JODOH DARI NERAKA

JODOH DARI NERAKA
19. DELAPAN BELAS


__ADS_3

Saat itu, awal bulan November, hujan deras mengawali pagi setiap orang di Yogyakarta. Tahun itu, tahun keduanya sebagai mahasiswa.


Betari duduk di depan jendela kamar kosnya memantau hujan deras di luar sana, sambil memakan sarapannya dengan enggan karena lidahnya yang terasa pahit. Dia juga sedang mempertimbangkan apakah dia akan masuk kelas pagi ini.


Di luar hujan deras dan tubuhnya masih demam.


Dia belum terlambat meskipun dia terus berlama-lama di tempatnya hingga sepuluh menit ke depan dan sepuluh menit berikutnya harus dia gunakan untuk pergi ke sana. Kampusnya tidak jauh dari tempat tinggalnya ini, dia setiap hari berjalan kaki ke sana, sejak hari pertamanya kuliah.


Kakeknya yang kaya raya itu sangat marah ketika Betari memutuskan untuk kuliah di Yogyakarta dan sengaja menyiksanya.


Juan Salim, kakeknya yang menyebalkan itu menginginkannya untuk pergi ke salah satu kampus ivy league seperti saudara-saudaranya yang lain. Tapi Betari tahu dirinya tidak mungkin bisa. Dia berbeda dengan saudara-saudaranya yang lain. Kemampuan bahasa inggrisnya saat baru lulus SMA bahkan tidak lebih baik dari anak sekolah dasar. Bagaimana dia akan menjadi mahasiswa UPenn seperti kakaknya dan lulus dengan gelar kehormatan. Ataupun sepupu-sepupunya yang lain yang tidak kalah dengan sang kakak.


Tidak terasa sepuluh menitnya untuk berlama-lama sudah habis. Tadi dia sudah memutuskan dengan berat hati untuk tidak masuk kelas. Betari belum pernah bolos kelas sebelumnya, tapi kali ini dia merasa sangat malas karena hujan di luar dan demam di tubuhnya.


Tentu saja dia sangat enggan menembus derasnya hujan, sepatunya pasti akan basah dan itu akan sangat tidak nyaman jika dia memakainya untuk beberapa lama. Tidak mungkin juga dia pergi ke kelas dengan sandal jepit karet. Pak Gunung, dosennya yang sangat baik itu pasti tidak akan suka—di hari pertama kuliah pak Gunung sudah menegaskan bahwa semua mahasiswa di kelasnya harus berpenampilan layak dan sopan, sebagai salah satu sarat mengikuti kelasnya.


Belum lagi demamnya, mungkin akan semakin parah. Kalau dia terkena hujan dan memakai sepatu yang basah.


Tapi kelas pak Gunung juga penting untuk masa depannya, bahkan kelas-kelas lainnya juga sama penting.


Tidak. Aku harus pergi. Betari menarik napas. Hujan dan demamnya bukan apa-apa. Tinggal sedikit lagi! nilai-nilainya juga sangat penting dan dua tahun kedepan dia harus menjadi lulusan terbaik. Meski hal itu tidak akan berguna sama sekali di mata kakeknya. Betari sangat berharap bahwa di masa depan setidaknya hal itu akan membantunya mendapat pekerjaan yang layak .


Kalau dia takut hujan akan membuat sepatunya basah, bukankah masih ada banyak cara untuk menyelamatkan sepatunya? Dan demamnya. Bukankah dia sudah minum obat lagi pagi ini. Dia punya payung, dan itu cukup untuk melindunginya. Dan juga sebuah jaket tebal.


Sambil menyemangati dirinya sendiri Betari mengambil sepatunya dan membungkusnya dengan plastik. Dia akan memakai sandal karet dan menggantinya nanti sebelum masuk kelas. Lalu bergegas keluar dengan membawa payung.


Betari berjalan menyusuri jalanan yang tergenang air hampir sebatas mata kakinya dengan berlindung di bawah payungnya yang ternyata patah sebelah. Dia pun berhasil sampai di kelas pak Guntur meskipun pakaiannya agak basah dan dia terlambat beberapa menit.


Selama di dalam kelas dia tidak bisa berkonsentrasi karena tubuhnya yang menjadi semakin panas dan pelan-pelan suara pak Gunung di depan kelas terdengar mengambang bersamaan dengan itu pandangannya mengabur dan menjadi gelap. Dia tidak sadarkan diri.


Ketika dia tersadar dari pingsannya, Betari melihat Vino Risjad duduk di samping tempat tidurnya.


Laki-laki itu tersenyum memamerkan lesung pipinya yang dalam. Suaranya jernih dan lembut ketika memanggil namanya.


“Tari.”


Betari mengerjap dan bayang-bayang masa lalu itu seperti menguap dari kepalanya. Tapi, dia tahu bahwa dia tidak akan pernah bisa begitu saja melupakan laki-laki itu. Vino Risjad jelas memiliki tempatnya sendiri dihatinya. Bahkan setelah pengkhianatan yang dilakukannya Betari hanya bisa membencinya.


Betari sangat membenci laki-laki di hadapannya ini dan berharap tidak akan pernah melihatnya lagi—karena dengan tidak melihatnya mungkin akan membuatnya merasa lebih baik.


“Minggir, jangan menghalangi jalan.” Suaranya dingin, tanpa keramahan sedikit pun.


Vino Risjad bergeming. Tidak ada niat memberinya jalan sama sekali. Dia sangat mengenal baik karakter perempuan di hadapannya ini. Meski batu karang itu sulit dipecahkan dengan tangan kosong, dia tidak akan menyerah dengan mudah dan akan terus mencoba sampai berhasil.


“Kita perlu bicara, Tari.” katanya pada akhirnya.


Betari menatap Vino Risjad dengan sinis, lalu mencibir. “Nggak ada yang perlu dibicarakan. Semuanya udah jelas.”


Sorot mata Vino Risjad yang semula penuh isyarat rindu juga harap itu perlahan berubah menjadi sorot mata frustrasi. Kegigihan hatinya pelan-pelan mulai terkikis.


“Kamu dengarin aku dulu.”


Setelah hari itu, Betari tidak pernah sekali pun mau mendengarkannya. Vino sadar bahwa perbuatannya satu tahun silam sangat menjijikkan dan tidak akan pernah termaafkan. Tapi, dia tidak bisa tanpa Betari dalam hidupnya. Satu tahun ini, dia telah melaluinya tanpa perempuan itu dan dia tidak bisa bertahan lagi untuk satu tahun berikutnya.


Meski terdengar sangat tidak tahu malu, kalau dia tidak akan pernah mendapat maaf dari Betari. Setidaknya Vino sangat berharap belas kasihan dari perempuan itu.


Demi Tuhan, Vino membutuhkan Betari bersamanya melebihi apa pun.


Biarkan dia menjadi manusia paling tidak tahu diri. Hidupnya sudah terlanjur menjadi menjijikkan. Dirinya sangat menjijikkan.

__ADS_1


Betari tidak mengatakan apa pun. Dia tidak ingin membicarakan apa pun dengan laki-laki bajingan di hadapannya ini, yang dia inginkan sekarang ini adalah pergi jauh darinya. Namun, saat dia hendak pergi dari sana tangannya di cekal oleh Vino.


Laki-laki itu tanpa sadar dengan kuat menggenggam pergelangan tangan Betari.


“Lepasin!” lagi-lagi nada suaranya sangat dingin dan dia sama sekali tidak menunjukkan perasaan apa pun di wajahnya.


Vino menjawab lemah. “Nggak. Kita belum bicara.”


Kesabaran Betari mencapai batas terendahnya. Wajahnya mengeras, matanya yang selalu berbinar penuh semangat itu, semakin dingin menyorotnya. Sementara bibirnya mengatup rapat menahan marah.


“Betari!”


Betari mengenali suara itu milik Hendrik Leo, sang penyanyi dengan sejuta pesona.


Betari tidak kembali ke pesta pernikahan itu. Hendrik Leo membawanya meninggalkan hotel dan atas permintaan Betari sendiri menurunkannya di depan sebuah tempat makan.


Tidak jauh dari hotel tempat resepsi pernikahan si anak pejabat bea cukai itu, kira-kira lima menit perjalanan dengan mobil, tanpa macet, ada rumah makan padang yang sangat terkenal karena rendang dan sambalnya yang sangat enak. Sampai orang-orang rela berebut ataupun datang lebih awal hanya demi bisa makan rendang buatan mereka—yang tidak perlu menunggu waktu lama untuk habis tanpa sisa—begitu pelayan membawanya keluar dari dapur dan menghidangkannya di etalase.


Baru juga jam dua belas lebih sedikit, tapi rumah makan padang itu sudah penuh oleh orang-orang kelaparan—seperti yang telah Betari bayangkan. Dan rendangnya sudah ludes. Dia memberengut melihat mangkuk besar bekas tempat rendang itu kosong melompong, satu potong daging pun tidak ada yang tersisa. Maka pilihan keduanya pun adalah ayam goreng. Matanya berkilat senang melihat sepotong paha ayam goreng yang tersisa di atas piring saji besar.


Betari bergegas mengambilnya, sayangnya dia kalah cepat oleh tangan lain.


“Oh, ayam gue.” Betari dengan ekspresi kehilangan memandangi paha ayam goreng itu yang sudah dipegang oleh tangan lain. “Itu gue yang lihat duluan.” Dia kemudian memalingkan wajahnya pada seseorang di sampingnya yang baru saja merampas ayam goreng miliknya, incarannya.


“Duh, sorry, Tante, tapi aku yang ambil duluan.” kata seseorang yang sekarang memegang ayam goreng dengan capitan makanan.


“Juhi, kembalikan ayam gorengku.”


“Nggak, Tante. Aku yang ambil duluan.”


Tatapan Betari tidak bisa beralih dari ayam goreng yang sekarang sudah berada di piring Juhi. Kemudian dengan cepat dia kembali berkata, “Kamu kembalikan ayam goreng itu ke aku. Aku akan bayarin makanan kamu, gimana?”


“Nggak bisa.”


“Tante, Kenapa, sih? Tempe sama tahunya kasihan, loh, nggak ada yang ambil.” kata remaja itu sebelum meninggalkannya bersama kedua temannya.


“Bocah sialan!” dengus Betari.


Dengan berat hati Betari mengambil beberapa potong tempe dan tahu goreng, karena lauk lain sudah habis. Lalu pergi mengambil minum dan mencari tempat duduk kosong untuknya makan.


Betari telah mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat, tapi tidak menemukan satu pun meja yang kosong dan bisa dia duduk di sana dengan nyaman. Rumah makan padang ini memang sangat populer.


“Tante nggak dapat tempat duduk, ya?” suara bernada mengejek itu tentu saja Betari tahu itu berasal dari mulut si Juhi. Dia yakin gadis itu pasti sengaja melakukannya.


Sejak gadis remaja itu tahu dia dan Umbara telah menikah, sikapnya yang ditunjukkan kepada Betari semakin jelas.


Betari menoleh ke sumber suara dan mendapati gadis itu tersenyum kepadanya, tapi dia bisa ditipu. Kedua temannya pun ikut melihat ke arah Betari tapi ekspresi di wajah mereka berbeda, terlihat biasa saja, tidak seperti milik Juhi.


“Ya, udah, duduk sini sama kita. Daripada tante makan berdiri.” kata bocah itu kemudian, menawarkan kurai kosong di sebelahnya.


Semua meja memang telah penuh, tapi meja tiga bocah ini masih menyisakan satu kursi kosong. Hanya saja Betari merasa enggan bergabung dengan mereka, dan sekarang dia akan menyerah saja.


“Tante kok sendirian aja?” kata Juhi begitu Betari duduk bersamanya.


“Iya.” Betari menjawab dengan acuh tak acuh.


“Om Bara ke mana?”


Hmm. Betari mengerti ke mana arah pembicaraan ini.

__ADS_1


“Kerja,” dan langsung menambahkan. “Biar bisa kasih istrinya makan.” katanya asal celetuk.


Juhi mendengus. “Ya, kali, Tan. Om Bara nggak usah kerja juga masih bisa kasih tante makan.”


“Yakin banget kamu.” sahut Betari.


Di tengah-tengah kegiatan makannya ponsel Betari berbunyi. Dia mengambilnya dari dalam tas tangan miliknya dan mendapati nama ID Gendis Atmojo yang muncul pada layar.


Astaga naga. Betari lupa kalau dia telah meninggalkan mama mertuanya tanpa pamit. Pasti sekarang Gendis tengah mencarinya.


Hadeh! Ini gara-gara siapa sih?


“Halo, Ma.”


“Tari, kamu di kamar mandi Kenapa lama banget. Kamu baik-baik aja, kan?”


“Iya, Ma.”


“Kalau kamu udah selesai di kamar mandinya buruan balik”


“Acaranya belum selesai, Ma?”


“Belum, tapi paling bentar lagi juga selesai. Kenapa?” balas Gendis Atmojo dari seberang sana.


“Nggak, Ma.”


“Ya, udah. Kalau gitu kamu buruan balik. Ini mama udah ambilin kamu makan.”


“Ya, Ma.” Betari seperti tak yakin.


Sambungan kemudian diputus.


“Kita duluan, ya, Tante.” ujar Juhi yang sekarang sudah selesai makan.


“Oh, Ya. Hati-hati kalian.” gumam Betari ketika dia mendongak dan melihat ketiga gadis remaja yang masih mengenakan seragam sekolah itu berdiri dari kursi masing-masing. “Awas ketangkap guru BK.” Betari menambahkan.


“Nggak bakal.” sahut Juhi terdengar percaya diri.


“Salam buat om Bara, ya, Tante.” Remaja itu menyunggingkan senyum yang entah kenapa terlihat berbahaya, sebelum akhirnya benar-benar meninggalkannya.


Ada dua foto yang dikirimkan Juhi kepadanya. Foto pertama adalah foto istrinya yang keluar dari sebuah mobil yang Umbara tahu itu bukan mobil ibunya, mobil Gendis Atmojo tidak ada yang berwarna hijau. Sementara foto kedua adalah Betari yang melambai pada sosok pria bertopi dan berkacamata hitam di dalam mobil—pria itu melonggokkan kepalanya keluar, kaca mobilnya diturunkan hingga habis.


Umbara ingin beranggapan kalau pria itu adalah sopir taksi online, tapi sopir taksi tidak duduk di kuri belakang dan tidak akan sampai berpisah dengan penumpangnya dengan cara semacam, melambaikan tangan.


Dia beberapa kali memperbesar gambar pria yang menurutnya aneh karena memakai kacamata hitam di dalam mobil. Tapi, dia tidak dapat mengenalinya, mungkin karena topi dan kacamata hitam yang dikenakannya.


“Bik Atun yakin istri saya pergi sama mama.”


“Yakin, Mas Bara. Wong tadi bibik lihat ibu sama mbak Tari perginya juga barengan. Kalau nggak percaya mas Bara bisa tanya pak Ujang atau ibu atau mbak Tarinya sendiri.”


.


.


Terima kasih!


Saya berharap kalian menyukai Jodoh dari Neraka dan berkenan memberika dukungan kalian semua dengan memberikan komentar, suka, juga hadiah.


Jangan lupa juga share/bagikan cerita ini ke orang-orang yang kamu kenal!

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2