JODOH DARI NERAKA

JODOH DARI NERAKA
25. DUA PULUH EMPAT


__ADS_3

Seminggu berlalu sejak mereka mengungsi ke studio ini, dan seperti yang sudah diperkirakan kaki Betari telah membaik, bengkaknya sudah menghilang sejak dua hari lalu dan dia sudah bisa berjalan dengan baik.


Tentu saja dia tidak lupa dengan rencananya malam itu. Mungkin Sabtu depan mereka bisa pergi bersepeda. Semoga cuaca mendukung. Karena kalau perginya hari ini dia tidak yakin kakinya tidak akan kembali bengkak dan nyeri setelah digunakan untuk mengayuh pedal sepeda selama berjam-jam. Ya, kali mereka bakal boncengan, kan nggak seru aja. Kalau cuman keliling-keliling kompleks sih enggak akan masalah boncengan, tapi ini kan niatnya mau keliling-keliling kota, yah, meski enggak beneran sekota juga.


Lagi pula dia dan Umbara juga sudah punya janji masing-masing; pagi ini Umbara akan pergi main bulu tangkis bersama Baron, yang minggu kemarin sempat gagal. Sementara siang nanti Betari akan pergi spa bersama Vanila. Mumpung temannya itu sedang baik hati mau membayarinya.


Hem... Memikirkan tentang rencana bersepeda itu membuat Betari sedikit senang, sudah lama sekali rasanya dia tidak pergi bersepeda. Terakhir kali yang dia ingat adalah satu tahun yang lalu ketika Vanila mengajaknya untuk cari perhatian seorang duda keren bernama Julian Nugroho seorang developer perumahan yang adalah klien kelas kakap di biro iklan milik temannya itu yang kebetulan punya hobi bersepeda.


Waktu itu kalau bayaran yang ditawarkan oleh Vanila padanya hanya traktiran makan bakso pak Slamet di belakang apartemennya selama seminggu penuh, bukannya tiket konser Coldplay yang harganya bikin mikir berkali-kali untuk Betari membelinya, boro-boro Betari mau menemani Vanila buat godain si duren Julian Nugroho yang memang ganteng dan kaya, dan belum punya akan itu, tapi ya itu... lebih pantas buat jadi om mereka daripada suami apalagi pacar. Vanila melakukan hal itu juga demi si duren biar tetap pakai perusahaannya.


Pagi ini Betari terbangun pukul 6 tepat. Suaminya baru kembali dari membeli sarapan saat Betari keluar dari kamar mandi setelah menggosok gigi dan mencuci muka.


Betari mendekati Umbara yang sedang memindahkan bungkusan ke piring di meja kopi—satu-satunya meja yang bisa mereka gunakan untuk menaruh makanan, karena tidak mungkin juga mereka menaruh makanan di meja tempat Umbara membuat patung-patungnya, lalu berkata, “Aku pikir kamu udah pergi ke GOR.”


“Nggak, saya beliin kamu sarapan dulu.”


“Kamu beli apa?”


“Nasi uduk.”


“Oh,” gumam Betari sambil menguap.


“Kamu masih ngantuk?”


“Hem.” Betari mengangguk dan duduk di kursi.


“Kalau masih ngantuk kamu tidur lagi aja.”


“Nggak mau.”


“Em.., kamu mau ikut saya ke GOR?”


Betari mendongak dengan mata mengantuk, menatap Umbara yang berdiri di depannya. “Emang boleh?”


“Kenapa nggak boleh?”


Betari sudah duduk di bangku ketika Juhi Adiningrat, si bocil yang pagi ini berpenampilan bak atlet bulu tangkis putri profesional—yang sudah mengalungi puluhan mendali emas itu—datang menghampirinya dengan menyipitkan mata dan menyapanya dengan cara yang cukup menyebalkan.


“Hai, Tante!” sapanya. Sok ramah, tidak lupa memamerkan senyum secerah mentari.


Haduh! haduh!


Bagai karyawan bergaji UMR yang melihat isi dompet ditanggal tua, seketika itu mood Betari langsung anjlok seanjlok-anjloknya. Kenapa harus ketemu si bocil ini, sih? Males banget.


Dengan mood yang sudah rusak, Betari balas menyapanya tak kalah ramah, “Hai, Bocil!”


Tak lupa seulas senyum dia pamerkan. Jelas sekali Betari tidak mau kalah dari bocah satu ini—yang lama-lama makin menyebalkan.


Sebenarnya, Betari tidak mau berurusan dengan bocah ingusan yang satu ini. Dia sih masa bodoh dengan si bocil yang jelas sekali menyukai suaminya. Toh hal itu tidak akan membuatnya blingsatan bak istri pejabat yang mendapati suaminya memelihara sugar baby.


“Tante tumben datang.”

__ADS_1


“Iya, nih. Bosan juga kan di rumah terus.” sahutnya asal.


“Tante mau main?”


Tante. Tante. Tante.


Adeh! Ini bocah kenapa sih sengaja banget mau ngerusak citra gue.


Ya, elah meskipun gue ini istrinya Umbara yang udah om-om, tapi kan gue jelas masih pantas dipanggil adik manis, yah... seenggaknya kakak cantik. Muka masih imut-imut begini juga. Ya, kali dipanggil tante. Kalau yang panggil bocah umur 5 tahun sih nggak masalah.


Mulut Betari sebenarnya gatal ingin sekali mengoreksi cara si bocil menyebutnya, tapi... yah sudah lah... Paling-paling si bocil nggak bakal mau.


Sekarang giliran Betari yang menyipitkan mata, karena tawaran si bocil yang sepertinya punya maksud lain dari hanya sekedar mengajaknya main bulu tangkis—yang jelas seumur-umur Betari belum pernah mencobanya sekalipun. Pegang raket bulu tangkis yang seringan bulu itu saja dia belum pernah. Tapi kalau raket nyamuk sih kayaknya pernah.


Suwer! Nggak pakai boong.


“Main apa?” Betari sengaja.


“Ya, bulu tangkis lah, Tante. Masa main balap karung.” sahut si bocil sewot.


“Ya, siapa tahu.” sahut Betari tidak mau kalah.


“Ayo, Tante.”


“Nggak.”


“Kenapa, Tante?”


Betari mendesah dengan gaya malas. “Duh, sori, ya! Aku nggak mau. Lagi males gerak juga, sih. Kamu cari orang lain aja sana.” Jangan gangguin gue.


Betari mengangkat sebelas alisnya dengan gaya meremehkan. “Takut apa?” dengusnya.


“Takut kalah. Apalagi?”


“Hem.” Betari mangut-mangut. Lalu mencebik, “Idihhh, ngapain juga takut kalah?”


“Kalau gitu ayo kita main.”


“Nggak.”


“Nggak takut kalah, tapi nggak mau main.” cibir si bocil dengan tangan dilipat di depan dada.


Betari hanya mengedik bahu yang sontak langsung di balas dengan dengusan bernada kesal.


Dalam hati Betari tertawa penuh kemenangan. Rasanya memang selalu menyenangkan kalau bisa membuat si bocil kesal. Salah sendiri cari gara-gara duluan.


Setelah selesai dengan si bocil mata Betari kembali tertuju ke tengah lapangan tanpa minat.


Dari dulu dia memang tidak pernah suka menonton pertandingan olahraga apa pun, apalagi sepak bola. Haduh! Betari paling malas dengan olahraga yang satu itu. Apa serunya lihat orang rebutan bola? Lebih seru juga nonton acara mukbang.


Jadi, memang perlu dipertanyakan kenapa dia mau diajak kesini?

__ADS_1


Pertandingan bulu tangkis antar bapak-bapak itu akhirnya usai juga dengan kekalahan telak untuk bapak Baron Adiningrat. Selamat bapak Umbara!


“Om Bara!”


Panggil Juhi a.k.a si bocil, berlari menghampiri Umbara yang telah selesai bermain dan kini berjalan ke tepi lapangan dengan langkah santai sambil mengusap peluh di dahinya dengan satu punggung tangan.


“Juhi! Sebenarnya yang bapak kamu itu siapa?” teriak Baron Adiningrat, lalu berjalan dengan gontai meninggalkan lapangan. Sepertinya hal seperti ini sudah biasa terjadi.


Sementara Juhi, si bocil bucin om-om seperti tidak peduli. Dia kini telah berhasil menyongsong pujaan hatinya dan mengulurkan sebotol air mineral pabrikan yang segelnya masih utuh.


Melihat adegan yang rasa-rasanya sangat pasaran itu mau tak mau membuat Betari mengulas senyum geli.


Baron Adiningrat lalu menghampiri Betari dan berkata dengan nada bercanda, “Ada ya orang yang malah senyum-senyum lihat suaminya sendiri lagi digodain cewek.”


Betari memalingkan wajahnya. “Anak kamu lucu, sih.”


“Iya, malu-maluin.” sahut Baron yang kemudian duduk di sebelahnya. “Untungnya yang jadi bininya Umbara itu lo.”


Dalam perjalanan pulang dari GOR Betari mendapat pesan dari Vanila kalau temannya itu mengubah jam temu mereka yang semula pukul 11 siang menjadi pukul 4 sore, tanpa menyertakan alasan yang jelas. Karena sekarang baru pukul 9 pagi yang berarti dia masih punya waktu 7 jam, dia pun memutuskan untuk mengajak Umbara pergi ke rumah neneknya sebentar. Tapi sebelumnya Betari ingin membeli kue untuk diberikan kepada neneknya itu.


“Kita mampir sebentar di ruko depan sana, ya.” kata Betari. “Aku mau beliin nenek Bika Ambon kesukaannya.”


“Iya.”


Mereka tiba di rumah Juan Salim tidak lama kemudian. Ternyata nenek dan kakeknya sedang tidak ada di rumah, bik Inung ART di rumah Juan Salim itu bilang kalau nenek dan kakeknya itu tengah pergi menghadiri upacara pemakaman teman sekolah mereka dulu dan mungkin baru akan pulang siang nanti.


“Terus siapa dong yang lagi ada di rumah?” tanya Betari.


“Mbak Arimbi.”


“Lah kalau dia sih aku nggak nanya, Bik.” sahut Betari sewot. “Ngapain juga aku nanyain si sundel itu.”


Bik Inung langsung terenyak.


“Heh! Mulut tuh jangan dibiasakan ngomong sembarangan. Mbak Arimbi itu kakak kamu sendiri yang hormat.” Kalau Betari anaknya sendiri sudah bik Inung sumpal mulutnya yang kurang ajar itu dengan kain pel, biar tahu rasa.


“Ngapain hormat segala. Emangnya lagi upacara bendera.”


“Hadeh! Kamu kapan sih mau jadi orang yang bener.”


Betari mengedik masa bodoh. Lalu melenggang ke dapur untuk mengambilkan suaminya minum.


Bik Inung geleng-geleng kepala. Heran dengan kelakuan cucu majikannya yang tidak pernah mau akur dengan kakaknya sendiri. Apalagi setahun belakangan ini hubungan mereka malah semakin tidak baik saja. Entah apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka. Apa mungkin yang sering dikatakan Tarjo si sopir lelet yang hobinya ngaret itu benar, kalau Arimbi merebut pacar Betari, makanya Betari dinikahkan dengan Umbara Atmojo? Dengan harapan Betari dan Arimbi akan akur. Tetapi kenapa bukan Arimbi saja yang dinikahkan dengan Umbara? Bukankah mereka lebih cocok? Karakter mereka sepertinya tidak jauh beda. Memikirkan hal itu, bik Inung jadi pusing sendiri. Dia agak ragu kalau Betari bakal akur dengan kakaknya sendiri. Pasalnya bik Inung paham watak Betari itu seperti apa dan lagi kedua kakak beradik itu sudah tidak akur sejak kecil. Lihat saja sekarang! Mereka sedang ribut di dapur.


“Heh! Sundel minggir lo dari sini! Gue mau bikin minum.” itu jelas kata-kata khas mulut Betari yang seperti tidak mengenal sekolah dan tata krama.


Sementara suara yang bernada ketus tapi agak rendah ini milik Arimbi. “Kalau lo mau bikin minum ya bikin minum aja nggak usah ngusir-ngusir gue. Dapur ini luas, sekalipun gue masih di sini lo masih bisa bebas buat guling-guling.”


“Gue nggak mau lihat muka lo! Lo ngerti nggak sih.”


“Kayak gue mau lihat muka lo aja, Tar.”

__ADS_1


Begitulah mereka jika tidak ada Juan Salim di antara mereka.


Ketika tatapan bik Inung bertemu dengan Umbara, wanita tua itu menjadi sangat canggung. Diam-diam bik Inung merasa iba dengan Umbara yang menjadi suami Betari itu. Sifat mereka jelas sekali bagai bumi dan langit, yang satunya kalem, satunya lagi urakan. Semoga saja suami Betari ini tidak kena darah tinggi apalagi sampai serangan stroke. Kasihan sekali, pikir bik Inung.


__ADS_2