JODOH DARI NERAKA

JODOH DARI NERAKA
36. TIGA PULUH LIMA


__ADS_3

Gara-gara ucapan Jaka Atmojo yang entah disengaja atau tidak. Dalam sekejap percakapan di meja mereka yang semula hanya membicarakan hal-hal remeh temeh berubah menjadi sedikit panas.


Betari benar-benar tidak menyangka jika pertanyaan sejuta umat yang dilontarkan oleh tante Wening Atmojo—istri dari Jalu Atmojo, adik ketiga ayah mertuanya itu—akan berujung pada pembicaraan yang lebih mirip ajang penghakiman untuk suaminya.


Jelas dia ingin sekali menyalahkan Wening Atmojo yang memulai semua ini.


“Kamu jangan keras kepala, Bara.” Jalu Atmojo yang sejak tadi diam akhirnya ikut bersuara. Nada bicaranya meski terdengar santai tapi penuh penekanan, seperti orang yang ingin mendesak lawan bicaranya.“Sudah saatnya kamu berhenti main-main. Papa kamu sudah tua, Bara."


Umbara hanya diam. Dia malas menanggapi, sudah terlalu sering dia mendengar kalimat seperti ini dari para paman dan bibinya, yang memang senang mengurusi urusan orang lain.


“Saya heran sama kamu dan Jagad, kenapa tidak ada yang mau ambil alih kepemimpinan Rimba Buana.” imbuh Jaka Atmojo. “Sementara papa kamu hanya menginginkan salah satu dari kalian.”


Umbara masih setia diam.


“Apa sih bagusnya jadi seniman, Bara?”Apalagi kalimat ini. Sudah ribuan kali dia mendengarnya keluar dari mulut mereka.


“Kalau bukan karena nama besar keluarga kita, saya yakin patung-patung kamu itu tidak ada yang mau ngelirik apa lagi sampai beli. Kamu lihat, seniman-seniman seperti kamu di luar sana. Mereka kebanyakan hidup miskin.”


Umbara tetap diam. Ekspresi di wajahnya tidak terbaca.


Baginya semua yang dikatakan oleh paman dan bibinya hannyalah omong kosong. Dia juga tahu, mereka semua sebenarnya hanya senang memojoknya, menghakiminya.


Tapi dia paling benci dengan kalimat yang baru saja Jaka Atmojo ucapkan.


Tanpa sadar kedua tangannya terkepal di atas lutut. Bersamaan dengan itu dia merasakan tangan hangat milik ibunya yang sudah sangat dia kenali, mengusap satu tangannya dengan lembut. Sementara itu, ada tangan lain yang juga dia rasakan kehangatannya, bahkan telah melerai jari-jarinya dan menyusupinya dengan jari-jari ramping dan hangat yang kemudian disatukan dengan miliknya.


Betari menggenggam erat jari-jari Umbara dan berbisik di telinganya. “Ayo pergi.”


Umbara berpaling menatap mata Betari yang penuh keyakinan. Lalu mengangguk pelan.


***

__ADS_1


Mereka keluar dari ballroom hotel itu dengan wajah lega. Seakan mereka baru saja meloloskan diri dari sekawanan serigala liar yang ingin memangsa mereka dengan brutal.


Betari tidak melepaskan tangan Umbara dan mereka berjalan menuju pintu utama hotel, kemudian menyadari kalau mereka datang kemari dengan menumpang mobil ibunya.


“Kita bisa pulang naik taksi atau minta mang Ujang buat—“


Betari menoleh pada Umbara dan memotong ucapan suaminya. Perkara bagaimana mereka akan pulang, mau itu naik taksi atau apa pun itu urusan nanti. Sekarang dia memiliki urusan yang sangat penting: Betari lapar. Mereka meninggalkan pesta bahkan sebelum pesta itu dimulai jadi belum sempat makan apa pun, dia hanya minum beberapa teguk wine.


“Kamu lapar, nggak?” katanya.


Umbara mengangguk pelan.


“Ayo ke sana!” Betari menunjuk bangunan gedung mall di seberang jalan yang sangat ramai. Logo sebuah restoran cepat saji terlihat sangat jelas dari tempat mereka berdiri sekarang.


“McDonald?” tanya Umbara kemudian.


Betari mengangguk.


Mereka masih bergandengan tangan ketika akhirnya mencapai pintu masuk restoran cepat saji itu yang ternyata cukup ramai. Beberapa orang yang melihat mereka saling berbisik, ada pula yang mencibir dalam hati dan mungkin ada juga yang merasa iri karena mereka jomblo ngenes. Namun, Betari apalagi Umbara tidak peduli dan sepertinya memang tidak ada satu pun dari mereka yang berniat mengurai tautan tangan mereka bahkan hingga mereka sampai di depan kasir.


Umbara membiarkan Betari yang memesan makanan untuk mereka, sementara dia tetap berdiri bersamanya. Dia tidak akan keberatan sekalipun istrinya itu hanya akan memesan kentang goreng.


“Dua paket panas 1 sama 2 air mineral dingin ya, Mas.” kata Betari pada pelayan yang melayaninya.


Setelah menyelesaikan pesanan mereka dan menunggu beberapa menit, Umbara membawa nampan mereka dan mengikuti istrinya itu untuk mencari meja kosong dan duduk berhadapan.


Betari langsung membuka tutup botol air meneralnya dan meminum hingga setengah, lalu berkata. “Jalan dari hotel ke sini ternyata bikin haus, padahal juga nggak nyampe 5 menit.”


“Kamu emang gini ya orangnya.” kata Betari kemudian sambil menyuwir ayam gorengnya sebelum menyantapnya bersama nasi dan saus sambal.


Umbara mengangkat wajahnya dan menatap wajah Betari dengan kening yang mengerut samar. “Maksud kamu?”

__ADS_1


Betari mengunyah makanannya dengan hati-hati. “Tipe yang diam kalau lagi marah.” Lalu meralat. “Eh, bukan. Kamu emang orang yang nggak banyak bicara.”


Betari mengangkat pandangannya saat merasakan sentuhan lembut di ujung bibirnya dan dia membeku.


“Ada saus di bibir kamu.” ujar Umbara dengan tenang seraya menarik tangan kirinya dari bibir Betari, lalu mengelapkannya pada tisu.


Betari mengerjap. “Oh,”


Lalu mengalihkan pandangannya kembali pada ayam goreng di piring. Kalau dia pikir-pikir, akhir-akhir ini Umbara memang sering membuatnya canggung.


“Saya sudah enggak marah.” Umbara berkata tiba-tiba.


Betari kembali memandangnya. “Mereka emang sering gitu ke kamu?”


“Kadang,” ujarnya. “Tapi saya lebih sering enggak peduli.” Selama enggak ngungkit-ngungkit soal saya yang memilih menjadi seniman.


“Ada sesuatu yang kamu mau bicarakan?” Betari jelas tahu Umbara menyimpan banyak amarah terhadap para paman dan bibinya.


Biasanya dia tidak ingin tahu, juga tidak ingin peduli dengan urusan orang lain, dan Umbara meski adalah suaminya, dia selama ini merasa tidak perlu tahu semua urusan suaminya itu. Toh seperti rencananya, pernikahan mereka hanya akan ada selama satu tahun. Tapi kejadian tadi di pesta membuatnya tahu betul bahwa Umbara butuh melupakan sesuatu.


Betari tahu seperti apa rasanya ketika passion dan mimpi-mimpi apalagi kemampuan kita diremehkan. Kata-kata Jaka Atmojo bahkan lebih buruk dari kata-kata yang pernah Juan Salim katakan kepadanya.


“Katanya dengan bercerita kita bisa merasa sedikit lebih baik.” Betari menyuwir ayamnya yang tinggal setengah. “Perasaan atau kemarahan yang dikeluarkan akan membuat kamu jauh lebih lega.”


“Aku nggak akan maksa kalau kamu emang nggak mau cerita.”


“Maaf,” Umbara melanjutkan kembali sisa makannya.


“Ngapain kamu minta maaf.” Betari menghabiskan sisa makanannya.


“Kalau kamu butuh teman ngobrol, aku bisa jadi teman ngobrol kamu.“

__ADS_1


__ADS_2