JODOH DARI NERAKA

JODOH DARI NERAKA
9. DELAPAN


__ADS_3

“Kamu ini gimana, sih, Bara. Bisa-bisanya kamu nggak kasih istri kamu kunci. Kamu kira istri kamu bisa nembus tembok apa?” Gendis Atmojo geleng-geleng. Tidak habis pikir dengan kelakuan anaknya itu.


“Bara lupa, Ma.” sahut Umbara enteng.


“Hadeh,” Bisa-bisanya Umbara lupa memberikan Betari kunci rumah.


Dari tempatnya berdiri, Betari sontak mencibir. “Dasar pikun.”


Meski suara Betari cukup pelan, tapi Umbara masih bisa mendengarnya. Dia yang berdiri di depan sang ibu—menatap Betari yang juga berdiri di depannya, persis di samping sang ibu—dengan tatapan tidak suka—nyaris mendelik. Sementara yang ditatap pura-pura tidak peduli sambil membalas pesan yang terus masuk di ponselnya.


***


Gendis Atmojo memerhatikan wajah Betari yang dipenuhi bintik-bintik merah. “Digigit nyamuk kok bisa sampai begini. Banyak banget loh ini.” kata Gendis Atmojo yang keheranan dengan kondisi wajah Betari.


“Nyamuk-nyamuk di sini lain kali, Ma. Ganas-ganas.” sahut Betari seenaknya. Memang sih, bintik-bintik merah di wajahnya agak lain dari bekas gigitan nyamuk pada umumnya—dan yang pernah Betari alami sebelum-sebelumnya.


“Di balik tembok perumahan ini kan hutan kota, maklum lah kalau nyamuk-nyamuknya pada agresif.” celetuknya, lagi-lagi sekenanya. Dia tidak ingin membuat orang lain ikut-ikutan cemas dengan kondisi wajahnya yang mendekati hancur. Meski pun sejak tadi dia sudah ketar-ketir, bagi Betari wajah adalah aset penting sekalipun dia bukan seorang selebriti. Makanya, sekarang ini dia akan pergi ke dokter kulit.


“Ini sih alergi, Tari.” Gendis Atmojo menyimpulkan diagnosanya.


“Masa sih, Ma?” jawab Betari. Dia perasaan tidak punya alergi apa pun.


“Perasaan aku nggak punya alergi.” kata Betari kemudian.


“Coba kamu ingat-ingat lagi kemarin kamu makan apa?”


“Makan apa, ya, kemarin?” Betari pun mulai mengingat-ingat apa saja yang kemarin dia makan.


Oh, iya. Betari ingat. Waktu di perjalanan pulang kemarin malam—dia diantar sama Hendrik Leo. Mereka sempat terjebak macet karena ada pohon besar yang tumbang. Betari tahu kalau akan memakan waktu lama bagi para petugas untuk membereskan pohon itu sampai jalan bisa digunakan lagi, karena pohonnya lumayan besar. Dia pun paling benci kalau harus menunggu lama, makanya dia menyarankan pada Hendrik untuk putar balik saja. Tetapi Hendrik Leo malah bilang kalau dia akan menikmatinya.


Jujur saja, Betari kesal dibuatnya, dia tidak mau mendebat laki-laki itu dan untuk mengusir rasa kesal juga jenuhnya Betari pun memilih memakan camilan berupa bayi kepiting goreng crispy milik Hendrik Leo—yang laki-laki itu tawarkan padanya.


Masa sih, gara-gara kepiting?


Kalau dipikir-pikir lagi, meskipun Betari jarang makan kepiting karena memang kurang menyukainya karena harganya yang mahal dan dagingnya sedikit. Sejauh ini yang dapat Betari ingat, dia tidak pernah timbul gejala apa pun setelah makan kepiting.


“Apa kemarin kamu habis perawatan kecantikan? Soalnya ada teman mama yang mukanya jadi kayak gitu setelah habis dari perawatan ulterarapy atau apa gitu, mama lupa.”


Eh, kemarin bukannya Betari habis mencoba perawatan di sebuah klinik kecantikan—yang lagi-lagi dia lakukan demi endorse. Tapi bukan perawatan ulterarapy seperti yang baru saja disebutkan sang mama mertua. Betari belum memerlukan perawan itu.


Betari ingat sekarang, sebelum perawatan dilakukan, dokter memberinya krim anestesi terlebih dulu. Namun, dia sempat mengeluhkan rasa sakit setelah diberi krim itu. Sementara itu, sang dokter tidak menghiraukan keluhannya.


Gawat!

__ADS_1


Kalau benar wajahnya merah-merah gegara treatment kemarin Betari bakal putus kerja sama.


“Mending kamu sekarang ke dokter. Suruh Umbara anterin.”


“Nggak usah, Ma.” Bagaimana pun Betari lebih nyaman pergi sendiri.


Gendis Atmojo ingin Betari segera memeriksakan wajahnya ke dokter. Dia sangat menghawatirkan sang menantu. “Kalau kamu nggak mau diantar Umbara, mama yang anterin kamu ke dokter sekarang.”


“Nggak usah, Ma. Aku ke dokter sendiri aja.”


“Aku berangkat dulu, Ma. Udah ditungguin soalnya.” Betari buru-buru memeluk erat Gendis Atmojo sambil mencium kedua pipinya, dan berpamitan. Tapi sang mama mertua benar-benar rewel.


“Ditungguin siapa?” tanya Gendis Atmojo, penasaran.


“Abang Grab , Ma.” jawab Betari jujur. Bahkan si Abang Grab sudah sejak tadi kasih kabar kalau dia sudah sampai di depan komplek.


“Kamu nggak berangkat sama Umbara?”


“Nggak usah, Ma.” kata Betari, kemudian membuat alasan. “Beda arah soalnya.”


“Aku berangkat dulu, Ma. Bye!” Betari sekali lagi mencium punggung tangan Gendis Atmojo dan berjalan keluar.


Betari mengirim pesan pada Abang Grab agar masuk ke dalam yang kemudian dibalas si Abang:


Hadeh! Perumahan elite yang satu ini memang lain dari yang lain.


Betari pun terpaksa harus berjalan kaki sampai di depan. Dia tengsin kalau harus kembali ke dalam rumah dan meminta Umbara mengantarnya.


Setelah kepergian Betari, Gendis Atmojo kembali ke dapur, berniat untuk menata makanan yang tadi di bawanya—ke dalam kulkas dan melihat Umbara sedang serius membaca dokumen di MacBook miliknya sambil meminum secangkir kopi—buatannya sendiri.


“Bara,” Gendis Atmojo memanggil Umbara dengan lembut.


“Ya, Ma.” Umbara meletakkan cangkir kopinya ke atas meja dan melihat kepada ibunya yang mengambil duduk di sebelahnya.


“Kamu kapan mau bawa Betari pergi honeymoon?”


“Bara belum tahu, Ma. Saya masih sangat sibuk sampai bulan depan.” jawab Umbara jujur—soal dirinya yang sangat sibuk. Sedangkan soal honeymoon, dia rasa itu tidak perlu.


...***


...


Ketika ponsel miliknya berbunyi, Betari baru saja akan pergi makan malam bersama setelah dia selesai melakukan siaran langsung di Tiktok bersama Chiky Vanessa, gamer cantik yang juga adalah salah satu brand ambassador dari tim esports kenamaan Indonesia—dan sangat suka bercosplay.

__ADS_1


Betari menjawab panggilan itu sambil berjalan keluar dari lift. “Halo, Nek?”


“Halo, Tari sayang.” Terdengar suara sang nenek yang balas menyapanya dengan suaranya yang lembut, tapi ada nada khawatir terselip dalam suaranya.


“Kamu sakit apa, Sayang? Nenek baru aja ketemu Andre, katanya tadi dia ketemu kamu di rumah sakit.”


Dasar Andre si ember bocor! gerutu Betari dalam hati. Kenapa juga tadi dia harus antre obat bareng Andreas Kusworo, sang sepupu yang mulutnya suka bocor.


“Tari baik-baik aja kok, Nek.” Cuma alergi. Nggak bakal bikin mati, sih. Tapi sembuhnya mungkin bakal lama. Tadi dokter bilang paling cepat dua minggu. “Tadi itu aku jenguk teman yang habis lahiran.” jawabnya berbohong. By the way temannya yang mana yang habis lahiran? Betari hanya tidak ingin sang nenek ikut-ikutan mengkhawatirkan dirinya.


“Nenek nggak percaya. Kamu tuh tukang bohong.” Widuri Salim selalu tahu kalau sang cucu sedang membohonginya.


“Tari nggak bohong kok, Nek.”


“Nenek nggak percaya. Sebentar lagi nenek sampai di rumah kamu.”


Hadeh!


“Ngapain sih nenek ke rumah segala.” protes Betari. “Tari tuh nggak sakit. Mending nenek batalin aja. Nenek istirahat aja di rumah temenin kakek nonton our planet.”


“Dasar cucu kurang ajar! Kamu nggak mau ketemu nenek kamu sendiri. Kamu nggak kangen sama nenek?!”


“Ya, kangen dong, Nenekku sayang. Hari ini aku rencananya mau pulang ke rumah. Mau ambil mobil juga.” Tapi nggak jadi gara-gara kena musibah.


“Halah! Kamu aja nenek telepon dari kemarin nggak kamu angkat. Jangan alasan sibuk kamu!” serang sang nenek.


“Emang sibuk, kok.”


“Nenek udah sampai di rumah kamu. Buruan kamu buka kan pintu.”


Panggilan telepon diputus.


Gawat!


Betari terdiam.


***


Umbara Atmojo buru-buru meninggalkan pekerjaannya yang sebenarnya masih banyak dan menyerahkan semuanya kepada asistennya, begitu Widuri Salim—nenek dari istrinya selesai menelepon untuk menanyakan alamat rumahnya dan mengatakan akan ke rumahnya, saat ini juga—bersama suaminya, Juan Salim.


Beruntung dia tiba di rumah lebih dulu, sebelum sang tamu datang. Dan benar saja dugaannya, Betari belum pulang.


Dia ingin menghubungi perempuan itu, tapi dia tidak memiliki nomornya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian terdengar suara bel berbunyi.


__ADS_2