JODOH DARI NERAKA

JODOH DARI NERAKA
30. DUA PULUH SEMBILAN


__ADS_3

Jangan lupa like dulu!


***


Tanpa permisi Romeo Salim menyerobot kue stroberi milik Betari yang tinggal setengah dan menyuapnya ke mulut dengan santai lalu berujar. “Sebenarnya gue udah sampai Indonesia dua minggu lalu, tapi gue ke Bali dulu buat liburan cantik. Niatnya sih gue mau stay lama di sana sekalian buat cari pacar baru yang mau nafkahin gue lahir batin, soalnya kan Umbara Atmojo calon pacar impian gue udah lo rebut. Ya, kali kan gue rebutan sama keponakan sendiri.”


Betari hanya merotasi bola matanya dengan jengah. Jelas dia tahu kalau Omnya yang satu ini kurang waras.


“Tapi setelah gue pikir-pikir lagi, enakan kalo gue numpang hidup sama lo.“ sambungnya.


“Dih! Enak banget.” cibir Betari.


“Ya, habis mau gimana lagi, chiiin.” sahut Romeo. “Gue udah berhenti dari The Sunday Time bulan lalu.” Akunya kemudian dan langsung mengimbuhi.


“Dan sekarang lo kan udah jadi istrinya Umbara Atmojo yang semua orang yang nggak kuper juga pada tahu sekaya apa dia yang perpaduan Atmojo dan Tohjaya. Emang, ya, mbah lo yang nyebelin itu pinter banget cariin lo suami. Duh, gue iri sekali sama lo. Coba aja dia beneran belok gue siap lahir batin buat jadi partner dia main anggar tiap malam. Masa bodoh deh gue sama keponakan gue yang jadi istrinya. Biar dia menangis meraung-raung di kamar sebelah.”


Lagi, Betari hanya memasang tampang jengah.


Romeo Salim berdeham dan kembali melanjutkan. “So—“


“Jadi sekarang om pengangguran, dong.” potong Betari. Malas banget kalau harus dengar ocehan omnya yang nggak pernah jelas. Belum juga ada semenit bilangnya nggak mau rebutan sama keponakan sendiri sekarang sudah ganti lagi.


“Yes, cyinn.” sahutnya singkat.


“Why?”


“Kenapa apanya?” Romeo mengambil topping buah stroberi yang tadi Betari abaikan—dengan jari tangannya yang besar, kemudian menggigitnya dengan santai.


“Ya, kenapa keluar?”


“Bosen aja.” sahut Romeo masih santai.


“Bisa gitu ya alasannya.” korek Betari yang merasa aneh saja, karena setahu dan seingat dia sih menjadi wartawan perang adalah mimpi sang paman sejak zaman dulu—sewaktu Betari masih bocah yang belum banyak tahu apa-apa dan bahkan setelah belasan tahun berlalu semenjak pamannya itu diterima di The Sunday Time dan dikirim ke negara-negara berkonflik di timur tengah sana buat meliput berita sampai pernah juga beberapa kali jadi sandera. Betari nggak pernah ada dengar kalau Romeo Salim menyerah dengan pekerjaan impiannya itu, malah yang ada sang paman selalu bilang kalau pekerjaannya sangat seru sekaligus menantang.


Kenapa sekarang tiba-tiba bilang bosan? Aneh nggak tuh?


“Emang kenapa kalo gue resign kerja karena emang udah ngerasa bosan aja sama kerjaan gue. Lagian juga gue udah terlalu banyak menghadapi bahaya dan kematian.” balas Romeo enteng.

__ADS_1


“Terus?”


“Apanya yang terus. Lo kira tukang parkir apa?! Terus. Terus.” sewot Romeo.


“Nggak ada. Tapi alasan om nggak banget. Coba, siapa sih yang dulu bilang nggak takut mati.”


“Jadi lo maunya gue mati?” simpulnya asal.


Betari memutar bola matanya jengah. Jangan kira bicara dengan Romeo Salim akan mudah. Kalau dirinya saja sudah sering dibilang absurd, maka pamannya yang satu ini lebih absurd lagi. Mungkin keabsurdan Betari juga gara-gara waktu kecil seringnya ngintilin Romeo ke mana-mana jadinya ketularan. Betari masih ingat, kejadian zaman-zaman dulu banget waktu omnya itu masih lurus. Pernah kejadian pacar Romeo yang namanya Sarah, minta putus karena setiap kali Romeo ngapel Betari selalu saja ikut bahkan mereka pernah gagal ciuman gara-gara Betari juga.


“Gue nggak bilang gitu, lho, Om.” balasnya kemudian.


Sebagai sahutan Romeo Salim hanya menggumam ‘Hem.’ sembari melahap habis sisa kue stroberi milik Betari. “Eh, ini kuenya enak, pesan lagi, dong.” perintahnya kemudian.


Di saat Betari mau memanggil seorang pelayan yang kebetulan lewat di dekat meja mereka, ponsel di dalam mini tote-nya berdering nyaring.


“Siapa?” tanya Romeo kala Betari mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya.


“Umbara.”


“Oh, suami lo yang tajir.” ujar Romeo dengan suara yang agak mendayu.


“Eh, passcode apartemen lo masih sama kan?” pertanyaan Romeo berhasil mencegah langkahnya. “Gue beneran loh soal mau numpang hidup sama lo.”


“Iya,” jawab Betari.


“Iya, apa?” sewot pamannya.


“Passcode-nya masih sama.” terangnya, kemudian menjelaskan bahwa sang paman tidak bisa tinggal di apartemennya karena dia sudah mengubahnya menjadi studio kerja sekaligus kantornya. Kecuali sang paman mau tidur di sofa atau di lantai.


Mendengar penjelasan itu Romeo Salim lantas mendengus sebal. “Gue emang udah biasa sih tidur di mana aja, tapi ya kali lo tega banget sama gue. Gue ini om lo kamprettt!”


“Ya, mau gimana lagi emang udah nggak ada kasur lagi di sana. Mending om Meo ke rumahnya Abrian aja.” sarannya kemudian.


Romeo Salim segera menolak sarannya itu. “Nggak.” katanya. “Dia sana ada bayi itu. Lo tahukan gue alergi sama bayi itu.”


“Ya, udah. Tinggal di hotel gampang kan.”

__ADS_1


“Lo yang bayarin.” putus Romeo cepat.


“Iihhh, enak aja. Bayar sendiri.”


“Gue nggak ada uang. Nggak usah pelit lo! Suami lo kan tajir melintir sampai turunan terakhir juga nggak bakal habis harta dia.” seru Romeo.


“Boong kalau Om nggak ada uang!” sambar Betari. “Nanti hilang tahu rasa.”


Romeo Salim tidak menjawab.


“Ya, udah ya om, aku balik dulu. Suami aku udah nunggu, tuh. Bye!”


“Wait!” cegahnya.


Betari menatap Romeo dengan alis bertaut. “Apa?”


“Gue harus kenalan dong sama suami lo. Meski gue udah nggak lagi dianggap anak sama si Juan Salim. Gue ini kan tetap om lo gimana, sih?” katanya lalu berbisik di telinga Betari. “Siapa tahu suami lo beneran doyan lekong.”


Betari terkesiap. What the hell!


***


Karena dinding bagian depan kafe Olivier seluruhnya adalah kaca, Umbara yang masih duduk di dalam mobilnya yang terparkir di depan kafe itu, dapat dengan sangat jelas melihat seisi kafe yang terang dan agak sepi pengunjung—mungkin karena ini Selasa sore dan di luar hujan gerimis, jadi dibanding nongkrong, orang-orang mungkin lebih memilih untuk langsung pulang ke rumah masing-masing—sehingga Umbara dapat dengan mudah menemukan sosok Betari yang tengah berpelukan dengan seorang pria.


Entah bagaimana Umbara mendapatkan informasi itu, atau lebih tepatnya entah bagaimana dia menyimpulkan bahwa Betari, istrinya itu masih menjalin hubungan dengan pria lain, maksudnya pacar perempuan itu sebelum mereka menikah.


Dan seingat Umbara, dia sudah beberapa kali memperingatkan perempuan itu untuk mengakhiri hubungannya dengan pacarnya, karena bagaimana pun juga dia tidak mau hubungan itu—kalau sampai ada orang lain yang tahu—tentu saja akan mencoreng pernikahan mereka. Dia tidak menginginkan skandal apa pun dalam pernikahannya.


Namun yang jelas Umbara tahu bahwa Betari bukan orang yang akan dengan mudah apalagi suka rela untuk tunduk dan patuh kepada suami sebagaimana para istri soleha di luar sana. Dan hal lain yang sama pentingnya ini—perlu dicatat dengan baik—bahwa dia, Umbara Atmojo bukan suami strict , apalagi suami rewel yang gila hormat. Umbara menginginkan hubungan yang saling mengerti satu sama lain di antara mereka, demi tercapainya rumah tangga yang sakinah mawadah warohmah seperti milik kedua orang tuanya.


Nanti dia akan membicarakan hal ini lagi dengan Betari. Karena semuanya bisa dibicarakan baik-baik, bukan? Tidak perlu ribut-ribut dan membuat masalah semakin runyam.


Dan tentu saja dia tidak perlu nekat menghampiri mereka di dalam, hal itu akan membuat tidak nyaman. Oleh sebab itu, dia memutuskan untuk menjadi suami bodoh yang pura-pura tidak melihat kalau istrinya baru saja berpelukan dengan pria lain. Terserah kalau ingin mengatainya pengecut atau apa pun.


Umbara pun lalu mengirim pesan bahwa dia telah sampai. Namun, setelah beberapa lama tak kunjung ada balasan—maka diteleponlah sang istri yang terlihat tengah asyik berbicara dengan pria asing itu.


“Halo. Kamu udah sampai, ya? Ok! Aku keluar sekarang.”

__ADS_1


Begitu sambungan telepon diputus, Umbara menyimpan kembali ponselnya dan dengan segera melepaskan sabuk pengaman lalu berpaling ke kursi belakang, mengambil payung yang biasa dia simpan di bawah kursi—sebelum keluar dari mobil untuk menjemput Betari agar perempuan itu tidak kehujanan.


__ADS_2