JODOH DARI NERAKA

JODOH DARI NERAKA
33. TIGA PULUH DUA


__ADS_3

“Pagi, Mas Umbara!”


Seorang ibu-ibu tetangga sebelah rumahnya yang kalau tidak salah Umbara ingat namanya adalah Bu Lana, menyapanya ramah saat dia lewat di jalan di depan rumahnya.


Bu Lana yang kira-kira seumuran dengan mamanya itu, tengah menyiram tanaman di pekarangan depan rumahnya ditemani seekor Siberian Husky. Dan hampir tiap hari Bu Lana pasti akan menyapanya yang pulang jogging pagi.


“Pagi, Bu.” balas Umbara.


“Pulang jogging, ya?” tanya Bu Lana basa-basi.


Umbara mengiyakan sambil tersenyum basa-basi juga.


Apa yang tidak diinginkan Umbara pun terjadi. Bu Lana kembali bertanya, “Kok udah seminggu ini nggak pernah kelihatan? pergi liburan atau bulan madu lagi, Mas?”


Inilah salah satu alasan kenapa dia enggan dan malas bersosialisasi dengan para tetangganya lebih dari membalas sapaan standar mereka.


Orang-orang kebanyakan saking ramahnya sampai-sampai apa saja ditanyakan, tanpa peduli apa orang yang ditanyainya itu nyaman atau tidak, suka atau tidak dengan pertanyaan mereka yang seringnya berupa pertanya-pertanyaan ingin tahu urusan pribadi orang lain.


Demi Tuhan, Umbara malas meladeni Bu Lana ini, namun sekali lagi demi kesopanan, dia pun tidak lagi hanya memperlambat laju kakinya, dia menghentikan langkahnya dan menjawab singkat.


“Iya, Bu.”


Sebenarnya Umbara juga bingung dengan jawabannya sendiri. Kenapa dia menjawabnya begitu? Padahal dari dua pilihan yang Bu Lana tawarkan, antara liburan dan bulan madu, tidak satu pun menjadi alasannya dan Betari tidak pulang ke rumah selama seminggu ini.


Tapi beruntungnya Bu Lana tidak memedulikannya, atau pun menanyakan oleh-oleh dan kembali memberinya pertanyaan lain. Wanita itu lalu menanyakan beberapa pertanyaan standar tentang istrinya, seperti kabarnya dan kenapa istrinya tidak pernah ikut jogging—padahal pertanyaan itu sering ditanyakan oleh Bu Lana sendiri kepadanya dan Umbara selalu memberinya jawaban yang sama, bahwa istrinya tidak suka olah raga. Dan pertanyaan terakhirnya adalah tentang ibunya. Umbara tidak heran kalau Bu Lana mengenal mamanya atau sebaliknya, mamanya itu memang cukup sering datang ke rumahnya dan karena sifatnya yang senang bersosialisasi pasti mamanya itu pernah beberapa kali mengobrol basa-basi dengan Bu Lana ini dan tentunya tetangga lain.


Semua pertanyanya Bu Lana kemudian dijawabnya dengan diplomatis.


Setelah basa-basi yang ke sekian, Umbara akhirnya bisa meninggalkan Bu Lana.


Sekilas Umbara melihat beberapa ibu-ibu dan seorang perempuan muda yang semuanya tidak dia kenal—kecuali seorang ibu-ibu berambut blonde yang kalau Umbara tidak salah ingat lagi namanya Bu Jelita, pemilik rumah di depan rumah Bu Lana, yang juga sering bertegur sapa dengannya—mereka berkumpul di depan rumah di depan rumahnya.


Saat dia sampai di depan rumahnya, samar-samar dia mendengar suara seseorang yang menyebut namanya.


“Lah, itu pak Umbaranya sudah pulang.”

__ADS_1


Umbara pura-pura tidak mendengarnya, tapi saat dia hendak mendaki undakan tangga menuju teras rumahnya, seseorang lebih dulu berteriak memanggilnya.


“Pak Umbara!”


Mau tak mau Umbara menoleh.


Seorang lelaki berjalan menghampirinya, penampilannya rapi dari ujung kepala hingga ujung kaki, wajahnya bersih dan memiliki tato di tangan kirinya.


“Kenalkan, saya Vino.” Lelaki bertato itu mengulurkan tangannya. “Vino Risjad, tetangga rumah depan yang baru pindah.”


Umbara menjabat tangan itu.


Lalu lelaki tetangga barunya yang bernama Vino Risjad itu bercerita kalau dia sudah menunggu selama satu minggu untuk berkenalan dengannya.


***


“Itu kamu bawa apa?” tanya Betari yang melihat Umbara meletakkan sebuah keranjang rotan ke atas meja dapur.


“Oh, ini strawberry cheese cake dari tetangga baru depan rumah kita.”


“Iya, katanya dia kasih buat perkenalan ke tetangga baru.”


“Oh,” Betari mengangguk. Dia bisa mencerna maksud si tetangga baru itu dengan baik. Lalu kembali mengalihkan perhatiannya pada bumbu yang tengah ditumisnya di wajan, yang sudah mengeluarkan bau lezat dan mulai berwarna kecokelatan.


Kemudian, Umbara pergi ke kamar mandi di dekat dapur untuk mencuci tangan. Begitu selesai dia kembali lagi ke dapur untuk minum. Saat mengisi gelas dengan air, pandangan matanya beralih sejenak pada wajan di atas kompor.


“Kamu bikin nasi goreng?” tanyanya.


“Iya, Kamu mau makan dulu? Ini sebentar lagi matang.”


“Eum, saya mandi dulu saja.” Umbara menatapi Betari yang sedang membubuhi kecap manis pada nasi goreng di atas wajan. “Oh, ya. Om Romeo udah bangun?”Dia lebih memilih menyebut Romeo Salim 'Om Romeo' daripada ikut-ikutan Betari. Karena, entah mengapa ditelinganya 'Om Meo' terdengar seperti nama makanan kucing.


“Udah. Kayaknya dia lagi mandi deh. Kamu mandi aja di kamar aku. Nanti baju kamu aku ambilin.”


“Oh, oke.” Umbara mengangguk dan meletakkan gelas kosongnya. “Kalau gitu, saya mandi dulu.”

__ADS_1


Kemudian, Umbara naik ke lantai atas, sementara Betari menyelesaikan masakannya, begitu matang langsung memindahkannya ke mangkuk kaca besar dan meletakkannya ke atas meja. Dan untuk pelengkap dia menggoreng beberapa butir telur dan beberapa potong sosis. Setelah semuanya selesai, Betari menaruhnya ke atas meja dengan rapi dan menyiapkan peralatan makan. Lalu pergi ke kamar Umbara untuk mengambilkan pakaian pria itu.


Saat Betari akan masuk ke dalam kamar Umbara. Kebetulan pamannya yang baru saja selesai mandi, keluar dari kamar mandi yang berada di sebelah ruang baca. Karena hanya di kamar yang ditempati Betari yang terdapat kamar mandi dalam serta walk in closet.


***


Betari mendatangi lemari pakaian dan mengambil asal sebuah kemeja berwarna biru langit, sebuah celana kain dan tak lupa sebuah ****** *****.


Sementara, Romeo Salim sejak tadi hanya duduk di ujung ranjang, mengamati gerak-gerik sang keponakan dengan penuh pertimbangan. Semalam ketika dia membuka lemari pakaian dia terkejut karena mendapati barang-barang yang dia yakini milik Umbara ada di dalamnya. Dia pun tidak bisa tidak merasa ganjil. Meski dia dapat merasakan jika interaksi antara Betari dan Umbara tidak dibuat-buat karena ada dirinya bersama mereka.


“Kenapa pakaian laki lo ada di kamar ini.” tanya Romeo Salim pada akhirnya dengan to the point.


Betari kaget. Dia tidak langsung menjawab, karena dia tidak segera menemukan jawaban yang masuk akal. Dia lantas menutup pintu lemari dan berbalik dengan tenang, kemudian barulah dia berkata, “Karena udah nggak muat aja terus ditaruh di sini. Kan barang gue banyak.”


Itulah jawaban yang berhasil Betari temukan dengan cepat dan menurutnya (sedikit) masuk akal.


Romeo menyipitkan mata, curiga. Menatapi Betari.


“Jangan-jangan selama ini kalian sebenarnya pisah kamar.” ujarnya kemudian.


Dugaan itu sebenarnya sudah ada dalam kepalanya sejak semalam. Hanya saja, semalam dia tidak mendapati Umbara tidur di mana pun, (setelah dengan sengaja dia memeriksa seisi rumah) Kecuali mereka terpaksa tidur satu kamar.


“Nggak” nggak salah maksudnya. Tapi belum lama ini, “kita tidur sekamar, Om.”


Kening Romeo makin mengernyit. “Nggak yakin gue kalo lo jujur.” kata Romeo Salim sambil memperhatikan reaksi Betari.


“Ngapain juga gue bohong.” balas Betari dengan tenang.


Tapi Romeo Salim juga sangat mengenali keponakannya dengan sangat baik. Dia kemudian terlihat membuang napas.


Dan terlepas dari hubungannya yang kurang baik dengan sang ayah, Romeo dapat memahami pemikiran ayahnya dengan baik.


“Tari sebaiknya lo dengerin gue baik-baik.” Romeo Salim menatap Betari lurus-lurus. “Lo jangan naif.”


Betari tidak bodoh. Sehingga dia langsung mengerti maksud sang paman.

__ADS_1


Betari terdiam. Mungkin dirinya memang naif. Sehingga tidak mau menerima pernikahan yang sangat menguntungkan ini, hanya karena dia tidak suka diatur-atur oleh Juan Salim.


__ADS_2