
Pagi itu Betari terbangun dengan kepalanya yang terasa pusing. Jendela kamarnya masih tertutup tirai dengan sempurna. Tetapi, sinar matahari yang terik di luar menerobos masuk ke dalam, sehingga menerangi seluruh ruangan.
Betari memejam, perlahan bangkit dari posisi tidurnya. Matanya terbuka meski terasa berat. Kemudian dia dilanda pusing dan mual yang hebat. Dia pun segera turun dari tempat tidur, berlari menuju kamar mandi, dan mengeluarkan isi perutnya di toilet.
Menilik dari apa yang dirasakannya begitu bangun tidur pagi ini, Betari yakin semalam dia pasti minum sangat banyak. Ini gara-gara si bejat sialan! Sungguh, Betari tidak bisa kalau tidak menyalahkan pria sialan yang pernah membuatnya ingin mati tapi juga ingin hidup hanya demi untuk menunjukkan kalau dirinya baik-baik saja.
Berdiri di depan cermin, dia memandang pantulan dirinya di sana. Riasan di wajahnya sedikit pudar di beberapa bagian. Jadi semalam dia tidur masih menggunakan riasan?!
Oh shittt!
Ini berita buruk. Bukannya dia berlebihan soal ini, tetapi membersihkan wajah sebelum pergi tidur itu penting baginya. Tidur masih dengan riasan apalagi wajah yang kotor bisa membuat wajahnya berjerawat, dan Betari sama sekali tidak mau hal itu terjadi lagi. Dia tahu kalau wajahnya berjerawat bersinonim dengan penampilan yang jelek. Nyatanya, Betari tidak mau menjadi si jelek lagi. Cukup dulu saat dia masih seorang remaja yang dihajar habis-habisan oleh pubertas dan belum bisa merawat diri atau beberapa hari lalu wajahnya hancur gara-gara perawatan sialan itu. Meski, dia masih bisa menjadi cantik dengan memakai riasan. Tetapi, cantik alami tetap yang paling membanggakan.
Oh, ya. Soal wajahnya yang merah-merah kemarin itu. Jujur saja Betari sangat panik dan takut kalau wajahnya akan hancur. Tetapi, dia tidak ingin membuat nenek dan ibu mertuanya ikut-ikutan ribut. Jadi Betari pura-pura, kalau hal itu bukan masalah besar. Meski, batinya menjerit-jerit minta pertolongan Tuhan.
Betari menghabiskan beberapa menit di kamar mandi untuk membersihkan diri dan keluar setelahnya dengan mengenakan kimono mandi.
“Kamu sudah bangun?”
Betari menoleh ke samping mendapati Umbara berada diambang pintu. Pria itu membawa sebuah nampan yang kemudian ditaruh di atas meja nakas di pinggir tempat tidur.
“Saya buatkan kamu teh jahe. Katanya bagus buat menghilangkan pengar.” Umbara mengambil gelas berisi teh jahe dan mendekatkannya pada Betari. “Minum dulu.” katanya.
Betari menerima teh jahe yang diberikan Umbara, kemudian meminumnya sampai setengah gelas. “Makasih.”
“Saya juga buatkan sup supaya hangover kamu hilang. Nanti dimakan. Ada bubur ayam kesukaan kamu kalau kamu masih lapar.” Sebenarnya Umbara tidak bisa memasak. Tapi dia nekat membuatnya sendiri dengan melihat video tutorial di internet. Beruntung ketika dicicipi rasanya lumayan jadi dia tidak ragu untuk memberikannya kepada Betari.
“Makasih.”
“Nggak perlu bilang makasih. Sudah seharusnya saya merawat istri saya, kan?”
__ADS_1
Betari hanya mengangguk.
“Saya pergi kerja dulu. Kalau kamu perlu sesuatu kamu telepon saya.”
“Oh, ya. Nanti mama mau ke rumah. Kamu jangan pergi.”
Umbara kemudian meninggalkan kamarnya dan Betari melirik sekilas sup yang dibuat oleh suaminya. Dia merasa ragu untuk meminumnya, Betari tahu Umbara tidak bisa memasak mungkin lebih tepatnya belum pernah memasak selain mie instan ala warmindo. Tapi didorong rasa penasaran dan bukannya ingin menghargai kebaikan Umbara, karena toh, Umbara tidak akan tahu kalau diam membuangnya di closet. Dia meminum sup itu dan ternyata rasanya lumayan.
Tidak lama setelah Umbara pergi bekerja dan Betari selesai makan bubur ayam, sang ibu mertua datang bersama seorang perempuan berusia di akhir 40-an yang mengenalkan diri bernama Atun.
“Mulai hari ini bik Atun yang akan bantu-bantu di sini.” kata Gendis Atmojo kepada menantunya.
Seminggu yang lalu ART yang baru bekerja satu bulan di rumah ini, bernama Marni tiba-tiba pamitan kepada Betari dan Umbara katanya dia mau kawin lari sama pacarnya. Betari dan Umbara yang merasa Marni itu konyol menasihatinya, bahkan Betari juga menakut-nakutinya tapi Marni yang sedang dimabuk cinta itu tetap kekeh dengan rencana gilanya. Akhirnya mereka berdua pun melepaskan Marni. Umbara yang murah hati tidak lupa mendoakannya dan mereka memberi uang pesangon pada Marni yang hari itu Betari melihatnya pulang dengan dijemput pacarnya yang menunggunya di depan kompleks dengan motor buntut. Jujur saja, Betari sangat menyayangkan keputusan si Marni. Itu adalah tindakan paling bodoh, pikir Betari.
Ketika Umbara pulang ke rumah siang itu untuk makan siang bersama Betari dia tidak menemukan istrinya, tapi bik Atun.
Dia yang melihat itu tidak tahan lagi untuk bertanya. Meski sebenarnya dia sendiri sudah tahu jawabannya. “Bik Atun ngapain di rumah saya?” Umbara memandang bik Atun dengan tajam.
Umbara memutuskan nanti akan berbicara dengan mamanya. Dia tahu maksud mamanya itu baik. Tapi, rencananya bisa gagal kalau ada bik Atun yang membantu mereka mengurus rumah.
“Bik Atun lihat istri saya?”
“Mbak Tari pergi sama ibu.”
“Bilang sama bibik nggak mau ke mana?”
“Nggak, Mas.”
Entah kenapa Umbara tidak bisa tidak merasa kesal mengetahui jika istrinya tidak di rumah ketika dia pulang untuk membawakan makan siang perempuan itu.
__ADS_1
Belum juga reda rasa kesalnya, sebuah pesan masuk dari Juhi membuatnya semakin meradang. Entah dia harus berterima kasih kepada anak sahabatnya itu atau malah sebaliknya, yang jelas dia tidak menyukai perasaannya saat ini.
Betari sudah tidak tahan lagi. Diam-diam dia mengertakkan gerahamnya. Mama mertuanya sangat keterlaluan kali ini. Bagaimana bisa Gendis Atmojo begitu tega menyeretnya ke tempat ini untuk menonton acara resepsi pernikahan anak pejabat bea cukai, sementara dia memiliki segunung pekerjaan yang harus dia selesaikan dan lagi kepalanya masih pusing akibat ketololannya semalam.
Sementara Gendis Atmojo yang duduk di samping Betari sepertinya lupa bahwa ada menantunya bersama dengan dirinya dan malah asyik menanggapi omong kosong dari seorang ibu-ibu yang dandanannya sangat mencolok mata. Siapa pun pasti akan berpikir kalau ibu-ibu ini tak ubahnya toko perhiasan berjalan. Lihat saja kalung rantai di lehernya dan gelang-gelang yang menggantung di tangannya yang bergerincing setiap kali dia menggerakkan tangannya yang montok itu. Belum lagi cincin-cincin di jari-jari tangannya. Benar-benar pemandangan yang merusak mata, keluh Betari dalam hati.
Dari tempatnya duduk Betari juga mendengar omong kosong lain dengan nada mencibir dari sepasang ibu-ibu lain yang duduk di sebelah mejanya.
“Jeng Ratna perhatiin deh perutnya si Mila.”
“Emang kenapa perutnya Mila, Jeng Endang.”
“Kayak lagi hamil muda, iya nggak sih.”
“Masa sih, itu mungkin karena kebayanya saja yang fit ke badan dia yang emang montok.”
“Ah, enggak, deh, Jeng Ratna coba perhatiin lagi.”
Betari merasa mulut kedua ibu itu sangat menyebalkan. Berbanding terbalik dengan apa yang dipikirkannya, Betari malah ikut memperhatikan perut sang pengantin wanita di atas pelaminan. Dalam hati dia sepakat dengan ibu-ibu yang dipanggil dengan sebutan jeng Endang itu sekaligus kagum dengan ketajaman matanya.
Dia tampaknya harus menahan diri lebih lama lagi karena acara sepertinya belum akan berakhir. Betari mengerucutkan bibirnya dan memandang ke pelaminan tanpa minat lagi.
“Ma, aku ke kamar mandi bentar, ya.” Betari berdiri, kemudian berlalu dari balai riung hotel itu ke kamar mandi terdekat.
Di kamar mandi setelah dia buang air kecil, Betari mencuci tangannya di wastafel. Dia lalu menatap pantulan wajahnya di cermin dan tersenyum, kebanggaan terlihat dalam matanya.
Betari tahu dirinya diinginkan banyak laki-laki, bahkan sebagian perempuan tidak ragu ataupun enggan untuk memuji keindahan fisiknya. Dia memiliki tubuh ramping dan kulitnya putih bersih sebagaimana kebanyakan perempuan Asia inginkan. Wajah Betari, boleh dibilang seperti bunga yang mekar di musim semi. Dan Betari sangat tahu bagaimana dia harus mensyukuri berkah dari Tuhan ini. Karena dia tidak pintar seperti saudara-saudaranya yang semuanya menjadi pemimpin perusahaan besar, Betari tahu dia harus memanfaatkan pesona fisiknya ini di samping kemampuan otaknya yang pas-pasan.
Begitu Betari selesai mengagumi dirinya sendiri, dia melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi dan seseorang memblokir jalannya tepat di depan lorong yang memisahkan antara toilet perempuan dan laki-laki.
__ADS_1
Seseorang yang sangat dikenalinya itu tersenyum kepadanya.