
Di rumah keluarga Admaja terasa sepi karena tuan Kai dan Nyonya Nara tidak saling bicara.
Bahkan bunyi menuang air ke dalam gelas saja sampai terdengar jelas. Sara yang baru saja duduk di meja makan langsung merasa tidak nafsu untuk sarapan.
Kursi yang biasa di duduki sang ayah kosong dan kursi yang biasa di duduki sang ibu juga kosong.
Sara melirik jam tangannya, ia memilih membawa sarapannya ke sekolah.
"Momm Sara berangkat sekolah ya" Sara berpamitan pada ibunya. sementara ayahnya sudah lebih dulu berangkat ke kantor.
"Jalan pak" kata Sara tidak bersemangat pada supirnya.
Sepanjang perjalanan ke sekolah Sara lebih banyak melamun memandang jalanan dari kaca mobilnya.
Begitu mobil tiba di pelataran sekolah, Sara bergegas turun dan meraih tas ranselnya yang berwarna merah muda.
"Pagi ..." sapa Morgan mengejutkan Sara.
"Hei.." Sara tersenyum kecil sembari berjalan menuju kelasnya.
"Masuk kelas dulu ya ..." Sara tidak memperdulikan Morgan. ia sedang malas bicara dengan siapapun. termasuk dengaan Tamara dan Sabrina.
"Sar ada apa? bertengkar lagi sama Morgan?" tanya Sabrina.
"Oh tidak hanya ada sedikit masalah di rumah" jawab Sara saat makan siang di kantin bersama kedua sahabatnya.
"Sara bisa bicara sebentar?" Tanya Morgan datar seperti biasanya.
"Kalau begitu kita pergi dulu ya Sar" kata Tamara dan Sabrina.
Morgan duduk di samping Sara. Menyerahkan sebuah buku pada Sara.
"Apa ini?"
"Buku"
__ADS_1
Buku itu dari judulnya nampak bagus, tapi saat ini Sara sedang tidak berminat membaca buku apapun.
"Mau cerita sesuatu?" tanya Morgan memandang wajah sedih Sara.
"Menurut mu aku harus bagaimana dengan Daddy dan Mommy? di rumah semakin sepi dan kacau. rasanya bosan di rumah" Sara hampir menangis.
Morgan tersenyum memandang si manja yang pasti baru kali ini menghadapi perseteruan orang tuanya.
"Sara yang paling tahu Daddy dan mommy Sara, kenapa tidak membuat mereka hangat seperti semula?"
"Caranya?"
"Hobi atau kebiasaan yang di lakukan keluarga Sara apa? coba saja lakukan dan libatkan lebih banyak Daddy dan Mommy Sara"
Oh benar juga ya...kenapa tidak terpikir?" Senyum Sara mengembang manis sekali memandang ke arah Morgan.
Morgan merekam baik-baik senyuman itu di hatinya.
"Terimakasih ya Morgan sayang" kata Sara saking senangnya.
Sar, aku takut kehilangan mu.....apa yang bisa aku perbuat untuk hubungan kita? tapi masa depan kita jauh lebih penting.
"Boleh"
"Kalau begitu aku ke kelas dulu ya?" kata Sara.
Morgan mengangguk dan mempersilahkan Sara ke kelasnya.
"Wuihhhh semakin lengket seperti perangko ya?!" Edgar dan rombongannya muncul.
Morgan sudah biasa menghadapi Edgar yang nyinyir. ia berdiri dari duduknya dan hampir berjalan pergi. Edgar menahan bahu Morgan dengan sebelah tangannya.
"Mau kemana?!"
"Sudahlah untuk apa kita bertengkar terus? tidak ada gunanya bukan?"
__ADS_1
"Dasar pengecut, kau cari alasan saja kan?!"
"Untuk apa? toh Sara juga sudah memilih saya di banding kau Edgar jadi seharusnya kau bersikap ksatria dengan mundur dan sadar diri".
"Brengsek, kalau ini tidak di kantin sekolah aku sudah menghajar mu sekarang!" bisik Edgar.
"Silahkan saya tidak takut" kata Morgan datar.
🌵🌵🌵
Sepulang sekolah Sara dan Morgan pergi bersama ke warung tenda dekat toko buku.
Sara seperti biasa memesan sup daging yang enak dan Morgan juga ikut menu yang Sara pesan.
"Gan terimakasih ya"..
"Untuk apa?"
"Untuk saran mu tadi siang"
"Oh oke semoga sukses ya"
"Iya, Gan kelulusan sebentar lagi kau sudah yakin akan ke Holland?"
"Iya Sara"
Sara memandang mata Morgan seolah berharap Morgan tidak pergi.
"Kau mau ke Jepang bukan? raihlah keinginan itu dan belajar dengan baik selagi masih muda dan ada waktu maka perjuangkan semua mimpi mu Sara"
"Dari mana kau tahu aku mau ke Jepang?"
"Dari buku yang kau beli"
Sara tersenyum kecil ia belum memantapkan hatinya untuk benar-benar pergi seperti Morgan.
__ADS_1
"Entahlah aku belum yakin"
Morgan tersenyum memandang Sara sembari menyuapkan sesendok sup Daging kepada Sara.