JODOH DARI NERAKA

JODOH DARI NERAKA
31. TIGA PULUH


__ADS_3

Sesosok pria tinggi besar dengan cambang tipis, berpakaian kaos bergambar barong berwarna kuning cerah—yang terlihat sangat kontras dengan kulit kecokelatannya—yang ikut menghampirinya itu mengangkat tangannya dan memperkenalkan diri.


“Romeo.” katanya dengan percaya diri.


Umbara mengerjap. Berusaha terlihat biasa saja meski sebenarnya dia merasa tidak nyaman. Karena berkenalan dengan pria yang kemungkinan besar adalah pacar istrinya sendiri, sama sekali tidak ada dalam agendanya. Tapi untuk menjaga kesantunan, dia menjabat tangan itu, sambil dalam hati merasa lucu, atau mungkin lebih tepatnya miris. “Umbara.”


Kemudian Umbara dibuatnya semakin tidak nyaman, tapi terus berusaha bersikap biasa saja. Ketika Romeo Salim tanpa sungkan menatapnya dengan senyum-senyum sebelum akhirnya berujar. “Emang benar apa kata orang-orang terutama cewek-cewek tentang elo. Lo ganteng banget. Enak buat dijadiin objek lamunan di siang bolong.”


Dih! Dasar bencong, cibir Betari dalam hati.


Sementara, Umbara agak ngilu mendengarnya. “Terima kasih.”


“Terima kasih kembali.” balas Romeo. “Duh, kalo si bejat yang demennya main belakang itu dibandingin sama elo, jelas dia langsung terjun bebas sampai ke inti bumi dan terbakar habis karena kebetulan dosanya juga banyak.” imbuhnya.


Ucapan itu jelas saja membuat kening Umbara yang mulus, mengerut samar.


Sama halnya dengan Betari yang langsung terpancing emosi. Dia menghadiahi sang paman dengan pelototan tajam milik Suzana sang ratu horor yang satu pun filmnya tidak berani Betari tonton. Lalu berkata. “Udah kan Om kenalannya. Kita balik dulu.”


“Om?” gumam Umbara. Keningnya yang semula berkerut samar menjadi semakin jelas, tapi tidak ada yang menghiraukannya.


Betari lantas mengapit lengannya, seraya mengimbuhi ucapannya. “Kalau Om emang nggak ada duit ada hotel melati nggak jauh-jauh dari sini. Tinggal cari aja di google.”


Belum sempat Umbara mencerna apa pun. Romeo Salim sudah lebih dulu menceletuk. “Gue nginep di tempat kalian, ya.”


Hah?!


Apa?!


Pria yang disinyalir sebagai pacar Betari itu mau menginap di rumah mereka?! Yang benar saja. Demi Tuhan dan patung-patung binatang alas yang pernah dibuatnya. Umbara tidak tahu lagi harus bagaimana.


“Nggak!” tolak Betari tegas.


“Gue nggak akan ganggu kalian. Anggap aja gue cuman patung.”


“Bodo amat!” Betari buru-buru menggeret Umbara menuju mobil.


Uh, masalahnya bisa gawat kalau pamannya itu tinggal di rumah mereka. Bisa-bisa berantakan hidup mereka.


Dan percayalah, Romeo Salim tidak berniat untuk menyerah.


“Woi!” dia bergegas mengejar sambil menyeret dua buah koper besar miliknya, tanpa peduli kalau bajunya yang tipis kembali basah oleh rintik hujan.


***


Betari melirik Romeo Salim yang kini sudah duduk anteng di kursi penumpang belakang. Betari kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah umbara dan berkata dengan suara kecil, agar cukup Umbara saja yang mendengar. “Kamu yakin mau biarin dia tinggal sama kita.”

__ADS_1


“Cuman buat dua hari saja kan?” balasnya. “Lagi pula dia om kamu.”


“Iya, tapi dia bisa tinggal di hotel. Kita anterin aja dia ke hotel atau anterin dia ke rumah bapaknya sekalian. Percaya deh, Om Meo itu bakal ngerepotin.” Kalau saja dia tinggal sendiri, Betari sih bakal menampung Romeo Salim dengan tangan terbuka.


Betari melanjutkan sementara Umbara fokus mengemudi. “Lagian nggak ada kan kamar kosong yang bisa dipakai di rumah kamu.” Sebenarnya rumah itu memiliki 4 kamar tidur, tapi 2 kamar lainnya masih kosong, belum diisi perabotan sama sekali.


Rumah kita, ralat Umbara dalam hati.


“Om Romeo bisa tidur di kamar saya.”


“Kamu yakin mau tidur sama dia? Dia kayaknya suka deh sama kamu.”


“Eh.” Umbara terkesiap. Dia agak merinding.


“Kenapa? Kamu juga suka sama dia?”


“Hah?”


“Om Meo itu lekong.” Betari berdeham. “He is a gay ultimate anjing.” Tegasnya kemudian.


Dan dugaan Umbara soal gelagat ganjil Romeo Salim pun terkonfirmasi.


Romeo Salim yang sudah sejak tadi mengamati keduanya, berdeham lalu mencibir. “Bisa nggak, lo nggak usah bisik-bisik. Gue juga mau dengar, Tar!”


Diam lo dasar bencong ngerepotin!


Kabar buruknya, aksi adu mulut itu berlangsung sepanjang sisa perjalanan.


Umbara hanya diam, dan pura-pura budek, karena melerai pun rasanya sia-sia.


Tidak lama kemudian, mobil meluncur memasuki gerbang perumahan town house mewah Bhumi Permai Residence, melewati deretan rumah mewah dengan desain serupa dan berhenti di carport rumah nomor 29 B milik Umbara. Bersamaan dengan itu Romeo dan Betari akhirnya diam.


Umbara diam-diam mendesah lega sambil mematikan mesin mobilnya.


“Pokoknya kamu yang urus dia.” Betari memperingatkan Umbara sebelum mereka turun dari mobil dan Umbara membantu Romeo menurunkan kopernya dari bagasi mobil.


Romeo menyeret satu kopernya mengikuti Betari melewati pekarangan depan rumah yang gersang dan masuk ke dalam rumah. Sementara kopernya yang lain dibawa Umbara. Sudah macam porter saja kan si Umbara ini.


“Tari! Bikinin minum dong gue haus.” Romeo berseru layaknya bos besar kepada pelayan


Meh! Baru juga masuk rumah, gerutu Betari dalam hati.


“Bikin sendiri!” balas Betari dengan kesal.


“Mana ada tamu yang bikin minum sendiri.”

__ADS_1


“Emang Om tamu?!”


“Menurut lo?!”


“Malah bales nanya.” dengus Betari.


“Om mau minum apa biar saya bikinin.” Umbara menengahi mereka


Romeo Salim mendelik. “Duh, Umbara. Please jangan panggil gue om. Berasa tua banget gue kalo lo yang panggil. Kita kan hampir seumuran panggil nama aja.”


“Okay.” Umbara mengangguk daripada diajak ribut.


“Betewe, kamar gue di mana?”


“Di kebon belakang.” Betari lebih dulu menjawab.


“Ada di atas.” kata Umbara.


Romeo mengangguk. Lalu kembali berseru kepada Betari.


“Oh, ya, Tar! Gue mau sup Tom yam buat makan malam. Lo yang masak kan?”


Betari yang hendak menuju kamarnya di lantai dua, menoleh. “Tamu nggak diundang jangan bayak permintaan. Ingat! Siapa tadi yang bilang anggap aja gue patung. Patung nggak ada yang makan, Om. Dikasih sajen juga bakal didiemin.” Lalu beberapa detik kemudian telah menghilang di ujung tangga.


“Cih!”


Romeo lantas menoleh pada Umbara. “Keponakan gue nyebelin, ya.”


Eh? Umbara tak lantas menjawab.


“Dia pasti jauh banget dari kriteria istri idaman lo, right?”


Umbara diam. Tak memungkiri apa yang baru dikatakan oleh Romeo. Meski dia tak begitu yakin seperti apa istri yang dia inginkan. Dia tak pernah menginginkan istri yang cantik jelita dan anggun perangainya, atau yang cerdas dan pemberani. Mungkin cukup dengan seorang perempuan yang dia cintai dan mencintainya, seperti apa pun kelakuan dan rupanya tidak akan menjadi masalah. Dan perempuan itu jelas bukan Betari. Mungkin tidak untuk saat ini atau...


Namun dia tak bisa menolak apa yang sudah ditakdirkan untuknya, lebih tepatnya apa yang diinginkan oleh kedua orang tuanya.


Dia hanya bisa menjalaninya. Karena dia tidak ingin mengecewakan ayah dan ibunya.


Mungkin untuk saat ini Betari bukan perempuan yang kamu inginkan untuk menjadi istri kamu, tapi tidak dengan di masa depan. Mama yakin kamu akan menginginkannya karena kamu mencintainya.


Mungkin ibunya benar. Dia akan mencintai Betari nanti. Karena mungkin yang ayahnya katakan juga benar.


Kamu jalani saja dulu. Cinta tumbuh karena terbiasa.


Cinta tumbuh karena terbiasa.

__ADS_1


Umbara mengerjap.


Romeo Salim baru saja mendaratkan sebuah tepukan di bahunya. “Jadi, bisa bikinin gue teh susu.”


__ADS_2