JODOH DARI NERAKA

JODOH DARI NERAKA
6. LIMA


__ADS_3

Betari membanting pintu kamarnya dengan sangat keras dan dia sungguh tidak peduli jika pintu kamarnya akan rusak. Emosinya sudah mencapai ubun-ubun. Kalau sudah begini rasanya Betari ingin sekali mencekik leher suaminya itu.


“Dasar patung sialan! Ngapain juga lo pakai sok-sokan ngajakin gue makan, tapi ujung-ujungnya nggak bolehin gue makan. Apa sih mau lo kampret?! Lihat aja nanti gue aduin nenek gue.” gerutu Betari, bermonolog.


“Pokoknya nggak ada ampun buat lo!”


Memang kampret si Umbara Atmojo itu. Betari benar-benar tidak habis pikir. Kenapa ada manusia kampret seperti suaminya itu? Dari banyaknya manusia berjenis kelamin perempuan di dunia yang luas ini kenapa harus dirinya yang menjadi istri manusia itu.


Sial. Sungguh sial.


Sebenarnya, dosa besar apa yang pernah Betari lakukan dimasa lalu sampai-sampai dia harus membayar karma seberat ini.


Ya Tuhan. Betari lapar.


Seumur-umur Betari belum pernah merasa kelaparan seperti ini. Dan sebenarnya dia bisa saja memesan makanan melalui aplikasi pesan antar. Tapi naasnya kuota internetnya habis dan di rumah ini tidak ada wifi. Ya, Ayam. kenapa Betari harus kehabisan kuota internet segala sih? Benar-benar sial nasibnya. Kalau begini kan, Betari terpaksa menahan lapar sampai besok pagi.


Betari melempar iPhone Pro Max miliknya ke atas ranjang sambil merutuki kemalangannya. Benda itu nyatanya tidak banyak berguna tanpa jaringan internet. Kalau saja hasil jepretan kameranya tidak bagus, Betari mungkin tidak akan membelinya.


Lalu, dia berbaring di atas tempat tidur dan memandang langit-langit kamarnya yang masih asing. Sementara tangannya mengelus-elus perutnya yang rata dan sesekali berbunyi—dibalik kaos polo putih yang dikenakannya hari ini.


“Gue lapar banget.” keluhnya, lalu teringat sesuatu.


Betari mengambil clutch bag miliknya di ujung ranjang, lalu merogoh ke dalam: mencari-cari yogurt bar—yang selalu dibawanya ke mana pun dia pergi—yang bercampur dengan lipstik, bedak, botol parfum, ikat rambut, serta dompet dan kunci mobil. Setelah menemukan apa yang dicarinya, dia merobek plastik kemasannya, dan menyantap camilan itu dengan lahap. Setidaknya sekarang perutnya sedikit tertolong.


****


Esok harinya.


Pagi-pagi sekali Betari terbangun karena dia sangat lapar. Sebenarnya, dia masih mengantuk dan ingin melanjutkan tidurnya. Tapi perutnya yang sudah berpuasa sejak kemarin tidak bisa diajak kompromi. Dia pun pergi keluar dari kamarnya menuju dapur.


“F*ck!” dia mengumpat ketika membuka kulkas dan tidak menemukan apa pun bahkan, sebotol air pun tidak ada. Dia lupa kalau di rumah ini tidak ada makanan.


Sebenarnya Betari hampir menangis daripada mengamuk. Kalau begini terus, bisa-bisa dia mati kelaparan. Demi setan, Betari belum ingin mati. Mimpi-mimpinya masih banyak yang belum tercapai. Dia juga belum puas merecoki hidup sang kakek yang pemarah itu. Bahkan dia belum membalaskan dendamnya pada mantan pacarnya yang bejat.


Dia menendang kulkas di hadapannya dengan marah dan berteriak. “Dasar patung monyet!”

__ADS_1


Pada saat itu, Umbara berjalan ke arah dapur dan Betari menatapnya penuh kebencian.


“Berhenti berteriak karena kamu sudah mirip orang gila.” tegur Umbara.


Betari memelotot. Enak saja dia dibilang orang gila. “Lo yang gila.”


Umbara tidak menanggapi. Dia meletakkan satu plastik kresek berisi dua bungkus soto ayam yang harumnya sungguh menggelitik sanubari—ke atas meja dapur yang memiliki empat kursi tinggi. Lalu dengan terampil memindahkan masing-masing bungkusan ke dalam dua mangkuk yang diambilnya dari lemari.


Umbara mendekatkan satu mangkuk ke dekat Betari. “Makan itu dulu.” ujarnya sebelum mengambil duduk di salah satu kursi dan memulai sarapannya sendiri.


Betari tertegun sejenak. Seperti kata pepatah ‘Kesempatan baik tidak datang dua kali.’ Betari ingat kejadian semalam. Maka dia pun segera memakan makannya.


Mereka makan dalam diam. Betari memilih duduk dengan selang dua kursi dari Umbara, tidak tepat duduk di sebelahnya. Meski pun Umbara sudah berstatus sebagai suaminya dan laki-laki itu juga tidak doyan perempuan. Tetapi dia masih orang asing bagi Betari. Selama mereka hanya berdua saja Betari akan menjaga jarak dari laki-laki itu.


“ART yang bakal bantu urus rumah akan datang minggu depan. Dan satu minggu ini saya bakal sibuk di galeri.” ujar Umbara sebagai pernyataan. Membuat Betari menoleh sekilas, ekspresi di wajahnya mengatakan bahwa dirinya tidak peduli.


“Saya harap kamu bisa urus diri kamu sendiri.”


Wait! Dia bilang apa barusan? Sialan. Dikira Betari masih bocah apa?


“Gue bukan bocah.” ketus Betari.


Ketika Betari sudah selesai makan, Umbara baru kembali ke dapur sebentar untuk memberikannya sebuah kartu kredit—yang diletakkannya di atas meja—di dekat tangan Betari. “Itu buat kamu.” ujarnya, sebelum kembali meninggalkan dapur.


Betari memandangi kartu kredit yang diberikan oleh Umbara. Dia berpikir sejenak, lalu memungutnya.


*****


Tiga puluh menit kemudian.


“Aduh, mana sih blazer kesayangan gue?” Betari ngedumel sendiri. Dia mengaduk-aduk isi kopernya dengan geram, mencari-cari blazer hitam kesayangannya. Kemarin dia memang tidak sempat membongkar kopernya dan memindahkan semua pakaian miliknya ke dalam lemari. Karena dia sibuk menonton drama Korea sampai lupa waktu.


Sekarang, dia tidak punya banyak waktu lagi. Dua puluh menit lagi dia ada janji temu dengan orang penting dari brand yang sudah lama Betari dan timnya incar buat kerja sama.


Dia bisa saja memakai blazer lain atau kemeja kebesaran yang biasa dia gunakan sebagai outter. Tapi, hari ini Betari harus memakai blazer itu. Harus. Blazer itu sudah seperti jimat keberuntungannya. Bukannya Betari penganut takhayul garis keras. Masalahnya, tiap kali Betari memakai blazer itu untuk ketemu klien—dari klien yang penting banget sampai yang biasa saja—untuk diajak kerja sama, ajaibnya Betari dan tim tidak harus sampai melewati proses negosiasi yang alot untuk dapat deal. Cukup ngobrol-ngobrol sebentar langsung deal. Kadang presentasi yang sudah disiapkan sampai harus lembur tidak terpakai. Aneh kan? Kejadian seperti itu tidak terjadi sekali dua kali. Makanya, hari ini pun Betari merasa wajib untuk memakai blazer hitam kesayangannya itu.

__ADS_1


Belum juga blazernya ketemu, iPhonenya yang ada di atas kasur berdering berisik. Itu pasti dari Lala, asisten sekaligus ketua timnya yang bawelnya minta ampun.


Betari menyambar iPhonenya. Dugaannya benar. Nama Lala yang muncul di layar. Dia menjawab panggilan telepon itu sambil terus mencari blazernya.


“Lo di mana, sih? Gue sama Dadung udah sampai SCBD. Lo cepetan ke sini. Jangan sampai ikan paus kita lepas cuma gara-gara lo yang hobi ngaret.” suara Lala terdengar kesal di telepon.


“Iya, iya ini gue mau otw.”


“Apa!!! lo masih di rumah?! Gila bener! Dari rumah lo ke sini tuh nggak cukup 20 menit apalagi kalau macet.”


“Hmm,”


“Alamat, Bet! Nggak ada waktu lagi ini. Lo cepetan!”


“Iya, ini gue lagi cari blazer gue, La.”


“Persetan dengan blazer lo, Bet! Cepetan ke sini!”


Sambungan telepon dimatikan.


Betari melihat jam di iPhone miliknya. Dia hanya memiliki waktu kurang dari 20 menit. Tidak ada waktu lagi. Tapi, dia tidak berangkat dari rumah kakeknya. Dari rumah baru Umbara ke SCBD tidak butuh lima belas menit. Kalau berangkat sekarang, dia tidak akan telat.


Persetan dengan blazernya!


Betari menyambar kemeja hitam kotak-kotak yang berhasil tertangkap matanya sebelum berlari keluar sambil menenteng clucth bag miliknya.


Baru saja Betari mengeluarkan kunci mobilnya. Dia teringat kalau mobilnya masih di rumah sang kakek. Celaka!


Benar-benar celaka.


***


Umbara menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah gedung perkantoran di SCBD.


“Makasih buat tumpangannya.”

__ADS_1


Betari keluar dari mobil hitam mengkilap itu dengan rasa syukur berkali-kali lipat.


Terima kasih Tuhan. Betari tidak jadi telat.


__ADS_2