
“Kamu udah bangun?” Suaranya berat dan serak dan itu pertanyaan retoris yang tidak perlu dijawab.
Betari berpaling kaget. Tampak Umbara yang tengah menegakkan punggungnya untuk bersandar pada sandaran tempat tidur dan dia ogah-ogahan membuka mata, rambutnya yang hitam agak berantakan, sementara rambut-rambut halus di sekitar rahang dan dagunya seperti memanggil-manggil jari-jarinya yang kurus untuk bermain-main di sana, menjelajahi setiap inci demi inci. Dan dia berpikir bahwa suaminya sangat menarik pagi ini. Bukan hanya sangat menarik, tapi sangat tampan.
Kenapa Umbara yang baru bangun tidur dan terlihat masih sangat mengantuk ini, bisa menjadi sangat tampan di matanya?
Betari, apa yang baru saja kamu pikirkan?
Dan apa yang sebenarnya terjadi?
Betari tiba-tiba teringat percakapannya dengan Prayoga dan Vanila sebelum dia dan Umbara menikah. Bagaimana Prayoga yang tidak terima dengan dirinya yang hanya menyebut Umbara lumayan dan bagaimana Vanila yang dengan kejam menyuruhnya pergi ke dokter mata untuk memeriksakan matanya yang menurutnya bermasalah. Bahkan dia juga teringat bagaimana neneknya sendiri—Widuri Salim—si penggemar Tom Holland garis keras itu memuji rupa suaminya.
Selama dua bulan menikah, hampir setiap hari—sekurang-kurangnya dua kali—mereka bertemu: pertama, di pagi hari mereka akan sarapan bersama, karena Betari yang terlanjur berjanji kepada suaminya itu kalau dia akan memasak sarapan setiap hari—sebenarnya, itu hanya sebagai rasa terima kasihnya kepada Umbara yang sudah membantunya mengurus Sagara waktu itu dan alasan lainnya dia tidak mau makan soto ayam atau bubur ayam setiap hari, sekalipun dia sangat menyukai kedua makanan itu. Kedua, hal ini lebih sering terjadi daripada tidak, setiap jam makan siang suaminya itu akan menjemputnya dan membawanya pergi makan siang. Dan mereka jarang bertemu di malam hari karena suaminya itu lebih sering pulang malam daripada dirinya. Tapi jika Umbara pulang lebih dulu, suaminya itu selalu menunggunya dan mereka akan makan malam bersama.
Lalu kenapa baru sekarang hal ini terjadi?
Tidakkah semula nilai wajah Umbara di matanya hanya lumayan. Kenapa sekarang menjadi sangat menarik? Ralat, sangat tampan?
Apa selama ini matanya memang bermasalah seperti yang Vanila katakan? Sehingga dia seperti kebal dengan pesona suaminya. Atau... Karena sekarang dia baru saja bangun tidur sehingga kesadarannya belum sepenuhnya pulih. Atau, jangan bilang karena semalam kepalanya yang juga terbentur di lantai itu, menjadikan pikirannya bermasalah.
Oh, berhenti melihat janggutnya atau lo tidak akan bisa berhenti menginginkan jari-jari lo berada di sana. Betari kembali memperingatkan dirinya sendiri.
Atau... Dia sama sekali tidak akan bisa mengendalikan jari-jarinya yang sekarang berkedut untuk merayap di sana.
“Betari,” Umbara memanggil namanya dan menatapnya.
Betari mengerjap, lalu berdeham pelan untuk mengembalikan kesadarannya.
“Ya,” gumamnya kemudian.
“Kaki kamu masih sakit?” tanyanya.
Dengan jujur Betari mengatakan bahwa sekarang tidak hanya kakinya saja yang terasa sakit tapi sekujur tubuhnya juga teras, nyeri dan kaku.
Mendengar penuturan sang istri, rasa kantuk Umbara sirna seketika. Dia segera menegakkan tubuhnya dan dia sudah siap untuk membawa Betari kembali ke rumah sakit. “Kita ke rumah sakit saja sekarang.” katanya.
“Nggak usah.”
Umbara memandangi istrinya itu khawatir. “Ayo, kita ke rumah sakit sekarang.” bujuknya kali ini.
“Nggak usah, beneran. Aku rasa ini hanya reaksi kaget karena jatuh semalam dan akan segera hilang setelah dipijit.”
Umbara paham, Betari bukan sedang pegal-pegal biasa karena capek setelah lari berkilo-kilo jauhnya dan mendatangi tukang urut untuk masalah dan kondisinya saat ini justru akan berisiko memperparah kondisinya. Meski dia juga tahu sebagian orang bisa sembuh cukup dengan diurut atau dipijit, tetap saja pergi ke tukang urut bukan pilihan yang tepat untuk kondisi istrinya saat ini. Dia jelas lebih percaya dengan dokter dibanding tukang urut, mereka jelas tidak memiliki sertifikat seperti dokter ortopedi.
“Lebih cepat sembuh kalau diobati sama dokter.”
“Duh, nggak usah. Enakan juga dipijet kalau ke dokter paling-paling dikasih obat lagi, obat yang semalam saja masih belum habis.”
“Iya, itu kan diresepin untuk beberapa hari ke depan.”
__ADS_1
“Udah deh, nanti kamu anterin aku ke tukang urut saja.”
“Nggak, kalau kamu maunya ke tukang urut saya nggak akan anterin kamu.”
Betari dengan sinis berkata, “Ya, udah. Aku bisa pergi sendiri.” Lalu turun dari tempat tidur.
Umbara tidak yakin kalau istrinya itu bisa pergi sendiri ke tukang urut yang dia inginkan, karena untuk pergi ke kamar mandi saja dia masih kesusahan, bukan hanya kesusahan tapi sangat kesusahan.
“Kamu mau berjalan saja masih tidak bisa gimana kamu mau pergi sendiri ke tukang urut.” katanya ketika dengan cepat menangkap tubuh Betari yang akan terjatuh karena kaki kanannya yang bengkak dan kaki kirinya yang nyeri tidak bisa menopang berat tubuhnya dengan baik sehingga menyebabkannya kesulitan, sangat kesulitan untuk berdiri dengan baik.
Betari menundukkan kepalanya dan berdeham dengan canggung—di gendongan Umbara. Saat ini dia sama sekali tidak bisa menatap wajah suaminya—seperti yang semalam dia lakukan ketika suaminya itu menggendongnya untuk pergi ke rumah sakit—karena dia malu dengan kata-katanya sendiri yang tadi dia ucapkan. Juga dengan apa yang telah dia pikirkan dan ingin tangannya lakukan pada janggut suaminya itu.
Dokter Hannah Rusli sedang melakukan pemeriksa fisik pada kaki Betari yang membengkak dan dia menyipitkan mata ketika mendengar jawaban dari perempuan itu atas pertanyaannya yang ingin tahu tentang bagaimana pasiennya—pasien di hari liburnya ini—bisa cedera.
“Hmm.” Dia bergumam. “Jadi kamu jatuh dari tangga. Saya pikir kamu di KDRT sama Umbara.” katanya dengan tenang. Tidak terdengar nada bergurau sedikit pun “Ada memar juga di jidat kamu.” lanjutnya.
“Nggak.” Betari refleks menyentuh jidatnya tepat di bagian yang memar. “Oh, ini.” gumamnya sambil meringis menahan perih akibat sentuhannya sendiri.
“Iya, itu kenapa?”
“Kebentur meja, Dok.” Betari tidak berbohong. Buat apa juga dia berbohong, kalau memang Umbara melakukan kekerasan terhadap dirinya, dia tidak mungkin diam saja, dia benci ditindas. Minimal dia sudah lapor polisi sejak awal. Kalau pun terjadi kekerasan dalam rumah tangganya, dia yakin bukan dirinyalah yang akan menjadi korban. Namun suaminya lah, bagaimana pun kemungkinan itu lebih mungkin terjadi dibandingkan tidak. Umbara, meskipun dia seorang laki-laki dan fisiknya sangat kuat, bahkan akan sangat mudah baginya untuk membanting Betari berkali-kali, hal itu tidak akan dilakukannya sejauh ini Betari mengamati suaminya, selain irit bicara Umbara bukan orang yang suka main tangan, dia bahkan diam-diam mengagumi sikap sabarnya. Sementara dirinya, meskipun adalah seorang wanita yang fisiknya tidak kuat-kuat amat, sangat mungkin bagi dirinya untuk melukai suaminya, di rumah mereka ini ada banyak barang yang bisa digunakan untuk melukai orang bukan? Dan buruknya dia memang memiliki sedikit jiwa anarki.
Kembali pada jidatnya yang terluka. Kalau Betari ingin menyalahkan orang atas jidatnya, maka orang itu adalah dirinya sendiri. Benar, dirinya sendiri yang sok tidak mau merepotkan orang lain, yang sok bisa sendiri. Padahal jika dia mau memanggil Umbara untuk membantunya keluar dari kamar mandi, dia tidak akan jatuh dan jidatnya terbentur meja wastafel hingga memar.
“Kok bisa?”
“Ya, bisa, Dok. Namanya juga musibah.”
“Iya, benar, Dok.”
“Jadi, gimana jidat kamu bisa kebentur meja.” Rupanya dokter Hannah Rusli adalah dokter yang sangat gigih. Pantas saja dia menjadi dokter spesialis Ortopedi dan Traumatologi terbaik dan termuda di salah satu rumah sakit swasta ternama dan terbaik di ibukota milik Prabu Tohjaya, kakek suaminya itu—yang sudah biasa menangani cedera ringan hingga sangat parah para atlet olahraga ternama juga pasien dari segala usia, baik itu bayi, dewasa, maupun lanjut usia, pikir Betari.
Tentu saja dia tahu siapa dokter perempuan yang sedang memeriksanya ini. Namanya sering menjadi buah bibir di banyak tempat, salah satunya di media massa juga media sosial, tapi, media sosial sih lebih suka membicarakan parasnya yang cantik dan latar belakang keluarganya dibanding prestasinya dan kehebatannya sebagai seorang dokter. Betari sendiri pertama kali mendengar namanya dari kakeknya—pada sebuah acara gala dinner beberapa bulan yang lalu—Juan Salim secara terang-terangan memuji-muji kehebatan sang dokter di depan orang tuanya yang kebetulan mereka adalah rekan bisnis. Meskipun kakeknya bisa disebut bermuka dua, Betari tahu mana yang benar-benar memuji atau hanya basa-basi saja. Lagi pula kakeknya memang pernah menjadi pasien sang dokter.
“Jidat kamu beneran terbentur, kan?” pancing sang dokter. Lagi.
Iiihhh. Kenapa dengan dokter satu ini!
“Kenapa sih, Dok?”
“Aku cuman mau memastikan saja itu bukan KDRT.” katanya. “Meski aku yakin Umbara nggak bakal kasar sama perempuan. Tapi, siapa tahu, kan. Orang bisa berubah.”
“Hem.” gumam Betari. Ok, Fine. “Aku salut sama kegigihan dan rasa ingin tahu yang dokter punya.” Dia sengaja menekankan beberapa kata-kata penting. Jujur saja, dia enggan membeberkan cerita tentang ketololannya ini.
“Hem. Makasih.” sahut dokter Hannah, sama sekali tidak terdengar tersinggung. “Jadi?”
Baiklah. Dokter, Anda benar-benar KEPO.
“Aku jatuh waktu mau keluar dari kamar mandi, dok, dan jidatku membentur meja wastafel.” Puas lo. “Jadi berhenti berpikir kalau suamiku telah melakukan KDRT.”
__ADS_1
“Susah juga ya buat bikin kamu cerita. Atau kamu emang nggak banyak omong kayak suami kamu.”
“Nggak juga, Dok.” Malah sebaliknya.
“Lalu kenapa kamu nggak minta tolong Umbara.”
“Dia lagi keluar beli makan, Dok” jawabnya asal. Padahal suaminya itu sedang menunggunya di balik pintu kamar mandi yang jelas tidak dikunci dari dalam dan tidak budek juga untuk mendengar suaranya dari luar. Hanya saja Betari yang tidak mau memanggilnya.
“Oh,” Dokter Hannah mengangguk. “aku jadi ingat Umbara tidak bisa masak. Bikin mie instan aja kadang nggak enak.” ujar sang dokter.
“Anda benar, Dok.” gumam Betari. Dia mengingat rasa mie instan kuahnya semalam. Tidak buruk tapi tidak begitu enak. Jika dia harus memberi nila diantara 1 hingga 10, maka dia bisa memberinya angka 5 karena rasanya yang asin, tekstur mienya yang terlalu lembek dan bayamnya yang kurang matang. Betari bisa membayangkan kalau mie yang semalam itu di hidangkan di meja chef Juna—sang juri MasterChef Indonesia yang terkenal bermulut tajam itu—mie itu pasti berakhir di tempat sampah. Dan suaminya itu pasti akan dimaki-maki dengan sangat kejam. Tapi, Umbara hanya akan menatap chef Juna dengan wajah datar nan dinginnya, sama sekali tidak terpengaruh.
Dokter Ortopedi ini sepertinya tahu banyak tentang suaminya. Mungkin mereka dekat. Bodo amat! Bukan urusannya juga.
“Jadi kaki saya gimana, Dok.” tanya Betari begitu dia melihat Dokter Hannah selesai memeriksa dirinya, terutama kaki kanannya yang bengkak dan sangat sakit.
“Nggak begitu parah, sih. Suami kamu lebay juga ternyata.” jawabnya. “Tapi kamu harus banyak istirahat di rumah kalau mau cepat sembuh, dan jangan melakukan kegiatan fisik yang berat-berat dulu. Tapi kalau kegiatan ranjang kayaknya, sih masih aman. Asal—”
“Dokter IGD yang semalam ngobatin juga bilang gitu.” potong Betari cepat. Suaminya saja yang berlebihan sampai panggil dokter segala buat periksa kakinya lagi. See... Nyatanya, dokter Hannah Rusli, dokter spesialis Ortopedi dan Traumatologi terbaik dan termuda di salah satu rumah sakit terbaik dan ternama di ibukota juga tidak bisa bikin kakinya langsung sembuh total, mengurangi rasa nyeri dan pegal-pegal ditubuhnya juga tidak.
Umbara menaruh segelas air dingin di meja dan dia duduk di sofa ruang keluarga berhadap-hadapan dengan dokter Hannah Rusli yang baru saja selesai memeriksa istrinya dan langsung meminta minum.
“Gimana istri saya?” tanya Umbara dengan tidak sabar.
Dokter Hannah Rusli memilih untuk tidak langsung menjawab pertanyaan itu dan kembali minum karena dia memiliki dua alasan penting untuk melakukannya. Pertama, pria di depannya ini telah mengganggu hari liburnya yang tenang yang seharusnya dia habiskan dengan bermalas-malasan di kasurnya yang sangat dia rindukan bersama kucing kesayangannya. Kedua, gara-gara pria di hadapannya ini dia harus bekerja di hari liburnya. Kalau Umbara Atmojo bukan cucu Prabu Tohjaya dan teman baiknya dia akan menolak pekerjaan ini dan membiarkannya mencari dokter lain. Dokter ortopedi seperti dirinya banyak.
“She is fine. Tenang aja.” Dokter Hannah meletakkan gelas kosong ke meja.
Umbara mengernyit. “Tapi dia kesakitan, Han.” Sampai nangis. Bagaimana dia bisa tenang.
“Ya, ya... Itu normal, Bar. Namanya juga sakit.” Dokter Hannah Rusli menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.
“Khawatir banget ya kamu.” Dokter Hannah menatap wajah Umbara yang kaku.
“Ya.” Umbara mengangguk. Tadi ketika dia melihat istrinya yang diam-diam menangis. Dia tidak bisa untuk tidak mengkhawatirkan keadaannya. Apa lagi istrinya itu kembali terjatuh saat tadi di kamar mandi dan dahinya juga memar.
“Istri saya gimana?” tanyanya lagi.
Dokter Hannah Rusli akhirnya menjawab. “Kondisi kakinya yang terkilir nggak begitu parah. Paling seminggu dia udah bisa beraktivitas normal lagi. Kamu tenang aja.”
“Terima kasih.”
Dokter Hanna mengangguk.
“Kamu nikah kok aku nggak kamu undang. Jahat banget kamu, Bar.”
“Saya memang nggak mengundang banyak orang. Cuma keluarga saja.”
“Aku kira kamu bakal setia nunggui adiknya si Wowo.”
__ADS_1
Barangkali Hannah Rusli hanya segelintir orang, selain Jiwo dan Baron, yang mengetahui sedikit rahasianya. Mereka teman dekat saat sekolah dulu.