
Tidak terasa hari berlalu begitu cepat, sepanjang hari ini cuaca mendung diselingi hujan gerimis sesekali sehingga hijau dedaunan di taman belakang kafe itu terlihat lebih segar.
Sejak pulang dari rumah nenek dan kakeknya dua hari lalu, Betari sendiri yang memutuskan untuk tidak lagi tinggal di studio kerja Umbara yang tempat tidurnya kecil dan tidak memiliki dapur itu benar-benar tidak nyaman untuk ditinggali seperti yang suaminya itu pernah katakan, dan hari ini mereka resmi akan kembali ke rumah mereka—rumah Umbara Atmojo yang meskipun berhantu memiliki dapur yang bisa digunakannya untuk memasak sarapan dan makan malamnya sendiri. Karena masakan sendiri selalu terasa lebih baik. Betari tidak perlu sungkan untuk membanggakan kehebatannya yang satu ini. Memasak tentu saja.
Setidaknya, 5 tahun menjadi pacar chef Vino Risjad ada gunanya juga. Si brengsek itu telah mengajarinya memasak dengan sangat baik. Mungkin tahun depan jika ada waktu luang dia bisa ikut kompetisi memasak yang lumayan beken sepanjang satu dekade ini.
Lalu, berbicara soal Vino Risjad. Duh, lama-lama gendang telinga Betari bisa benaran pecah. Baru juga lima menit dia duduk di dalam kafe Olivier ini—but, sorry to say... ini tuh bukan kafe Olivier yang itu, you know, lah Olivier yang di sebelah. We’r in different universe, right? Saudara-saudara. Tak terhitung sudah berapa kali dia mendengar nama itu disebutkan oleh sekumpulan perempuan yang duduk tidak jauh dari mejanya yang berada di sudut ruangan, di bawah tangga kayu menuju ke lantai dua yang sepertinya sih adalah tempat tinggal si pemilik kafe.
Mulai dari...
“Chef Vino tuh suami idaman gue banget! Ganteng dan jago masak.”
Chef Vino itu tuh...
Chef Vino tuh blablabla. Dan seterusnya.
Mereka dengan bergantian terus membicarakan pemilik nama itu. Betari tidak berniat menguping tapi suara mereka cukup keras dan kebetulan indra pendengarannya cukup tajam. Bahkan dia terbiasa mendengar suara-suara yang tidak bisa orang lain dengar dan yang sangat mengganggunya.
“Nyari yang kayak dia di mana, ya?”
“Guys! Guys! Kalian udah pada lihat kan foto chef Vino yang sama mas Agung. Mirip banget mereka berdua, udah kayak saudara kembar.”
“Bener, mirip banget mereka.” sahut salah satu dari mereka yang baru saja membuka akun instagram sang chef dan buru-buru diikuti oleh temannya yang duduk di sebelahnya.
Kini giliran seorang perempuan yang berambut ikal kepada teman-temannya, sambil matanya yang dibingkai kacamata itu tidak lepas dari layar handphonenya. “Kenapa sih, chef Vino itu makin hari makin ganteng aja. Duh, jantung gue nggak kuat cuman buat lihatin foto dia yang di IG. Gimana kalo dia beneran ada di depan gua, bisa serangan jantung gue.”
“Kemarin gue sama sepupu gue makan di Emprit Emas dan beruntung banget dong gue bisa ketemu sama dia. Asli! dia cakep banget. Senyumnya itu loh bikin meleleh.” timpal seorang perempuan lain yang baru saja datang, dengan wajah bangga.
“Ihhh, gue iri dong. Pokoknya besok gue harus ke sana.”
“Gue juga.” timpal yang lain tak mau kalah.
“Ok, fix! Besok kita lunch cantik di Emprit Emas.”
“Setuju!” sahut seorang dengan bersemangat.
"Uh, chef Vino I am coming!"
__ADS_1
“Eh, guys! Tante gue yang tinggal di Bhumi Permai Residence baru aja bilang di grup chat WA keluarga kalo chef Vino baru aja pindah ke sana tepatnya sih seminggu yang lalu.” kata satu-satunya dari mereka yang memakai kacamata.
Dan kendati, Betari diam-diam terus mendengusi setiap ucapan mereka, tapi dia tidak memungkiri kalau kebanyakan yang mereka katakan adalah benar. Termasuk apa yang baru saja dikatakan oleh si perempuan berkacamata.
“Serius?!”
“Wah, bisa dong kita main ke rumah tante lo.” seru yang lain dengan bersemangat.
“Bhumi Permai Residence, ya? Itu kan perumahan town house paling mewah di ibu kota tercinta ini. Serius? Tante lo ada yang tinggal di sana?”
“Yeee... lo nggak tahu ya kalo tantenya dia itu ada yang nikah sama keturunan Tohjaya."
“Tohjaya lho, guys! Jelas mereka lebih tinggi derajatnya dari Atmojo dan Adi apalagi Adiningrat.” ujar yang lain menimpali.
“Wah, hebat dong tante lo.”
“Kalo menurut gue sih bukan hebat tapi lebih ke beruntung.”
“Yup, she is the lucky one.”
“Damn, gue iri!”
Percakapan mereka terus berlangsung, berbaur dengan kicauan pembawa acara radio yang diputar oleh penjaga kasir dengan volume suara yang tidak keras tapi cukup untuk mengisi setiap sudut kafe yang tidak begitu luas.
Topik obrolan mereka terus merambah ke nama-nama lain, seperti dari A nyambung ke B dan seterusnya. Begitulah alur bergosip.
Omong kosong memang selalu menyenangkan. Betari mencibir dalam hati.
Dia tidak begitu suka membicarakan orang lain. Tapi mendengar orang lain yang saling berlomba membicarakan orang lain, terutama membicarakan keburukannya kadang cukup menghibur. Di telinganya, jelas sekali mereka terdengar seperti sedang meyakinkan diri mereka sendiri kalau mereka tidak lebih buruk dari orang lain. Mereka yang suka menggosip tidak lebih dari sekumpulan orang yang suka denial terhadap diri mereka sendiri, yang sebenarnya jauh lebih tercela dari siapa pun yang mereka cela.
Betari menghabiskan kopinya yang hampir dingin sambil melirik jam di tangannya. Pukul 17. 30.
Okay, sebentar lagi pasti Umbara akan datang. Pria itu bisa dibilang hampir jarang terlambat alias sering on time. Beda lah kalau dibanding dengan dirinya yang kalau kata Lala, teman merangkap banyak jabatan di studionya itu: dutanya jam karet. Tapi, itu tidak sepenuhnya benar. Karena seringnya dia datang telat atau tidak, tergantung pada jalanan ibu kota yang tidak pernah bisa diprediksi, benar bukan?
Tapi mau menunggu Umbara selama apa pun, asal jangan sampai kafe ini tutup dia tidak masalah meski tidak akan pernah ada jaminan kalau nantinya dia akan mengabsen semua nama binatang mulai dari huruf A sampai Z, di depan muka pria itu.
Hellow, siapa juga tadi yang telah berjanji akan menjemputnya di jam pulang kerja yang mana sekarang sudah lewat tiga puluh menit.
__ADS_1
Yup! Siapa lagi kalau bukan pria itu: Umbara Atmojo. Suaminya yang kata orang-orang adalah manusia lempeng. Betari setuju saja soal itu. Ekspresi defalut Umbara memang datar dan malah terkesan sangat dingin. Sumpah demi poci, selama menjadi istri Umbara, Betari belum pernah melihat pria itu tertawa paling banter ya mesem, apalagi tertawa terbahak-bahak seperti kebiasaan Vanila dan Tarjo yang kalau mau tertawa ya tertawa saja sesuka mereka, pokok tidak peduli dengan norma dan sopan santun.
Tapi dia tahu bukan itu yang dimaksudkan orang-orang soal menyebut Umbara sebagai manusia lempeng—sebutan itu justru mengarah pada karakter atau kepribadian Umbara yang budiman. Dan sejauh ini Betari setuju kalau Umbara Atmojo adalah manusia yang hidupnya paling membosankan. Orang budiman berarti hidupnya membosankan, right? (Ini cuman pendapat Betari, lho.)
Jadwal hidupnya Umbara yang Betari tahu paling cuman kerja, tidur, bangun tidur pergi olahraga, dan kalau hari libur ke gym atau ke GOR bareng temannya Baron Adiningrat dan Sudjiwo Tedjo, yang sama-sama tua. Kayaknya Umbara memang tidak ada jadwal pergi ke tempat bersenang-senang semacam klub malam dan jenisnya. Malam minggunya pun hanya dihabiskan dengan nonton TV atau baca buku.
Bahkan Tarjo dan bik Inung dulu—beberapa hari sebelum hari pernikahannya dengan Umbara—pernah menyebutnya perempuan beruntung--hellow! Beruntung guys?!--karena mendapat suami seperti Umbara Atmojo yang mereka dengar-dengar perilakunya cukup mulia. Bahkan dua orang itu juga berharap dengan dia hidup bersama Umbara kelak kelakuannya akan berubah sebaik ibu peri.
Uh, Apakah dia beruntung menikahi Umbara Atmojo?
Entahlah... Betari tidak tahu, yang jelas sejauh ini Umbara baik kepadanya—terlepas dari sikapnya yang menyebalkan di awal-awal pertemuan mereka.
Lamunan sesaat Betari buyar oleh kehadiran seseorang di mejanya.
“Duh, serius banget mukanya. Lagi mikirin apa sih, chiiin? Cicilan utang yang nunggak atau malah harga beras yang terus melonjak.” ujarnya begitu Betari mendongak untuk menatapi sosoknya yang tinggi besar bak beruangnya Masha.
Romeo Salim, paman rasa sahabat karib Betari yang seorang jurnalis perang dan jarang pulang persis bang Toyib. Tapi sekalinya pulang langsung diusir layaknya gelandangan oleh bapak Juan Salim yang terhormat.
Ya, mau gimana nggak diusir. Bagi seorang Juan Salim kehormatan atas nama keluarganya sangat penting. Betari saja yang cuman lulusan S-1 Pertanian UGM kalau menurut Tarjo dan Bik Inung dirinya sudah sangat keren plus membanggakan.
Tapi Betari hanya seperti remah-remah rengginang singkong bagi seorang Juan Salim yang anak, menantu, cucu dan cicitnya pada sukses semua, mulai dari pengacara kondang seperti kakaknya, dokter bedah jantung seperti almarhum papanya, atau CEO semacam Kezia, sampai tante Sarasvati yang berhasil menjadi pengusaha berlian dan tentu saja mereka juga lulusan dari universitas bergengsi di luar negeri kalau pun enggak sekolah di luar negeri mereka tidak ada yang lulusan pertanian seperti dirinya, minimal jurusan yang mentereng, yang kelihatan banget menggunakan kemampuan otak seperti kedokteran, arsitektur, hukum atau ekonomi. Bahkan, Abrian Salim, yang belum nikah tapi sudah ada anak itu saja punya jabatan mentereng di perusahaan properti milik bapaknya.
Sementara Romeo Salim secara prestasi tidak kalah dari yang lain hanya saja kelakuannya sedikit menyimpang.
Lebih jelasnya, karena Romeo Salim yang pemberani dan katanya tak takut mati itu aslinya mah melambai dan belok sebelok-beloknya. Jangan tanya kenapa ada manusia aneh di dunia ini, Oops! Maksudnya dihidup Betari, ya karena dunia ini memang aneh. Pusing ya chiiiin! Sama, eike juga.
“Kok om Meo bisa ada di sini?!” ucapnya bersamaan dengan rasa terkejutnya.
“Nape? Nggak boleh?”
“Pulang kapan? Kok nggak bilang-bilang?”
Sang paman mendengus. “Perlu gitu gue bilang ke elo?”
Keduanya pun saling berpelukan bak Teletubbies.
Baru juga Betari mau memesan satu cangkir kopi lagi, dan dua sepotong kue stroberi untuk dirinya dan Romeo Salim, kala dari dalam mini falabella tote pemberian neneknya sebagai hadiah ulang tahunnya tahun lalu, yang berada di meja di samping cangkir kopinya yang telah tandas, ponselnya telah lebih dulu berdering.
__ADS_1
Umbara is calling....