
Bagaimana pun juga Betari akhirnya memasak sup Tom yam untuk mereka bertiga makan malam. Kendati beberapa tahun terakhir ini mereka sering ribut, tapi demi apa pun Betari tak benar-benar membenci Romeo Salim, justru sebaliknya dia menyayangi pamanya itu.
Malam itu, selesai makan malam mereka duduk bersama di ruang tengah, menonton The Late Late Show with James Corden. Mereka sangat menikmati acara itu, tertawa dengan tingkah konyol serta lelucon hostnya, kecuali Umbara. Pria itu diam bak seonggok patung batu.
Romeo yang kemudian menyadari hal itu, menyikut perut Betari yang duduk terimpit di antara dirinya dan Umbara.
“Pssst, Tari!” bisik Romeo di telinga Betari.
“Apa?”
“Eum, laki lo emang kaku gitu ya?” bisiknya lagi.
Betari pun mengangguk.
“Di ranjang dia juga kaku gitu?”
Betari refleks mencubit paha Romeo, atas pertanyaan pamanya itu yang lolos begitu saja dari mulutnya yang memang tidak memiliki filter.
Romeo terkesiap. “Awww, sakit, woi.” rintihnya. “Kenapa sih lo cubit gue.” Protesnya kemudian.
Betari hanya mendelik tajam, menyuruhnya untuk diam.
“Duh, naas banget dah nasib lo. Jangan-jangan dia emang nggak doyan perempuan.”
Bacot. Rahang Betari mengeras dan bola matanya mendelik makin tajam. Sialan. Mulut bacot pamannya memang suka ke mana-mana, nggak ada kontrol. Belum lagi dengan isi kepalanya yang sudah pasti penuh dengan hal-hal tidak pantas.
Romeo kembali berbisik. “Kasih ke gue aja kalo gitu. Lo jadi istri sahnya dan gue selingkuhannya yang siap melayani dia di ranjang, gimana? Cukup adil bukan?”
Sinting !
***
Satu jam kemudian tv di ruang tengah itu dimatikan.
Romeo Salim memimpin keduanya menuju lantai 2 dengan berjalan paling depan, dengan langkah pelan mereka mendaki tangga yang satu sisinya adalah dinding kaca besar dan menjadi pembatas dengan taman di luar, kini telah di pasangi tirai.
Kedua alis Betari bertaut karena dia baru saja menyadarinya.
Kapan tirai itu dipasang?
Jawaban atas pertanyaan itu dia perlu betanya pada seseorang untuk mengetahuinya.
Namun untuk pertanyaan siapa yang memasangnya?
Dia tidak perlu bertanya pada siapa pun untuk mendapatkan jawabannya.
Seketika itu, sebersit rasa hangat menyusupi hatinya.
Betari berpaling pada pria yang berjalan di sampingnya. Umbara.
Ketika mereka hendak mencapai pintu kamar masing-masing dan Romeo Salim bahkan sudah membuka pintu kamar Umbara. Entah mengapa Betari menahan langkah Umbara dengan menyambar lengan pria itu.
“Jangan—“ ucapannya terputus oleh suara mendayu milik Romeo Salim.
“Good night dan selamat tidur.” Pamannya itu bahkan berbalik dan menatap mereka berdua dari ambang pintu lalu berdeham.
__ADS_1
“Oh, ya, anggap gue cuman patung. Kalau mau teriak, teriak aja, patung ini nggak bisa dengar. ” Romeo Salim mengedip. Lalu masuk ke dalam kamar dan menutup pintu setelahnya.
Hanya beberapa detik setelah pintu itu ditutup, Betari sadar dia masih memegangi tangan Umbara, namun enggan untuk melepas tangan itu dan justru menariknya hingga Umbara terseret masuk ke dalam kamarnya.
“Apa kamu suka sama Om Meo.”
Mata Umbara mengerjap menahan bingung.
Sialan!
Apa sih yang lo bicarakan. Emang apa peduli lo kalo dia suka om Meo atau siapa pun. Bisik pikiran warasnya.
“Forget it.” katanya.
“Saya nggak suka sama om kamu.”
Betari menoleh kaget begitu tangannya dicekal oleh Umbara.
Saat Betari masih merasa bingung, Umbara melanjutkan perkataannya, “Dan saya juga nggak suka laki-laki.”
Betari mengerjap. Belum sempat dia mencerna kata-kata itu. Umbara telah mendorong tubuhnya ke dinding dan mengurung tubuhnya dengan dua lengannya.
Mereka saling berpandangan, lalu saat kecupan mendarat di bibirnya, Betari mematung. Umbara sebenarnya ingin menciumnya lebih lanjut, tapi mendapati reaksi Betari yang amat terkejut, dia malah tersenyum, dan memundurkan tubuhnya.
Itu kali pertama Umbara mencium Betari.
***
Betari tidur dengan pulas sehingga keesokan harinya dia amat sangat bersemangat, setelah selesai membersihkan diri dia akan membuat sarapan. Ketika dia membuka pintu kamarnya bersamaan dengan sang paman yang terlihat baru saja bangun masih setengah telanjang dan hanya mengenakan boxer.
“Selamat pagi, keponakan gue yang cantik.” sapanya dengan suara khas orang mengantuk. Lalu menguap lebar-lebar.
“Ngomong-ngomong, gimana semalam? main berapa ronde?” tanyanya kemudian seraya mengedipkan sebelah mata.
“Pagi-pagi pikirannya udah nggak bener aja.” cibirnya sambil berlalu.
Romeo mengikuti sang keponakan. “Justru saat bangun tidur tuh kadar hormon testosteron lagi tinggi-tingginya. Gitu aja masa nggak tahu.”
Betari diam. Dia tahu tidak ada gunanya menanggapi omongan sang paman.
“Punya laki lo emang nggak berdiri apa pas bangun tidur.”
Betari masih diam.
“Eh, gue kasih tahu ya **** pagi bisa jadi mood booster lo harus coba biar setiap pagi muka lo nggak cemberut.”
Romeo menambahi, “Bisa bikin awet muda juga, lho.”
“Makasih buat ilmu pengetahuannya.” sahut Betari sarkas.
“Oh, sama-sama.” Balas Romeo. “Suami lo yang kaku itu mana?”
“Pergi jogging.”
“Oh,” Romeo mangut-mangut.
__ADS_1
“Om Meo mau sarapan apa?” tanya Betari ketika mereka telah sampai di dapur.
“Nasi uduk pakai lauk ayam goreng dan sambal bawang.” jawab Romeo lancar.
“Nasi goreng aja, ya.” kata Betari begitu dia teringat dengan sisa nasi semalam yang lumayan banyak. Kan sayang kalau nggak dimakan.
“Lah gimana sih? barusan lo nawarin, lho, Tari.”
“Kan cuman nawarin.”
“Kamprettt!” umpat Romeo setengah kesal. “Ok, deh, nasi goreng seafood tapi ya, Tari.”
Betari membuka kulkas, memeriksa bahan-bahan yang dibutuhkan, kemudian berujar, “Adanya cuman udang, Om.”
“Ya, udah deh, nasi goreng udang.” Lalu dia mengambil gelas dan menuangkan air dan meneguk airnya.
Sementara Betari mulai menyiapkan bumbu, sayuran dan udang untuk membuat nasi goreng.
TING TONG.
Terdengar bunyi bel pintu.
Romeo Salim langsung mendengus. “Eh, anjing! Siapa tuh pagi-pagi udah bertamu. Mau minta makan apa?!”
“Bukain sana, Om!” seru Betari yang kini tengah sibuk mengupas udang.
Romeo menguap lebar sambil dengan malas beranjak dari kursi dan menyeret tubuhnya meninggalkan dapur menuju ke pintu depan.
Romeo Salim memutar kenop pintu. Rahangnya mengeras siap marah, begitu dia melihat sosok tamu di depannya.
“Setan alas!” umpatnya. Lalu disusul nama-nama binatang penghuni hutan lainnya. “Babi alas! Asu alas" Sampai "Ayam alas"
“Pagi, Om Meo.” Si setan alas alias si semua nama binatang alas alias si tamu tersenyum ramah kepadanya. Seolah-olah umpatan-umpatan berupa nama-nama hewan penghuni hutan yang meluncur dari mulut Romeo Salim adalah sapaan ramah khas ibu-ibu penggemarnya.
“Om-om kapan gue nikahin tante lo!” semburnya galak. “Mau apa lo ke sini!?”
“Gue baru pindah ke sini jadi tetangga bari. Gue cuman mau kasih hadiah kecil.” Si tamu mengangkat keranjang rotan yang dibawanya. Untuk diserahkan pada Romeo. “Strawberry cheese cake bikinan sendiri. Gue bagi-bagi buat perkenalan ke tetangga baru.”
Bangsat!
Romeo Salim mengabaikan keranjang itu. Dan buru-buru menepis bayang-bayang kelezatan kue itu dari pikirannya.
“Lo pasti sengaja kan pindah ke sini.” Strawberry Cheese Cake itu lo juga sengaja. Itu makanan kesukaan keponakan gue. Sialan!
“Apa sih mau lo!?” geramnya. “Tahu diri ngapa, sih. Keponakan gue itu udah punya suami.”
“Gue tahu,” kata si tamu suaranya terdengar getir.
“Kalau udah tahu terus ngapain lo pakai acara sengaja pindah ke sini segala, Anjing!” sahutnya. “Mau jadi perusak rumah tangga orang lo!” hardik Romeo dengan sangat tajam.
“Heh, Bejat! Tari tuh udah bahagia sama suaminya, jangan lo ganggu, ngerti kan lo, Sapi!” setelah mengucapkan itu, Romeo Salim berbalik ke dalam dan menutup pintu dengan keras.
Setelah hening. Romeo berkacang pinggang di balik pintu. Dia baru saja menolak Strawberry Cheese cake.
Sialan!
__ADS_1
“Siapa Om?” tanya Betari sekembalinya sang paman ke dapur.
“Orang gila nyasar.” sahut Romeo asal.