
"Bagaiman jika Nara marah pada mu?" tanya Kasandra cemas.
"Tidak akan, jika Nara marah itu memang kesalahan ku karena sejak awal tidak bicara padanya"
"Biar aku menemuinya dan bicara padanya"
"Tidak perlu Sandra, biar aku sendiri yang bicara dengan Nara"
"Baiklah, setelah kau bicara pada istrimu aku akan meminta maaf padanya dan mengucapkan terimakasih atas bantuan mu selama ini"
"Baiklah"
Siang itu tuan Kai bertemu sahabat kecilnya Kasandra. membicarakan bantuan materiil yang selama ini Kai berikan untuk Kasandra dan anaknya.
Tapi sayangnya Nara belum tahu jika suaminya membantu wanita lain. Kai sendiri belum bisa menerka sikap Nara nanti. apakah Nara akan marah atau tidak.
🌵🌵🌵
Sara makan siang bersama Tamara dan Sabrina di kantin sekolah. Makan siang di kantin beramai-ramai bukanlah kegemaran Morgan. ia lebih suka menyendiri jika makan siang.
Sebenarnya Morgan masih canggung mengobrol dengan Sara di sekolah di lihat banyak siswa lain.
"Bagaiman hubungan kalian Sar? ada prospek ke depan kah?" tanya Tamara.
"Prospek apa? setelah satu Minggu yasudah pasti berakhir" jawab Sara sambil meraih kerupuk di toples.
Sara asyik menikmati makan siangnya, bakso keto kuah pedas dan kerupuk udang.
"Tapi sepertinya Morgan terlihat berbeda Sar, dia seperti lebih ramah di banding biasanya. bukan begitu Tam?" kata Sabrina.
"Iya Sar, sepertinya Morgan benar-benar tertarik dengan mu"
"Itu hanya khayalan kalian, sudahlah Morgan masih sama saja. ia hanya menikmati permainan ini. coba lihat saja nanti setelah satu Minggu dia akan kembali angkuh, congkak dan penyendiri seperti biasanya"
"Atau kau yang jatuh hati pada nya Sar?" tembak Tamara.
__ADS_1
"Uhuk!! " Sara tersedak kuah bakso begitu mendengar ucapan Tamara.
"Sialan, jangan sembarangan kau nona Tamara, aku tidak mungkin jatuh hati pada pria seperti Morgan!" Sara mengelap bibirnya dengan tissue kering.
"Memangnya saya pria seperti apa?" suara bariton Morgan mengejutkan Sara, Tamara dan Sabrina.
Morgan berdiri di belakang ketiganya karena mereka duduk menghadap dinding.
Sara memejamkan matanya seperti anak kecil ketahuan menyembunyikan permen di sakunya.
"Sar kita pergi dulu ya" Tamara dan Sabrina segera pergi meloloskan diri dan mengamati dari kejauhan.
Sara masih terdiam sambil pura-pura mengacuhkan Morgan.
Morgan duduk di samping Sara sambil tersenyum.
"Sudah selesai makan siangnya? gosipnya tentang saya juga sudah selesai?"
Sara hanya melirik Morgan dan terdiam.
Sara sedikit terkejut karena Morgan tidak marah seperti biasanya.
"Oke, tapi pulangnya jangan terlalu sore"
"Iya, takut di cari Daddy dan Mommy kan?" ledek Morgan.
"Apa sih!" Sara mencubiti lengan Morgan keduanya terlihat tertawa bersama.
Tamara dan Sabrina yang melihat dari kejauhan saling pandang melihat adegan romantis itu.
"Sepertinya akan panjang kisah mereka" kata Sabrina.
"Enak saja aku tidak akan membiarkan Morgan lebih jauh dengan Sara!" Edgar muncul secara tiba-tiba bersama gengnya.
Tamara dan Sabrina memasang wajah malas meladeni ocehan Edgar.
__ADS_1
"Ayo Sab kita kembali ke kelas" ajak Tamara menghindari Edgar.
🌵🌵🌵
Sepulang sekolah Morgan mengganti baju nya dengan kaos dan celana jeans belel. ia menenteng tas ranselnya sembari menggandeng tangan Sara secara tiba-tiba.
Sara terkejut dan mendongak memandang wajah Morgan yang sedang serius melihat tumpukan buku.
Sara malah tidak bisa konsentrasi akibat sentuhan kulit tangan Morgan di tangannya. membuat desiran aneh di hati Sara. ia seperti merasa geli di hatinya dan berdebar.
"Kenapa diam? itu buku sastra, disana ada novel metropop dan disana ada buku pelajaran, majalah dan buku cerita" kata Morgan yang sudah hafal dengan stand buku di tempat pameran itu.
"Iya..." Sara melepas genggaman tangan Morgan dan pergi ke rak novel. Ia memilih sebuah novel untuk di beli.
"Nanti makan dulu ya sebelum pulang" kata Morgan sambil meraih novel yang Sara pilih untuk di bayar di kasir.
Sementara Morgan mengantri di kasir Sara melihatnya dari kejauhan.
Morgan Xavier, semoga hubungan kita hanya satu Minggu......
Tidak bisa di pungkiri Sara mulai merasa nyaman dengan Morgan.
Selesai dari pameran buku keduanya makan di warung kaki lima. Sara terlihat tidak biasa.
"Kenapa? anak Daddy tidak biasa makan di pinggir jalan?" sindir Morgan.
"Kenapa menyindir terus sih?! maksudnya apa aku tidak biasa?"
"Ya gadis seperti mu tidak pas saja makan di pinggir jalan seperti ini, iya kan?"
"Gadis sepertiku? gadis yang seperti apa itu?!" Sara mulai meradang.
"Gadis manja di rumah mewah yang semua serba ada dan di layani. di sayangi dan di manja Daddy dan mommy" kata Morgan dengan wajah datar.
Sara ternganga mendengar pendapat Morgan tentang dirinya. ia menarik kembali rasa nyamannya, lebih tepatnya sekarang ia malah terganggu dan tidak nyaman.
__ADS_1
"Sepertinya aku salah berpikir soal dirimu akhir-akhir ini, Morgan Xavier! aku pulang sendiri tidak perlu di antar!"