
Betari berbaring pada sofa di ruang keluarga menonton televisi sambil menunggu suaminya selesai membuatkannya mie instan. Dia sangat lapar, bahkan sebelum dia terjatuh tadi dia sudah kelaparan.
Dan sekarang kakinya masih sakit meski sudah diobati dan juga terlihat membengkak. Tadi dokter mengatakan, mungkin dia akan kesulitan beraktivitas dalam beberapa hari ke depan dan menyarankannya untuk istirahat saja di rumah. Hal itu tentu saja sangat merugikannya.
Betari benar-benar mengutuk hantu sialan yang menyebabkannya jadi seperti ini. Setan sialan! Bisanya cuma nakut-nakutin. Kalau emang lo berani coba aja lo nongol di depan banyak orang! Jangan cuman nakutin gue, lah! Gara-gara lo, nih! Gue jadi cacat sementara! Untung cuman sementara, kalau sampai permanen gue panggilin pak Kyai kesini biar lo dibacaain doa atau dukun santet sekalian biar lo ditangkap dan dijadiin budak. Lo kira cuman manusia doang yang bisa diperbudak.
Dia mendengus, dan mengganti-mengganti saluran televisi. Ini juga kenapa acaranya jelek semua? Seburuk inikah hiburan tanah air? Ya, kali gue disuruh nonton Take Me Out? Betari bukan emak-emak yang tahan berjam-jam menonton acara bohongan seperti itu. Lebih baik dia menonton si konyol nan menjengkelkan—Spongebob.
Dia melirik ke dapur terbuka yang berada di sisi lain ruang keluarga. Di balik meja dapur dengan beberapa kursi tinggi yang ditata dengan rapi, Umbara sedang memasak mie instan untuknya.
“Betari.” panggil suaminya yang baru saja selesai memecah dua butir telur—sesuai permintaannya—ke dalam panci mie yang mendidih. “Telurnya matang atau setengah matang?” lanjutnya bertanya.
“Matang.” jawab Betari. “Jangan lupa dikasih daun bawangnya satu sendok makan. Diiris tipis.” lanjutnya memperingatkan.
“Iya.”
Jika pria itu bukan Umbara mungkin akan ada embelan kata bawel setelah kata iya yang singkat itu.
“Aku jelek dan aku bangga.”
Betari kembali ke Spongebob. Di layar televisi tampak Patrick si bintang laut berwarna merah muda yang tampangnya dungu itu.
Dasar bodoh!
Hanya orang bodoh yang bangga kalau dirinya jelek, pikir Betari dengan sombong. Orang jelek dan bodoh hanya akan jadi lelucon.
Tidak lama kemudian Umbara telah selesai memasak mie instan yang diinginkan oleh Betari, mie instan rasa ayam bawang dengan dua telur, dua potong sosis ayam, dan segenggam daun bayam itu juga telah dipindahkan ke dalam mangkuk keramik dan ditaburi potongan daun bawang sebanyak satu sendok makan. Semuanya sesuai dengan permintaannya.
Mata Betari berbinar melihat suaminya membawa semangkuk mie panas dan segelas air dari dapur. Dia sangat lapar dan sudah tidak sabar lagi. Dia buru-buru bangun dari posisi berbaringnya dengan susah payah karena kakinya sakit, tetapi suaminya memang orang yang sangat pengertian, Umbara tidak diam saja ketika melihat dirinya yang kesulitan. Umbara segera membantu tanpa diminta.
“Makasih.” ujar Betari.
“Iya.” Kemudian setelah memastikan Betari nyaman dengan posisi duduknya, barulah Umbara memberikan mangkuk mie yang tadi diletakkannya di meja karena harus membantunya duduk.
Betari menerima semangkuk mie itu dan tersenyum cerah. Akhirnya yang ditunggu-tunggu!
Uap panas kuah mie mengelus wajahnya begitu mangkuk itu disodorkan kepadanya. Betari menghirup aroma gurih dan lezat bumbu khas mie instan. Dia tidak tahan lagi untuk segera menyantapnya.
__ADS_1
Saatnya makan!
Tunggu...
Betari mengalihkan perhatiannya kepada Umbara yang sekarang duduk di ujung sofa—di depan kakinya yang diluruskan.
Senyumnya melemah. “Kamu nggak makan?” tanyanya. Jelas saja dia jadi merasa sedikit tidak enak hati dengan suaminya
“Nggak, saya nggak lapar.” jawabnya pelan.
Betari pun mulai makan dalam diam. Dan mengabaikan suaminya yang memang pendiam itu. Setiap kali hanya berdua entah di mana pun, Umbara juga tidak banyak omong. Bahkan teman suaminya itu sendiri pernah memperingatkannya bahwa: Umbara mungkin akan membuatmu mati bosan, kecuali kamu pencinta kartun bisu.
Seingat dan setahu Betari, suaminya itu pernah banyak omong ketika dia bersama Sagara. Apakah suaminya itu lebih cocok berteman dengan bayi daripada orang dewasa seumurnya.
Umbara telah terlelap ketika Betari selesai makan. Suaminya itu tertidur pulas dengan posisi duduk dan bersandar pada sandaran sofa. Gerakan dadanya naik turun dengan tenang. Satu tangannya berada diatas perut, memeluk sebuah bantal sofa. Sementara, wajahnya yang biasa terlihat dingin dan kaku, terlihat damai ketika dia tidur.
Lama Betari memandangi Umbara yang tertidur pulas itu.
Dia merasa telah sangat merepotkan Umbara. Tengah malam suaminya itu harus membawanya ke rumah sakit, menggendongnya dan bahkan sampai mau memasakkannya mie. Jadi dia agak sungkan untuk membangunkannya, meski dia sangat ingin Umbara membantunya pergi ke kamar mandi. Silakan sebut dirinya manja. Berjalan dengan satu kaki, apalagi kaki kiri itu sama sulitnya dengan berjalan di pematok sawah yang lebarnya hanya sejengkal tangan bocah. Dia perlu suaminya untuk memapahnya. Nyatanya kaki kirinya juga sakit meski tidak membengkak seperti kaki kanannya.
Tapi dia tidak bisa lagi merepotkan suaminya.
Betari baru saja akan beranjak dari duduknya, ketika dia mendengar suara serak dan mengantuk Umbara.
“Kamu udah selesai makan.” Itu bukan pertanyaan tapi tapi lebih ke sebuah pernyataan.
Akhirnya....
Betari mendesah lega dalam hati.
Dia lalu mengatakan pada Umbara kalau dia perlu ke kamar mandi.
“Oh, kamu mau ke kamar mandi.”
Umbara dengan wajah mengantuknya itu sudah akan membopongnya tapi Betari dengan cepat berkata bahwa dia hanya ingin suaminya itu memapahnya.
Umbara pun memapahnya hingga masuk ke dalam kamar mandi dan menunggu di luar. Karena berdebat dengan istrinya yang keras kepala itu adalah hal pertama yang ingin dia hindari. Papanya pernah bilang kalau salah satu kunci menjalani rumah tangga yang damai dan langgeng adalah dia harus lebih sabar dan mau mengalah. Juga memberikan perhatian yang tulus.
__ADS_1
Jadi, selesai dari kamar mandi, Umbara mengantarnya kembali ke kamarnya, meletakkannya ke atas kasur dengan lembut dan menyelimutinya. Tentu saja menaiki belasan anak tangga bukan perkara mudah untuk orang pincang sepertinya. Tepat ketika Umbara akan pergi, Betari menarik ujung bajunya. Tatapan mata Betari memelas dan seperti ketakutan. “Kamu jangan pergi dulu. Tunggu aku sampai tidur.” pintanya memelas.
“Aku... takut kalau hantu itu muncul lagi.” Di atas langit-langit kamar atau dari kolong tempat tidur, lirihnya. Sepertinya Betari malu mengakuinya—kalau dirinya takut setan.
Umbara mengernyit. Rasanya aneh saja mendengar ucapan seperti itu keluar dari mulut perempuan dewasa seperti istrinya. Ngomong-ngomong berapa sih, umurnya? Jangan bilang dia tidak tahu umur istri sendiri. Dua puluh lima tahun, kan? Benar. Satu hal baru lagi tentang istrinya. Dia takut setan yang sepertinya tidak ada. Umbara tidak percaya setan itu benar ada.
Tapi, dia tidak mengatakan apa pun dan menuruti permintaan itu.
Dia pun mengambil duduk di samping Betari berbaring. Karena satu-satunya sofa di dalam kamar ini penuh dengan buku-buku dan majalah-majalah juga laptop milik perempuan itu—yang sangat berantakan. Dia gatal ingin merapikannya, tapi dia sangat mengantuk sekarang. Seharusnya kamar ini bukan menjadi kamar Betari, tapi kamar mereka. Dia memang sengaja membuat kamarnya—kamar mereka tidak banyak barang. Jadi dia hanya mengisinya seperlunya saja. Hanya sebuah kasur, sebuah meja nakas, sebuah sofa single, sebuah lampu tidur, dan sebuah walkin closet yang sangat sederhana. Dia suka kamar tidur yang rapi dan tidak menyesakkan.
Mengambil posisi seperti itu, keduanya seperti tidak ada rasa canggung. Atau mungkin saling menyembunyikannya.
“Kamu takut hantu.” Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Umbara. Suaranya berat sebagaimana orang mengantuk.
“Hem.” Betari mengangguk.
“Bukannya hantu itu nggak ada.”
“Kata siapa?” meski diucapkan dengan pelan, suaranya terdengar tidak terima. “Itu karena kamu belum pernah diganggu sama mereka aja atau belum pernah melihatnya jadi bisa bilang gitu.”
“Aku nggak bohong soal hantu di taman.” katanya. “Kamu boleh anggap aku salah lihat atau itu cuman halusinasi.” Dia pernah melihat beberapa setan sebelumnya. Salah satunya pocong merah yang membuatnya sangat ketakutan.
Umbara menoleh. Dan di bawah terangnya cahaya lampu dia mengamati wajah Betari yang terlihat kesal. Bibirnya mengerucut dan itu membuatnya tampak sangat imut.
Diam-diam Umbara memikirkan sesuatu.
Bukan kejengkelan perempuan itu.
Hangat sinar matahari pagi memasuki kamarnya, dan Betari merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Ah, rasanya seperti tubuhnya telah dibanting ke lantai keras, entah oleh siapa.
Sakit sekali. Sampai dia ingin menangis.
Bantal di bawah kepalanya agak keras, seperti daging yang liat dan hangat, Oh, ini bukan daging, ini seperti otot-otot yang kuat. Dia membuka matanya dan menemukan bahwa dirinya sedang tidur di lengan suaminya.
Eh.
Dia duduk dengan tiba-tiba tapi karena kakinya yang bengkak dan sangat nyeri membuat dia tidak bisa pergi dari sana.
__ADS_1