
Siang itu sepulang sekolah Morgan kembali di hadang geng tengil di sekolahnya.
"Berhenti dekati Sara!" Edgar dan gengnya bergerombol mengepung Morgan. kali ini mereka lebih banyak jumlahnya dan membawa tongkat baseball.
"Memang apa urusannya dengan kalian?" Morgan meletakkan tas ranselnya di atas mobilnya.
Edgar terlihat begitu marah dan mulai memukuli Morgan dan yang lain memecahkan kaca mobil dengan tongkat baseball.
Kali ini Morgan babak belur dan kaca mobilnya pecah. body mobilnya juga penyok.
Morgan berdiri dan mengusap darah segar yang mengalir di bibir dan hidungnya.
Keesokan paginya Morgan tidak masuk sekolah. tidak menelpon Sara, tidak mengirim pesan pada Sara dan juga tidak mengangkat telepon dari Sara.
"Ih kenapa ya menyebalkan sekali?!" omel Sara Yang sedang duduk di kantin bersama Tamara dan Sabrina.
"Ada apa Sar?" tanya Sabrina.
"Morgan ..."
"Kenapa Morgan?"
"Dia menghilang bak di telan bumi, tidak bisa di hubungi"
"Oh kayaknya semakin panjang nih cerita kalian?" sindir Tamara.
"Apa sih Tam? tapi Morgan seru juga" Sara tersenyum sembari berdiri dari duduknya.
"Sebentar ya" kata Sara yang pergi duluan menuju kelas Morgan. ia mencoba bertanya pada teman satu kelas Morgan.
"Katanya sakit" kata teman semeja Morgan menjawab pertanyaan Sara.
"Oh oke, terimakasih"
Setelah mencari alamat rumah Morgan di data siswa online , Sara bergegas ke rumah Morgan sepulang sekolah.
__ADS_1
Mobil Sara berhenti di depan rumah ber pagar tidak terlalu tinggi. rumah itu terlihat lengang.
"Pak tunggu disini ya"
"Baik nona" jawab pak supir.
Sara memasuki halaman rumah Morgan setelah seorang pelayan membukakan pintu gerbang.
"Tuan Morgan di kamarnya, silahkan nona masuk saja"
Sara sedikit canggung saat berada di depan pintu kamar Morgan yang masih tertutup.
Tuk...tuk...
Sara mengetuk pintu kamar Morgan.
"Sara?"
Morgan terkejut melihat Sara berdiri di hadapannya. Ia mengajak sara turun ke ruang tamu.
"Ada apa, kenapa kemari?" Morgan membuka suara.
"Kau tidak masuk sekolah, tidak ada kabar jadi aku kemari"
"Kenapa? cemas? takut kehilangan saya?"
Wajah Sara memerah karena malu mendengar ucapan Morgan barusan. ia berdiri dari duduknya dan hampir berjalan pergi.
"Tunggu Sar, maaf" Morgan meraih lengan Sara.
"Kenapa babak belur begitu?" Sara menyentuh wajah Morgan yang lebam. Morgan tersenyum.
"Oh ini ...mobil tidak sengaja menabrak pohon kacanya pecah dan saya terantuk kemudi"
"Sudah ke dokter?" Sara memegangi luka gores di hidung mancung Morgan.
__ADS_1
Apa yang di lakukan Sara membuat Morgan senang. ia menyukai di perhatikan oleh gadis manja itu. Morgan senang melihat bagaiman jemari Sara yang lentik menyentuh kulit wajahnya.
Sara langsung salah tingkah begitu tahu Morgan sedang memperhatikan dirinya. Sara menjauhkan tangannya dari wajah Morgan.
"Rumah ini sepi sekali?" tanya Sara sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar ruang tamu.
"Ayah sedang bekerja"
"Kalau ibu?"
"Sara sudah makan?" tanya Morgan mengalihkan pertanyaan Sara.
"Belum..."
"Makan dulu yuk" Morgan meraih tangan Sara dan menggandengnya menuju meja makan.
"Kau biasa makan sendiri di meja makan sebesar ini?" tanya Sara.
"Iya, tapi aku lebih sering makan di kamar"
Sara mengangguk tidak lagi bertanya, ia memakan dengan lahap masakan pelayan di rumah Morgan yang rasanya juga tidak kalah dengan masakan bibi di rumah Sara.
Selesai makan Morgan mengajak Sara ke taman samping rumah. Morgan ingin memandangi Sara dengan puas. ia tidak tahu apakah sisa hari dalam hubungan ngedate mereka akan berakhir happy.
"Gan aku pulang dulu ya, sudah sore" Sara berdiri dari duduknya. Morgan meraih tangan Sara.
"Hati-hati ya, terimakasih sudah mau kemari" Morgan menatap lekat mata Sara. seolah kesepiannya di rumah itu terhapus sesaat karena kehadiran Sara si gadis manja yang rupanya kini berhasil menerobos dinding beku di hati Morgan.
"Oke, cepat sembuh ya..."
"Sara...."
Sara menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang memandang Morgan.
"Tinggal sisa empat hari lagi...."
__ADS_1
Sara tersenyum lalu beranjak pergi tanpa membalas perkataan Morgan.