
Beberapa hari berlalu sejak Umbara mengutarakan pemikirannya soal pernikahan mereka yang kemudian berakhir dengan kejadian memalukan untuk Betari. Dan selama itu Betari selalu berusaha untuk menghindari Umbara. Tapi lain hal dengan Umbara yang justru bersikap sebaliknya. Laki-laki itu jelas memiliki keteguhannya sendiri. Seperti hari ini.
Betari baru saja turun dari lantai dua dan akan menuju keluar begitu dari arah dapur dia justru mendengar datangnya suara milik Umbara yang memanggil namanya.
Betari tersentak kaget. Dia pun menghentikan langkahnya dan berbalik dengan ragu.
Sementara Umbara berjalan mendekatinya. “Kamu nggak sarapan dulu? Saya sudah beli bubur ayam buat kita sarapan.”
“Nggak. Gue nggak suka bubur ayam.” katanya asal. Padahal sebaliknya Betari sangat menyukai bubur ayam. Apalagi bubur ayam buatan sang kakek. Meh! Rasanya paling juara. Iya, benar. Bubur ayam buatan Juan Salim, kakeknya yang menyebalkan itu sangat enak. Betari sampai sering pura-pura sakit demi bisa makan bubur ayam buatan sang kakek. Tentu saja harus dengan paksaan dari sang istri dulu, barulah Juan Salim mau memasak bubur ayam untuknya.
“Kalau gitu kamu mau makan apa. Saya pesankan sekarang.”
“Nggak perlu. Nanti gue beli makan di jalan.” Betari kembali menolak meski sebenarnya dia lapar. Dia tidak ingin dekat-dekat dengan Umbara. Betari tidak mau menuruti keinginan suaminya itu.
“Gue pergi dulu, bye!” Betari pun bergegas keluar.
“Tunggu!” panggil Umbara dari belakang.
Dengan cepat, Umbara sudah mengimbangi langkahnya. “Saya antar kamu. Kita berangkat bareng.”
Lalu Umbara yang sudah berada di dalam mobil berkata kepada Betari. “Ayo, masuk!”
Betari sih mau menolak. Tapi, hal yang tidak terduga baru saja terjadi. Sopir grab yang dia pesan tiba-tiba membatalkan pesanannya tanpa alasan. Sekarang, hilang sudah satu-satunya alasan yang ingin dia gunakan untuk menolak tawaran sang suami.
Dia pun masuk ke dalam mobil.
***
Di dalam mobil yang sunyi itu, Betari menyandarkan diri pada sandaran tempat duduk. Mungkin karena akhir-akhir ini dia sangat sibuk dia pun jadi kurang tidur, atau, entah malamnya terlalu singkat. Jadi dia merasa agak mengantuk. Dan Betari pun tertidur.
Saat mobil melaju dengan kecepatan sedang, Betari tiba-tiba terjaga dan melihat sesuatu yang akrab. Dalam keadaan setengah sadar, dia refleks memerintah Umbara, “Berhenti di sini, gue mau beli bubur ayam.” Dan saat Betari sadar dengan ucapannya sendiri, dia merasa sangat canggung.
Secara tidak langsung, Betari telah menjilat kembali air ludahnya sendiri. Padahal belum ada satu jam setelah dia bilang pada Umbara kalau dia tidak suka bubur ayam. “Ah, gue mau beli buat teman.” Tentu saja Betari sangat pandai berakting tenang.
Sejenak, Umbara melihat Betari yang telah kembali bersikap tenang. Lalu berbalik arah dan berhenti di depan sebuah warung tenda—di pinggir jalan.
“Yang ini?”
“Iya, iya.” Betari mengangguk cepat. Dia ingin segera lepas dari Umbara. “Gue pergi dulu. Maksih udah nganterin. Nanti gue lanjut naik taksi, nggak perlu diantarin lagi.”
Betari berkata tanpa jeda, lalu turun dan menutup pintu. Saat dia berbalik badan, sang suami sudah berada di hadapannya.
Betari tertegun.
“Saya lapar.”
***
__ADS_1
Umbara masih ingat raut kesal yang Betari tunjukan saat dia membawanya makan malam di warmindo. Sangat bertolak belakang dengan Betari pagi ini. Meskipun Betari masih memakai masker yang menutupi sebagian wajahnya dan kacamata hitam yang membuat penampilannya terlihat sangat konyol—karena kondisi wajahnya yang belum pulih—Umbara dapat melihatnya dengan jelas ketenangan perempuan itu.
Betari duduk tenang di kursi plastik di dekat gerobak pedagang bubur, di bawah pohon rambutan yang daunnya mulai mengering. Kanan kirinya penuh orang.
Beberapa menit kemudian, bubur pesanan mereka pun dihidangkan. Betari yang hendak memakan buburnya menoleh pada Umbara yang masih berdiri kaku di belakangnya, persis bodyguard. Dan menyadari kalau semua kursi sudah penuh.
Betari bangun dari duduknya seraya membawa mangkuk bubur miliknya dan Umbara. “Kita makan di dalam mobil aja.”
“Bang Samsul, gue makan di mobil, ya. Minumnya jangan lupa dianterin. Nggaak pakai lama.” Betari sering makan di warung ini, sehingga kenal baik dengan pemiliknya.
Abang tukang bubur pun mengangguk dan tidak lupa menganjungkan jempolnya.
Umbara pun mengikuti Betari menuju mobilnya.
“Kamu sering makan di sini?” Umbara mulai menyendok bubur ayam miliknya. Dia bukan tim bubur diaduk.
Betari hanya mengangguk. Dia sibuk mengaduk bubur miliknya. Rasanya percuma kalau dia harus berbohong lagi.
“Ternyata mama memang nggak bohongi saya.” ujar Umbara. Tadi ketika Betari bilang tidak suka bubur ayam, dia memang sempat berpikir kalau sang mama membohonginya. Atau, mengerjainya. Masalahnya sang mama senang sekali mengerjainya.
Betari mengernyit.
“Mama sendiri yang kasih tahu saya.”
Betari hanya diam. Gendis Atmojo memang tahu banyak soal apa yang Betari sukai dan benci. Terutama soal makanan. Mereka sering makan siang bersama.
“Kenapa kamu bilang nggak suka bubur ayam.” Umbara memandangi Betari yang sedang memakan buburnya dengan lahap.
“Tapi sekarang kamu malah makan sama saya.” Mata Umbara kembali memandangi mangkuk buburnya yang isinya tinggal setengah.
“Ternyata lo cerewet banget.” ujar Betari menyindir.
Sebetulnya Umbara juga ingin mengatakan hal yang sama kepada dirinya sendiri. Sebab biasanya dia hanya bicara seperlunya saja. Sampai orang-orang terdekatnya menjulukinya si irit bicara.
Mereka pun melanjutkan makan dalam diam. Selesai makan pun Betari membiarkan suaminya membayar dan kembali mengantarnya pergi bekerja.
Setelah berpisah dengan suaminya, Betari mendapat telepon dari Prayoga, sahabat karibnya yang sering melupakannya kalau sudah sibuk dengan bandnya, The Dream. Dia menjawab panggilan itu sambil berjalan masuk ke dalam lift. “Hei, Yog? Gimana liburan lo di Palembang?” sapa Betari dengan meledek. Prayoga pergi ke Palembang bukan untuk berlibur melainkan tur konser keliling Indonesia.
Dari seberang terdengar suara Prayoga yang tertawa renyah. Dia pun lalu membalas ledekan Betari, “Mantap banget! Cewek-cewek di sini cakep-cakep. Makanannya juga enak-enak. Lo harus banget deh ke sini.”
“Anyway, lo mau gue beliin kain songket?”
“Boleh, deh, Yog. Tapi jangan Cuma semeter.”
“Lo mau berapa meter emang?”
“Yang panjang. Biar bisa dibikin baju.”
__ADS_1
“Gue kira mau lo bikin kain kafan.”
“Sialan lo, Yoga!”
“Canda, Bet.”
“Bercanda lo nggak asik, deh.”
Prayoga pun tertawa.
“Teleponnya nanti lagi, ya, Bet. Gue mau mandi dulu. Bye, Bet.”
“Bye, Yoga!”
“Jangan lupa kain songketnya.”
“Sip, deh. Tunggu gue pulang. Besok gue balik Jakarta.”
Begitu Betari memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya dan akan keluar dari dalam lift, karena dia sudah tiba di lantai tempat studionya berada. Ponselnya berdering. Sebuah panggilan kembali masuk. Tanpa melihat ID sang penelepon Betari menjawab sambil berjalan menuju studionya.
“Katanya lo mau mandi, Yoga. Nggak jadi? Masih kangen lo sama gue.”
“Halo?” sapa sebuah suara di seberang sana.
Betari menyadari kalau itu bukan suara Prayoga. Dia pun lantas mengomel, “Aduh, mas. Harus berapa kali saya bilang, saya nggak butuh kartu kredit. Kenapa sih, rese banget? Ganggu aja. Dah, ya, Mas. Saya mau kerja. Jangan gang—“
“Tunggu, Betari!” sela si penelepon.
“Eh, siapa ini? Kok tahu nama gue?”
“Saya Umbara, suami kamu.”
Ya, ampun! Ngapain sih suaminya itu meneleponnya segala. Perasaan baru saja mereka berpisah. Belum juga ada setengah jam.
“Oh, shitt!!” rutuk Betari, ketika tanpa aba-aba seseorang menabraknya dari belakang dan membuatnya hampir terjatuh. “Aduh, Mbak! jalannya hati-hati dong! Kalau gue jatuh gimana?!”
“Betari? Betari? Kamu baik-baik saja?” panggil Umbara berulang kali.
“Iya, nggak papa.” sahut Betari.
“Ya, sudah kamu simpan nomor saya.”
“Iya, iya. Ada apa telepon?”
“Saya mau ajak kamu makan siang. Nanti saya jemput kamu jam berapa?”
“Jam dua belas.” Eh, ini mulut kenapa main jawab aja, sih?
__ADS_1
“Oke, sampai ketemu nanti.” kata Umbara.
Betari ingin menarik kata-katanya dan menggantinya dengan penolakan. Tapi sambungan keburu terputus.