
Jangan lupa like dulu sebelum baca dan komen!
Selamat membaca!
***
Vanila mengernyit. “Bentar, jadi, lo masih belum buka segel?!”
Betari tidak menjawab. Itu urusan sangat pribadinya. Orang lain tidak perlu tahu. Ralat, orang lain tidak boleh tahu.
Vanila sahabat karibnya sejak jaman sekolah dasar itu, memandanginya dengan tatapan horor. Tidak salah lagi kalau dia telah mengartikan diamnya Betari sebagai kata ‘Yes’
“Jadi benar lo masih perawan.”
Lagi, Betari hanya diam.
Demi Tuhan Yang Maha Esa, Betari tidak ingin membahas hal itu—hal paling tidak penting. Bahkan dia tidak peduli jika sepanjang pernikahannya dengan Umbara Atmojo dia akan tetap menjadi perawan. Sekali lagi, soal urusan pribadinya, orang lain tidak perlu tahu. Sekalipun itu Vanila, sahabat bagai kepompong dan kupu-kupunya.
“What the hell!” Vanila mengumpat kaget.
Dia masih tidak menyangka kalau sang sahabat masih suci bak sepack buku tulis sinar dunia alias sidu yang masih dibungkus plastik segel di toko buku dan alat tulis kantor di pinggir jalan raya sana. Yah... meski tak suci-suci amat. Tapi senggaknya sahabatnya itu belum pernah melakukan dosa yang lebih besar dari sekedar saling ******* bibir. Jelas level mereka beda jauh. Kalau soal riwayat membuat dosa terindah, Betari sih masih anak kemarin sore, sementara dirinya bisa dibilang suhu—yang sudah berkali-kali khatam.
“Omaygat!” kini giliran si Tarjo, yang entah sejak kapan telah duduk di kursi belakang mobil Vanila—yang belum juga meninggalkan pelataran rumah Juan Salim.
“Please ladies, jangan kasih tahu Prayoga soal ini.” Tarjo melanjutkan dengan suara memohon.
“Kenapa?” timpal Vanila.
“Nggak rela aja gue kalo harus kasih dia duit, kan dia udah tajir mana sejak masih dalam kandungan pula.”
“Lo sama Prayoga taruhan soal mereka udah bobok bareng atau belum sejauh ini?”
“Yup.” Tarjo mengangguk. “Tepatnya sih cuman buat di satu bulan pertama dan sekarang udah lewat jauh.”
“Gendeng!” desis Vanila. “Kenapa nggak ngajak gue.”
Betari mendelik tapi tidak ada yang peduli.
“Kalo lo ikutan pasti lo juga bakal kalah kayak gue. Keenakan ntar si Prayoga dapat duit banyak, yah, walau buat dia juga nggak seberapa.” sahut Tarjo.
“Pede banget lo kalo gue bakal kalah.”
“Lah, lo aja kaget kan tadi waktu tahu si Bet masih belum diapa-apain sama suaminya. Jadi pasti lo juga sepemikiran dong sama gue, Van.”
Sialan!
Triple sialan!
F-bintang-bintang-K you guys!
Sialan! umpat Betari dalam hati.
Dia benar-benar tidak habis pikir dengan mereka. Terutama Prayoga dan si kampret Tarjo. Berani-beraninya mereka menjadikannya bahan taruhan. Dasar sapi!
“Eh, Bet! Sebenarnya diantara kalian berdua, maksud gue, lo dan suami lo siapa sih yang sebenarnya nggak waras? Jujur aja ya gue jengkel pakai banget sama kalian berdua, masa gue kalah dari si Prayoga sialan Pangeran sialan Sasongko itu.”
Betari mengedik bahu cuek. “Emang gue peduli.”
“Apa sih yang kalian lakukan selama ini? Bikin rumah-rumahan barbie?”
Vanila terbahak. “Lo kira mereka bocah, Jo.”
Betari hanya diam.
__ADS_1
“Habis mau disebut apa lagi. Sumpah gue nggak ngerti gimana bisa dua orang dewasa beda kelamin tinggal satu rumah berbulan-bulan masa nggak terjadi adegan seperti yang gue harapkan. Mereka suami istri lho, Van. Coba yang nikah itu kita, Van. Setiap malam pasti akan jadi malam pertama yang indah dan panas."
Vanila mendelik. "Imajinasi yang luar biasa, Jo. But, teruslah bermimpi."
Sementara Betari tetap diam sambil menahan geram. Dasar Tarjo otak kotoran sapi!
“Ini sih antara laki lo yang homo atau lo yang nggak menarik.”
Sialan! Ego Betari terluka. Enak saja dia dibilang nggak menarik.
Dasar Tarjo si tukang bodyshaming!
Tawa Vanila kembali pecah. “Wah, parah lo Jo. Bisa-bisanya lo bilang Bet nggak menarik. Apa perlu gue ingatin kalo Bet itu kembarannya Sandra Dewi. You know, kan bahkan Sandra Dewi masih tetap cantik paripurna sampai sekarang padahal anaknya udah 2 dan umurnya udah kepala 4. Fix! Mata lo pasti udah katarak.”
“Maksud gue tuh nggak menarik di mata lakinya. Selera tiap orang kan beda-beda dan kita mana tahu selera dia kayak gimana? Mungkin aja dia sukanya sama yang seksi, yang dadanya sebesar buah melon. Bukan sama Sandra Dewi.”
Bicara soal buah dada melon. Refleks Vanila sang sahabat yang sangat budiman maksudnya yang juga kurang ajar, melirik dada Betari.
“Bisa jadi, Jo.” ujarnya kemudian.
Tawa Vanila dan Tarjo meledak.
Betari mendengus, lalu mengumpat kesal. “Sialan!”
“Ukuran dada lo emang kurang menarik, Bet. Perlu gue pesenin minyak yang itu.” celetuk Tarjo tanpa repot-repot merasa takut disebut otak mesum. Tapi sejujurnya Tarjo tidak begitu peduli dengan ukuran buah dada pasangannya. Silah kan saja sebut dia munafik.
Lalu dia ikut terkekeh.
“Mulut lo comberan, Jo!” kesal Betari. “Lo juga, Vin.”
Fix! Sampai di sini Betari menyesal pernah mengenal mereka dan menganggap mereka teman. Dasar upil sapi!
“Kita jadi pergi nggak?” Betari melanjutkan. “Atau lo mau pergi aja sama Tarjo si otak kotoran sapi ini.” dengusnya.
***
“Kalo lo ikut berarti lo yang bayarin kita makan nanti.”
Seketika itu juga Tarjo tanpa a-i-u apalagi b-a-b-i-b-u-b-e-b-o keluar dari mobil. Tarjo yang pelit bin medit itu, tidak mungkin mau keluar uang untuk orang lain.
“Asal lo tahu saja, buat orang miskin seperti gue ini nyari uang itu susahnya minta ampun dan gue nggak cukup bodoh bin tolol buat pakai uang gue sembarangan. Jadi, hemat pangkal kaya. Rajin-rajin lah menabung, Bet!” Begitulah kira-kira prinsip keuangan Tarjo yang dulu sekali pernah dia utarakan kepada Betari.
Tapi di luar dari mulutnya yang sekotor air comberan dan sifat pelitnya yang tiada tandingan itu, Tarjo adalah orang yang baik dan menyenangkan untuk dijadikan teman.
Baiklah! Mari kita lupakan dulu Tarjo yang menyebalkan itu.
“Bet,” panggil Vanila pelan, seraya mematikan mesin mobilnya.
“Hem.”
Vanila berdehem. “Jangan-jangan...” bisiknya hati-hati. “suami lo beneran gay.”
Gerakan tangan Betari yang hendak melepas sabuk pengaman terhenti dan menoleh pada Vanila, tapi dia tidak mengatakan apa pun. Sejak awal Betari memang tidak peduli dengan orientasi seksual suaminya itu dan justru hal baik jika suaminya itu memang tidak tertarik secara seksual dengan perempuan. Karena dengan begitu urusannya akan menjadi semakin mudah.
“Kalo dia benaran gay gimana?” cicit Vanila.
“Gue nggak masalah.” jawabnya tenang.
“Heh!” Vanila tak kuasa memekik. “Bet, yang bener aja lo. Kalo suami lo itu beneran gay lo kan nantinya nggak akan pernah bisa merasakan indahnya surga dunia. Gue aja udah nggak perawan berkali-kali masa lo harus perawan seumur hidup. Kalo gitu nggak sekalian aja lo jadi biarawati.”
“Iihhh, sempit banget sih pikiran lo, Van.”
“Jangan bilang lo mau selingkuh kayak si itu.” celetuk Vanila. “Percaya deh sama gue, selingkuh itu emang menyenangkan banyak juga yang bilang menantang tapi itu semua cuman kebahagiaan semu dan risikonya juga besar. Kalo nanti sampai ketahuan urusannya bisa panjang, nama baik lo pasti bakal rusak sekalipun lo pakai alasan kalau suami lo itu gay. Dan lagi kakek lo yang sepertinya bakal berumur panjang itu pasti lah bakal ngamuk-ngamuk sebelum akhirnya ngegantung lo sampai mati di tiang jemuran.”
__ADS_1
Betari melongo mendengar penuturan yang terkesan melantur itu. Dia rasa ada yang salah dengan otak sahabatnya sore ini. Ke mana Vanila yang biasanya cerdas itu? Bisa-bisanya dia berpikiran sesempit ini.
“Ya, Allah, Van. Ngaco banget sih, lo.” tukas Betari. “Kayak nggak ada solusi lain aja.” tambahnya.
“Jadi apa dong solusi lo kalo suami lo itu beneran gay dan lo dinikahin cuman buat nutupin kelainannya itu yang mana nggak mungkin buat dia cerain lo secara lo kan tamengnya. Sementara lo kan nggak mungkin juga ngegugat cerai dia karena lo udah terikat perjanjian sialan sama kakek lo yang nyebelin itu.”
Betari mengedik bahu ringan, terkesan acuh tak acuh. Dia tidak perlu bilang kepada siapa pun tentang perjanjiannya dengan Gendis Atmojo.
“Sumpah gue kesal banget sama kakek lo itu. Bisa-bisanya sih dia nyuruh lo nikah sama Umbara Atmojo yang jelas-jelas gosip dia yang gay itu pernah santer jadi buah bibir banyak orang. Nggak mungkin kan dia nggak pernah dengar gosip itu. Kakek lo kan nggak ansos kayak lo. Dia pasti juga senang ngegosip kayak si Tarjo.”
Betari mendengus. “Ya, kali, Van. Lo samain Juan Salim sama si Tarjo.”
Lalu Vanila memutuskan untuk kembali ke topik utama. “Eh, by the way, selama ini si Umbara itu ada pernah nggak nunjukin gelagat-gelagat kalo dia tuh gay.”
Sejenak Betari terlihat berpikir. Lalu berujar ringan. “Kayaknya sih nggak.”
“Kok kayaknya, sih, Bet.” Protes Vanila. “Lo kok kedengarannya cuek banget dah jadi istri.” Tatapan Vanila berubah jadi tatapan menginterogasi.
“Jangan bilang lo sama suami lo selama ini....” Vanila menjeda untuk mencari kata-kata yang tepat. “you know lah cerita-cerita pernikahan perjodohan di novel online yang mereka bikin perjanjian sebagai teman serumah alih-alih menjalani pernikahan dan belajar buat saling mencintai seperti yang diharapkan orang tua.”
“Eww, Seriously, Van?! Anak menteri pendidikan bacaannya bermutu sekali.” Jelas itu bukan kalimat pujian, Betari sedang sarkas.
“Apa yang salah?” Vanila memasang ekspresi menyebalkan yang sebenarnya hanya untuk menutupi rasa malunya. Demi apa pun dia malu soal yang satu itu.
“Nggak ada, kecuali lo bukan Vanila Kusworo yang selama ini gue kenal.”
Vanila mendengus. “Fine! lo menang.”
Betari terkekeh.
“Jadi...”
Sepasang alis Betari sedikit berkerut. Dia menunggu Vanila melanjutkan ucapannya. Meski dia tahu kalau dia tidak akan menyukainya. Well, dia tidak ingin diinterogasi oleh siapa pun soal kehidupan pernikahannya.
“Lo dan suami lo gimana?” kata Vanila akhirnya.
“We are just fine.”
“I want to know more, tell me!”
“Apa?”
“Everything.” balas Vanila. “Termasuk kenapa lo masih belum buka segel.” lanjutnya.
“Kok lo kepo, sih, Van.” sahut Betari. “Kita jadi spa nggak, sih?”
“So, Umbara Atmojo is a gay?”
“I don’t know.” Akhirnya Betari memberikan jawabannya. “Kalo lo penasaran lo bisa cari tahu sendiri.”
“Ada ya orang kayak lo.”
“You known me very well, right?”
“Lo gila! Gue tahu.” hardik Vanila.
Dia tahu Betari orang yang seperti apa, tapi jujur saja dia tidak mengharapkan Betari akan bersikap seperti ini terhadap pernikahannya sendiri. Sementara pernikahan adalah janji suci di hadapan Tuhan, yang sepatutnya tidak hanya menjadi omong kosong.
“Lo juga tahu kan, kalo dari awal gue nggak pernah menginginkan pernikahan ini."
***
Jangan lupa Like dan komen!
__ADS_1
Makasih!