aja Bara. Mamamu kan sudah kepengen gendong cucu." timpal Indah Atmojo.
__ADS_1
“Mas Gading juga sudah sering bilang ke saya kalau dia sudah tidak sabar buat gendong cucu.” kali ini giliran Jaka Atmojo, adik kedua Gading Atmojo.
“Katanya lagi, kalau pun kamu memang tidak mau menggantikan posisinya, setidaknya kamu bisa mengabulkan keinginan-keinginannya yang lain.”sambung Jaka Atmojo.