JODOH DARI NERAKA

JODOH DARI NERAKA
26. DUA PULUH LIMA


__ADS_3

“Saya harap kamu nggak akan ikut-ikutan buat manjain si Tari.” Begitulah sekiranya yang dikatakan Arimbi Salim ketika melihat Umbara tengah duduk seorang diri di ruang keluarga kediaman Juan Salim—seolah dia sangat yakin kalau sang adik ipar akan memanjakan istrinya itu.


Tentu saja Umbara kaget. Dia sedang duduk tenang, bersandar di sandaran sofa sambil menahan rasa kantuknya yang tiba-tiba menyerang bagai virus corona, padahal kan hari belum juga siang dan posisi matahari di luar sana baru juga akan mendekat ke tengah—masih jauh untuk sampai ke barat dan tenggelam. Biasanya juga dia jarang mengantuk di siang bolong. Apa mungkin karena semalam baru pergi tidur setelah tengah malam. Ah, seharusnya semalam dia tidak mendengarkan istrinya yang sedang banyak omong itu. Tapi semalam adalah malam yang menyenangkan, tidak boleh disesalkan.


Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba saja kakak iparnya itu menghampirinya, bahkan tanpa basa-basi langsung memberinya ultimatum.


Meski tidak mendadak pun seperti sambaran petir di siang bolong yang terik, Umbara juga tidak tahu harus mengatakan apa, makanya dia hanya bisa balas menatap sang kakak ipar dengan wajah datar yang tidak pernah dibuat-buat. Sementara rasa kantuknya telah hilang tanpa sisa.


Selama beberapa detik Arimbi Salim sempat mengamatinya sebelum akhirnya mendengus terkekeh. Sang kakak ipar jelas tahu banyak tentang siapa dan bagaimana Umbara Atmojo, adik iparnya itu secara garis luar hampir sempurna tanpa celah sebagaimana manusia-manusia lurus pada umumnya; tidak ngobat, tidak minum miras, tidak merokok, tidak main judi, tidak main perempuan, dan yang paling penting dia punya pekerjaan dan uang. Makanya tidak heran jika kakek mereka langsung menerima pinangannya, tanpa ragu-ragu. Harapannya jelas: Kelak Umbara Atmojo akan bisa menggantikannya melindungi, menyayangi dan mencintai cucunya. Atau setidaknya sang kakek tidak akan lagi melihat Betari kesulitan keuangan—keluarga Atmojo adalah keluarga konglomerat yang hartanya tidak akan habis hingga keturunan terakhir, jadi Betari akan hidup sejahtera dan sentosa.


“Terserah kamu sih, mau gimana sama adik saya. Asal kamu nggak semena-mena aja.” ujarnya kemudian. “dan jangan bikin dia nangis.”


Kini mata Arimbi menyorot Umbara tajam, tetapi tenang bak elang yang tengah menandai mangsanya dari ketinggian.


“Kamu ngerti kan maksud saya dengan jangan bikin dia nangis.” Suara Arimbi setajam tatapan matanya. Lalu menghela napas, ketika dia menyadari sesuatu yang kemudian membuatnya agak takut. Meski di luar dia terlihat membenci adiknya, sebenarnya dia sangat menyayangi Betari, sebagaimana seorang kakak yang menyayangi adinya. Mungkin rasa sayang Arimbi jauh lebih besar dari kakak-kakak lain di dunia ini. Hanya saja dia memiliki cara yang berbeda dari mereka.


Maka Arimbi pun memperbaiki ucapannya yang kurang tepat itu.


“Saya tahu kamu dan adik saya nikah karena dijodohkan. Selain itu adik saya pasti jauh dari perempuan yang kamu inginkan untuk kamu jadikan istri. Kamu juga sudah lihat sendiri kelakuannya seperti apa. Tapi saya tetap akan memperingatkan kamu untuk tidak membuatnya menangis.” katanya lalu melengos pergi.


Umbara mengerjap, hampir-hampir tidak mempercayai pendengarannya sendiri.

__ADS_1


Jadi...


Betari datang menghampirinya dengan wajah cemberut bersama segelas air lemon dingin di tangannya, yang kemudian diletakkan begitu saja di meja.


“Betari?” panggil Umbara.


Betari menoleh pada Umbara.


“Mau pergi cari bakso?” dia tahu kalau istrinya itu menyukai bakso kuah apalagi saat moodnya sedang buruk.


***


Nyatanya memang tidak pernah sulit untuk mengembalikan mood Betari yang buruk menjadi lebih baik, cukup bawa dia pergi makan bakso, selain sangat murah juga sangat mudah bukan? Semudah mencari warung bakso di ibukota.


“Kamu tahu apa yang dilakukan Amar ketika Felicia uring-uringan setelah ribut sama tante Indah?” Amar adalah sepupunya dan Felicia adalah istri sang sepupu, sementara tante Indah adalah adik ayahnya yang paling rewel.


Waktu itu, Umbara jelas menggeleng heran sambil dalam hati bertanya-tanya kenapa sang ibu menanyakan hal itu kepadanya. Tentu saja dia tidak tahu dan tidak mau tahu jawabannya, itu urusan Amar. Dia tidak pernah sudi ingin tahu urusan hidup orang lain, walau hanya sedikit pun. Apalagi hidup Amar yang kata ibunya penuh dengan drama itu. Istri dan ibunya sama-sama rewel.


“Cuman buat bujuk Felicia biar nggak rewel, Amar harus bawa istrinya itu belanja ke Singapura. Padahal di sini kan juga banyak tempat belanja nggak perlu lah jauh-jauh ke singapura segala.” Padahal ibunya juga tahu, ke Singapura cuman butuh satu jam naik pesawat. Lagi pula keluarga mereka kaya dan sepupunya itu jelas punya banyak waktu luang. Mereka juga sudah biasa melakukan hal seperti itu. Bolak-balik ke luar negeri hanya untuk sesuatu yang tidak penting bukan lagi hal baru. Umbara tidak heran. Ibunya juga tahu itu, bahkan termasuk sering melakukannya—bolak-balik keluar negeri hanya untuk alasan tidak jelas. Kenapa ibunya malah membahasnya?


“Kamu tahu? Buat membujuk Betari kamu nggak perlu melakukan yang Amar lakukan.” Bukankah kebanyakan perempuan termasuk ibunya itu kalau lagi ngambek disuruh belanja langsung lupa segalanya. “Kamu cukup bawa dia makan bakso. Setelahnya beres. Gampang kan?”

__ADS_1


Ibunya benar.


Warung bakso itu kecil, tapi sangat ramai, halaman parkirnya disesaki sepeda motor.


Meski mereka tidak datang di saat jam makan siang—yang kebetulan masih 1 jam lagi, mencari tempat duduk sama sulitnya saat Umbara mencari tempat parkir tadi. Betari hampir mengajak Umbara untuk keluar lagi, saat suaminya itu menarik tangannya menuju dua kursi kosong di sudut ruangan dan baru saja ditinggalkan pelanggan.


Mereka memesan dua mangkuk bakso dan dua es teh manis kepada seorang pelayan yang datang membersihkan meja.


Meja itu panjang dan terdiri dari delapan kursi, mereka mengisi dua kursi, sedangkan enam kursi lain ditempati oleh dua pemuda yang duduk di samping Umbara dan empat perempuan yang lebih suka menatap wajah Umbara daripada mangkuk bakso mereka. Betari tidak bisa menyalahkan mereka. Mungkin wajah suaminya lebih menggiurkan dari bakso itu, tetapi cara mereka yang terang-terangan itu, benar-benar sangat lucu.


Tidak lama kemudian bakso mereka dihidangkan. Mengepul seperti yang Betari inginkan.


“Kamu akan diare kalau kamu kayak gitu.” Tangan Umbara menjauhkan tempat sambal itu dari jangkauan Betari ketika dia akan menungkan sambal untuk ketiga kalinya. “Saya nggak mau malam-malam beliin kamu obat diare lagi.” katanya mengingatkan pada kejadian beberapa waktu lalu ketika Betari malam-malam mengeluh sakit perut.


Dan kata-kata terakhir Umbara yang diucapkan dengan sangat jelas itu berhasil menggiring opini setiap orang yang duduk di meja itu—yang pasti berbeda-beda. Tapi percayalah setidaknya satu dari mereka yang sejak awal hanya mau melihat wajah Umbara dan Betari tanpa terpikir dengan cincin yang tersemat di jari Umbara, ya... memang hanya Umbara yang rajin memakai cincin kawin mereka—dan kata malam-malam—pasti mengira mereka adalah pasangan kumpul kebo.


Betari sih masa bodo. Apalagi Umbara.


Betari hanya diam dan mulai menyuap. Dia ingat kejadian malam itu, dimana dia dibuat belingsatan oleh ulah perutnya sendiri. Sebenarnya sebelum-sebelumnya dia juga pernah kena diare akibat kebanyakan makan sambal, tetapi hal itu tidak pernah benar-benar membuatnya kapok.


Sepertinya kuah bakso milik Betari itu benar-benar pedas. Wajahnya yang semula cemberut kini berkeringat.

__ADS_1


Umbara mengelap dahi Betari dengan tisu yang diambilnya di meja. Hal itu tentu saja tidak luput dari perhatian perempuan-perempuan yang duduk di hadapan mereka. Terlepas dari apa pun dugaan mereka tentang hubungan mereka. Betari tidak sengaja menyadari, mereka kini tengah tersenyum dan tersipu-sipu karena menganggap perbuatan Umbara kepadanya sangat manis.


Yah, tentu saja Betari tahu dan sadar kalau suaminya ini semakin hari semakin perhatian dan meski tahu konsekuensinya, Betari tidak pernah menolak.


__ADS_2