
Umbara turun dari mobil sambil menenteng sebuah paper bag berlogo salah satu restoran China. Wajahnya terlihat lelah. Setiap minggu dalam dua bulan ini nonstop pameran. Makanya ketika menikah, Umbara hanya mengambil cuti dua hari. Belum lagi patung-patung dari Asri Luhur baru masuk galeri. Staf-staf barunya masih belum ada yang becus, Umbara harus ada di sana untuk mengerjakan semuanya. Benar-benar melelahkan.
Ketika dia berjalan menuju pintu utama, hal pertama yang dia lihat adalah sesosok perempuan berambut panjang sepunggung yang duduk bersandar di depan pintu dengan tangan dilipat di depan dada dan mata terpejam.
Umbara terkejut. Dia pikir ada gelandangan yang lolos penjaga dan menumpang tidur di teras rumahnya. Mengingat rumahnya memang tidak memiliki pagar. Pihak pengembang memang melarang setiap pemilik rumah untuk memasang pagar dan mengubah fasad bangunan. Alasannya tentu saja demi estetika dan menjaga konsep.
Ternyata sosok perempuan itu adalah Betari, istrinya sendiri.
Umbara heran.
Kenapa Betari tidur di luar?
Sejenak, dia mengamati Betari yang tertidur. Mirip gelandangan, pikirnya.
“Pergi lo nyamuk-nyamuk sialan! Jangan ganggu gue.” Salah satu tangan Betari terangkat dengan gerakan mengibas. Lalu kembali diam.
Umbara mengerutkan kening. Dia tidak melihat ada banyak nyamuk yang mengerubunginya.
“Ini gue lagi di hutan mana sih, Amazon apa Papua? Banyak banget nyamuknya. Ihh...Gatal.” Betari mengigau lagi, kali ini sambil menggaruk-garuk sisi kanan wajahnya hingga turun sedikit ke leher.
“Betari?” panggil Umbara.
“Hmmm.” Betari hanya menggumam, tanpa membuka mata.
“Betari? Bangun.”
“Apa, sih? Ngantuk tau.” balas Betari, masih dengan mata terpejam.
“Betari, bangun. Saya mau masuk.” Kali ini kesabaran Umbara mulai terkikis. “Ayo bangun.”
“Nggak mau.” Betari masih mengantuk berat. Dia tidak berniat membuka mata dan ingin melanjutkan tidur.
Umbara mendesah kasar. Dia meletakkan paper bag ditangannya ke lantai, lalu berjongkok di hadapan Betari.
Detik berikutnya Umbara menggendong Betari. Membawanya masuk menuju kamar perempuan itu yang berada di lantai dua—tepat di depan kamar miliknya.
Baru saja Umbara membuka pintu kamar Betari, dia sudah disambut dengan keadaan kamar yang berantakan seperti habis kemasukan maling. Sebuah koper berukuran besar terbuka di atas lantai—di depan ranjang. Isinya berantakan, beberapa ada yang berserakan di lantai. Sepertinya Betari memang telah mengobrak-abrik koper itu untuk mencari sesuatu.
Umbara merebahkan Betari di atas ranjang dan berbaik hati menyelimutinya.
__ADS_1
****
Betari terbangun keesokan harinya pada pukul 7, masih mengenakan pakaiannya kemarin. Dia menguap berulang kali sebelum berjalan masuk ke kamar mandi.
Betari mencuci muka dan menatap wajahnya di cermin.
“Astaga! Wajah gue!” Dia terkejut mendapati wajahnya dipenuhi bintik-bintik merah seperti bekas gigitan nyamuk.
Dasar nyamuk sialan!
Betari lalu ingat kalau semalam dia tidak bisa masuk ke dalam rumah. Karena patung monyet simelekete alias Raden Umbara Atmojo, suaminya yang menyebalkan itu tidak memberinya kunci rumahnya.
“Dasar patung monyet sialan!”
Semalam Betari diantar pulang oleh Hendrik Leo.
Setelah makan malam di Yabai, Vanila mengajaknya pergi ke Grand Indonesia untuk membeli parfum. Kebetulan mereka bertemu dengan penyanyi terkenal itu ketika mampir ke sebuah toko sepatu—Hendrik Leo bilang dia mau membeli sepatu untuk ibunya. Mereka mengobrol sebentar sambil melihat-lihat sepatu. Hendrik Leo bahkan meminta Betari untuk membantunya memilihkan sepatu untuk sang ibu. Betari pun memilih sepatu dengan heels rendah berwarna putih dan memiliki tali belakang yang kemudian langsung dibeli oleh sang penyanyi.
Dari toko sepatu kemudian berakhir dengan Hendrik yang menawarkan diri untuk mengantar Betari pulang, lebih tepatnya sih memaksa.
Setibanya di rumah Betari malah mendapati dirinya tidak bisa masuk ke dalam rumah. Suaminya, Umbara Atmojo belum pulang karena mobil laki-laki itu tidak ada di carport.
Betari menelepon Vanila berkali-kali untuk meminta dijemput, dia akan menginap di tempat perempuan itu. Tapi entah kenapa panggilan teleponnya sama sekali tidak dijawab. Dia bisa saja meminta Hendrik Leo untuk kembali dan mengantarkannya ke apartemen Vanila atau ke hotel terdekat—laki-laki itu pasti belum jauh dari rumahnya. Tapi mengingat hubungannya dengan Hendrik yang masih ditahap baru kenal. Betari merasa kalau meminta tolong pada Hendrik Leo bisa dibilang kurang pantas, atau belum pantas. Meski dia yakin Hendrik Leo akan membantunya dengan suka rela. Betari tahu kok kalau Hendrik Leo sedang mencoba mendekatinya. Kelihatan jelas dari sikap laki-laki itu.
...***
...
Betari sedikit berlari ketika menuruni tangga menuju keluar rumah.
“Kamu mau ke mana kok buru-buru?”
Pertanyaan bernada lembut itu jelas bukan milik Umbara. Laki-laki patung itu jelas tidak peduli dengan kehidupan pribadinya dan Umbara sudah menegaskan hal itu di hari pertama mereka resmi menikah.
Betari berbalik.
Gendis Atmojo muncul dari arah dapur.
Kapan ibu mertuanya itu datang?
__ADS_1
Perasaan tadi waktu Betari turun ke dapur dan masak air buat menyeduh teh yang memang sengaja dia bawa dari studionya. Dapur masih sepi, baru setelah itu Umbara turun. Tapi mereka hanya saling lihat saja. Tidak ada tegur sapa. Betari sih, ogah kalau harus menyapa si patung monyet. Tapi, itu sih sepuluh menit yang lalu. Hehehe...
Suara bel, Betari juga tidak dengar.
Betari tersenyum lebar di balik maskernya. “Tante...” eh bukan. “Mama, pagi, Ma.”
Betari memang belum terbiasa memanggil Gendis Atmojo dengan sebutan mama. Selain masih baru menjadi menantunya, Betari memang sudah terbiasa memanggil Gendis, Tante Gendis. Mereka sudah saling kenal sebelumnya bahkan sering bertemu karena sama-sama menjadi sukarelawan di PEDULI Indonesia, sebuah organisasi nirlaba yang bertujuan memberikan bantuan kemanusiaan dan perkembangan kesejahteraan berjangka panjang kepada anak-anak dan ibu yang membutuhkan di Indonesia.
Gendis Atmojo mengamati penampilan Betari dari atas hingga bawah yang menurutnya tidak biasa. Sebuah jaket kebesaran dengan kupluk yang menutupi kepala, ditambah sebuah topi bucket hat berwarna hitam dan masker medis, tidak lupa sebuah kacamata hitam dengan bingkai persegi yang sederhana. Pantas untuk dikira sebagai orang yang sedang sakit. Mungkin lebih tepatnya sakit jiwa. Tapi Gendis Atmojo mana mungkin sampai berpikiran kalau menantunya itu sakit jiwa.
Memang, hari masih pagi tapi cuacanya cukup bagus, tidak dingin malah terbilang hangat menuju panas, matahari bersinar cerah dan langit biru bersih—sangat cocok untuk berjemur. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan kalau sebentar lagi akan turun hujan dan cuaca akan menjadi dingin.
“Kamu sakit? Demam?”
Aduh, Gendis Atmojo ini orangnya memang sangat perhatian. Beruntung banget si Patung punya emak sebaik ini, bikin iri aja. Batin Betari.
“Nggak, Ma.” Jawab Betari sambil menggeleng pelan. Lalu Betari salim pada Gendis.
“Terus kenapa pakaian kamu kayak gitu? Nggak panas pakai jaket di cuaca lagi sebagus gini?”
Betari menyadari pakaiannya hari ini yang di luar nalar. Mengingat matahari sebentar lagi akan sangat terik.
“Oh, ini...” Dia kebingungan untuk menjelaskan keadaannya. Bisa saja dia jujur. Tapi takut disangka berlebihan. Masa hanya gara-gara bekas gigitan nyamuk Betari harus sampai sebegitunya. Iya, kali, kalau bintik-bintiknya cuma satu atau dua sih, Betari tidak perlu dandan ala-ala idola k-pop yang takut dikenali penggemar ketika lagi jalan di pasar. Masalahnya, kan, ini hampir semuka, leher, sampai tangannya juga. Pokoknya mirip sama orang yang kena cacar. Betari kan malu kalau dilihat orang lain. Apalagi nanti dia ada live sama Chiky. Eh, itu kan bukan masalah lagi, filter Tiktok kan banyak yang bagus-bagus.
“Ini lagi trend aja, Ma. Jadi aku cobain.” Bohong banget kan si Betari ini.
“Bilang saja kamu malu kalau di kulit kamu ada bekas merah-merah.” itu suara Umbara, si patung monyet.
Ngapain sih!?? Si monyet satu ini pakai muncul segala? Hush!! Minggat sana! Geram Betari dalam hati.
Umbara biasa tidak peduli dengan urusan orang lain apalagi sampai mengomentari. Tapi melihat Betari yang akan keluar rumah dengan penampilan yang berlebihan seperti itu—hanya gara-gara bekas gigitan nyamuk. Kok rasanya mulut Umbara jadi gatal ingin menghardik.
Untuk ukuran orang cuek sepertinya, hai ini bisa dong? disebut sebuah kemajuan. Kemajuan dalam berkomunikasi, misalnya. Kan selama ini Umbara irit ngomong.
Wait!!! Kenapa juga kata-katanya terdengar ambigu? Sampai ekspresi Gendis Atmojo jadi aneh begitu. Semacam.... Ah Betari sulit buat menjelaskan. Pokoknya aneh tapi tidak merujuk pada tidak suka malah sebaliknya.
Jangan bilang.... Ibu mertuanya mikir yang aneh-aneh.
“Ini kan gara-gara kamu!” Eh, itu mulut Betari kenapa juga ikutan ngomong sembarangan.
__ADS_1
Gendis Atmojo tersenyum.
Kan, Betari benar. Pasti mikir yang enggak-enggak.