JODOH DARI NERAKA

JODOH DARI NERAKA
15. EMPAT BELAS


__ADS_3

Umbara sibuk meladeni Sagara yang terus mengajaknya berbicara tidak jelas. Mereka membicarakan ayam, kuda, lalu boneka domba milik Betari yang membuat Sagara kesal. Katanya, boneka itu tidak mau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bocah itu ajukan padanya.


“Om Bara dengerin Gara nggak, sih?”


Umbara yang duduk bersandar pada kepala ranjang terkejut mendengar bocah itu yang menarik ujung lengan kemejanya. “Eh? Iya, Gara. Om dengerin.”


“Kalau dengerin jangan sambil melamun.”


Umbara tersenyum memandangi bocah laki-laki itu. “Ih, kamu lucu banget.” Lalu, dia mencubit gemas pipi gembul Sagara yang kini masih berdiri di hadapannya. “Om nggak lagi melamun, Sayang.” Om ngantuk.


“Ya, udah. Sekarang om dengerin lagi cerita aku ya.”


“Siap.”


“Ok, good.”


Umbara diam menunggu.


“Aduh, Gara lupa deh tadi ngomongnya sampai mana, ya.” keluh Sagara dengan polos. Lalu dengan gaya dramatis bocah itu menepuk jidatnya sendiri.


Sementara Betari yang duduk bersila di atas sofa bak petapa, sibuk memelototi layar ponsel miliknya. Pada halaman blog bernama Haters Betari Angelica yang tidak sengaja kembali dia temukan ketika dia iseng mengetikkan namanya sendiri di halaman browser google di ponselnya. Yup, saudara-saudari, selain memiliki jutaan penggemar yang menjadi pengikutnya di Instagram, Tiktok, dan, Facebook serta 10 juta lebih subcriber di saluran Youtube-nya, Betari Angelica Salim juga memiliki banyak haters yang selalu siap mencibir dan mengolok-oloknya bahkan menghancurkannya kapan pun dan di mana pun. Hidup ini sungguh adil.


Ada foto seorang pria muda tampan dalam kostum koki serba putih dan celemek hitam, mengalungkan tangan di pundak seorang perempuan yang disandingkan dengan foto dirinya yang diambil diam-diam di—di manakah ini? Betari semakin memelotot . Yes, benar di depan gunung sampah. Sebuah judul tertulis besar di bawahnya:


Vino Risjad Rangkul Mesra Perempuan, Selamat Tinggal Betari Angelica! Go To Hell You *****!


PacarnyaJungkok: Gue salfok dong sama fotonya si *****. Di mana sih itu? Bantargebang nggak sih? Dasar sampah.


UmiKulsum: Gilaaa, gue seneng banget. Akhirnya chef Vino punya gandengan baru.


Arianagrande: Noh, yang suka bilang kalau chef Vino nggak bisa move on dari si *****. Mamam tuh!


Finafiola: Semoga mereka beneran pacaran. Si ***** ke neraka aja lo.


Aku_Salsa: Chef Vino makin hari makin ganteng aja. Jadi makin cinta.


Mamamuda: Lagi bayangin si Bicth guling-guling habis lihat foto Chef Vino sama pacar barunya.


Istri.mingyuu: Chef Vino you deserve the best. Dan lo Betari Angelica you go to hell, *****!


Roromendut: Yaawo yaawoo mereka mesra banget. Sekarang si ***** pasti lagi nangis bombai.


Wah! Kurang ajar!


“Nangis bombai pala lo!” geram Betari. Dasar netizen-netizen sok tahu!


Umbara tersentak kaget. Masih dengan mata setengah terbuka dia menoleh pada Betari yang duduk di depan jendela di samping tempat tidur. “Kamu kenapa?”


“Nggak papa.” Betari meloncat dari sofa dengan gerakan cepat. “Gue mau bikin mie pedes. Lo mau nggak?”


“Nggak.”


“Ya, udah. Lo bobok aja sama Sagara. Kalian cocok.”


Hah?! Nggak jelas.


Ngomong apa sih, dia? Umbara memberinya satu tatapan terakhir sebelum kembali menutup mata dan tidur.


Betari meluncur menuju dapur untuk membuat mie pedas yang dia inginkan. Dia sangat kesal dengan semua komentar-komentar di blog haters itu dan yang sangat dia butuh kan sekarang adalah pelampiasan. Dia harus melampiaskan kekesalannya sekarang juga, atau dia bisa menjadi lebih gila dari hanya sekedar misuh-misuh.


Aduh! Sekarang bukan saatnya untuk bertanya-tanya. Apalagi menyalahkan dirinya yang suka iseng membuka blog haters sialan itu yang semua isinya adalah makian dan sumpah serapah untuk dirinya.


Betari mengambil segenggam cabai setan dari dalam kulkas, sawi cina karena dia tidak suka sawi hijau, tomat, bawang bombai dan tidak lupa dua butir telur bebek. Oh, satu lagi... Sosis ayam. Di mana kah gerangan sosis itu. Jangan bilang kalau tadi dia tidak membeli sosis. Gah! Persetan dengan sosis ayam.

__ADS_1


Sekarang Betari menaruh semua bahan-bahan itu ke atas meja dan mulai memasak.


***


Di tengah lelap tidurnya, Umbara samar-samar mendengar bunyi ponsel. Tanpa membuka mata dia meraba-raba ranjang. Secara refleks, dia menjawab panggilan itu. “Halo?” sapanya lirih.


Lalu terdengar suara heboh dari seberang sana. “Bet! I miss you so badly!”


Umbara membuka mata kaget. Si penelepon terus berbicara tanpa jeda.


“Gue udah sampai di bandara. Nanti malam kita hangout di tempat biasa. Awas lo kalo telat. Bye!” Lalu sambungan telepon diputus.


Umbara melihat ponsel di tangannya dan menyadari kalau dia baru saja menjawab panggilan telepon milik Betari. Dia lalu meletakkan ponsel itu ke meja nakas dan melanjutkan tidur.


***


Hari sudah sore ketika Umbar terbangun dan dia mendapati Sagara masih terlelap dalam pelukannya.


“Lo udah bangun.” Betari keluar dari kamar mandi dan berjalan mendekati meja nakas di samping tempat tidur, langsung mengambil ponselnya.


“Jam berapa sekarang?” Umbara menarik tubuhnya dan bersandar di kepala ranjang.


“Enam.” katanya sambil memainkan ponsel. “Laper nggak?” dia mengalihkan perhatiannya pada Umbara.


“Nggak terlalu.” Jawabnya. “Kamu lapar? mau makan apa? Saya beliin sekarang.”


“Nggak usah beli. Gue masakin aja gimana?” Betari menatap Umbara. “Sebut lo mau dimasakin apa?” Apapun terserah lo gue bisa masak apa aja tinggal googling aja kan misal gue nggak tahu, tapi lo yang urus bawang. Gue kan males kalau waktu pegang wajah tangan gue bau bawang. Tahu sendirilah bau bawang tuh susah hilangnya.


Umbara menatap Betari. “Capcay, bisa.” sebutnya


“Boleh,” Betari melanjutkan. “Lo bantu cuci beras sama cincang bawang.”


Umbara setuju. Dia memang belum pernah mencuci beras, tapi mencincang bawang sepertinya mudah.


“Sama kupas wortel.” Betari menambahkan lalu berjalan melewatinya.


“Biarin aja. Dia nggak bakal bangun. Dia tuh kebo kayak bapaknya.” balas Betari tanpa menghentikan langkahnya menuju pintu.


Dengan pelan Umbara menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya dan turun dari ranjang. Dia yakin kalau Betarilah orang yang telah menyelimuti mereka.


“Lo cuci dulu berasnya” Betari menyodorkan mangkuk berukuran cukup besar yang berisi beras kepada Umbara.


Umbara menerima mangkuk itu. “Ini berasnya tinggal disiram pakai air aja kan?”


“Lo belum pernah cuci beras?”


Umbara mengangguk.


Alamak! “Sini gue ajarin.” Betari lalu menunjukkan pada Umbara cara mencuci beras yang baik dan benar. Bahkan mengajari suaminya itu memasak nasi dengan rice cooker—yang menurutnya sama mudahnya dengan membuat pop mie.


Betari kemudian menyerahkan dua siung bawang putih, sebuah bawang bombai dan gagang pisau. “Ini bawangnya dikupas dulu, terus dicincang. Kalau bawang bombainya diiris tipis-tipis aja.”


Umbara mengangguk dan mulai mengupas kulit bawang. Sementara Betari dengan lincah memotong sayuran dan bakso.


“Oh, ya. Gue hampir aja lupa. Tadi waktu lo tidur adik lo ke sini. Dia kasih undangan.” Betari mengambil udang dari dalam kulkas. Kemudian membersihkannya. “Undangannya gue taruh di meja ruang tamu.”


Umbara mengangguk dan mengucapkan terima kasih.


“Saya bantu apa lagi?”


“Kupas wortel.” Betari menyodorkan dua buah wortel berukuran sedang kepadanya.


“Nanti potong wortelnya agak tebel, biar renyah waktu dikunyah.” Betari menoleh sekilas, melihat Umbara mengupas wortel. “Lo juga belum pernah kupas wortel?” tebaknya.

__ADS_1


“Emmm....” Umbara mendongak.


Alamak! “Kupasnya itu tipis aja. Jangan tebel-tebel. Ntar habis wortelnya.”


Umbara mengangguk dan mulai mengupas lagi seperti yang dikatakan oleh Betari.


Selanjutnya, mereka tidak saling berbicara lagi dan Betari berkonsentrasi dalam proses pembuatan Capcay. Dia mengumpulkan bahan-bahan yang sudah dipotong-potong ke sebuah piring besar. Lalu mengabsen satu persatu. Brokoli, jamur merang, sawi, wortel, bakso ikan dan udang yang ditaruh di wadah berbeda. Betari meminta Umbara untuk menunggu sementara dirinya menyiapkan bumbu-bumbu dan mulai memasak.


“Kamu belajar masak dari nenek kamu?” tanya Umbara, dia memperhatikan bagaimana Betari dengan lincah menumis bawang. Dia tahu kalau kedua orang tua Betari sudah lama meninggal. Mungkin ketika perempuan itu masih kecil.


“Nggak.” katanya seraya menghirup harum yang menguar dari tumisan bawang. Lalu memasukkan udang ke dalam tumisan dan memasaknya hingga berubah warna, sebelum memasukkan bakso, wortel, jamur dan sawi.


“Fyi, nenek gue nggak bisa masak.” Betari sibuk membubuhkan saus tiram, kecap ikan dan garam ke dalam masakannya, disusul merica. Dia mengaduk perlahan.


Umbara jadi penasaran kira-kira dengan siapa Betari belajar masak. “Terus kamu belajar dari siapa?”


Adukan Betari berhenti selama sedetik, tapi Umbara tidak menyadarinya. Dia tidak menjawab. Dia justru meminta Umbara untuk mengambilkan larutan tepung maizena.


Umbara mengambil apa yang Betari minta. Tepung maizena di tangannya lalu berpindah ke dalam wajan.


“Gue belajar sama mantan gue.” Suara Betari tenang. Padahal hatinya menjengit kesal.


“Oh, mantan kamu—“


Betari memotong kalimat Umbara yang belum selesai. “Baunya sih udah harum.” Lantas menuang sedikit cairan kecokelatan dari sendok sayur ke telapak tangannya sendiri dan mencecapnya.


Betari mematikan kompor dan memindahkan capcay ke dalam piring saji dan menaruhnya ke atas meja. Bau harum masakan langsung menggoda hidung. Umbara mendadak lapar.


Betari duduk di samping Umbara. Mereka makan dalam diam.


Setelah selesai makan, Umbara mencuci peralatan sementara Betari menjawab panggilan telepon yang masuk.


“Halo.”


“Bet, lo di mana sih?”


“Di rumah. Kenapa?”


“Gimana sih lo. Buruan ke sini! Gue kan males banget kalau harus jadi obat nyamuknya Milky sama Vanila.”


“Nggak bisa.”


“Kenapa? Nggak diizinin lo sama suami.”


“Gue harus jagain Sagara.”


“Elah! Tuh kampret kebiasaan. Ke mana lagi, sih dia?”


“Kerja katanya.”


“Ya, udah deh. Gue kangen banget sama lo. Apa gue ke rumah lo sekarang.”


“Nggak usah.”


“Oke! Kalau gitu sampai ketemu di pestanya Starley besok malam. Lo dateng kan?”


“Of course.”


“Bye, Bet! Love you.”


“Bye, love you too.”


Betari mematikan teleponnya.

__ADS_1


“Jadi kamu masih punya pacar?” suaranya berat dan tanpa keramahan.


Betari menjengit kaget. Umbara tahu-tahu sudah berdiri di hadapannya ketika dia berbalik. Pria itu menatapnya. Rahangnya mengetat.


__ADS_2