
Betari datang bersama Prayoga.
Tentu saja mereka sengaja datang terlambat untuk menjadi orang terakhir yang datang, tetapi nanti akan beralasan jika ada yang bertanya. Mereka sudah biasa melakukan hal itu. Mereka senang menjadi pusat perhatian.
Alunan musik K-pop yang ceria menyambut Betari dan Prayoga begitu pintu apartemen itu di buka. Starley Kang memang tidak pernah main-main soal pesta, apalagi ini adalah pesta ulang tahunnya sendiri. Betari mengakui, perempuan berkebangsaan Singapura itu memang ratunya bersenang-senang. Tidak heran kalau setiap pesta yang Starley adakan selalu berhasil mengundang banyak orang untuk datang. Seperti malam ini, apartemen mewah milik perempuan itu ramai bahkan sampai ke sudut-sudutnya.
“Bet! Akhirnya lo datang juga.” Wajah cantik Starley Kang menyembul di balik pintu, dengan latar belakang keramaian pesta di belakangnya. Perempuan setengah Korea itu tersenyum senang. Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Sebenarnya bukan hanya Starley saja yang menunggu Betari datang, ada orang lain.
“Happy birthday, Star.” Betari berhambur memeluk Starley erat-erat tanpa lupa memberi kecupan sayang di pipi kanan dan kiri. “Wish you all the best.”
“Thank you, Sayang.” senyum di bibir Starley semakin mengembang.
“Hai, Starley! Happy birthday.” Kali ini giliran Prayoga yang merentangkan tangannya memeluk Starley.
“Kita nggak telat-telat banget kan, Star. Lo belum tiup lilin dan potong kue kan?” ujar Prayoga bukan sebagai basa-basi. Tapi, hanya untuk meledek perempuan itu.
“Belum, Pra. Gue sengaja nungguin kalian.” Starley Kang tidak kalah erat memeluk Prayoga yang selalu dipanggilnya Pra itu. Sebenarnya Prayoga tidak menyukai panggilan itu, tapi protesnya selalu saja tidak digubris oleh perempuan itu.
“Ouch, gue terharu. Thank, Star.” balas Prayoga dengan dramatis. Sebenarnya tidak pernah ada sesi tiup lilin dan potong kue di semua pesta ulang tahun Starley. Seperti perayaan ulang tahun orang-orang pada umumnya. Tapi kalau soal alkohol jangan ditanya. Starley itu anak orang yang punya jaringan klub malam ternama se-Asia. Jangan heran kalau pesta-pestanya selalu banjir miras. Starley Kang memang ahlinya dalam merusak generasi muda.
Starley tertawa kecil. Dia tahu kalau mulut Prayoga lebih jahat dari mulut ibu tiri Cinderella.
“Gue lihat Instastory The Dream kemarin.” Sebenarnya Starley tidak sengaja melihat Instastory itu. Dia tidak menyukai boyband mana pun bahkan BTS yang sangat digilai para remaja terutama perempuan juga teman-temannya termasuk Betari. Dia mengikuti The Dream di Instagram karena Prayoga, teman baiknya itu adalah personel band beranggotakan lima orang pemuda berwajah rupawan itu.
”Sumpah lo keren banget, Pra. Nyesel banget gue nggak nonton konser lo. Seharusnya lo bilang kalo bakal ada sesi lo buka baju di atas panggung, pamer abs. Tahu gitu kan gue beli semua tiket kalian.” kata perempuan itu dengan memasang wajah penuh sesal yang dibuat-buat.
“Halah! Basi lo, Star. Dikasih satu tiket gratis aja lo belum tentu mau datang.” cibir Prayoga.
Starley meringis. “Gue sibuk, Pra.”
“Alasan lo. Paling juga lo sibuk party sana sini.”
Kali ini Starley tertawa renyah.
“Lo bisa buka baju lo sekarang, nggak? Gue juga mau lihat badan lo secara live.”
“Jangan mesum, deh!” sengit Prayoga, menjauhkan tangan Starley yang akan membuka kancing kemejanya.
Starley memasang wajah cemberut.
Betari tahu kalau Starley dan Prayoga dijadikan satu, mereka hanya akan berujung ribut, saling sindir atau saling ledek sudah biasa. Meski begitu mereka tetap teman baik dan saling dukung. Betari tidak masalah menjadi orang ketiga ditengah-tengah mereka. Selain sudah biasa, dia tidak peduli kalaupun harus diabaikan. Dia kan bisa mainan handphone.
Handphone Betari berdering. Nama Umbara muncul di layar.
“Bet, mau ke mana lo?” tegur Prayoga begitu dia menyadari Betari yang beranjak menjauh.
“Jawab telepon bentar.” Betari berjalan dengan langkah lebar menuju balkon, karena tempat itu tidak banyak orang dan lumayan sepi.
“Halo?”
“Betari?” Suara Umbara, suaminya terdengar dingin. “Kamu di mana?”
“Lagi di acara ulang tahun teman. Kenapa?.”
“Lain kali kamu harus bilang ke saya kalau kamu mau pergi.”
“Nggak bisa gitu, dong.”
“Kenapa nggak bisa. Saya suami kamu.”
__ADS_1
Kok dia jadi rewel gini, sih?
“Iya.” jawab Betari pada akhirnya. Takut kalau urusannya akan menjadi panjang.
Setelah memastikan kalau Betari tidak akan pulang di atas jam 11 malam. Umbara lantas menyudahi panggilannya.
Betari menyimpan kembali ponselnya sambil berjalan meninggalkan balkon.
“Tari!”
Betari sontak menoleh mendengar seruan itu. Hanya keluarganya yang memanggil Betari dengan nama panggilan ‘Tari’ dan dia. Mantan pacarnya, Vino Risjad.
Sudah lama Betari tidak melihat pria itu. Kalau hal ini terjadi satu tahun lalu, Betari pasti tidak akan ragu-ragu untuk berlari dan melompat riang sampai berhasil dipeluk dan digendong secara bersamaan. Lantas pria itu akan mengelus kepalanya, sambil tersenyum manis membisiki telinganya dengan kata-kata ‘i miss you so badly, Baby’ dan dia akan membiarkan Betari dalam pelukannya sampai beberapa menit ke depan. Mereka akan saling menyalurkan seluruh rindu yang menggunung tiap detiknya. Tanpa merasa malu kalaupun tengah menjadi bahan tontonan. Pokoknya dunia serasa milik berdua.
Air mata di pelupuk mata Betari rasanya sudah mau tumpah, tetapi ditahan sekuat tenaga. Mau ditaruh di mana harga dirinya kalau dia sampai ketahuan menangis di sini. Dan lagi, air matanya terlalu berharga kalau hanya untuk menangisi pria itu.
Dari tempatnya berdiri, Vino Risjad tersenyum, menatap Betari penuh isyarat rindu, tetapi Betari tidak ingin menyambutnya. Dia bukan siapa-siapanya lagi. Hubungan mereka sudah diputuskannya berakhir hari itu.
***
Betari merebut gelas wiski dari tangan Prayoga dan menegaknya hingga habis dan hanya menyisakan es batu di dasar gelas.
Prayoga terkesiap. “Haus banget ya, lo” katanya.
Betari hanya diam sambil menuangkan wiski di botol ke dalam gelas sampai hampir penuh lalu meminumnya.
Prayoga mengamat-amati Betari yang dia pikir akan berhenti di gelas ketiga. Tapi sahabatnya itu kini akan meminum gelas kelimanya.
“Bet, udah. Jangan minum lagi.” Tangan Prayoga mencekal lembut pergelangan tangan Betari untuk menghentikannya, tetapi Betari bersikeras. Perempuan itu menatap Prayoga seperti memberi peringatan.
“Lo udah minum banyak. Lo bisa mabuk.” bujuk Prayoga, lagi.
“Nggak. Gue masih mau minum, Yoga.” Betari menarik lepas tangannya dari genggaman Prayoga dan akhirnya meneguk gelas kelimanya.
Prayoga ingin menyumpah, tetapi sadar bahwa tidak ada gunanya menyumpah serapah pada orang mabuk. Meski dia sendiri paling malas kalau harus mengurus orang mabuk. Apalagi kalau orang yang mabuk itu sampai muntah atau hal terburuknya sampai memuntahinya. Oh, My God! Prayoga tidak ingin hal seperti itu terjadi pada dirinya. Itu sangat menjijikkan.
Sekarang, bagaimana dia harus memulangkannya? Prayoga menarik napas panjang. Apakah dia harus menghubungi suami Betari? Tetapi, dia masih ragu untuk melakukannya. Meski, menghubungi Umbara Atmojo adalah pilihan paling masuk akal karena pria itu sekarang adalah suaminya. Kalau Umbara benar datang kemari menjemput Betari. Itu berarti sama saja dengan memberitahu orang-orang bahwa Betari sudah menikah. Dan sahabatnya ini pasti akan mengamuknya jika sadar besok. Betari sudah memperingati untuk merahasiakan pernikahannya dari teman-teman mereka yang lain, cukup dia, Milky, dan Vanila yang tahu.
Hadeh! Mendadak kepala Prayoga menjadi pusing. Padahal dia baru minum satu gelas wiski. Benar-benar satu gelas tidak lebih, karena gelas keduanya direbut Betari.
Dia lantas mendesah pasrah dan menatap Betari yang sekarang tertidur dengan bahu terkulai. Prayoga tidak tahu apa yang terjadi sampai sahabatnya ini melampiaskannya dengan minum alkohol banyak-banyak. Karena tidak biasanya Betari minum sebanyak ini. Kalau dia lagi ingin minum alkohol paling segelas dua gelas lalu sudah. Jarang dia minum sampai mabuk begini.
“Bet!” Prayoga mengguncang bahu Betari, sembari terus memanggil-manggil namanya dan hanya direspons dengan gumaman tidak jelas.
“Bet kenapa, Pra? Mabuk ya?” tanya Harry yang baru selesai dari kamar mandi, menatap Betari yang tertidur dengan bahu terkulai. Harry ini adik tiri Starley yang selalu rela datang jauh-jauh dari New York hanya untuk merayakan ulang tahun kakak tirinya.
Prayoga mengangguk.
Harry Kang menggeleng. “Oh, My God, Betari. The night is still young, it’s too early to be drunk.” decapnya.
Benar. Prayoga mendengus. And it’s too early to leave the party. Tetapi, dia harus membawa Betari pulang daripada membiarkannya berlama-lama di tempat ini.
Lagi pula berada lama-lama di pesta seperti ini tidak baik untuk kariernya. Siapa tahu ada orang yang mengambil gambar atau video dirinya, lalu mengunggahnya ke sosial media. Image seorang Prayoga Sasongko personil The Dream bukanlah orang yang suka pesta miras. Meski kemungkinannya memang sangat kecil hal itu untuk terjadi. Karena orang-orang yang datang ke pesta Starley Kang semuanya harus mengikuti aturan perempuan itu, yang mana dilarang mengambil foto atau video apalagi sampai menyebarkannya ke sosial media. Starley memang tidak pernah mengecek ponsel tamunya satu-satu. Tetapi, kalau sampai ada seorang yang ketahuan melanggar, Starley tidak akan segan-segan memberinya pelajaran. Perempuan itu selalu bilang, ini private party jadi tidak ada orang luar yang boleh tahu. Dan sejauh ini sepertinya memang tidak ada yang melanggar.
Everybody who attended her private party should know who she is. She is Daniel Kang’s favorite daughter—mafia Korea yang namanya terkenal di dunia underground.
“Gue harus bawa dia pulang.” putusnya pada Harry.
“Prayoga.”
__ADS_1
Prayoga yang akan mengangkat tubuh Betari dibantu oleh Harry, menoleh ke sumber suara dan melihat Vino Risjad mantan pacar Betari, sudah berdiri di belakang mereka. Prayoga tidak merespons, tapi mimik di wajahnya jelas menunjukkan rasa tidak suka.
“Biar gue yang antar Tari pulang.” tuturnya kemudian.
“Nggak perlu.” Prayoga membalas dengan ketus. Dia tidak akan pernah membiarkan Vino Risjad ini dekat-dekat lagi dengan sahabatnya. Cukup sekali dia melihat Betari disakiti seperti itu. Perbuatan pria itu satu tahun yang lalu tidak akan pernah ter maafkan. Segila-gilanya Prayoga dia tidak akan pernah melakukan apa yang pria itu lakukan. Benar-benar menjijikkan.
Prayoga lalu membawa Betari dengan kedua tangannya, meninggalkan pesta. Dia membawa sahabatnya itu masuk ke dalam mobil dan mendudukkannya di kursi di samping kemudi dan memasangi sabuk pengaman.
Dalam perjalanan Betari bergumam dan mengatakan kata-kata tidak jelas. Prayoga tidak menanggapi. Sembari fokus mengemudi, dia memikirkan apa yang harus dia katakan nanti pada Umbara Atmojo.
“I hate your smile. Setelah hal menjijikkan yang kamu lakukan itu. Bagaimana kamu masih bisa tersenyum sama aku.”
Oh, jadi ini gara-gara si brengsek itu. Prayoga melirik sekilas. Dia merasa tidak senang dengan fakta ini. Betari sampai mabuk seperti ini hanya karena pria brengsek itu, benar-benar tidak berfaedah.
Prayoga pikir Betari benar-benar sudah move on dari si brengsek itu. Ternyata, selama satu tahun ini Betari hanya pura-pura. Sahabatnya ini benar-benar telah menjadi orang bodoh. Tapi Prayoga merasa dirinya lebih bodoh dari Betari.
“Kenapa?”
“Karena dia itu brengsek.”
“Lo benar. Dia brengsek!” racau Betari.
“Mending lo diam deh, Bet.”
Betari berpaling ke tempatnya dengan mata sayu. “Gue berisik ya?”
“Hmmm.”
“Oke, gue diam.”
Kemudian Betari benar-benar diam hingga mereka tiba di depan rumahnya.
Prayoga mematikan mesin mobil dan keluar pada detik berikutnya. Betari keluar sendiri dengan tubuh linglung, kemudian hampir terjatuh jika tangan Prayoga tidak sigap menangkapnya.
Prayoga membantunya berjalan dengan memapah tubuh Betari yang benar-benar lemah.
“Gue nggak sanggup lagi.” Betari hampir ambruk, tetapi Prayoga menahannya. “Mending lo gendong gue.”
“Nggak. Lo berat.” Tentu saja Prayoga tidak berbohong. Meski tubuh Betari cukup ramping tetapi dia lumayan tinggi. Menggotong Betari saat di apartemen Starley Kang tidak semudah yang dia kira.
“Ayo, selangkah lagi sampai.”
Betari akhirnya berhasil berjalan sampai di depan pintu. Prayoga lantas membunyikan bel.
Tidak lama kemudian Umbara membukakan pintu. Pria itu memerhatikan Betari sebentar. Ekspresinya datar, sama sekali tidak terbaca.
“She is drunk.” Prayoga mencoba menjelaskan.
Umbara mengambil alih Betari yang bersandar di tubuh Prayoga dengan mata terpejam itu, dengan mengangkat tubuh Betari di atas kedua tangannya.
“Terima kasih, sudah mengantar istri saya pulang, Prayoga.”
Prayoga pun kemudian pamit pulang.
Umbara membawa Betari masuk ke dalam rumah, naik menuju kamarnya. Ketika Umbara meletakkan Betari di atas kasur. Betari malah semakin erat mengalungkan lengannya di leher Umbara. Akibatnya Umbara jatuh memeluk Betari dan wajah mereka menjadi sangat dekat.
Betari membuka mata, tatapan mereka bertemu. Betari terdiam, dia memandangi Umbara penuh damba. Kemudian Betari mengecup lembut bibir Umbara. Umbara tidak membalas ciuman itu. Dia menjauhkan Betari darinya.
Tatapan Betari memelas. “Please, don’t leave me.” Ujarnya lirih. Tangannya merengkuh tengkuk Umbara dan membenamkan kembali bibirnya di bibir pria itu. Ciuman kali ini dalam dan intens, jari-jari Betari mulai menyusup ke dalam rambut Umbara.
__ADS_1
Umbara nyaris tidak bisa berpikir. Tapi, Umbara bukan orang yang akan mengambil keuntungan dari orang yang mabuk.
“Good night.” Betari tersenyum dengan mata menutup.