JODOH DARI NERAKA

JODOH DARI NERAKA
7. ENAM


__ADS_3

Suasana kedai Jepang sederhana bernama Yabai, setiap harinya selalu ramai dipenuhi pengunjung dari berbagai usia, terutama di jam-jam makan seperti siang ini. Selain masakannya yang enak, Yabai bisa dibilang adalah salah satu tempat makan paling nyaman di ibu kota. Letaknya ada di salah satu sudut kawasan pertokoan paling asri di ibu kota.


Umbara mendorong pelan pintu kaca Yabai dan udara dingin dari pendingin ruangan menerpanya. Seorang pramusaji menyapanya dalam bahasa jepang. Umbara hanya mengangguk sekilas. Dia kemudian berjalan menuju tangga di sisi kanan dapur menuju lantai dua. Menuju ruang kantor tempat pemilik Yabai.


“Ada pengantin baru, nih. Gimana? Udah mantap-mantap, dong?” ucapan itu keluar dari mulut Sudjiwo Tedjo atau Jiwo—sahabat Umbara sekaligus pemilik Yabai, begitu Umbara masuk ke dalam ruang kantornya yang kecil.


Umbara duduk di sebelah Baron Adiningrat sahabatnya yang lain—yang tengah asyik menonton sebuah acara live tiktok di handphone miliknya. Dia sama sekali tidak berminat untuk menanggapi ucapan Jiwo.


“Ya, elah. Dikacangin dong gue.” cibir Jiwo.


“Eh, Wowo berisik banget sih lo. Nggak usah kepo. Kayak nggak pernah mantap-mantap aja.” ucap Baron kepada Jiwo. “Mana makanannya, Wo? Lo panggil kita ke sini buat makan siang kan?”


“Sabar, Nyet. Bentar lagi juga dianterin. Lo lanjut nonton si ciki-ciki aja dulu.” sahut Jiwo.


“Chiky udah selesai livenya.” balas Baron. Dia sudah menutup aplikasi tiktoknya sejak tadi. Ya, karena sudah tidak ada lagi yang ingin dia lihat. Lagi pula Baron mendownload tiktok hanya karena ingin melihat acara livenya Chiky. Tidak ada yang lain.


Baron beralih membuka aplikasi youtube. Dia berniat menonton vlog-nya Chiky yang terbaru. Selain aktif di Tiktok Chiky juga aktif di Youtube. Tapi dia malah menemukan sesuatu yang mengejutkan.


“Eh, ini bini lo bukan, sih?” Baron menggeser iPhonenya ke depan wajah Umbara. Sementara Jiwo yang kepo malah merebut iPhone itu.


Jiwo mengamati video berdurasi kurang dari lima menit itu dan berkomentar. “Ini bini lo kok ada di MV-nya Hendrik si PK.” Di mana dalam video tersebut, Betari menjadi kekasih Hendrik Leo—penyanyi dan penulis lagu terkenal. Tepatnya terkenal brengsek dimata mereka bertiga. “Bini lo model? Atau artis?” tanya Jiwo pada Umbara.


Sementara yang ditanya tidak menjawab.


“Si Betari tuh bisa dibilang selebriti internet yang cukup terkenal masa lo nggak tahu sih, Wo.” ujar Baron.


Umbara juga baru tahu pekerjaan Betari. Keterlaluannya lagi, dia pikir Betari adalah pengangguran. Kalau hari ini Baron tidak menyebutkannya. Entah tahun kapan dia akan tahu. Atau malah tidak akan tahu seumur hidupnya. Di mata Umbara, Betari itu tidak lebih dari sekedar anak orang kaya manja yang menyebalkan.


“Nggak. Gue kan bukan bapak-bapak yang doyan ABG kayak lo, Ron.” Jawab Jiwo.


“Ya, gue tahu Betari kan karena dia sering muncul di livenya Chiky. Bukan karena gue yang doyan ABG.” sewot Baron. Masa hanya karena Baron suka Chiky yang wajahnya masih imut-imut seperti Juhi—anaknya. Jiwo seenak jidat melabeli Baron sebagai pencinta ABG, kan kesannya jadi seperti Baron pedophile. Lagi pula Chiky bukan ABG. Dia bahkan lebih tua dari Betari.


“Siniin hp gue, Wo!” seru Baron kepada Jiwo, tangannya diacungkan ke depan sebagai isyarat. “Biar Bara lihat.”


“Mending lo nggak usah lihat deh, Bar.” Kata Jiwo sembari memberikan handphone itu kepada Baron yang duduk di hadapannya. “Sweet banget soalnya. Lo bakal panas.”


Tuh, kan. Baron mual. Si Jiwo bahasanya bikin mau gumoh. ‘Sweet banget soalnya. Lo bakal panas.’ Bapak-bapak mana coba yang ngomongnya begitu. Raden Umbara Atmojo memangnya pernah ngomong begitu?


“Berisik,” sahut Baron. Lalu memberikan handphonenya kepada Umbara.


Umbara mengamati video itu sejenak. Wajahnya yang datar tanpa ekspresi. Lalu mengembalikan handphone itu kepada Baron.

__ADS_1


“Gimana?” tanya Jiwo kepada Umbara.


“Apanya.”


“Videonya.”


“Bagus.”


“Lo nggak cemburu?”


“Nggak.”


“Beneran lo nggak cemburu? Itu bini lo di peluk-peluk sama si Handrik.” Kali ini Baron yang bertanya.


“Itu kan akting.” Lagian saya nggak peduli sekalipun itu beneran.


Tidak lama kemudian seorang pramusaji masuk membawa beberapa makanan.


***


Hari sudah malam ketika Vanila menjemput Betari di studio milik perempuan itu yang berada beberapa blok dari gedung apartemen Vanila dan Milky tinggal bersama.


Begitu Betari duduk, dia langsung menyuruh Vanila untuk menyalakan car audio. Suara Rose Blackpink pun mengalun merdu di dalam mobil yang sunyi.


“Gimana honeymoon-nya?” Vanila membuka obrolan.


“Boro-boro honeymoon. Malam pertama aja gue diajak ribut sama dia.” jawab Betari dengan bibir mengerucut sempurna.


“Ribut gimana?”


“Males gue bahas dia. Bikin naik darah aja.” Kata Betari jujur. Meskipun tadi pagi Umbara mengantarkannya ke SCBD untuk meeting sama klien dan membelikannya soto ayam untuk sarapan. Tapi tetap saja Umbara itu menyebalkan. Sejak awal laki-laki itu sudah menyebalkan. Ingat saja bagaimana pertama kali mereka bertemu di pesta ulang tahun ibunya Prayoga.


“Mending bahas yang lain.”


Vanila mengangguk.


“Lo mau makan apa, Bet?”


“Makan apa aja, terserah lo, Van. Gue oke aja yang penting kenyang.”


“Tumben lo nggak milih-milih.” Cemooh Vanila sambil mematikan mesin mobil.

__ADS_1


“Tahu nih, mulut.”


Vanila memarkir mobil di depan sebuah komplek pertokoan. Tidak jauh dari tempat mereka berdiri, Betari melihat sebuah kedai Jepang bernuansa modern yang ramai. Nama kedai itu membuat kening Betari berkerut. Kata Yabai, memang ambigu sekali. Bisa dipakai untuk menyatakan bahaya, sindiran, atau pujian. Kalau untuk pujian arti yabai menjadi; parah, gokil, atau, mantap. Betari jadi penasaran. Dia tidak sabar untuk mencoba masakan mereka.


“Ini kedai baru, ya, Van.” celetuk Betari ketika mereka jalan ke depan.


“Nggak. Udah lama banget malah. Cuman gue juga baru tahu kemarin gara-gara diajakin klien lunch di sini.”


“Ada kedai makan seramai ini di Jakarta dan kita baru tahu. Ya, ampun. Jiwa kuliner kita perlu dipertanyakan deh.”


“Iya, nih. Malu gue ngaku-ngaku udah kulineran sampai ke seluruh pelosok negeri.”


Keduanya pun tertawa bersama.


Mereka masuk ke dalam kedai dan memesan dua mangkuk ayam Katsu Teriyaki, dua ocha, dan seporsi Uramaki sushi.


“Eh, Lala bilang tadi pagi lo diantarin sama cowok.” vanila bertanya disela makan mereka. Lala dan timnya yang lain tidak ada yang tahu kalau Betari sudah menikah. Hanya orang-orang tertentu saja yang tahu soal pernikahan Betari dengan Umbara. Pernikahan mereka diadakan secara tertutup dan hanya dihadiri keluarga inti dan sahabat dekat keduanya. Itu permintaan Betari.


“Siapa? Bang Hendrik?


Kali ini Vanila menebak nama bang Hendrik, bukannya Umbara yang notabenenya adalah suami sang sahabat. Karena Vanila menyimpulkan dari percakapan mereka tadi kalau hubungan Betari dengan laki-laki itu tidak baik.


Sementara bang Hendrik, Vanila tahu laki-laki itu yang sedang giat-giatnya mendekati Betari. Tepatnya setelah mereka selesai shooting MV buat single terbarunya yang rilis hari ini.


Entah bagaimana perasaan bang Hendrik kalau tahu Betari sudah punya suami.


Betari menggeleng. “Bukan.”


“Siapa?”


“Si monyet tadi yang anterin gue.”


“Bilang aja dianterin suami.” goda Vanila. Dia tersenyum meledek melihat Betari.


“Ih, jangan kenceng-kenceng. Kalau ada yang dengar bahaya.” Betari mengingatkan Vanila.


“Emang kenapa? Takut fans lo pada kabur nggak terima lo udah nikah.”


“Lah, itu lo tahu.”


Vanila mangut-mangut. Nama Betari Salim sedang naik-naiknya. Kalau gara-gara status barunya tersebar dan popularitasnya malah turun, kan sayang. Ada banyak juga kan penggemar yang berbalik jadi haters hanya gara-gara idolanya punya pacar. Itu yang ditakutkan sama Betari. Lagi pula Betari sudah berjuang keras untuk sampai diposisinya sekarang ini. Vanila adalah salah satu saksi hidup kerja keras Betari selama ini.

__ADS_1


“Emang lo rencana buat nyembunyiin status lo sampai kapan?”


“Nggak tahu.” jawab Betari. Dia masih belum ingin memikirkannya. Kalau bisa sih, Betari ingin tetap menjalani harinya seperti biasa.


__ADS_2