
Boleh dilike dulu biar nggak kelupaan!
Selamat membaca.
***
Betari dapat merasakannya. Dia berbaring di tengah padang rumput hijau dan penuh bunga. Sekumpulan kupu-kupu dengan sayap yang cantik beterbangan di antara bunga-bunga yang bermekaran.
Langit di atasnya bersih, nyaris tanpa awan. Matahari bercahaya terang dan angin memeluk tubuhnya dengan lembut, seolah-olah dia begitu rapuh.
Seekor kupu-kupu hinggap di ujung hidungnya. Menggigit kecil di sana. Sebelum perlahan turun ke bibirnya, mengecap rasa mulutnya, berulang kali.
Ah!
Betari memejamkan mata.
Otot perutnya menegang hebat. Demi Tuhan! Betari ingin berteriak.
Namun, apa yang ingin dan pantas dia teriakkan dari mulutnya.
Pikirannya nyaris menjadi kosong.
Sepenuhnya dia menyerahkan diri. Kekuatan-kekuatan dunia memasuki kelima indranya dan kekuatan-kekuatan itu berubah menjadi energi yang amat besar.
Darahnya berdesir bagai riak-riak ombak yang menghantam bebatuan. Mengalir begitu cepat di dalam pembuluh.
Sentuhan itu kini berada pada lehernya, dengan tekun mengecupi setiap jengkalnya. Merangkak turun dan berdiam diri di titik itu, di tempat di mana di dalamnya ada jantungnya yang memburu.
Betari terengah.
Oh, Tuhan!
Sungguh kali ini Betari tidak mampu berteriak. Sementara sebagian pikirannya samar-samar menyadari dia sedang merasakan hal-hal yang belum pernah dia rasakan sebelumnya—hal yang menyatukan kembali dirinya dengan makna kehidupan.
Akhirnya, Betari tak dapat lagi mengendalikan dunia di sekitarnya, kelima indranya seakan memaksa untuk bebas dan dia tidak cukup kuat untuk mempertahankan mereka. Seperti diterjang ganasnya ombak di lautan, dia pun melepaskan kelima indranya.
“Ah—“
Betari mungkin sudah gila, ketika dia membuka mata, dia justru tengah berbaring di atas ranjangnya.
Oh!
Betari mencoba mengerti apa yang baru saja terjadi.
Itu...
Rupanya itu hanya mimpi? Tetapi, mimpi sialan itu terasa nyata.
Gila!
Mimpi gila!
Ponselnya yang diletakkan di atas nakas tiba-tiba berbunyi. Betari mengambil ponselnya itu. Nama Vanila muncul di layar.
“Hallo, Van. Lo udah sampai? Oke, gue keluar sekarang.”
“Iya, buruan keluar lo. Gue udah nggak tahan lagi sama ulah si Tarjo. Tambah genit dia. Jijik gue.” Suara Vanila terdengar seperti dia baru saja disiram air comberan dan butuh menyucikan diri segera.
Emang dasar si Tarjo kampritt! Jelek aja masih suka kegenitan! Awas lo, Tarjo!
Eh,
Tunggu!
Perasaan dia belum memberitahu Vanila kalau dia masih di rumah Juan Salim. Lah, terus dia bisa tahu dari mana? Siapa yang kasih tahu? Temannya itu jelas bukan cenayang, kan?
“Buruan! Betttt!”
“Iya, sabar nape.”
Betari mematikan sambungan telepon dan bergegas turun dari kasur untuk mengganti pakaiannya dengan dress A line selutut berwarna kuning polos yang menampilkan kaki jenjangnya dan sedikit bagian punggung dan bahunya, karena kerah dress itu yang cukup terbuka sehingga, juga dapat dengan sempurna mengekspose tulang selangkanya yang menonjol. Sementara rambutnya yang berantakan disisir ala kadarnya dengan jari-jari tangannya sambil berjalan menuju pintu kamar dengan langkah lebar. Masa bodoh kalau nyatanya dia belum mandi seharian.
Setidaknya dia telah menyemprotkan Miss Dior Blooming Bouquet ke sekujur tubuhnya, jadi dia tidak akan beraroma busuk.
__ADS_1
Kemudian langkahnya terhenti di depan pintu yang handlenya belum sampai dia raih, tatkala telinganya mendengar suara berat Umbara yang memanggil namanya.
Dia segera memalingkan wajahnya dan tahu-tahu suaminya itu sudah duduk bersandar di atas kasur dengan dada telanjang.
Eh, busyett!
Sejak kapan dia ada di sini?
Duh, kenapa juga dia bisa lupa dengan keberadaan manusia satu itu? Ini pasti gara-gara Vanila sialan.
Jadi, sejak tadi suaminya itu, mungkin menontonnya saat tadi dia melucuti pakaiannya. Sialan! Seketika Betari mengutuk dirinya sendiri. Terutama kebodohannya.
Aduh!! kenapa tadi nggak ganti baju di kamar mandi aja, sih? Dah, lah! Nasi udah jadi bubur. Toh, dia suaminya.
Betari menelan susah payah air liurnya. Sebelum akhirnya berujar dengan suara yang diusahkan agar terdengar tenang. “Kenapa?”
“Tunggu.”
“Ap—“ Mata Betari sama sekali tidak bisa menatapnya lagi, karena Umbara yang tidak berpakaian sama sekali itu telah menyibak selimut yang menutupi bagian bawah tubuhnya dan turun dari ranjang.
Sialan! Ke mana pakaiannya? Bisa-bisanya dia begitu. Dasar nggak tahu malu! Sebenarnya Betari selalu ingin mengatakan kalimat itu kepada suaminya itu, tetapi dia tidak pernah benar-benar melakukannya.
Well, Betari suamimu masih memakai celana, dan yang selalu mengganggumu adalah dada bidang dan perutnya yang terpahat dengan sempurna itu, bukan?
Umbara membuka lemari pakaian—yang berada di samping ranjang, dia mencari sesuatu di sana. Beberapa detik kemudian pria itu sudah menghampirinya dengan membawa selembar scarf di tangannya.
Betari merasa agak terganggu dengan kehadiran suaminya itu yang setengah bertelanjang di depannya.
Jujur saja, Betari masih belum terbiasa dengan semua ini.
***
Di pelataran rumah milik Juan Salim yang luas, si Tarjo mantan sopir pribadi Betari sewaktu jaman SMA itu tengah bersandar pada pintu depan mobil Vanila yang kaca jendelanya diturunkan hingga habis. Terlihat keduanya sedang berbicara, layaknya teman lama.
Vanila mengembuskan asap rokoknya ke udara. “Berisik lo, Jo.” kesalnya.
“Gue beli rokok ini juga pakai uang gue sendiri, bukan uang lo.” lanjut Vanila, yang langsung disahuti Tarjo dengan sebaris kalimat yang jelas sekali dicomotnya dari entah berantah—mungkin dari bungkus rokok atau iklan yang diputar videotron di pinggir jalan.
Tarjo mendesah lelah persis seorang ibu yang semua nasihatnya selalu dimuntahkan oleh sang anak.
“Terserah lo, Van. Tapi lo jangan ngrokok lah pas lagi sama Betari.” celetuk Tarjo, saat dia dari sudut matanya, menyadari kalau Betari si cucu majikannya yang paling menyebalkan itu baru saja keluar.
Vanila memasang tampang bosan. “Halah! Selama ini dia nggak pernah masalah tuh. Lagian dia juga nggak ada asma kayak neneknya.”
Tarjo mencibir. “Jadi, lo belum tahu?”
“Tahu apa?” Alis Vanila bertaut memandangi wajah Tarjo yang bersih. Meskipun dia hanya seorang sopir, tampang Tarjo lumayan. Umurnya juga baru menginjak angka 30 tahun.
“Wah, jadi benar lo belum tahu, Van. Dia nggak kasih tahu lo?” si Tarjo mengatakan ini karena dia sengaja. “Padahal lo kan bestienya dia?” tambahnya.
“Aduh, Tarjo! Cepetan ngomong! Nggak usah kelamaan.” tuntut Vanila.
Tarjo mendekatkan kepalanya dan berbisik.
Mata Vanila membulat. “Yang bener lo, Jo.”
Tarjo mengangguk mantap. “Aku dapat info ini dari Bu Widuri. Beliau sendiri yang ngomong.”
“Ngomongnya sama lo?”
“Nggak. Sama bik Inung dan gue denger.”
Begitu Vanila menyadari kalau Betari telah dekat dengan mereka, Vanila buru-buru mematikan rokok di tangannya lalu membuangnya ke luar mobil.
“Eits! Cantik jangan buang sampah sembarangan, atuh!”
Vanila pura-pura tidak mendengarnya. Kedua tangannya sibuk mengibasi udara.
Dan Tarjo yang tidak ingin dimarahi oleh siapa pun terutama majikannya, dengan jiwa pencinta lingkungannya yang sudah mendarah daging, dia memungut puntung rokok itu.
Detik berikutnya Betari membuka pintu depan mobil Vanila dan melesat masuk begitu saja ke dalam mobil.
“Sorry, Van. Tadi waktu lo datang gue lagi asyik tidur.” katanya, bahkan sebelum dia benar-benar telah duduk di kursi.
__ADS_1
“Iye, nggak papa. Udah sering juga lo gitu.”
Betari tentu saja tidak tersinggung dengan kata-kata itu. Wong itu kenyataan.
“Oh, ya, Van, kok lo tahu kalau gue lagi di rumahnya Juan Salim.”
“Ya, siang tadi gue telepon lo tapi yang angkat suami lo.”
“Hem.” Betari mengangguk. Jadi suaminya toh. Bukan Vanila yang punya ilmu macam cenanyang.
“Kita pergi sekarang?” tanya Betari.
“Eh, Bet.” Vanila mengamati penampilan Betari yang menurutnya sedikit ganjil. Apa-apaan dengan scarf hitam di pundaknya itu?
“Gue nggak ada maksud buat ngajak lo mampir ke pengajian lho, Bet.”
Betari berdeham dan menunduk mengamati scarf yang menutupi bagian bahunya. “Iya, tahu.”
“Terus ngapain lo pakai scarf segala. Copot gih nggak banget dilihatnya.”
Itulah yang ingin dia lakukan. “Iya, ini juga mau gue copot.”
“Eh, Van! Bawa mobilnya pelan-pelan.” Tarjo yang selesai membuang puntung rokok Vanila ke tempat sampah datang mengingatkannya dan tersenyum penuh arti.
“Iya, bawel lo.”
“Oke, hati-hati di jalan. Ingat jangan ngerokok.” Tarjo melirik ke arah Betari sebelum mengedip genit kepada Vanila.
Vanila dengan kesal menjawab. “Iyaaaa, Jo. Gue nggak akan ngerokok pas lagi ada Betari. Sekarang lo bukain pagar! Mobil gue mau lewat!”
“Gue nggak masalah kalo lo mau ngerokok sekarang, Van.”
“Nggak, Bet.”
“Bagus, deh, kalo gitu.”
Vanila dengan cepat menoleh pada Betari. “Jadi, yang dibilang si Tarjo bener?”
“Apa?” Betari mengernyit bingung.
“Tarjo bilang lo hamil.”
Raut bingung Betari langsung berganti kesal. Hamil dari mana? Bikin saja belum pernah. “Tarjo kamprettt! Sini lo!” Dia berteriak kesal memanggil Tarjo yang hendak pergi membuka pagar.
Tarjo mendekat. Dia sudah tahu kalau sebentar lagi dia akan disemprot oleh si nenek lampir alis Betari, dan mungkin juga Vanila, sang pujaan hati yang sayangnya sudah milik orang dan lebih buruknya lagi kasta mereka terlalu jomplang. Makanya dia hanya bisa flirting-flirting layaknya sang pecundang dan tidak berharap apa pun. She is way too good to be true. Tarjo tahu diri.
“Maksud lo apa dengan bilang kalo gue hamil.”
“Eh, jadi, lo belum hamil, Bet.” sambung Tarjo. “Berarti gue salah dengar, dong? Masa sih gue udah mulai budeng? Baru juga kemarin gue ngerayain ultah ke 30.”
Betari memutar bola mata kesal.
“Awas lo sampai nyebar hoax lagi!” ancam Betari.
“Emang kenapa kalo lo hamil? Wajarkan lo udah nikah. Kecuali kayak Natalie noh yang tau-tau udah mau lahiran aja padahal nikah aja belum. Mana masih sekolah pula.” Natalie yang dimaksud oleh Tarjo adalah anak tetangga depan rumah yang baru kelas 3 SMP, anaknya pendiam dan dengar-dengar juga pintar. Tapi, ya, begitulah... Air tenang memang menghanyutkan.
Jangan kaget kalau mulut si Tarjo sudah macam pembawa acara gosip di TV. Begitulah akibat dari rajin bersosialisasi dengan para ibu-ibu kurang kerjaan yang gemar mengurusi hidup orang lain, padahal hidup sendiri saja masih awut-awutan bak pasar owol dadakan dipinggir jalan.
“Tapi kan dia udah kawin, Jo. Jadi maklum lah kalau tuh bocil udah melendung.” Vanila menimpali dengan asal.
“Dan kebetulan lakinya emang tokcer!” sambung Tarjo.
“Heran gue sama bocil-bocil jaman sekarang bukannya pada rajin belajar biar masa depannya cemerlang, eh... malah pada rajin kawin.” Betari geleng-geleng kepala.
“Kayak lo nggak rajin aja, Bet.” sahut Tarjo.
“Emang nggak.” sahut Betari tanpa sadar atau malah kelewat jujur yang praktis membuat mata dua orang itu refleks membelalak ke arahnya.
Kalau ketika dia berujar tadi Vanila sedang menghisab rokoknya dalam-dalam mungkin temannya itu sudah keselak asap rokonya sendiri. Dan Tarjo yang biasanya suka mengemut permen relaxa yang licin itu, pasti permen itu sudah menyangkut di tenggorokannya. Tapi, sepertinya Tarjo sedang tidak mengemut permen itu, buktinya dia tidak sedang mengurut lehernya jadi, jelas tidak ada permen yang menyangkut di sana.
Heh!
Apa dia baru saja secara tidak langsung telah membocorkan rahasianya sendiri?
__ADS_1