
“Juhi, kenalan dulu dong sama tante Betari.” Baron Adiningrat berkata pada anak perempuannya—Juhi Adiningrat yang sekarang tengah memeluk lengan Umbara Atmojo dengan sangat posesif.
“Nggak mau.” tolaknya. Matanya melirik sengit pada Betari.
“Aduh, Juhi. Jangan bikin malu papa, dong. Kamu kan udah gede.” keluh Baron Adiningrat kepada anaknya. “Lepasin om Bara nya, di mau makan, Juhi.”
“Sorry, Betari. Jangan dimasukin hati ya, kelakuan anak gue. Dia udah dekat banget sama Umbara dari kecil jadi posesif gitu, deh.” kata Baron kepada Betari.
“Iya, santai aja.”
“Lo juga jangan cemburu sama anak gue.”
“Nggak lah. Cuman nggak nyangka aja ternyata saingan gue bocah SMA.” kelakarnya. Tentu saja ucapannya itu tidak serius.
Betari sama sekali tidak terganggu dan malah merasa kalau tingkah anak Baron sangat lucu. Dia seperti mendapat hiburan. Masih dengan bercanda dia lalu berkata kepada Juhi Adiningrat yang sekarang sudah melepaskan suaminya. “Di saat anak-anak lain pada rebutan Jungkok sama V BTS kamu malah naksir om-om. Padahal personel BTS itu ganteng-ganteng, loh.”
“Gantengan om Bara ke mana-mana kali.” sahut Juhi ketus. “Tante jangan pernah banding-bandingin om Bara sama mereka.” tegasnya kemudian.
“Tapi, V BTS itu ganteng banget, loh.” Betari menggumam sambil tersenyum membayangkan wajah Kim Taehyung yang menurutnya sangat ganteng itu. Jika menyangkut idolanya yang satu itu Betari sih tidak bisa menahan dirinya untuk berperilaku seperti para fangirl pada umumnya.
“Tetap om Bara yang paling ganteng.” Juhi Adiningrat membalas dengan kesal.
“Ngaco kamu, Umbara Atmojo yang mukanya lempeng kaku kaya batu gitu mana bisa kamu bandingin sama Kim Taehyung yang handsome and adorable.” celetuk Betari dengan santai. Sepertinya dia memang adalah seorang penggemar Kim Taehyung garis keras, deh.
Seketika itu juga tawa Baron Adiningrat pecah.
Masalahnya baru kali ini dia mendengar ada orang yang mengatai sahabatnya itu di depan mukanya sendiri. Dan hebatnya lagi orang itu adalah istri sang sahabat sendiri.
Biasanya orang-orang, terutama kaum perempuan selalu memuji wajah tampan sang sahabat. Bahkan tidak segan memanggilnya dengan sebutan ‘pangeran’. Anaknya sendiri saja tergila-gila dengan Umbara Atmojo, sampai-sampai ingin menikahi laki-laki itu. Awalnya Baron pikir itu hanya omong kosong anak kecil, rupanya dia salah. Makanya dia tidak memberitahu Juhi kalau Umbara telah menikah. Dia takut anaknya akan membuat malu, seperti hari ini misalnya.
“Emang bener, sih, kata Betari. Lo kaku kaya batu, Bar.” Baron berkata kepada Umbara yang tetap fokus memakan nasi gudeg miliknya, sama sekali tidak terpengaruh oleh kata-kata sang istri.
***
Begitu makanan Betari habis, Umbara yang lebih dulu selesai langsung mengajaknya pergi. Kebetulan juga Juhi Adiningrat sedang pergi ke kamar mandi. Jadi tidak perlu repot-repot kalau gadis itu merajuk. Pasti merajuk. Umbara hafal sifat anak Baron, yang pasti sangat mirip dengan ayahnya.
“Bye, Betari!” Baron Adiningrat melambaikan tangan. “See you soon!”
***
“Jadi, saya kaku kaya batu?” Umbara tiba-tiba bersuara
“Hah?” Betari yang akan memasang sabuk pengaman seketika menghentikan gerakannya dan menolehkan kepala.
__ADS_1
“Bukan apa-apa.” kata Umbara sejurus kemudian.
“Oh,”
Kemudian mobil pun melaju pelan, membelah jalanan.
Hari-hari berikutnya pun mereka kembali makan siang bersama.
***
Di tengah perjalanan pulang dari makan siang, Betari mendapat telepon dari sepupunya, Abrian Salim yang memintanya untuk datang ke rumahnya sekarang juga.
“Sekarang juga?! Nggak ada nanti-nanti.” Suara bernada memerintah Abrian Salim terdengar jelas di ujung telepon—bagai titah seorang raja yang harus dilaksanakan segera atau hukuman mati sudah menanti.
“Dasar manusia nggak jelas.” umpat Betari begitu Abrian mematikan sambungan teleponnya. “Pasti dia mau gue urusin si Gara lagi.” Tadi, sayup-sayup dia mendengar suara Sagara—anak Abrian menangis. Begini nih kalau punya sepupu nggak becus ngurus anak.
Benar saja dugaan Betari, baru saja dia turun dari mobil bersama sang suami, Abrian langsung menghampiri mereka bersama Sagara yang menangis keras di gendongannya.
“Eh, bapak nggak ada akhlak! lo apain anak lo, sampai dia nangis kejer gini.” omel Betari kepada sang sepupu. Kemudian dia merebut Sagara yang baru berusia tiga tahun itu dari gendongan Abrian.
“Aduh, sayang. Jangan nangis lagi, dong.” bujuk Betari dengan sabar. Sementara tangannya dengan lembut mengusap-usap pipi Sagara, membersihkannya dari air mata. “Keponakan tante yang paling cakep nggak boleh cengeng.”
“Papa jahat.” adu Sagara disela suara tangisnya yang mulai mereda.
“Iya, papa kamu emang jahat.” Betari mengiyakan ucapan sang keponakan.
“Gue nggak provokasi. Emang lo jahat.” sahut Betari yang kini mengelus lembut kepala Sagara, untuk menenangkan anak itu.
“Iya, deh. Terserah lo. Gue titip Gara ya. Soalnya baby sitter Gara baru berhenti hari ini.”
“Lo mau ke mana? Bukannya lo bisa titip Gara di rumah orang tua lo.”
“Nggak bisa. Mereka lagi di Solo, Merisa mau lahiran dan sialnya sore ini gue harus ke Pontianak, mendadak banget tadi ditelepon ada masalah di kantor sana. Ya, mungkin tiga harian deh. Boleh, ya? Soalnya Gara kan paling dekat sama lo, sepupu yang lain kan juga pada sibuk. Cuman lo yang kerjanya fleksibel.”
“Gue bukan tempat penitipan anak!”
“Udah, deh. Pokoknya gue titip Gara. Jangan lupa dikasih makan. Lihat tuh! Dia langsung anteng kalau sama lo.”
“Kenapa harus gue mulu, sih?”
“Nggak papa, anggap aja anak sendiri. Hitung-hitung latihan. Gue pergi sekarang, ya, Tar. Thank you, Mas Umbara!”
Abrian sudah berlari menuju mobil miliknya dan meninggalkan pekarangan rumahnya sendiri. Betari tidak bisa menolak karena sepupunya itu paling suka menelantarkan anak.
__ADS_1
Hadeh. Betari menghela napas berat.
“Gara ikut tante Tari pulang, ya.”
***
“Tante Tari?” panggil Sagara.
Betari menarik senyum memandangi Sagara yang duduk tenang di pangkuannya. “Iya? Kenapa, Sayang?”
“Gara, haus. Mau minum, Tante.” ujar Sagara.
Aduh! Minum ya? Sialan si Abrian mana dia nggak tinggalin apa-apa tadi. Emang nggak waras tuh monyet! Awas aja lo balik nanti, gue habisin lo!
“Iya, bentar ya, Sayang. Kita cari toko dulu buat beli minum.” kata Betari masih dengan suaranya yang lembut, sambil mengusap kepala Sagara.
Umbara yang sebenarnya sejak tadi diam-diam terus memperhatikannya—tanpa sadar menarik seulas senyum.
Lagi-lagi dia diperlihatkan sisi lain dari sang istri—yang awalnya dia pikir adalah perempuan menyebalkan dan berisik. Nyatanya hari ini dia melihat Betari yang bisa sangat lembut dan sabar pada anak kecil.
Dan lagi, Umbara kembali teringat ucapan sang mama pagi itu. Kamu hanya belum mengenal istri kamu, Bara.
Betari lalu berkata kepada Umbara. “Kita mampir ke toko peralatan bayi di depan itu ya.”
Umbara pun langsung mengangguk setuju.
Ketika Betari baru saja akan membuka pintu mobil Umbara langsung mencegahnya. “Biar saya aja yang beli. Kamu tunggu di sini sama Gara.”
Betari memicingkan mata kepada Umbara, dia ragu dengan tawaran sang suami.
“Beli minum buat Gara, kan?” katanya.
Tidak lama kemudian Umbara sudah kembali membawa sekotak susu UHT yang aman dikonsumsi anak-anak di atas 1 tahun. Dia juga membeli beberapa pakaian, susu dan makanan juga mainan untuk Sagara. Umbara tahu Sagara akan membutuhkan barang-barang itu nanti. Abrian tadi tidak ada meninggalkan apa pun untuk anaknya. Umbara juga pernah diposisi Betari. Dulu saat Juhi masih kecil Baron sahabat laknatnya itu juga sering menitipkan Juhi padanya untuk banyak alasan, untung ada mamanya yang mau menolongnya. Karena itulah kenapa Juhi sangat dekat dengan dirinya.
“Om, makasih ya.” ucap Sagara senang.
“Iya, sama-sama.” Umbara tersenyum.
Betari tertegun sejenak. Ini perdana dia melihat suaminya yang kaku itu tersenyum. Bahkan difoto pernikahan mereka saja ekspresi di wajah Umbara datar sedatarnya. Dia masih ingat bagaimana kesalnya Gendis Atmojo pada Umbara saat sesi pemotretan waktu itu.
“Gara suka susunya. Ini rasa cokelat nggak, sih?”
“Iya, rasa cokelat.” sahut Betari.
__ADS_1
Setelah tiba di rumah, Umbara membawa barang-barang keperluan untuk Sagara ke dalam rumah. Ketika dia akan masuk ke dalam mobil untuk pergi kembali ke tempat kerja Betari menghentikannya.
“Makasih banget, ya.” ucapnya dengan tulus.