JODOH DARI NERAKA

JODOH DARI NERAKA
12. SEBELAS


__ADS_3

Siang pun tiba. Betari tengah fokus membaca naskah mini web series pertama mereka—yang baru sekitar lima menit lalu selesai ditulis oleh Dadung dan langsung diserahkan kepadanya dan Lala. Sementara Lala yang baru membacanya sekilas langsung tidak menyukainya.


Lala dan Dadung pun kemudian berdebat sengit. Sedangkan Betari yang duduk di antara keduanya sama sekali tidak berniat untuk melerai. Dia terus membaca naskah itu hingga selesai, kemudian meletakkan tablet di tangannya ke atas meja. Bersamaan dengan itu ponselnya yang juga ada di atas meja berdenting, menandakan ada sebuah pesan masuk.


Betari tidak pernah mengabaikan setiap pesan yang masuk, takutnya ada yang penting. Dia lalu melihat sekilas layar ponselnya yang menyala.


Dari nomor tidak dikenal: Saya sudah sampai.


Kedua alis Betari sempat bertaut. Sebelum benar-benar mengabaikan pesan aneh dari nomor asing itu. Dia paling benci pesan nyasar apalagi pesan dari pinjaman online dan sejenisnya, atau dari laki-laki tidak jelas yang niatnya mau pedekate, nomornya bakal auto dia block. Betari sebel kalau didekati laki-laki tidak jelas ataupun yang bukan tipenya.


“Gue suka naskah lo, Dung.” kata Betari kemudian, masih duduk bersandar pada kursinya.


Lala menangkap seringai kemenangan di wajah Dadung saat Betari mengatakan kalimatnya tadi.


“Nggak waras lo, Bet. Naskah jelek gitu masa lo suka?!” protes Lala. “Ini project pertama kita loh, Bet. Kita kudu bikin yang terbaik dong.”


“Ya, makanya lo baca dulu naskahnya sampai habis.” kata Betari. Sebenarnya dia tahu alasan Lala tidak menyukai naskah itu.


Betari akui Dadung benar-benar niat buat mengajak Lala ribut.


“Nggak perlu.” tolak Lala.


“Kok, nggak perlu, sih?” tanya Betari retoris. “Kalau gitu lo nggak bisa dong seenaknya bilang kalau naskah dia jelek.”


“Tuh, dengerin, La.” ujar Dadung mencemooh Lala.


“Apa jangan-jangan lo baper?” goda Betari kemudian. Jelas dia ada dipihak Dadung. Bukan semata karena naskah tulisannya benar-benar bagus dan menarik. Tapi, dia juga ingin membantu laki-laki itu.


Lala yang akan berjalan menuju pantri pun menghentikan langkahnya dan berbalik. “Gue baper?! Yang benar aja, dong, Bet.” katanya agak sewot.


“Lah, kok lo sewot?!” balas Betari. “Bilang aja lo baper kan?”


“Nggak lah.” kilah Lala. “Laper, sih, iya.”


“Ayo, guys kita makan bakso pak Kriting! Gue yang traktir” kata Dadung bersemangat kepada semua orang. Dia pun berdiri dari kursi kerjanya.


“Wah! Serius mas Dadung mau traktir kita?” tanya Hasra.


“Mas Dadung lagi ultah, ya?” sahut Malik. Pasalnya Dadung sangat jarang mau mentraktir teman-temannya, kecuali Lala.


“Nggak, sih. Cuma lagi senang aja gue.” Jawab Dadung dengan tersenyum misterius. “Ayo, buruan keburu habis baksonya.”


“Siap, Mas.” sahut Hasra dan Malik bersamaan.


“Yuk, yuk! Kapan lagi kan gue ditraktir sama Dadung.” seru Betari lalu bangkit berdiri sembari meraih ponselnya dari atas meja.


Pada saat itu ponsel Betari kembali berdenting dan menyala. Sebuah pesan dari nomor asing yang sama kembali masuk. Dia membaca sekilas pesan itu: Saya tunggu kamu di lobi.


“Lo kan boss, Bet! Bayar sendiri, ya.” sahut Dadung dengan bercanda.


Betari mengabaikan pesan itu, dan memilih menjawab Dadung. “Ya, elah! Nggak usah pelit-pelit lo sama gue, Dung. Kuburan lo sempit tahu rasa.”


“Ayo, mbak Lala!” Tina menarik lengan Lala—yang saat ini menjadi semakin kesal. Dia benci Dadung yang menyebalkan itu, terutama senyumnya. Lala benci melihat Dadung tersenyum. Dia lebih benci lagi kalau Dadung dan Betari bersekongkol untuk memojokkannya, seperti saat ini.


“Gue nggak ikut.” kata Lala pada Tina.


“Kalau lo nggak ikut berarti secara nggak langsung lo ngaku, kalau lo baper sama naskah yang dia tulis, dong.” goda Betari dengan tersenyum mengejek.


“Lo bisa nggak sih ganti temanya.” kata Lala, berjalan mendekat pada Betari. “Apaan coba kisah belum usai? Lo sama si Dadung pasti sengaja kan?”


“Emang yang kisah cintanya belum usai cuman mbak Lala sama mas Dadung, doang?” celetuk Kesya.


“Bu boss sama pak Vino kan juga belum selesai.” sambung Tina, yang seketika langsung dipelototi oleh Kesya.


“Ups, keceplosan.” Tina refleks membekap mulutnya sendiri dengan tangan. Lalu meminta maaf pada Betari. “Sorry, Boss.”

__ADS_1


“Santai, Tin. Gue nggak baperan kayak si Lala.”


“Ya, jelas lah lo nggak baper. Dadung kan nggak nulis cerita lo sama si Vino.” kesal Lala pada Betari.


“Mbak Lala kalau masih cinta sama mas Dadung, kenapa nggak balikan aja, sih?” celetuk Tina blak-blakan.


“Tahu, nih! Mbak Lala. Kan mas Dadung udah ngajakin balikan terus. Tapi masih aja nggak mau.” timpal Kesya.


“Ihh, mbak Lala, gimana sih. Nanti kalau diserobot orang lain baru nyesel loh.” kata Tina geregetan.


“Diam deh lo pada!” marah Lala.


“Gitu aja marah.” seru Betari, yang kemudian mengajak ketiga perempuan itu untuk segera menyusul Dadung dan yang lain.


Ketika Betari sampai di lobi bersama ketiga anak buahnya, dia dikejutkan oleh sosok suaminya.


Seketika itu juga Betari mengumpati dirinya sendiri.


Sial!


Demi Tuhan Yang Maha Esa. Betari yang selalu dipuji oleh anak buahnya sebagai orang yang memiliki daya ingat di atas rata-rata itu, merasa sangat bodoh sekarang. Entah bagaimana dia bisa lupa dengan ajakan makan siang laki-laki itu.


Umbara Atmojo tengah berbicara dengan kepala pengurus gedung yang ditempatinya sebagai studio itu—tepat di samping pintu keluar lobi—tiba-tiba membalikkan badan dan memanggil namanya. “Betari!”


Detak jantung Betari berhenti sedetik. Umbara Atmojo—sang suami menatapnya lurus.


Oh, my god!


Betari pun seketika dilanda panik. Dia belum siap untuk menerima segala kemungkinan buruknya.


Dari balik punggungnya, Betari dapat mendengar Tina berbisik kepada Kesya. “Siapa? Pacar barunya Bu bos, ya? Ihh, ganteng banget mirip Chris Evans.”


Sementara Lala yang berjalan di sampingnya menyenggol pelan lengan kirinya. “Pacar baru, Lo?” tanyanya setengah berbisik.


Betari menoleh pada Lala dengan mata melotot, menyuruhnya untuk diam.


Sebelum keadaan semakin kacau. Karena dia tahu mulut ketiga anak buahnya itu tidak bisa diam.


Betari menghampiri sang suami dan langsung menuntunnya pergi.


...***...


Kalau tahu sang suami bakal membawanya makan di resto ini. Betari sih bakal menolak mentah-mentah daripada menyetujuinya dengan melontarkan satu kata sejuta makna yang lebih sering digunakan oleh para perempuan—termasuk dirinya dan buka hari ini saja—untuk membuat para laki-laki resah sampai sakit kepala berlebih—terserah, kata ajaib yang bisa jadi bakal menghasilkan sesuatu yang menyenangkan atau malah sebaliknya, menjengkelkan—seperti yang didapatkannya kali ini.


“Selamat datang di Emprit Emas.” Seorang perempuan muda dan cantik menyambut mereka dengan senyum. Kemudian menunjukkan sebuah meja kosong di dekat kolam ikan.


Ingin rasanya Betari melayangkan protes. Dia memiliki segudang kalimat protes yang siap meluncur dari mulutnya—seperti...


Kenapa kesini sih?


Harus banget gitu makan disini?


Emang nggak ada tempat lain?


Atau,


Gue nggak doyan makanan jawa.


Atau,


Terserah kan nggak berarti harus kesini juga!


Atau,


Gue lagi nggak pengen mengenang masa lalu.

__ADS_1


Tapi , Betari malas ribut.


Emprit Emas sudah lama masuk ke dalam daftar hitam Betari. Bukan karena masakannya tidak enak, atau, pelayanannya kurang baik. Tapi... Resto dengan bangunan joglo yang menjual makanan khas Jawa itu.... Ah, sudahlah! Betari benci kalau dia harus mengingat kenangan bersama orang itu. Mendengar namanya disebut saja sudah membuat kupingnya sakit.


Seorang pelayan menghampiri. “Selamat siang, sudah nyaman duduknya?”


Umbara tidak melihat buku menunya sama sekali dan langsung menyebutkan pesanannya. “Nasi gudeg krecek telur dada.”


“Kamu mau pesan apa?” tanya Umbara.


“Gue samaan aja.” Rasa laparnya hilang entah ke mana.


“Gue pipis dulu.” pamitnya. Kemudian berlalu menuju kamar mandi yang letaknya jelas dia hafal.


Di kamar mandi setelah buang air kecil, Betari berdiri di depan wastafel dan menyalakan keran untuk mencuci tangan.


“Hayoo! Ada yang kemakan sumpahnya sendiri, nih?”


Betari menjengit kaget, tidak sadar kalau sudah ada seseorang yang berdiri di belakangnya. Dia berbalik badan dan mendapati Starly Tan—temannya sejak zaman kuliah itu tersenyum jahil.


“Jadi, kalian balikan?” tebaknya.


“Najis!” Betari mendesis pelan.


“Iih, kecewa dong gue.” sahutnya dengan ekspresi kecewa yang dibuat-buat. “Terus lo ngapain dong kesini?”


“Makanlah. Ngapain lagi.”


“Heh, bukannya lo yang bilang sendiri, eh, bukan, tapi lo sampai bikin sumpah waktu itu kalau lo nggak bakal kesini lagi selama-lamanya.”


“Gue terpaksa.”


“Masa, sih, terpaksa?” balas Starly. “Terpaksa samperin manta karena masih suka kangen.” godanya kemudian.


“Nggak jelas banget sih lo. Gue duluan.”


“Ok, see you, Baby!” Starly Tan melambai manja. “Jangan lupa buat dateng ke ultah gue minggu depan.”


“Noted.”


Betari meninggalkan kamar mandi dan bergegas kembali hanya untuk menemukan suaminya sedang berbicara dengan seorang remaja berseragam putih abu-abu.


“Om Bara, dia siapa?” tanya si remaja putih abu-abu begitu menyadari kehadiran Betari yang menarik kursi di depan mereka.


“Istri om.” jawab Umbara dengan sangat tenang.


“Istri?” si remaja hampir menjerit. Dia bolak-balik menatap Umbara dan Betari.


Sementara, Betari yang menyadari sesuatu dan memang dasarnya jahil tersenyum sangat manis kepada gadis itu sembari menyapanya ramah. Tapi, sama sekali tidak dipedulikan. Lucu.


“Om kapan nikah?! Kok aku nggak tahu.” katanya dengan marah.


“Salah sendiri kamu malah pergi ke Amerika sama mama kamu, jadi nggak tahu kan kalau om Bara nikah.” Baron Adiningrat tahu-tahu menghampiri meja mereka.


“Kok papa nggak kasih tahu aku, sih. Nyebelin.” katanya lagi dengan marah. Tangannya dilipat di depan dada, sedangkan wajahnya yang cemberut dipalingkan dari sang ayah.


Betari tidak tahan untuk tertawa. Dasar bocah...


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Biar aku makin semangat buat update.

__ADS_1


Xoxo.


__ADS_2