
Awalnya Umbara berniat untuk mengambil ponselnya yang tertinggal di kamar Betari. Dia ingin menghubungi Baron Adiningrat dan memberitahu temannya itu kalau besok dia tidak jadi ikut bermain badminton, karena dia tidak mungkin meninggalkan istrinya sendirian di rumah, dan bik Atun sudah dia larang datang setiap hari.
Asisten Rumah Tangga mamanya itu hanya akan datang di hari Senin, Rabu, dan Jumat. Sementara besok adalah hari minggu, jadi bik Atun tidak akan datang dan sebenarnya dia bisa saja menyuruhnya untuk datang besok, tapi dia tidak akan melakukannya. Dia bisa mengurus sendiri istrinya.
Setelah dia mendapatkan ponselnya, dia akan kembali ke kamarnya sendiri karena selama ini mereka memang tidur di kamar terpisah. Dia tidak ingin membuat istrinya tidak nyaman dengan memaksakan sesuatu yang Betari tidak mau atau inginkan. Umbara bisa menunggu. Dia yakin pelan-pelan hubungan mereka akan menjadi hubungan suami-istri sebagaimana seharusnya. Seperti kedua orang tuanya—yang saling menyayangi dan melengkapi satu sama lain.
Umbara mengernyit ketika dia tidak menemukan ponselnya di nakas—seperti yang dia pikirkan—tetapi yang ada malah ponsel Betari yang tengah diisi daya. Seingatnya, dia memang selalu menaruh ponselnya itu di nakas di samping tempat tidur.
Oh...
Sekarang dia ingat. Tadi mamanya sempat meneleponnya karena mamanya itu tidak bisa menghubungi Betari dan memintanya untuk memberikan ponselnya kepada istrinya itu. Setelah itu dia pergi ke dapur untuk mencuci peralatan makan yang kotor. Jadi orang terakhir yang memegang ponselnya adalah Betari—jadi kira-kira di mana Betari menaruh ponselnya itu?
Akhirnya Umbara menemukan ponsel miliknya itu berada di bawah bantal di samping Betari tertidur.
Pada saat itu, Umbara yang akan mengambil ponselnya—melihat Betari tertidur dengan gelisah—keningnya berkerut dan napas istrinya itu sedikit terengah-engah. Wajahnya pun mulai berkeringat. Melihat hal itu membuat hatinya tidak nyaman.
Umbara setengah menunduk di samping tubuh Betari, tangan Umbara meremas pelan tangan Betari dan ketika dia melakukan hal itu, Umbara mendengar ucapan bernada ketakutan yang sempat diucapkan oleh istrinya itu untuk beberapa waktu.
“Jangan ganggu...pergi...”
Umbara tidak bisa meninggalkan istrinya itu sendiri dan mengabaikan ucapan itu, karena dia memang mengkhawatirkan istrinya sendiri. Dia menarik tubuh Betari ke dalam pelukannya, sembari mengusap peluh di kening istrinya itu, dan berharap dengan cara ini dia bisa membuat Betari tidur dengan nyaman.
Dan hal itu benar-benar terjadi. Umbara bisa melihat kerutan pada kening Betari memudar dan merasakan napas Betari terdengar teratur. Umbara merasa lega juga senang. Ketika Betari menyurukkan tubuhnya lebih dekat lagi ke arahnya, Umbara bisa merasakan bibirnya sendiri yang tersenyum.
Betari tidak ingat bagaimana dia bisa berada di ruangan gelap dan berbau pengap itu. Begitu dia terbangun tangannya sudah terikat ke belakang, tidak lama kemudian terdengar suara bayi menangis, meraung-raung lalu disusul suara tawa cekikikan yang terdengar sangat mengerikan. Sebuah lampu kuning yang menggantung di langit-langit kusam di atasnya dan semula mati, mulai berkedip-kepit. Bayangan putih berkelebat-kelebat di hadapannya seperti kain tirai putih yang terbang-terbang ke sana-sini—dengan cepat, hingga sosok mengerikan penuh darah dan nanah itu muncul di depan wajahnya. Dia menjerit ketakutan dan beringsut mundur. Namun, sosok itu mengikutinya. Membuatnya benar-benar tak berdaya.
Kenapa mimpi buruk itu datang lagi?
Rasanya sudah lama dia tidak pernah memimpikan adegan itu lagi. Mimpi buruk itu yang menjeratnya dalam ketakutan. Menyiksanya dan mengganggu setiap tidur nyenyaknya. Dia pernah hampir menjadi gila karena rasa takut itu. Tapi masa-masa itu sudah lama berlalu, bukan?
Ini hanya mimpi.
Dia terus mengatakan kepada dirinya sendiri untuk bangun, dan semuanya akan berakhir.
Namun, dia hanya mampu meringkuk di sudut ruangan gelap itu dengan ketakutan. Seperti sebelumnya.
Hingga akhirnya seseorang merengkuh tubuhnya dan mengelus kepalanya dengan lembut.
Embusan napas lembut di atas kepalanya, membuat Betari membuka matanya perlahan. Dan seketika itu dia dapat melihat hidung mancung dan rahang kokoh yang ditumbuhi rambut-rambut halus—yang sama dengan kemarin, yang memanggil-manggil jari-jari kurusnya untuk menyentuh di sana. Untuk sesaat dia tidak bisa menjelaskan mengenai apa yang tengah terjadi. Selain... menyalahkan pria itu yang tidak bercukur.
Dan alasan mengapa dia tidak bisa berpikir jernih adalah karena lengan pria itu yang memeluk pinggangnya dan salah satu kaki panjang berotot pria itu melingkari di sekitar pahanya yang mulus. Jika seharusnya dia akan mendorong tubuh pria itu karena hubungan mereka yang abu-abu (Ingat mereka menikah bukan karena saling mencintai dan menginginkan, bagi Betari hubungan mereka ini abu-abu), tapi anehnya kali ini Betari tidak ingin melakukannya. Dan anehnya lagi, dia tidak merasa risi dengan kedekatan mereka.
Jangan bilang... Alasannya adalah karena mereka suami-istri jadi hal ini sangat wajar. Atau karena keadaan seperti ini bukan lagi hal pertama bagi Betari, (meski begitu dia tidak pernah sampai melakukan hal-hal di luar batasan dengan mantan pacarnya dulu. Intinya Betari belum pernah melakukan hubungan suami-istri dengan siapa pun. Tapi tidur bersama sih sering. Hanya tidur tidak lebih.)
Jadi intinya Betari tidak menyukai dua kemungkinan alasan itu. Karena dia tidak bisa menerima kedua alasan itu. Dan bagaimanapun juga dia dan Umbara masih dua orang asing yang hanya terikat pernikahan dan tinggal serumah. Betari tidak pernah menginginkan hubungan yang lebih dari itu. Dan dia memiliki aturannya sendiri untuk membiarkan seseorang melakukan kontak fisik yang ‘lebih dari cium pipi kanan dan kiri’—dengan dirinya. Dia belum pernah melakukan hubungan fisik dalam tanda kutip yang hanya didasari dari spontanitas. Dia selalu bisa mengendalikan dirinya. Betari tidak suka dipaksa, tapi dia suka memaksa.
Walaupun untuk saat ini Betari merasa otaknya bisa berpikir jernih, tetapi jantungnya berpacu dua kali lipat dari normalnya. Dan seakan hal itu belum cukup membuat jantungnya hampir meledak, kini Umbara malah membuka matanya tepat ketika dia menatap suaminya itu.
Umbara menatap Betari dengan wajah mengantuk yang sama dengan wajah mengantuknya pagi kemarin—yang menurutnya sangat menarik. Sangat memesona. Sangat tampan.
Oh...
Apakah dia kembali tidak waras seperti kemarin pagi?
Apakah kepalanya terbentur sangat keras kemarin malam?
__ADS_1
“Kamu udah bangun.” Lagi-lagi pertanyaan retoris itu.
Sore harinya Betari sedang duduk santai di balkon sambil mendengarkan musik yang diputar dari ponselnya, ketika tidak sengaja matanya menangkap sebuah mobil sport yang sangat dia kenali, bahkan dia masih mengingat pelat nomor mobil itu dengan baik—terparkir di carport rumah di depan rumahnya, ralat rumah suaminya.
Seketika perasaannya menjadi tidak senang. Benar yang dikatakan dokter ortopedi, Hannah Rusli kepadanya; musibah yang menimpanya sangat banyak.
Buah jeruk yang digigitnya menjadi terasa asam dan dia dengan tertatih berjalan masuk ke dalam. Karena kakinya yang masih sangat bengkak.
Dan begitu dia bertemu dengan suaminya dia mengatakan kata-kata absurd itu yang terdengar sangat konyol, “Aku nggak mau lagi tinggal di sini. Tempat ini, bukan, tapi di perumahan ini ada banyak hantu menakutkan.”
Umbara tidak menanggapinya dan berpikir kalau istrinya itu memang sedang tidak sehat. Tingkahnya juga sangat aneh. Tapi entah mengapa dia menyukainya.
“Iiiihhhh kamu dengerin aku nggak, sih?” gerutu Betari sembari mencengkeram gemas lengan suaminya.
“Iya, dengerin.”
“Kalau kamu dengerin aku kenapa diam aja.” kesal Betari. “Aku mau pindah, kalau kamu masih mau tinggal di sini, terserah.” lanjutnya lalu masuk ke dalam kamarnya. Tidak lama kemudian dia keluar membawa sebuah Gucci Ophidia Small Shoulder bag kesayangannya.
“Jadi kita mau ke mana,” kata Umbara kepada Betari yang tengah menatap ke luar jendela, pada barisan pohon yang berjajar rapi di tepi jalan dan beberapa pejalan kaki di trotoar.
Kini mobil mereka telah jauh meninggalkan rumah, melewati Rumah Sakit Daerah yang ruang IGD-nya kemarin malam mereka kunjungi dan sekarang mobil berhenti di depan lampu merah yang menyala—persis di persimpangan jalan. Keadaan jalan tidak terlalu ramai di hari libur.
Betari berpaling ke arah Umbara dengan mengerutkan keningnya dan malah berbalik bertanya kepada suaminya itu, “Menurut kamu?”
Dia sebenarnya ingin sekali ke rumah neneknya—jujur saja dia sangat merindukan Widuri Salim, tapi dengan keadaan kakinya yang seperti saat ini pasti akan membuat neneknya itu menjadi sangat khawatir dan mungkin akan sangat cerewet, alias lebay. Dia tidak menginginkan kedua hal itu.
Sementara Umbara benar-benar tidak mengerti dengan apa yang diinginkan oleh Betari. Dia hanya tahu kalau hari ini istrinya itu sangat aneh dan entah kenapa dia menyukainya.
“Saya ada studio tidak jauh dari sini kalau kamu mau kita bisa pergi ke sana.”
Beberapa menit kemudian mobil telah memasuki kawasan jalan yang terasa familier untuk Betari. Benar, jalan ini yang sekarang tengah mereka lewati adalah jalan menuju sekolah lamanya.
Rasanya sudah lama sekali Betari tidak pernah lewat kawasan ini sejak dia lulus sekolah delapan tahun lalu. Padahal dari sekolahnya ke rumah Juan Salim hanya empat puluh menit dengan mobil, tanpa macet.
Tidak jauh dari seberang gedung sekolah lamanya, mobil berhenti di depan pintu pagar besi menjulang, di pasang di antara tembok tinggi yang mengelilingi bangunan di dalamnya. Sehingga orang di luar tidak bisa melihat seperti apa keadaan di dalam sana dengan sempurna, selain halaman luas yang ditumbuhi beberapa pohon peneduh dan semak belukar. Sekilas, seperti tidak ada bangunan di dalam sana.
Betari menoleh bingung pada Umbara di sebelahnya. Dulu, dia dan beberapa temannya pernah berpikir bahwa tempat itu mungkin adalah kuburan keluarga konglomerat.
Kita udah sampai.” katanya. “Saya buka pintu pagarnya dulu.” Kemudian Umbara turun dari mobil.
Betari lalu memandangi sebuah pohon asem Jawa yang tumbuh di salah satu sisi luar tembok, sekarang pohon itu sudah sangat besar. Dia ingat dulu sering berteduh di bawahnya ketika menunggu jemputan mang Tarjo yang seringnya ngaret dan lelet itu. Sampai pernah suatu hari dia kehujanan karena menunggu sopirnya itu, beruntung ada seorang om-om baik hati yang memberinya tumpangan payung.
Mobil berjalan kembali, masuk meninggalkan pintu pagar yang sudah kembali Umbara tutup.
Betari termangu diam, memandang sekeliling. Ternyata duganya yang sempat menyebutkan bahwa tempat yang dilindungi tembok tinggi ini adalah kuburan orang kaya, salah besar.
Tapi tempat ini memang lebih mirip seperti taman luas yang kurang terurus. Atau mungkin kebun raya mini? Dilihat dari bayaknya jenis pohon yang ditanam.
Mobil berhenti di depan sebuah bangunan sederhana berbentuk persegi panjang dengan beberapa jendela kaca dan sebuah pintu kayu mengkilap yang terlihat sangat kokoh, terletak pada salah satu ujungnya. Bangunan itu berada di salah satu sudut tempat itu dan dinaungi pepohonan.
Umbara mematikan mesin mobil, lalu turun dan membantu Betari turun.
Mereka masuk ke dalam bangunan itu yang merupakan studio milik Umbara, dengan menaiki beberapa anak tangga rendah.
Begitu lampu dinyalakan tampak ruangan yang cukup luas, ada sebuah patung setengah jadi di atas meja kerja, lemari-lemari yang sepertinya dipenuhi peralatan pahat dan berbagai jenis benda tajam, rak-rak berisi patung-patung lain, dan sebuah kulkas di dekat dua buah kursi kayu di salah satu sudutnya. Selain itu ruangan itu tampak kosong.
__ADS_1
“Kita bisa tinggal di sini untuk sementara kalau kamu mau.” katanya. “Ada kamar tidur di sebelah sana.” lanjutnya. Lalu membawanya pada sebuah pintu lain di dalam bangunan itu.
Kamar itu tidak luas, hanya memiliki sebuah ranjang kecil yang sepertinya masih bisa digunakan untuk mereka berdua tidur, sebuah lemari yang sama kecilnya, dan sebuah meja nakas rendah di sisi ranjang. Selain itu tidak ada furnitur atau perabotan lain, apalagi yang bisa digunakan untuk tidur.
“Ini seperti kamar kosku dulu.” gumam Betari tiba-tiba, dia tersenyum menatap seisi kamar itu yang sangat sederhana.
Umbara mengerjap pelan, dia tidak yakin dengan pendengarannya sendiri. Betari bukan berasal dari keluarga biasa-biasa saja. Keluarga Salim memang bukan keluarga konglomerat yang memegang manajemen grup bisnis yang membawahi beberapa anak perusahaan seperti Atmojo ataupun Tohjaya, tetapi jelas mereka adalah keluarga kaya. Jadi agak aneh jika perempuan itu mengaku pernah tinggal di sebuah kamar kos kecil.
“Kamu pernah tinggal dikos?” tanya Umbara kemudian.
“Iya. Dulu waktu kuliah.”
Satu hal baru lagi yang cukup mengejutkan untuk Umbara.
Melihat Umbara yang diam, seketika ego Betari merasa agak tidak senang. Jujur saja, dia masih sering kesal jika mengingat impresi Umbara terhadap dirinya. Meski Umbara bukan satu-satunya orang yang menilainya hanya dengan melihat kulit luarnya saja. Memang harus Betari akui jika penampilan luarnya dan sikapnya yang dia tunjukan selama ini memang jauh dari kesan hidup Betari beberapa tahun silam, yang merupakan mahasiswi berkantong cekak di sebuah universitas negeri di kota pelajar.
“Kamu pasti nggak percaya.” katanya kemudian duduk di ujung ranjang.
Umbara hanya diam, dia takut mengatakan hal yang salah.
“Boleh nggak aku kasih kamu nasihat klasik” Betari mendongak, menatap wajah Umbara di hadapannya.
“Boleh.” jawabnya serak.
“Don’t judge book by it’s cover.” ujarnya. “Klasik banget kan nasihatnya.” lanjutnya. “Tapi aku bakal dapat dosa nggak ya karena udah berani nasihatin orang yang lebih tua.”
“Nggak.” sahut Umbara.
Betari lalu terkekeh. Dia memandang wajah Umbara yang datar itu. “Kamu nggak bisa ketawa atau leluconku nggak lucu.”
Umbara tidak merasa kalau Betari baru saja melucu. “Lelucon kamu nggak lucu.”
“Kalau gitu kamu harus dengerin leluconku yang lain.”
“Boleh.”
Betari bergumam. “Apa kamu akan tertawa.”
“Tergantung.”
“Hmmm.” Betari sempat berpikir. Sebelum akhirnya dia bilang kalau dia tidak akan membuat Umbara tertawa hari ini. Karena dia lapar dan meminta Umbara untuk segera memesan makanan cepat saji.
Malam itu mereka harus tidur dalam satu ranjang kecil itu dengan saling berimpitan.
Mata Betari terpejam tapi dia tak kunjung terlelap. Rasa takutnya akan sosok-sosok mengerikan itu masih bercokol dalam pikirannya. Tapi dengan keadaannya saat ini: dia tidak sedang sendirian dan kamar kecil ini tidak gelap—seharusnya rasa takutnya sedikit berkurang. Atau sebenarnya penyebabnya bukan hal itu, tapi apa yang tadi sore dilihatnya.
Betari akhirnya membuka mata dan menoleh, menatap pada sosok lain yang berbaring miring di kasur yang sama.
“Kamu nggak bisa tidur?”
“Hem.”
“Mau saya peluk.”
“Hah!?”
__ADS_1