Jodoh Dari Remaja 2

Jodoh Dari Remaja 2
Part 6


__ADS_3

Pagi itu Seperti biasa Sara sarapan dulu bersama sang ayah dan ibunya sebelum berangkat ke sekolah.


"Dad kita jadi ke rumah Oma kapan?" tanya Sara sambil menggigit sandwich buatan ibunya.


"Nanti Sara kalau Daddy sudah tidak sibuk"


"Kapan Daddy tidak sibuk?"


"Sara jangan bicara begitu sama Daddy"


"Iya sayang Daddy sibuk untuk masa depan kamu juga"


"Iya..iya. Dad, mom Sara berangkat sekolah ya"


"Hati-hati sayang" kata Daddy.


Sara menuju mobil sambil menenteng tas ransel dan beberapa tugas sekolah.


"Ayo berangkat pak" kata Sara pada supirnya.


"Baik nona"


Mobil yang di tumpangi Sara mengalami gangguan mesin di perjalanan sehingga macet dan tidak bisa lagi meneruskan perjalanan ke sekolah.


"Bagaimana pak, apa yang rusak?"


"Sepertinya harus ke bengkel non"

__ADS_1


"Kalau begitu saya cari taxi online saja" kata Sara yang tidak mau membuat supirnya repot.


"Tapi nona, kata tuan tidak boleh sembarangan naik kendaraan umum"


"Ah tidak masalah pak, panggil montir terus nanti bapak telpon Daddy ya"


"Iya non baik"


Sara berdiri di pinggir jalan menunggu taxi online yang ia pesan. tapi ponselnya tiba-tiba mati karena baterainya lowbat.


"Aduh bagaimana ini, bisa kesiangan ke sekolah" Sara sedikit panik dan menoleh kanan kiri mungkin saja ada tumpangan ke sekolah.


Sebuah motor berhenti di depan Sara. pengendara motor itu hanya terdiam memandang Sara dari balik helmnya.


Sara tahu siapa pengendara motor itu. dari mata di balik kaca helm jelas jika dia adalah Morgan Xavier.


Morgan memainkan gas motornya dan sekali lagi memberi kesempatan Sara untuk membonceng dirinya.


Karena tidak ada pilihan akhirnya Sara membonceng Morgan.


Morgan memacu motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. sebelum bel berbunyi keduanya telah tiba di halaman parkir sekolah.


"Terimakasih" kata Sara tanpa melihat ke arah Morgan yang melepas helm dan jaketnya.


Morgan hanya terdiam memandang Sara yang setengah berlari menuju kelasnya. ia bergegas berganti pakaian seragam voli putri. celana pendek diatas lutut dan kaos ketat tanpa lengan.


Sara mengikat rambut panjangnya dengan rapi sehingga wajah cantiknya terlihat fresh.

__ADS_1


"Sar kenapa terlambat?" tanya Sabrina yang terlihat cemas. Sabrina tidak ikut bertanding ia hanya sebagai suporter untuk Sara yang akan melawan kelas lain.


Dengan penuh semangat pertandingan voli putri di mulai. Sabrina dan Tamara duduk di bangku penonton sambil menyemangati Sara.


Di sudut aula dengan ragu dan canggung tampak Morgan juga menyaksikan. pertandingan itu.


Morgan melihat kelincahan Sara di lapangan voli. ia tersenyum kecil, Morgan tidak menyangka anak manja itu bisa jago bermain bola voli.


Sara...sara...sara! begitu nama yang di teriakan Tamara dan Sabrina .


Tidak mau ketinggalan rombongan Edgar juga meneriakkan nama Sar dan memberi dukungan penuh.


Edgar mengedarkan pandangannya dan terhenti di tempat Morgan berdiri. wajah Edgar terlihat kurang senang melihat Morgan berada disana. ia segera menghampiri Morgan.


"Kenapa disini? ada urusan apa?" tanya Edgar sok.


"Memangnya sekolahan ini punya moyang mu? kenapa saya tidak boleh berada disini?"


Edgar terlihat semakin geram. Dia membiarkan Morgan di sana menyaksikan pertandingan.


Sementara Edgar dan gengnya menyusun rencana untuk menghadang Morgan sepulang sekolah.


"Morgan sepertinya ada niatan mendekati Sara bos" kata salah satu geng Edgar.


"Sial! dia berani mendekati Sara itu artinya dia cari mati!"


"Tadi pagi aku lihat sendiri bos Morgan dan Sara berboncengan berangkat ke sekolah"

__ADS_1


"Apa?! brengsek! memang perlu di beri pelajaran dia!"


__ADS_2