JODOH DARI NERAKA

JODOH DARI NERAKA
20. SEMBILAN BELAS


__ADS_3

Pada akhirnya Umbara memutuskan untuk tidak ambil pusing perihal dua foto yang dikirimkan oleh anak sahabatnya itu. Toh dia bahkan tahu kalau istrinya itu masih punya pacar ketika menikahinya dan seberapa keras Umbara menyuruhnya untuk meninggalkan laki-laki itu, istrinya jelas sekali tidak mau mendengarkannya.


Jadi untuk apa dia masih merasa kesal?


Mungkin saja laki-laki dalam foto itu memang pacarnya. Yang jelas, siapa pun laki-laki itu tidak akan mengubah apa pun.


Maka untuk menenangkan keadaan dia mengatakan pada Juhi bahwa pria itu adalah teman istrinya dan dia juga mengenalnya. Berharap gadis remaja itu akan mengerti .


“Mas Bara.”


Suara cempreng Bik Atun yang memanggilnya, menyadarkan Umbara dari lamunan.


“Ya. Ada apa, Bik.” tanyanya kemudian.


Bik Atun buru-buru berkata, “Tuh, mbak Tari sama ibu udah pulang.”


Umbara melihatnya. Mamanya dan istrinya berjalan bersama masuk ke dalam rumah.


“Kamu udah pulang?” mamanya lebih dulu bertanya.


“Ya.”


“Tumben. Udah nggak sibuk kamu?” mama duduk di sofa di hadapannya. Bicaranya sengaja dibuat menyindir.


“Harusnya masih.”


Gendis memiringkan kepalanya, dengan ekspresi bingung yang aneh.


“Saya masih ada 5 pameran lagi yang harus diurus, Ma.”


“Hem.” Gendis menggumam, lalu berkata, “Jadi setelah 5 pameran itu selesai kamu akan bawa istri kamu pergi bulan madu, kan?”


“Nggak.”


“Heh!” Gendis memelotot kepada Umbara. “Gimana sih kamu?”


“Saya akan bikin pameran saya sendiri, Ma.”


“Alasan saja terus kamu.”


Melihat wajah mamanya yang semakin galak, Umbara kemudian menjelaskan. “Sebenarnya saya sudah lama merencanakannya, bahkan sebelum mama menyuruh saya menikah.”


Gendis Atmojo tidak terima. “Kamu kan bisa tunda dulu.” katanya. “Seminggu atau dua minggu nggak akan masalah, Bara.”


“...”


Betari yang sejak tadi diam, memanggil mama mertuanya. “Ma...”


Gendis Atmojo berpaling dengan malas ke arah menantunya, yang duduk di sampingnya. Dia sebenarnya tahu kalau dua orang itu sama-sama tidak menginginkan pernikahan ini. Tapi lebih mudah baginya untuk membujuk Umbara untuk menerima pernikahan ini—eh, bukan pernikahan ini, tapi menerima Betari. Umbara sangat pengertian dengan dirinya dan Gading, sehingga anaknya itu dengan mudah mengiyakan permintaan mereka dengan sepenuh hati. Sementara Betari...

__ADS_1


Hadehhh!


Dia itu sulit diatur dan maunya menang sendiri. Entah bagaimana cara Juan Salim membuat cucunya itu tidak berani menentangnya. Meski begitu Gendis tahu kalau sebenarnya Betari adalah orang yang baik. Hanya saja tidak banyak yang tahu. Kalau tidak dia pasti akan berpikir jutaan kali untuk menjadikannya istri Umbara.


“Kenapa?” Gendis bertanya dengan kesal. “Kamu mau ikut-ikutan sibuk juga kayak suami kamu.”


“Nggak, Ma. Tapi aku beneran sibuk. Minggu depan aku dan tim udah mulai produksi buat mini web series pertama kita. Dan rencananya akan ada setidaknya satu mini web series yang akan tayang setiap minggunya. Nanti kalau udah tayang mama jangan lupa nonton.”


Gendis mendesah kesal. “Kalian benar-benar keterlaluan.”


Umbara tidak mengatakan apa pun. Sementara Betari menguap lebar lalu mengatakan pendapatnya kepada Gendis Atmojo, “Aduh, Ma.. Lagi pula buat apa pergi bulan madu segala, hanya akan buang-buang waktu dan uang, kan.”


Gendis menatap Betari dengan tidak senang. “Jadi menurut kamu begitu?”


“Ma...” Betari mendekati mama mertuanya dan mengelus punggung tangannya. “Aduh, mama jangan marah, dong.”


Gendis Atmojo menghela napas. Ya, sudahlah... rencananya kali ini telah gagal. Bagaimanapun dua lawan satu yang menang dua.


Mungkin dia harus lebih sabar. Waktu yang mereka miliki masih panjang.


Gendis berbisik kepada menantunya. “Kamu jangan curang, Tari.”


“Bukankah kita nggak pernah membuat peraturan apa pun, Ma.” sahut Betari mengingatkan.


“Hem.” Gendis menggumam. Ada seringai samar di sudut bibirnya. “Kamu pasti akan kalah, Tari.”


“Kita lihat saja nanti, Ma.”


“Dia juga nggak bakal suka sama aku.”


“Kalau gitu kamu yang akan suka sama dia.”


“Tapi pada akhirnya kita tetap akan cerai juga.”


Umbara yang melihat dua orang di hadapannya saling berbisik hanya bisa mengerutkan kening dan detik berikutnya berkata bahwa dia akan kembali kerja.


Tidak lama setelah Umbara pergi, Gendis Atmojo pulang dengan mengajak bik Atun bersamanya.


Setelah semua orang pergi Betari merebahkan tubuhnya di atas sofa dan mematikan televisi yang menyala. Dia merasa tidak enak badan, kepalanya semakin pusing, perutnya yang penuh terasa sesak dan membuatnya tidak nyaman, dia makan siang dua kali hari ini. Dan dia pun memejamkan mata.


Bah. Bayangan peristiwa tadi siang membuatnya marah dan kesal. Belum ada 24 jam berlalu dia harus melihat bajingan itu, lagi. Tadi itu pasti hanya kebetulan saja si bajingan itu melihatnya di sana, tapi tidak untuk semalam. Uh, untuk apa bajingan itu mencarinya? Tidak ada tempat untuk pengkhianat.


Aku tidak ingin melihatnya lagi. Selamanya.


Tangannya diangkat untuk menutupi matanya dari cahaya lampu yang terang dan mengganggunya.


Betari pun memutuskan untuk tidur sebentar dan melupakan sejenak semua urusannya hari ini, termasuk pekerjaannya yang menumpuk. Dia berharap Lala tidak akan mengomelinya lagi besok karena akhir-akhir ini dia sering meninggalkan pekerjaan kepadanya.


Hari sudah malam ketika Betari terbangun dari tidurnya. Ada selembar selimut menutupi tubuhnya dan seseorang sepertinya telah memindahkannya ke dalam kamar. Dia yakin orang itu adalah suaminya.

__ADS_1


Usai membersihkan diri di kamar mandi dan mengganti gaunnya yang sudah lecek dimana-mana dengan kaos putih kebesaran bergambar wajah Kim Taehyung. Betari keluar kamarnya hendak menuju dapur.


Betari yang sedang menuruni tangga, tidak begitu memperhatikan langkahnya sendiri dengan baik karena dia yang terlalu bersemangat menyanyikan lagu Dynamite milik BTS—ada Jendela raksasa di salah satu sisi tangga menuju lantai satu. Jendela itu tidak bertirai sehingga dengan jelas memperlihatkan halaman belakang yang remang oleh lampu taman yang redup. Betari tersentak dan menjerit ketika sudut matanya menangkap sosok bayang hitam besar yang melintas di rumput—tubuhnya terhuyung dan dia tidak bisa mengendalikan gerakan tubuhnya sendiri.


Dia terpeleset dan tidak sempat meraih pegangan tangga sehingga membuat tubuhnya berguling hingga menyentuh dasar tangga.


Betari pusing, dan dai berbaring di lantai sambil meringis kesakitan merasakan seluruh tubuhnya yang sangat sakit. Karena dia yang baru saja terjatuh dari undagan tengah-tengah tangga hingga undakan terakhir.


Umbara terbangun karena mendengar suara jeritan yang sepertinya berada dalam rumahnya, dia pun segera teringat dengan istrinya sendiri. Dia kemudian keluar dari kamarnya bermaksud menuju lantai bawah—di mana jeritan istrinya berasal.


Dengan cepat dia menuruni tangga dan mendekati istrinya yang masih berbaring di lantai dengan ekspresi kesakitan yang sangat jelas di wajahnya.


Umbara berjongkok di depan istrinya itu dan mengulurkan tangannya. “Apa kamu baik-baik saja?”


“Nggak. Badan aku sakit semua.” ujarnya. “Bantu aku berdiri.”


Umbara meletakkan tangannya di bahu istrinya. Kemudian Betari mengalungkan tangannya di pundak Umbara dan berusaha bangkit. Dia baru saja akan berdiri ketika dia menyadari kaki kanannya sangat sakit.


Betari mendesis dengan erangan tertahan. Wajahnya terlihat kesakitan sekali.


Paham dengan keadaan istrinya, Umbara dengan pelan membopong tubuhnya. “Kita ke rumah sakit sekarang.” katanya dengan tegas.


“Hem.” gumam Betari yang sekarang mendongak menatap wajah suaminya itu—menjelajahi dan diam-diam menilainya. Sementara kedua tangannya dengan erat memeluk leher pria itu yang sekarang membawanya keluar.


Dipandangi seperti itu membuat Umbara tidak nyaman, dia merasa agak canggung. Namun tidak ada waktu baginya untuk merasa canggung. Dia harus segera membawa istrinya ke rumah sakit.


Mereka akan pergi ke rumah sakit, tentu saja.


Umbara meletakkan Betari di jok belakang agar dia bisa meluruskan kaki. Kemudian mobil melesat ke jalan raya. Tidak jauh dari rumah mereka ada rumah sakit daerah yang sangat besar. Mereka akan pergi ke sana—Umbara akan membawa istrinya ke sana.


Umbara bertanya pada istrinya, “Kamu kenapa bisa jatuh?”


“Tadi aku lihat hantu. Aku kaget jadi jatuh.” ujarnya.


Dia menatap Betari melalui kaca spion dalam. Umbara pikir Betari terjatuh karena istrinya itu mengantuk. “Mungkin kamu salah lihat atau hanya halusinasi kamu saja.” katanya mencoba menenangkan.


“Hem. Entah lah.” sahut Betari.


Begitu sampai di rumah sakit Betari pun segera dapat diperiksa oleh dokter jaga. Karena ini tengah malam jadi tidak ada banyak pasien yang mengantre seperti di pagi hari.


Karena hanya terkilir dan dia juga tidak mengalami gejala lain, seperti mual dan muntah akibat terbentur, maka setelah diperban dan diobati, dokter mengizinkannya untuk langsung pulang.


Umbara mendorong kursi roda dengan Betari duduk tenang di atasnya, meninggalkan ruang gawat darurat dan akan mengambil obat di apotek. Seorang dokter jaga yang tadi mengobati Betari mengatakan kepada temannya, perawat yang tadi membantunya—bahwa mereka adalah pasangan yang sangat serasi. “Selain itu mereka cantik dan ganteng.” lanjutnya yang langsung disetujui oleh temannya.


“Gemes banget pas tadi istrinya bilang nggak mau ditinggal buat ambil obat.”


“Suaminya itu tipe dingin tapi diam-diam perhatian nggak, sih?”


“Hem. Tuhan aku mau satu yang kayak gitu.”

__ADS_1


Untuk beberapa saat kemudian dokter dan perawat itu masih membicarakan mereka.


__ADS_2