
Semula Dinda mengira tentang perjodohan itu hanyalah candaanku saja. Ia bahkan sempat menertawakan, namun ketika aku menyuruh menanyakan pada ayahnya dan dijawab iya, Dinda langsung syok. Tak bisa berkata apa-apa.
"Apa aku seburuk itu hingga membuat kamu syok dengan ide perjodohan itu?" tanyaku, saat kami bertemu di taman antara perumahan tempatku tinggal dan perumahan Dinda. Ia masih tidak menjawab. "Padahal aku sudah berusaha agar masuk fakultas kedokteran supaya lima tahunan lagi bisa jadi dokter hingga masuk kriteria calon suami yang kamu harapkan." Kataku lagi.
"Dihya!" Dinda langsung memasang ekspresi cemberut. "Bukan begitu maksudku, justru aku minder kalau dijodohkan sama kamu, Dihya. Kita itu bak bumi dan langit. Kamu pintar dan nyaris semua siswi di sekolah kita menyukai kamu. Sementara aku ...."
"Stop. Sudah, tak perlu menguraikan siapa kamu. Tiga bulan belakangan ini membersamai kamu, aku sudah bisa menilai kamu itu seperti apa." kataku
"Seperti apa?" ia menatapku penasaran.
"Ya seperti itulah."
"Apa Dihya?"
"Din, kamu pasti bisa menilai sendiri kan karena yang lebih tahu tentang diri kamu ya kamu sendiri."
"Enggak, bukan itu maksudku. Aku ingin tahu penilaian kamu tentangku. Boleh dong aku kepo."
"Hmmm, kalau untuk perjodohan itu, aku tak keberatan. Aku nurut sama keputusan orang tua kita."
"Jadi kamu mau menerima hanya karena ingin menuruti keinginan orang tua. Yahh aku kecewa."
"Kenapa kecewa?"
"Enggak apa-apa. Lalu sekarang bagaimana?"
"Ya kamu lanjutkan hidupmu, akupun akan begitu."
__ADS_1
"Jadi kita resmi menerima perjodohan itu?" ia melirikku. Melihatku diam ia langsung tertawa kecil. "Benar-benar lucu. Tidak pernah aku menduga sebelumnya akan dijodohkan dengan Dihya Azizi, siswa paling ...." ia kembali melirikku lalu cekikikan. "Kira-kira bagaimana tanggapan fans-fans kamu itu ya setelah tahu kalau kita dijodohkan? Mereka pasti bakal histeris, marah-marah padaku karena merasa kita enggak cocok tapi sayang kita sudah lulus jadinya aku nggak bisa melihat mereka jelous setiap harinya. Ahhh Tuhan itu memang Maha adil ya, hampir tiga tahunan aku jadi bahan bully mereka namun akhirnya malah aku yang mendapat Dihya Azizi yang tiap hari mereka idam-idamkan." Dinda masih saja cekikikan.
Aku yang mendengar tak terlalu peduli sebab saat ini aku menikmati pemandangan yang lebih indah dari apa yang dirasa Dinda, yaitu ketika ia kembali tertawa-tawa, cekikikan, menertawakan sesuatu yang tak penting namun ekspresinya menggemaskan menurutku.
"Sudah belum?" tanyaku
"Apanya? Mau nyuruh aku calm, enggak merayakan keberuntungan aku karena dijodohkan denganmu? Oh tidak bisa Dihya, aku masih ingin menertawakan mereka yang menghabiskan waktunya cukup lama di kamar mandi sekolah kita yang bau Pesing hanya demi memoles wajahnya supaya terlihat cantik di hadapan kamu tapi ternyata aku yang beruntung. Yeayyy!" ia kembali melonjak kegirangan.
"Apa aku sebegitu memukaunya bagi kalian?" aku memasang tampang cool. Tiba-tiba Dinda diam, melirik dengan tatapan geli.
"Iiihhh jangan begitu Dihya. Aku nggak mau kamu bersikap sok cakep kayak Marco ya. Tetaplah seperti Dihya yang biasa. Benar-benar cool alami tanpa sok keren buatan!" ia menegaskan.
Giliran aku yang tertawa cekikikan melihatnya geli sendiri dengan ekspresiku barusan.
***
Aku melirik dari jendela kamar ke teras depan. Ada siluet perempuan memakai gamis pink di sana. Di rumah hanya ada aku dan dua khadimat yang biasanya datang pagi-pagi untuk beberes dan memasak lalu pulang di siang hari. Sementara Umi dan Abah biasanya ada di kantor sebelah mengurus usaha travel haji dan umrah keluarga kami.
"Amira?" kataku, saat berada di pintu masuk.
"Dihya. Maaf kalau aku mengganggu." ia mengangkat kepalanya sebentar, terlihat jelas matanya bengkak. Sepertinya ia baru menangis.
"Ada apa?" tanyaku.
"Aku gagal masuk perguruan tinggi yang diinginkan orang tuaku "
"Oh, mungkin di sana bukan yang terbaik."
__ADS_1
"Dihya ... kenapa sekarang aku merasa hidupku tak sebaik dahulu. Apa yang aku inginkan tak aku dapatkan. Aku benar-benar kehilangan semuanya. Mimpiku, cita-cita dan juga cinta. Apa aku tak pantas ... Aku gagal Dihya." ia menangis, aku jadi iba padanya.
"Berarti Allah tengah menyiapkan sesuatu yang lebih baik untuk kamu Mir. Kamu anak yang baik, rajin dan InshaAllah saliha. Kamu pasti akan mendapatkan yang terbaik juga. Barangkali kamu bisa mencoba masuk perguruan tinggi negeri di kota kita. Mumpung ujiannya belum dilaksanakan." kataku, mencoba memberi masukan. Dia terima atau tidak, tak masalah.
"Apakah aku masih punya kesempatan Dihya?" ia menatapku penuh harap. Tatapan yang benar-benar aku tak paham kemana arah pembicaraannya.
"Kesempatan? Oh, pasti. Kalau kamu mau berusaha dan berdoa. Serahkan pada Allah Mir, Dia akan memberikan yang terbaik. Aku yakin kamu tahu itu." kataku, mencoba memberinya nasihat meski aku yakin Amira juga paham semua itu.
"Termasuk berusaha untuk mendapatkan kamu? Dihya, maafkan aku, tapi setelah kamu menolak ku rasanya aku sudah tak punya semangat lagi untuk melanjutkan semuanya. Masih bolehkah aku berharap kepadamu?"
"Mir, kayaknya kita nggak perlu membahasnya. Kita masih terlalu muda untuk membahas itu semua. Jangan rusak hati kamu sendiri, Mir. Perjalanan kita masih panjang. Kamu kejar cita-cita saja dulu." kataku lagi.
"Tapi Dihya ... aku benar-benar tak bisa menjalankan semuanya seperti biasa sebab pikiranku tertuju padamu."
"Itulah pintarnya setan memperdaya kita, Mir. Jangan biarkan mereka menyetir hati kamu. Kamu orang baik, Mir, jangan rusak apa yang sudah kamu jaga dengan baik selama ini."
"Assalamualaikum." pembicaraan aku dan Amira terhenti sebab suara salam umi yang sudah berdiri beberapa meter dari kami. "Eh ada tamu. Mmmm, ini Amira bukan? Temannya Dihya yang waktu itu, kan? Ada perlu apa ya?" tanya umi.
Kedatangan Umi yang tiba-tiba membuat kami berdua canggung. Amira tak bisa melanjutkan ceritanya karena ia tak enak hati, apalagi Umi tak membiarkan kami berdua. Umi menunggui hingga akhirnya Amira pamit pulang.
"Dihya, lain kali tak perlu menerima tamu perempuan kalau bukan untuk urusan yang penting." kata Umi setelah Amira pulang.
"Iya mi, Dihya juga nggak tahu kalau tadi Amira mau datang ke rumah." kataku.
"Umi sudah melihat sejak ia pertama datang. Umi nggak nyaman ada teman kamu lawan jenis berlama-lama di rumah kita. Nggak bagus dilihat. Kecuali untuk alasan penting. Kalau cuma sekedar ngobrol saja sebaiknya dihindari."
"Iya mi, Dihya ngerti." kataku, lalu pamit ke kamar. Sementara Umi kembali ke kantor karena memang kedatangan umi ke rumah hanya untuk menyuruh Amira pulang secara halus.
__ADS_1