JODOH DARI NERAKA

JODOH DARI NERAKA
14. TIGA BELAS


__ADS_3

“Sagara kenapa?” tanya Umbara, laki-laki itu tiba-tiba muncul di dalam kamarnya dengan rambut setengah basah dan handuk menggantung di lehernya yang kokoh.


“Nggak tahu. Dari tadi nangis nggak mau diam.” sahut Betari, dia duduk di tepi ranjang sambil menggendong Sagara yang masih menangis dengan satu tangan mengelus lembut punggung bocah itu. Sementara wajahnya yang tidak tersentuh makeup terlihat sangat lelah. Umbara merasa sangat kasihan pada sang istri. Dia tahu mengurus anak kecil memang sangat melelahkan.


“Kamu udah coba kasih dia minum susu.” Umbara bertanya, kiranya Betari lupa mencoba hal itu.


“Udah, tapi dia malah lempar botolnya.” keluh Betari.


“Coba saya gendong dia.” Umbara maju mendekati Betari untuk mengambil Sagara dari dekapan perempuan itu dan berlalu menuju keluar.


Betari pun bangkit dari duduknya untuk menyusul Umbara. Ternyata suaminya itu membawa Sagara ke balkon dan bocah yang tadinya menangis itu kini mulai diam dalam gendongannya.


Dia berdiri bersandar di kusen pintu, memerhatikan Umbara yang sedang menunjukkan pada bocah itu bintang-bintang di langit. Entah bocah itu benar-benar mengerti atau tidak, tapi langit malam ini sangat indah.


Sagara sempat mengoceh tentang bintang-bintang di langit hingga akhirnya bocah laki-laki itu tertidur dalam gendongan Umbara.


“Dia udah tidur.” kata Umbara yang kemudian berlalu masuk ke dalam rumah. Dia menidurkan bocah itu di dalam kamar Betari.


Betari tersenyum sedih. Dia memandangi Sagara lama. Bocah itu yang tertidur terlihat sangat damai. Tangannya yang sejak tadi diam, mulai mengelus lembut kening bocah itu—menyingkirkan rambut-rambut yang menutupi di sana. Lalu mengecup kening Sagara dengan sayang.


“Kamu sudah makan?”


“Belum.” jawabnya lemah.


“Saya beli dimsum ayam. Ayo kita makan.”


Perlahan Umbara memegang tangan Betari dan membawa perempuan itu menuju meja makan.


***


Pagi itu, Umbara yang baru saja masuk ke dalam rumah setelah pulang dari lari pagi, dikejutkan dengan suara desisan masakan di wajan panas dan gerakan tumis menumis dari spatula. Dia juga menangkap harum dari roti dipanggang.


Kaki Umbara melangkah ke dapur dan dia hampir meragukan penglihatannya sendiri ketika matanya menangkap sosok sang istri dibalik meja dapur—sedang memasak sesuatu.


Umbara tercenung, memandangi punggung dan tangan Betari yang bekerja saat memasak. Ini adalah pertama kali Umbara melihat istrinya sibuk di dapur, selain memasak air untuk menyeduh teh.


Semakin hari, Umbara semakin menyadari kalau dirinya telah salah menilai perempuan itu. Ingatan Umbara terlempar kembali pada kejadian malam itu. Ketika dia untuk pertama kalinya berdebat dengan kedua orang tuanya. Karena dia merasa sangat marah kepada mereka, terutama pada sang mama yang telah memilihkan Betari untuk dijodohkan dengan dirinya.


“Kenapa mama dan papa menjodohkan saya dengan perempuan itu.”


“Perempuan itu namanya Betari, Bara.”


“Saya mau membatalkan perjodohan.”


“Kenapa? Apa Betari kurang cantik?”

__ADS_1


“Bukan.”


“Lalu apa?”


“Saya nggak suka dengan perempuan manja seperti dia. Dengar-dengar dia sering membuat masalah dan sifatnya juga sangat buruk.”


“Kalian baru bertemu sekali. Kenapa kamu langsung berpikir kalau Betari adalah perempuan seperti itu.”


“Sebenarnya, saya sudah bertemu dengan dia sebelumnya. Kesan dia dimata saya sangat buruk. Saya yakin dia hanya akan menyusahkan saya nantinya.”


“Kamu tidak bisa melabeli seseorang semudah itu, Bara. Kamu harus mengenalnya dulu, baru bisa bilang Betari itu perempuan seperti apa.”


“Benar, Bara. Papa setuju dengan ucapan mama kamu. Kehidupan pernikahan nggak ada yang mudah apalagi pernikahan perjodohan. Tapi papa percaya kamu akan menjadi suami yang baik. Ingat salah satu kunci keberhasilan yaitu sabar.”


“Kamu harus sabar, Bara. Pelan-pelan kebenaran akan terungkap.” ucap sang mama kemudian.


Lagi-lagi ucapan sang mama—benar.


Dengan langkah pelan dia mendekat sedikit dan berdeham. Betari berhenti bergerak dan menoleh ke belakang. “Udah balik.” ujarnya lebih seperti sebuah pernyataan, sebelum kembali memasak dengan tenang.


Umbara menatap Betari yang kini sedang meletakkan roti ke piring. Ada dua piring di sana dan masing-masing piring mendapatkan dua lembar roti.


“Kamu masak buat saya juga.” ujar Umbara agak ragu, dia menyadari ada dua piring di sana.


“Iya, buat kita berdua.” Betari lanjut mengambil beberapa butir telur dari dalam kulkas.


“Setengah matang.”


Betari selesai memasak telur dan memindahkannya ke piring. Setiap piring mendapatkan jatah dua butir telur. Lalu sebelum meletakkan piring mereka ke atas meja, dia menambahkan beberapa sayuran yang tadi sudah dikukus ke setiap piring.


“Lo mau mandi dulu atau makan dulu?” tanyanya. Dia melihat ke Umbara dan memberi laki-laki itu jawabannya sendiri. “Makan dulu aja, ya.”


“Saya cuci tangan dulu.” kata Umbara, kemudian pergi ke wastafel untuk mencuci tangannya.


Mereka pun lalu mulai makan dalam diam. Umbara mengunyah makanannya sambil diam-diam melirik Betari yang duduk di sampingnya, tanpa jarak seperti pertama kali mereka sarapan berdua di rumah ini. Mereka sudah sering makan bersama. Tapi, baru kali ini dia memakan masakan Betari.


Sampai kemudian, Betari berkata, “Pasti lo nggak nyangka kan kalau gue bisa masak.”


Umbara menelan makanannya. “Iya,” dia tidak ingin berbohong. Dia memang memandang sebelah mata pada perempuan itu. Tapi sekarang tidak lagi. “Saya nggak tahu kalau kamu ternyata bisa masak.” jelasnya kemudian.


Betari bahkan masih tidak meliriknya. “Yah, nggak heran sih. Udah kelihatan juga dari sikap lo. Apa lagi di awal-awal kita nikah.”


Umbara mengerjap pelan. Dia merasa bersalah pada sang istri. “Saya minta maaf.” katanya setengah berbisik.


Betari menoleh ke arahnya, masih dengan raut tenang. “Ngapain minta maaf segala. Lo kan nggak salah. Lagian, image gue emang buruk di mata orang-orang. Jadi ya, wajar aja sih kalau lo juga mikir gitu.” katanya dengan sangat santai. “Gue nggak pernah keberatan gimana orang-orang menilai gue.”

__ADS_1


Umbara terdiam. Dia tidak menyangka kalau ternyata Betari adalah orang yang cukup tahu diri. Dia pikir karena Betari suka mengatai orang seenaknya berarti adalah orang yang tinggi hati. Padahal yang Umbara dan orang-orang tidak tahu Betari tidak pernah sembarang mengatai orang, sampai menyamakan mereka dengan binatang kalau bukan mereka yang membuat masalah lebih dulu dan kalau minta maaf hanya formalitas.


“Lagian juga, pertemuan pertama kita kayak gitu.” Betari memiringkan kepalanya. “Lo nyebelin banget waktu itu.” tuturnya kemudian.


Umbara agak terperangah dengan pengakuan jujur itu, sampai tidak tahu harus merespons apa. Jujur saja, dia jadi ingin tahu semenyebalkan apa dirinya di mata perempuan itu dari pada merasa marah. Lagi pula, orang yang berterus terang lebih baik dari pada mereka yang hanya baik di depan dan menusuk di belakang. Dia tidak bisa menahan rasa penasarannya itu.


“Gara-gara lo kan gaun gue jadi basah.” bebernya. “Tapi yang paling menyebalkan sih, waktu lo bikin gue kelaparan dan bikin rambut gue bau rokok.” Betari menggigit habis rotinya.


“Saya minta maaf.” Akhirnya hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Umbara.


“Yah, telat banget.”


“Saya tahu.”


“Kalau gue nggak pernah ngungkit masalah ini, lo pasti nggak bakal bilang maafkan ke gue.”


“Mungkin.” ujar Umbara tenang. Sebenarnya, Umbara adalah orang yang memiliki gengsi tinggi. Sangat jarang dia mau minta maaf pada orang lain, kecuali hanya untuk formalitas. Tapi, entah setan baik mana yang telah merasukinya sampai-sampai dia sudah dua kali mengucapkan kata maaf kepada Betari, padahal belum ada satu jam mereka duduk bersama. Bahkan Umbara sendiri pun merasa heran.


“Kan lo itu emang nyebelin banget.” kata Betari sambil menyendok brokolinya.


Umbara tidak membalas. Dia hanya melanjutkan memakan sarapannya dengan wajah agak masam.


Tidak lama kemudian sarapan Betari habis. Dia pun beranjak dari duduknya dan meletakkan piring kotornya ke wastafel. “Oh, ya! Besok lagi nggak usah beli makan dari luar. Gue masakin. Sarapan doang, tapi. Dan lo yang cuci piring.” katanya, lalu pergi meninggalkan Umbara di sana.


***


Ketika Umbara baru saja selesai mencuci piring, Betari kembali sebentar ke dapur membawa Sagara, untuk kemudian menyerahkan bocah itu pada Umbara. “Tolong jagain Gara bentar. Gue mau mandi.” pinta Betari pada Umbara.


Selagi menunggu Betari selesai dengan urusannya, Umbara membuatkan Sagara susu dan sarapan.


“Om, Gara mau jalan-jalan keluar.”


“Iya. Gara habisin dulu makanannya. Setelah itu kita jalan-jalan.”


“Beneran ya, Om.”


“Iya,” Umbara tersenyum pada Sagara dan mengusap kepalanya. “Tunggu sebentar, Om mau terima telepon dulu. Bentar ya, Gara habisin makanannya.”


Umbara merogoh ponsel di dalam saku, lalu mengangkat panggilan yang masuk itu.


“Halo, Mas bara. Ini saya bik Atun...”


“Ya, Bik. Ada apa?”


“Ini saya di suruh ibu bantu bersih-bersih di rumah mas Bara. Tapi sama satpam nggak diizinin masuk.”

__ADS_1


“Ya, udah. Bik Aton pulang aja.”


Umbara langsung memutuskan sambungan sepihak. Seulas senyum miring terukir di bibirnya. Dia lalu berjalan menghampiri Sagara yang belum selesai makan.


__ADS_2